Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Gadis Kampung


__ADS_3

Flora berjalan dikoridor kampus menuju kelas,bersama dengan Dekan yang ia temui tadi.


Mereka sampai di depan kelas,mengetuk pintu dan membukanya.


Dosen di dalam mempersilahkan mereka masuk.


"Selamat pagi,hari ini kita kedatangan mahasiswi baru dikelas ini. Silahkan perkenalkan diri kamu."


Ucap Dekan tersebut kepada Flora.


"Hai,nama saya Flora Chatarina. Kalian bisa panggil saya Flo."


Setelah memperkenalkan diri,dosen tersebut mempersilahkan Flora duduk dan Dekan yang bersama dengannya tadi pergi keluar kelas.


Saat Flora duduk di kursi suara seseorang menyapanya.


"Hai Flo. Kita ketemu lagi."


Nela memberikan senyum lebarnya yang duduk tepat di sebelah Flora. Dan dibalas senyum kecil dari Flo.


Tak terasa kelas sudah selesai,dan hanya menyisakan tiga orang yaitu Flora,Nela dan seorang pria.


Saat Flora mengemasi barang barangnya,Nela berdiri disampingnya.


"Flo,kantin yuk."


"Mmm sebentar gua beresin ini dulu."


"Oke. O iya kenalin ini sahabat gua."


Nela menarik lengan pria yang di sampingnya itu.


Pria itu menyodorkan tangannya.


"David Pratama.panggil Dave aja" senyum mengembang diwajah Dave saat melihat Flora menyambut tangannya serta menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Lu tau Dave,Flo yang udah nolongin gua dari jambret tadi pagi. Mungkin kalau ga ada dia gua ga tau mau gimana lagi."


Nela cerita panjang lebar.


Mata Dave melebar,dia terkejut mendengar penuturan Nela.


"Hah! Lu dijambret?! Dimana?"


"Diperempatan depan."


"Tapi lu ga apa apakan?"


Dave memutar mutar badan Nela,melihat apa ada yang terluka.


"Gua ga apa apa Dave. Lu apa apaan sih,gua pusing tau."


Dave bernafas lega saat mendengar jawaban Nela.


"Gua khawatir Ne.Btw thanks Flo udah nolongin Nela. Tapi gimana caranya lu nolongin Nela."


Mendengar itu Flo hanya tersenyum.


"Sama sama. Selagi gua bisa,pasti gua tolongin. Dan itu hanya kebetulan aja. Oke,gua udah selesai, kantin yuk."


Flora beranjak dari duduknya dan Nela menarik tangannya untuk berjalan dengan cepat.


"Buruan,gua udah laper."


"Iya iya. "Ucap Flora yang ditarik tarik oleh Nela.


"Ehh,tungguin gua."


Dave berlari kecil menyusul Nela dan Flora yang sudah berada di depan pintu kelas.


Albert p.o.v


Seperti biasa kalau istirahat seperti ini kami bertiga pasti akan nongkrong dipojok kantin.


Ini tempat biasa kami. Dan tidak ada yang berani duduk disini selain kami bertiga. Kalaupun ada orang lain yang duduk,itu karna kami mengijinkannya.


Axel duduk dihadapanku dan Alex,seperti biasa,wajahnya selalu datar tanpa ekspresi.


Padahal dulu dia tidak seperti ini.


"Axel,ini makanan buat kamu dimakan ya."


Suara seseorang mengagetkan kami bertiga. Salah satu mahasiswi kampus ini yang menjadi pengagum Axel berdiri tepat di samping Axel.


"Makasih."


Meskipun hanya satu kata yang keluar dari mulutnya,itu sudah membuat mahasiswi itu pergi dengan wajah yang kegirangan.


Ini salah satu sifat Axel yang kami suka. Meskipun dia pewaris tunggal kampus ini,anak seorang pengusaha ternama,dan tampangnya yang ganteng dan dipuja oleh banyak wanita itu tidak membuat dia sombong.


Aku juga tidak kalah ganteng dari dia.


Axel tidak pernah membangga banggakan apa yang dia punya. Dia tetap menghargai orang yang bersikap baik padanya. Meskipun hanya memberikan ekspresi datarnya itu.


Banyak yang mengaguminya,tapi ada seorang cewek yang gua sebut getah nangka sebutan itu cocok buat dia karna dia selalu nempel dengan Axel.


Aku bingung. Dari jaman SMA itu cewek ga pernah bosan untuk ngejar Axel,biarpun selalu ditolak tapi tu cewek ga pernah nyerah sampai sekarang.


Benar benar pejuang sejati. Tapi sayangnya Axel tidak pernah mempedulikan dia. Pernah aku tanya Axel kenapa ga ngasih dia kesempatan.


Jawabannya selalu sama. "Gua ga suka cewek agresif."


Aneh,kenapa coba ga suka,kan bisa...

__ADS_1


Ok,aku tidak akan melanjutkan perkataanku,kalian pasti sudah tau.


Tapi jangan salah sangka loh ya,biarpun kami disebut bad boy kami tidak pernah mempermainkan wanita. Kami sangat menghargai wanita.


Sebenarnya kami bukan bad boy hanya saja penampilan kami yang sedikit urak urakan begitu.


Kami itu orang yang setia. Hanya setia pada satu wanita.


Contohnya aku. Sejak SMA sampai sekarang aku hanya setia pada satu wanita.


Memang bukan pacar. Aku ini jomblo akut,itu yang dikatakan Alex. Tapi apa bedanya dengan dia.


Silahkan katakan aku pecundang karna sampai sekarang aku tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku.


Itu karna dia itu pernah menjadi kekasih sahabatku. Dan setiap kali aku melihatnya,atau dia berada dekat denganku,jantungku rasanya ingin copot saja. Makanya setiap dekat dengannya aku selalu beradu mulut dengannya untuk menutupi kegugupanku ini.


Jika aku mengungkapkan perasaanku,aku pasti sudah terbujur kaku,karna jantungku lepas dari tubuhku.


Seperti saat ini,aku melihat dia. Dari jauh saja jantungku sudah lari di tempat.


Oh Tuhan aku sungguh mencintainya.


Tapi dia bersama seorang cewek dan Dave. Dave itu sepupuku. Dan cewek itu siapa, aku tidak pernah melihat dia sebelumnya.


Ya Tuhan aku sesak nafas,dia datang menghampiri kami.


O tidak!!.


"Al,lu harus tenang,jangan gugup,jangan sampai lu salah tingkah." Bisikku dalam hati.


Ya Tuhan,sungguh indah ciptaanmu.


Aku memandangi dia,dan tiba-tiba ada sesuatu yang melayang tepat di wajahku.


Dia melemparku dengan tissue.


"Ngapain lu lihat lihat gua! Ntar jatuh cinta tau rasa lu."


"Iya,gua udah lama jatuh cinta sama lu,gua cinta sama lu!"


Tapi sayangnya kata kata itu hanya terucap dalam hatiku.


Benar benar pengecutkan.


"Cih,PD banget lu!".


Hanya itu yang bisa aku ucapkan untuk menutupi kecanggunganku.


"Dia siapa Ne?"


Bukan aku, tapi Alex yang bertanya. Menunjuk cewek yang ada disebelah Nela.


"Ini Flora,sahabat baru gua ma Dave."


Bukannya apa apa,tapi selama gua kenal Nela,belum pernah dia berteman dengan cewek,apalagi menjadi sahabat.


Ini aneh. Benar benar aneh.


Cewek itu,mengulurkan tangannya.


"Flora. Panggil Flo aja."


Dan aku menyambut tangannya.


"Albert,"


Aku tersenyum. Dan dia beralih pada Alex.


"Alexander."


Dia tersenyum pada Alex,dan beralih pada Axel.


Flo mengulurkan tangannya pada Axel,tapi tiba-tiba saat Axel melihat Flo,wajahnya memerah dan rahangnya mengeras seperti menahan emosi.


Flo juga terlihat terkejut.


Mereka kenapa sih?.


Aku dan Alex hanya saling memandang.


Axel berdiri,dengan tangan yang mengepal. Dan pergi meninggalkan kami.


"Dia kenapa?" Tanya Dave.


Aku mengedikkan bahuku tanda tidak tau.


"PMS kali!".


Ucapku,lalu berdiri dari dudukku untuk menyusul Axel.


"Gua duluan ya."


Ucapku pada mereka dan berjalan meninggalkan mereka.


"Ehh,curut tungguin gua."


Alex mengejarku dari belakang.


Aku dan Alex menyusul Axel,dia pergi ke arah belakang gudang kampus.


Tidak banyak yang tau tempat ini.


Aku dan Alex mengernyit saat melihat apa yang dilakukan Axel.

__ADS_1


Dia menendang nendang pohon yang ada dihadapannya sambil berteriak frustasi.


Kami menghampirinya.


"Bro,jangan gila dulu dong. Tu pohon kasihan ntar luka luka gimana?''


Aku menghentikan Axel yang kelihatannya sedang marah.


"Lu kenapa man? Duduk dulu dah."


Alex menarik tangan Axel untuk duduk dikursi panjang dibawah pohon.


Aku mengelus elus pohon yang ditendang tendang sama Axel tadi.


"Nih pohon pasti kesakitan man."


Mendengar ucapanku dan melihat apa yang aku lakukan,Alex hanya berdecak.


Aku memang seperti ini. Seperti kata Alex kalau aku agak miring. Dia fikir garis apa? Miring segala.


Bukannya apa,aku hanya tidak ingin suasana menjadi  kaku.


Tapi aku ini orang yang peduli terhadap sesama.


Memuji diri sesekali tidak apa-apakan?.


"Kenapa lu pergi tiba tiba gitu?"


"Gua males lihat cewek kampung sialan itu."


Aku dan Alex mengernyit.


"Flora maksud lu?"


Alex menegakkan tubuhnya menghadap Axel.


"Iya. Cewek kampungan yang udah ngancurin hidup gua."


Aku dan Alex membelalak.


"Jadi itu tunangan lu?!"


Kami berdua berucap bersamaan dan  tersentak kaget mendengar ucapan Axel.


Yang benar saja.


Cewek itu jauh dari tipe Axel.


Aku bukannya mengejek atau gimana.


Tapi penampilan cewek itu lucu.


Rambut sebahu yang hitam pekat. Dan memakai behel berwarna biru.


Axel paling tidak suka dengan cewek yang pakai behel.


Pantas saja dia marah seperti ini.


"Tapi kayanya tu cewek,cewek baik baik Xel."


"Baik baik apanya Lex?! Gua yakin tu cewek bukan cewek baik baik. Pasti dia ada maksud tertentu masuk dalam kehidupan keluarga gua."


"Lu tau darimana? Jangan asal nuduh lu."


Kali ini aku yang bertanya.


"Ya kalian lihat aja. Gua ga kenal dia,dan dia ga kenal gua. Apa segampang itu dia nerima pertunangan ini tanpa menolak terlebih dahulu."


"Lu yakin?"


"Gua yakin Al. Dia pasti manfaatin kebaikan nyokap gua untuk tujuannya itu. Dan gua ga akan ngebiarin itu terjadi."


"Terus,rencana lu apa?"


Axel berdiri dan sedikit berjalan kedepan.


"Gua akan buat dia menderita. Dan memaksa dia untuk mengatakan apa tujuan dia sebenarnya."


"Ok. Kalau lu butuh bantuan,ada kita berdua yang bersedia bantuin lu man."


"Thanks Al,Lex."


Alex menghampiri Axel dan menepuk pundaknya.


"Tapi pesan gua cuma satu man,jangan sampai lu nyakitin dia,dia itu wanita."


"Lu berdua tau kan. Kalau gua paling ga suka ketenangan gua diganggu. Tu cewek udah ngeganggu ketenangan hidup gua!. Jadi untuk membuat dia menderita gua pasti akan nyakitin dia."


Kami berdua hanya mematung mendengar ucapan Axel.


Axel berjalan meninggalkan kami berdua.


Aku tidak tau apa yang terjadi setelah ini.


Axel yang dulu dan yang sekarang benar benar berbeda.


Dia berubah 270°.


•••••••••••


 


 

__ADS_1


__ADS_2