
Axel p.o.v
Jujur hari ini aku sangat kesal.sangat sangat kesal.
Bagaimana tidak?
Aku harus menjemput cewek sialan itu lagi.
Ini semua karna mamah yang selalu memaksaku.
Ntahlah tapi setiap kali aku melihatnya rasa benciku semakin besar.
Dia,gadis itu.
Sudah menghancurkan hidupku.
Tanpa kusadari tadi aku melewati jalan melati putih,tidak asing lagi jalan itu ditakuti banyak orang.
Tapi dengan sengaja aku meninggalkan dia disana.
Aku tidak ingin menyebut namanya itu.
Ah,aku ingin memberi dia pelajaran. Biar dia tau siapa aku.
Aku sampai dikampus tiga puluh menit lebih awal.
Tiba-tiba saja perasaanku tidak enak. Seperti ada yang mengganjal.
Aku melanjutkan langkahku.
Tiba-tiba Ada yang menepuk pundakku dari belakang.
"Tumben cepat datang. Biasanya masuk dulu baru lu datang.setan apa yang masuk?" Albert mengagetkanku bersama dengan Alex di sebelahnya.
"Ck,lu berdua ngagetin gua aja.lu berdua juga tumben cepat datangnya. Apalagi lu?." Aku menunjuk Albert.
"Ck,kalau gua terpaksa. Karna anak kecebong atu ini" Albert menunjuk Alex" datang kerumah dan narik narik gua dari tempat tidur. Padahal gua masih mimpiin Taylor swift man."
Ini nih kelebihan Albert,terlalu dramatis hidupnya.
Aku rasa karna dia terlalu lama jomblo kali ya. Yah,kalian bayangin aja dia ga pernah pacaran dari jaman SMA sampai sekarang. Tapi doyan banget gangguin cewek cewek cantik.
Plakkk
"Sakit nyet!" Albert meringis mengusap dahinya yang digeplak Alex.
Kelakuan kedua sahabatku ini memang benar benar aneh.
"Kecebong? Lu apa? Jurik?! Mimpiin pretty tailor kali!!''
"Siapa tuh?" mata Albert berbinar penasaran.
"Janda anak tiga,tukang jahit langganan nyokap gua". Dengan santainya Alex mengucapkan itu.
"Kampret lu Lex."
Aku benar benar jengah dengan mereka berdua. Lebih baik aku meninggalkan mereka berdua.
"Eeh,woii tungguin woii."
Albert ini memang benar benar paling berisik diantara kami.
Alex dan Albert datang menyeimbangkan langkahnya denganku.
Dengan tergesa gesa aku berjalan menuju kantin.
Sampai dikantin aku langsung duduk di tempat biasa,pojok kantin.
"Lu kenapa sih? Dari tadi gelisah banget?" Aku menoleh pada Alex yang duduk di hadapanku.
"Tau nih! Sejak tunangan gua perhatiin lu kalau ga pusing,gelisah. Muka lu yang datar makin datar. Lu kenapa man? Udah mau jadi calon suami orang juga.''
Ck,apa apaan sih Albert,aku jijik mendengar kata calon suami orang.
"Ck,rese lu Al.perasaan Gua ga tenang nih."
Aku benar benar gelisah saat ini. Aku mengetuk ngetuk meja dengan jariku.
"Cicak juga tau perasaan lu ga tenang. Makanya kita tanya. Cakep cakep kok **** sih lu Xel?"
Aku benar benar ingin menjitak kepalanya Al. Tapi aku lagi tidak mood.
"Lu crita ma kita. Ada apa? Tante Ambar?"
Aku menggeleng pelan mendengar pertanyaan Alex.
"Shera? "
Aku menggeleng lagi.
"Tukang parkir? Tukang cimol? Tukang cilok? Atau tukang Cendol?"
Kenapa jadi ngaur gini sih.
Plokk
Aku mengetok kepala Albert dengan sendok yang tertata rapi diatas meja. Benar benar tidak nyambung menurutku.
"Ngaur lu nyet!"
Albert meringis dan mengusap kepalanya yang aku ketok.
"Ya abisnya lu geleng geleng mulu.langsung to the point aja kenapa?"
"Atau jangan jangan....." Aku menatap Alex yang menggantungkan ucapannya,kemudian saling pandang dengan Albert.
Mereka berdua ini kenapa?
"Flo?????"
Mereka mengucapkannya bersamaan dan memandangku dengan curiga.
Sontak mataku melebar mendengar nama itu. Jantungku berdegup kencang.
Aku hanya mengangguk.
"Kenapa? Lu jatuh cinta ma dia? " Al mendekatkan wajahnya padaku.
Aku mendorong wajahnya.
"Jauh jauh lu.jijik gua!!gak akan pernah terjadi kalau gua jatuh cinta sama tu cewek!"
Albert menggerutu tidak jelas,karna aku menahan wajahnya dengan sebelah tanganku.
Jangan pernah berharap aku akan jatuh cinta padanya,karna itu tidak akan pernah terjadi.
"Teruss???"
Aku melepaskan tanganku dari wajah Al. Dan duduk menghadap Alex.
Kalau dalam suasana genting seperti ini,lebih baik bercerita pada Alex. Dari pada dengan Al,yang ada suasananya semakin memanas.
"Gua ninggalin dia tadi." Ucapku ragu ragu.
"Dimana? " tanya Al dengan santainya,dan mencomot gorengan yang ada diatas meja lalu mengunyahnya.
"Di...jalan melati...pu..tih" dengan penuh hati hati aku mengucapkannya.
__ADS_1
"Apa?????"
Suara mereka yang bersamaan dan gorengan yang menyembur keluar dari dalam mulut Al mengenai lenganku.
Beberapa pasang mata yang ada dikantin menatap kami. Karna suara mereka yang cukup kencang.
"Isshhhh,,,kampret!jorok lu!" Aku benar benar jijik melihat lenganku,dan segera membersihkannya dengan tissue.
"Gila lu xel.!"
"Parah lu man!"
Alex dan Al mengucapkannya bersamaan.
"Lu tau kan jalanan itu berbahaya? Sebenci bencinya lu ma dia,tapi ga gini juga Man,kalau dia kenapa napa gimana?" Terlihat wajah Alex benar benar kecewa padaku.
"Masih untung kalau Flo hanya dirampok. Kalau diperkosa,dibunuh,atau dimutilasi gimana?dia itu cewek polos man,ga mungkin bisa ngelawan preman!"
Aku meneguk salivaku mendengar ucapan Alex.
"Parah!!! Selain begal,binatang buas juga banyak disana bro. Dan dua hari lalu gua baca surat kabar. Dipinggir jalan itu,di temukan mayat wanita. Kayanya di bunuh."
Mendengar penuturan Al,jantung semakin berdetak cepat. Aku benar benar khawatir.
"Serius lu. Lu jangan nakut nakutin gua dong!"
"Ngapain kita nakutin lu. Lu juga taukan. Jalanan itu berbahaya."
"Trus gimana dong?"
Aku benar benar khawatir terjadi sesuatu pada gadis itu. Aku memang membencinya.
Tapi ucapanku untuk menyakitinya itu tidak benar akan kulakukan. Aku hanya ingin memberi dia pelajaran itu saja.
Aku merasa benar benar keterlaluan padanya.
Kalau sampai mamah tau. Aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku nanti.
"Kita harus nyusul dia man. Sebelum terlambat." Aku menatap Alex.
"Benar,Kita harus nyusul dia sekarang" sambung Al.
Menyusulnya?.
Saat kami ingin beranjak dari tempat duduk Dave dan Nela datang menghampiri kami.
"Ehh,lu pada lihat Flo ga?" Tanya Dave yang berdiri di sebelahku.
"Tumben jam segini dia belum datang. Gua hubungi nomornya malah ga aktif."
Mendengar penuturan Nela mataku melebar,bukan hanya aku,Alex dan Al juga sama sepertiku.
Jangan jangan....
Aku segera beranjak dari tempat duduk. Membuat mereka terkejut karna aku tiba tiba berdiri.
''Ehh,Xel lu mau kemana?" Pertanyaan Dave yang tak kuhiraukan.
Aku melangkahkan kakiku.
Langkahku terhenti melihat seseorang berjalan kearah kantin.
Dengan tangan yang dibalut kain kasa,dan berjalan terjingkat jingkat,wajahnya pucat,dan lemas.
Aku terpaku melihatnya.
Lega,sekaligus merasa bersalah.
Lega karna dia bisa berada disini.
Merasa bersalah melihat keadaannya seperti itu.
Aku tidak bergerak dari tempatku berdiri.
"Ya Tuhan,Flo lu kenapa?" Lamunanku terbuyar mendengar ucapan Nela yang sudah ada di sampingnya.
"Kok,lu jadi gini. Siapa yang lukain lu?" Terlihat Dave sangat khawatir.
Tanpa kusadari Alex dan Al sudah berdiri di sebelahku.
Sekilas,gadis itu menatapku dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
"Gua ga papa." Suaranya sangat lirih.
Dia membalikkan tubuhnya,untuk pergi meninggalkan kantin. Tapi ditahan oleh Dave.
"Lu cerita ma kita. Lu kenapa?"
"Dalam keadaan seperti ini lu bilang lu ga apa apa? Jangan bohong Flo. Orang buta juga tau lu ga baik baik aja."
"Ini semua,karna lu Man." Alex berbisik padaku.
"Lu harus tanggung jawab!" Sambung Al yang juga berbisik disebalah kananku.
Mereka berdua seperti iblis dan malaikat,ralat,iblis dan jin itu lebih tepat menggambarkan mereka berdua.
_______
Ini yang paling dibenci oleh Flo.
Dia paling tidak suka di kasihani.
Melihat sikap Dave dan Nela padanya. Membuat dia jengkel.
Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang orang.
"Kalian tenang aja. Gua benar ga apa apa kok." Flo tetap berkeras mengatakan dia baik baik saja. Padahal kenyataannya tidak sama sekali.
Flo melepaskan cengkraman tangan Dave,dan pergi berjalan tertatih tatih meninggalkan kantin.
Axel,Alex,Albert,Nela dan Dave masih terpaku ditempat semula. Mereka menatap Flo yang berjalan seperti siput. Langkah kaki yang sangat dipaksakan.
Terlihat Shera berjalan di depan Flo.
"Ini kan cewek udik yang udah nabrak gua kemarin" tanya Shera dalam hati." Gua akan kasih dia pelajaran!" Bisiknya.
Shera berjalan cepat,dia sengaja menabrakkan diri pada Flo yang berjalan tertatih tatih. Flo yang tidak dalam keadaan baik baik saja,langsung terjatuh,dan terduduk diatas ubin.
Dia meringis kesakitan.
Shera duduk berjongkok di hadapan Flo.
Plaakkk
Shera memukul luka yang ada ditangan Flo dan mengakibatka Flo memekik kesakitan,kembali darah keluar. Terlihat dari kain kasa yang basah dan memerah.
"Sakit ya?" Tanya Shera dengan wajah seperti setan.
Terlihat Axel menggeram menahan amarah melihat apa yang dilakukan oleh Shera terhadap Flo.
Dia berjalan menghampiri mereka berdua.
"Lu apa apaan sih?!!" Axel membentak Shera.
Shera terkejut melihat perlakuan Axel.
"Xel,kamu kenapa jadi belaiin cewek udik ini sih?" Protes Shera yang tidak terima.
__ADS_1
"Lu yang kenapa!. Mata lu buta!. Ga lihat dia lagi luka?!"
Flo tidak mempedulikan apa yang terjadi di hadapannya. Dia terus meringis kesakitan dan memegangi lukanya yang sudah berdarah dengan mata yang terpejam.
Melihat itu,Axel segera mengangkat Flo dan membawanya keruang kesehtan.
Alex dan Albert ikut menyusul Axel.
"Kalau Flo sampai kenapa napa awas lu?" Dave mengancam Shera yang sudah berdiri.
"Awas lu ya nenek sihir!" Nela memberikan tatapan tajam pada Shera dengan jari telunjuk yang menunjuk tepat di depan wajah Shera. Lalu pergi menyusul Dave yang sudah melangkah.
Melihat itu. Wajah Shera memerah,dia marah.
"Awas lo cewek udik! Gue akan kasih lu pelajaran!" Shera berbicara pada dirinya sendiri.
Sampai diruang kesehatan,luka Flo kembali dibbersihkan oleh perawat yang ada disana.
Setelah lukanya dibalut kembali,perawat itu meninggalkan Flo bersama Axel yang sedari tadi menunggunya.
"Makasih" ucap Flo pada perawat itu
"Sama sama" lalu perawat itu pergi keluar.
"Makasih udah nolongin aku." Flo membuka suara setelah mereka diam beberapa saat.
"Gua minta maaf." Ucapan Axel yang membuat Flo mengernyit
"Untuk apa?"
"Karna tadi gua udah ninggalin lu." Wajah Axel datar tanpa ekspresi.
Flo tersenyum simpul.
"Ga perlu minta maaf,kamu ga salah."
Mendengar ucapan Flo Axel mengerutkan keningnya.
Bagaimana bisa dia katakan bahwa Axel tidak salah jika dia tidak meninggalkan Flo dipinggir jalan,ini tidak akan terjadi bukan?.
Flo turun dari brankar.
Melihat itu Axel kebingungan,dia ingin menahan Flo karna tubuhnya masih lemah.
Tapi niatnya itu di batalkannya karna dia tidak ingin Flo merasa bahwa Axel sudah menerimanya dalam hidupnya.
Flo berjalan perlahan,membuka pintu ruang kesehatan. Dia kaget melihat wajah Albert dan Alex yang sedang menyengir di hadapannya.
Mereka sedang menguping.
"Loh Flo,lu mau kemana? Lu istirahat aja deh!" suara Nela dari arah belakang.
"Lu,masuk lagi trus istirahat."perintah Dave pada Flo.
Flo mendengus.
"Gua baik baik aja.ini cuma luka ringan doang kok." Flo meyakinkan Dave dan Nela.
"Lu yakin?" tanya Albert yang ikut nimbrung dengan percakapan mereka.
"Iya. Kalau gua ga baik baik aja,ga mungkin gua ada disini kan?" tanya Flo pada mereka semua.
"Iya sih. Tapi ceritain kekita gimana bisa lu luka kaya gini?" mendengar pertanyaan Alex mereka bertiga mengangguk bersamaan.
"Mmm itu,tadi gua guling guling dijalan depan."
Mendengar jawaban Flo,mereka memicingkan mata terhadap Flo.
Flo tertawa cengengesan.
"Ok,oke. Gua akan cerita.jadi gini ceritanya. Tadi ditengah jalan..." Flo menggantungkan ucapannya.
Mereka berempat dengan wajah yang sangat serius mendengarkan penuturan Flo.
"Gua berantem dan cakar cakaran sama kucing,karna gua ga sengaja nyolek pantat lakinya. Bininya marah ma gua."
Flo mengucapkannya dengan santai.
Mendengar jawaban Flo,mereka berempat memasang wajah yang sangat datar tanpa ekspresi.
Flo tertawa geli.
"Udah ahh,ga usah dibahas. Lagian gua udah baikan kok. Gua ke kelas ya." pamit Flo pada mereka.
Melihat Flo yang melangkah tertatih tatih.
Nela mengejarnya.
"Flo...tunggu" Dia menuntun jalan Flo dan Dave berjalan di sebelah kiri Flo.
Axel keluar dari dalam ruang kesehatan setelah Flo menjauh.
Melihat Axel yang tiba-tiba keluar Albert dan Alex terkejut.
"Astaga Axel,gua kira pocong serius!!!" ucap Albert yang mengelus dadanya.
"Ck,ngapain lu berdua disini?''
"Kita khawatir ma calon istri lu bro."
"Sekali lagi lu ngomong gitu. Gua gantungin lu diatas pohon! " sengit Axel yang kesal pada ucapan Albert.
Albert mencebikkan bibirnya.
"Menurut gua,Flo itu cewek baik baik man." Alex menatap punggung Flo yang semakin menjauh dan dituntun oleh Nela.
"Ck,baik? Baik darimananya? Paling itu akal akalannya doang. Biar bisa narik perhatian gua. Tapi itu ga akan mungkin terjadi." Ucap Axel dengan wajah datarnya.
"Maksud lu. Dia pura pura ngelukain dirinya sendiri gitu?" tanya Albert yang tak percaya.
"Ya bisa aja. Lu tau lah modus cewek cewek sekarang. Apapun dilakuin buat ngedapatin apa yang dia mau."
"Ga mungkin Xel,Flo itu berbeda." sergah Alex.
"Lu berdua blom kenal dia. Jadi jangan ngeyakini gua kalau dia itu cewek baik baik." Axel melangkah meninggalkan kedua sahabatnya itu.
Alex dan Albert hanya menggelengkan kepala melihat betapa kerasnya hati sahabat mereka itu.
"Hatinya benar benar keras man. Kaya malin kundang. Gua sihir jadi batu tau rasa dia." Albert membeo dan masih tetap menatap punggung Axel yang kian menjauh.
"Sebelum lu sihir tu anak. Lu udah disihir duluan." Alex juga pandangannya masih tertuju pada punggung Axel.
" jadi apa? Jadi pangeran tampan?" tanya Albert dengan wajah berbinar dan menoleh pada Alex yang di sampingnya.
"Bukan. Tapi jadi sepsi tank"" ucap Alex tepat diwajah Albert dan berlari meninggalkannya sebelum dia berubah jadi Hulk.
Alex tertawa terbahak bahak dengan terus berlari kecil.
Seketika wajah berbinar Albert berubah menjadi datar,setelah mendengar jawaban Alex.
"Sialan lu!!! " Albert setengah berteriak. Dan segera melangkah menyusul Alex.
•••••••••••••
__ADS_1