
Flora p.o.v
Janji adalah hutang.
Hutang harus dibayar.
Saat ini aku,Ayah dan Mamah,sudah tiba dibandara Soetta.
Aku harus rela pindah kampus,dan tinggal jauh dari orang orang yang kusayangi,demi menepati janji yang telah kusetujui.
Padahal aku sudah semester tujuh. Dan baru kali ini aku terpisah jauh dari keluargaku.
Tapi mungkin ini juga yang terbaik,agar aku bisa melupakan semua masa lalu yang aku rasa begitu menyakitkan.
Dan aku berharap siapapun yang akan menjadi tunanganku nantinya,semoga dia orang yang baik seperti Ayah.
Kami berjalan keluar bandara,untuk mencari orang yang akan menjemput kami.
Tepat dihadapan kami seorang Bapak Bapak seumuran Ayah,berdiri dengan kertas yang ditangannya bertuliskan "CHRISTIAN" itu nama Ayahku.
Ayah menghampiri Bapak Bapak itu.
"Maaf,apa Bapak yang disuruh oleh Ambar untuk menjemput kami?"
"Iya benar Tuan,apa anda yang bernama Tuan Christian?"
"Iya,benar pak."
Si Bapaknya tersenyum.
"Kalau begitu mari Tuan."
Bapak itu mepersilahkan kami untuk masuk kedalam mobil,tepatnya mobil mewah.
Aku masih berdiri dibelakang Mamah yang ingin masuk kekursi penumpang,sementara Ayah sudah masuk dan duduk dikursi depan.
"Sini Non,saya bawa kopernya. Ini pasti beratkan?"
Aku mengalihkan pandanganku pada Bapak itu.
"Makasih Pak."
Hanya itu yang bisa aku katakan,dan aku tersenyum.
Aku masuk kedalam mobil menyusul Mamah. Tidak berapa lama, siBapaknya sudah masuk kedalam mobil setelah meletakkan koper ke dalam jok belakang dan duduk dikursi supir.
"Nama Bapak siapa?"
Kudengar Ayah bertanya pada pak Supir yang sedang menyalakan mesin dan kemudian melajukan mobil.
"Saya Deni Tuan."
"Jangan panggil saya Tuan,sepertinya kita seumuran. Panggil saya Tian."
"Saya tidak enak Tuan,Tuan tamu Nyonya besar,jadi saya harus menghormati Tuan."
"Hmmm,tidak perlu seperti itu. Kami ini bukan orang besar atau hebat,kami hanya orang biasa jadi jangan panggil saya Tuan. Kita ini sama bukan?"
"Baiklah,mungkin saya akan panggil Pak Tian saja."
"Mmm,begitu lebih baik."
Ayahku memang seperti itu,beliau orang yang rendah hati,kami selalu diajarkan untuk selalu rendah hati,dan menghormati orang orang yang lebih tua dari kami.
Ada beberapa kalimat Ayah yang membuat aku jatuh hati dengan nasihat nasihatnya "Semua orang itu sama. Jangan pernah memandang dan menilai orang lain dari jabatan,harta,pangkat,rupa,dan ketenaran. Kita semua itu sama. Sama sama menumpang didunia ini."
Ayahku memang perfect dia yang terbaik bagiku.
"Dan dia istri saya,Margaretta,dan putri saya Flora."
Aku tersenyum pada Pak Deni yang melihat dari kaca depan.
"Panggil saja Retta,"
Mamah tersenyum pada pak Deni. Dan dibalas anggukan dan senyuman tulus dari pak Deni.
Banyak yang mereka bincangkan,tapi aku tidak begitu memperdulikan. Aku memilih menatap keluar jendela,dengan tangan yang bersedekap didepan dadaku.
Menatap keindahan lampu jalanan,yang begitu menarik hatiku.
Dan memikirkan hal hal apa yang akan kualami nantinya.
Tiba tiba aku merasa ada seseorang yang menepuk pundakku.
Aku tersentak. Aku menoleh kesamping,kulihat Mamah yang menepuk pundakku.
"Arin,kamu kenapa sayang?kok dari tadi diam terus? Ada apa?"
Arin adalah nama panggilanku khusus untuk Mamah,Ayah,Kakak,dan dua adikku.
Sebenarnya aku punya banyak nama panggilan.
Orang orang memanggilku Flo,kadang dikampus aku juga dipanggil Ora,jaman SMA aku dipanggil Ata,tapi aku benci panggilan itu,siapa saja yang memanggilku dengan sebutan itu,akan kupastikan wajahnya rata tidak berbentuk.
Aku tersenyum pada Mamah.
"Arin ga apa apa Mah,aku baik baik aja kok. Aku cuma takjub melihat pemandangan diluar untuk pertama kalinya."
Ok,aku bilang aku tidak apa apa,itu bohong. Aku memikirkan apa yang akan terjadi dalam hidupku kedepannya. Aku merasa akan banyak luka dan air mata.
Akh,sudahlah mungkin itu hanya perasaanku saja.
__ADS_1
"Pertama kali? Kamu sudah sering datang keJakarta. Kamu berbohong."
Mataku melebar,mendengar ucapan Ayah.
Aduh,bego bego...memang aku sudah sering datang keJakarta,paling tepatnya kalau saat libur,aku kerumah Tante. Adiknya Mamah.
Jadi tidak mungkin ini pertama kalinya aku melihat pemandangan seperti ini.
"Kalau bohong cari alasan yang tepat. Mamah tau kamu bohong,mata kamu ga bisa bohongin Mamah."
Dengan susah payah aku menelan salivaku.
Mamah tau sekali kapan aku bohong,kapan aku jujur.
"Ceritakan ada apa? Apa kamu takut? Atau kamu menyesal dengan pertunangan ini?"
Aku menatap Ayah,yang menoleh dari kursi depan.
"Nngg...ga,ga kok Yah,takut? Menyesal? Untuk apa?"
Aku tertawa cengengesan.
Takut???
Iya benar sekali.
Aku takut,dengan apa yang akan terjadi dalam hidupku nantinya.
Aku memandang Ayah dan Mamah secara bergantian,yang menatapku dengan ekspresi yang sedih.
"Ayah sama Mamah tenang aja,Arin ga takut atau pun menyesal. Arin kan gadis yang kuat.Arin justru bahagia."
Ucapku dengan raut wajah bahagia.
Tepatnya pura pura bahagia.
Aku tidak ingin melihat mereka sedih.
Tidak ada jawaban,mereka masih menatapku dengan tatapan yang sama.
"Om Robert dan Tante Ambar kan orangnya baik, pasti anak mereka juga baikkan? Iya kan pak Deni?"
Aku mencoba menghilangkan kesedihan orang tuaku.
"Iya,benar pak. Tuan muda Axel itu orangnya sangat baik. Saya sudah mengenal dia sejak kecil.Dia sangat menghargai wanita dan sopan terhadap orangtua. Saya yakin Non Flora pasti bahagia nantinya."
Pak Deni tersenyum tulus,dengan pandangan yang masih lurus kedepan.
Mendengar itu,Mamah dan Ayah tersenyum bahagia. Raut wajah sedih mereka sudah hilang entah kemana.
Haahh Thank God
Aku bernafas lega.
"Syukurlah kalau begitu."
"Tuh kan? Ayah dan Mamah jangan sedih,dia orang yang baik pastinya."
Aku tidak yakin. Benar benar tidak yakin.
Semoga saja dia masih tetap seperti dulu.
Perjalanan dari bandara hanya memakan waktu satu jam saja. Itu karna jalanan tidak terlalu padat.
"Baiklah,kita sudah sampai."
Mobil berhenti dengan perlahan.
"Mari saya antar?"
Pak Deni keluar duluan dari mobil. Disusul dengan Ayah,Mamah dan Aku.
Wauuww ini indah sekali.
Sebuah gedung tinggi,besar,dan mewah,dengan cahaya cahaya lampu yang begitu terang menambah keindahannya.
Mataku menjelajahi setiap sudut tempat ini.
Tepat disebelah kiri gedung terdapat genangan air yang luas,yang aku yakini itu danau kecil,ditengah tengah danau ada tiga buah kata yang berukuran cukup besar dan berkelap kelip seperti lampu LED. Itu bertuliskan "TREE LAKESIDE APARTMENT".
Waahhh ini benar benar indah sekali. Ditambah pepohonan yang rindang dan tidak begitu besar disekeliling danau.
Sebelah kanan apartemen terdapat taman,taman yang sangat indah.
Aku tidak bisa menceritakannya secara detail. Karna ini sangat sangat indah dan menakjubkan.
Aku merasa seperti dalam dunia dongeng .
"Heyyyy!"
Tiba tiba ada yang menggoyang goyangkan lenganku.
Aku tersentak kaget.
Kulihat Mamah yang menatapku dengan tatapan bingung.
"Kamu kenapa? Ayah dan pak Deni sudah masuk duluan. Ayo,kamu mau disini terus?"
Kulihat Ayah dan pak Deni yang membawa koper,sudah berjalan lumayan jauh dari hadapan kami.
"Ayo Arin."
Mamah menarik lenganku.
"Ehh,iya,iya Mah. "
__ADS_1
Sampai didalam lift pak Deni menekan tombol 25 ,wuiihhh pasti keren,memandang dari ketinggian seperti itu.
Hanya ada kami berempat didalam lift ini,tidak berapa lama lift berhenti dan terdengar bunyi ting, pintu lift terbuka dan kami keluar dari dalam lift.
Tepat didepan lift terdapat pintu kayu berwarna coklat tua dengan ukiran yang sangat indah,dan didepan pintu terdapat tulisan Kusuma .
"Nyonya sudah menunggu didalam."
Pak Deni menekan bel dua kali. Papah berdiri disamping kiri pak Deni Mamah disebelah kanan pak Deni.
Dan aku berdiri tepat dibelakang mereka.
Tidak berapa lama pintu terbuka,aku tidak bisa melihat siapa yang membuka pintu karna dihalangi oleh tubuh mereka bertiga yang cukup besar dan tinggi. Dan aku yang hanya 157 cm tidak bisa berbuat apa apa.
Nasib...jadi orang pendek.
"Ya Tuhan Retta,aku kangen sekali."
Kudengar pekikan kecil seorang wanita. Dan memeluk mamah,ya seperti ibu ibu biasanya,cipika cipiki dulu.
"Tian,wahh kamu benar benar tidak berubah."
Kulihat Dari belakang Ayah tersenyum dan menyodorkan tangannya. Wanita itu sangat bahagia sekali terdengar dari suaranya yang begitu antusias.
"Loh,dimana Flora?"
Dia mencariku.
Pak Deni menyingkir dari tengah,dan terlihatlah aku.
Wanita yang sangat cantik. Tapi lebih cantikan Mamah ku loh ya. Bagiku.
Tante Ambar,tersenyum bahagia melihatku. Dia tetap cantik sama seperti terakhir kali aku bertemu dengannya. Tidak ada yang berubah.
Aku tersenyum.
Tapi raut wajahnya berubah. Bingung,heran, ntahlah.
Tiba tiba dia memelukku.
Aku membalas pelukannya.
"Kenapa kamu jadi seperti ini?"
Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.
"Ya sudahlah. Ayo masuk. Pak Deni tolong bawa kopernya ke dalam ya."
Pak Deni tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dan bergegas masuk membawa koper milikku.
Kami semua masuk kedalam apartemen,dengan tante Ambar yang merangkul pinggul Mamah,Ayah didepanku,dan aku paling belakang.
Saat tiba didalam,aku terheran heran.
Jujur ini sangat sangat mewah.
Belum sempat aku mengagumi tiap sudut tempat ini,Tante Ambar mengagetkanku dengan suaranya.
Dari tadi aku selalu dikagetkan,untung aku tidak ada riwayat penyakit jantung kalau tidak mungkin dari tadi aku sudah kaku.
"Nanti setelah tunangan kamu akan tinggal disini.ga papa kan?"
"Ga papa tante. Dan ini,ya ampun ini benar benar mewah sekali!"
Ucapku penuh antusias dan tante Ambar tersenyum bersama Mamah dan Ayah
"Ya sudah,kamu mandi dulu sana.
Aku mengangguki perkataan tante Ambar.
Aku melihat sebuah kamar yang terbuka,dan pak Deni keluar darisana,
Mungkin itu kamarku.
Karna barang barangku,dibawa pak Deni ke dalam.
Aku segera masuk,menutup pintu kamar tanpa menguncinya dari dalam.
Tanpa pikir panjang aku langsung ke kamar mandi,karna aku benar benar merasa gerah.
Empat puluh lima menit kemudian
Aku keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.
Uhhhhhh segarnya....
Aku berbicara sendiri,merasakan kesegaran ini.
Aku berjalan ke arah tempat tidur.
Kurebahkan tubuhku disana.
Nyaman.
Itu yang kurasakan.
Kupejamkan mataku,karna aku merasa benar benar kelelahan.
Dan aku berlabuh kedunia mimpi.
Berharap besok semuanya dapat berjalan dengan baik.
••••••••••••••
__ADS_1