Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Pernikahan


__ADS_3

Flora p.o.v


Hari ini adalah hari pernikahanku.


Dan saat ini aku tengah berada disebuah ruangan khusus.


Aku menatap pantulan diriku yang ada dicermin. Satu hal yang ku sadari.


Tak ada raut bahagia diwajahku. Ya walaupun kemarin aku mengatakan aku bahagia dengan pernikahan ini tapi nyatanya tidak.


Satu hal yang harus kalian tahu. Aku memiliki insting yang sangat kuat. Dan kali ini aku merasa akan banyak luka dalam hatiku.


Apakah aku siap?


Menikah dengan orang yang tidak mencintaiku.


Tok...tok...tok


Suara ketukan pintu menarikku ke dunia nyata. Aku melihat seorang wanita cantik memakai kebaya yang kontras dengan kulit putihnya berdiri di depan pintu. Dia tersenyum padaku dan datang menghampiriku. Dalam hitungan detik aku segera memeluknya.


Dia wanita yang aku sayangi. Wanita yang aku cintai. Dia segalanya bagiku.


"Mamah.. Arin kangen sama mamah." Aku menangis dalam pelukan mamah. Karna aku sangat merindukannya.


"Hei sayang. Jangan menangis. Mamah juga sangat merindukanmu." Aku semakin mempererat pelukanku pada mamah.


"Sudah..sudah. Jangan menangis lagi. Nanti putri mamah tidak cantik lagi." Ucap mamah lalu mengurai pelukan kami.


"Ini hari bahagiamu. Mamah minta jangan ada air mata yang jatuh." Ucap mamah lagi." Berjanjilah sayang." Lanjutnya. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku dengan lemah.


"Maafkan mamah sayang. Seharusnya dia yang berada disini. Bukan mamah." Ucap mamah dan kemudian ia menangkup wajahku. "Mamah sudah berusaha untuk membujuknya tapi dia tetap tidak mau." Lanjut mamah dengan sedih.


"Sudahlah mah. Yang penting mamah ada saat acara pernikahanku itu sudah lebih dari cukup buatku." Kataku mencoba menghapus kesedihan mamah. Mamah tersenyum padaku.


Ya aku tahu dia tidak akan datang.


Suara gaduh dari luar membuatku dan mamah menoleh ke arah pintu. Aku sudah tau siapa mereka.


"Heii apa kau buta. Laki-laki tidak bisa masuk ke ruangan ini."


"Ehh kenapa kau yang sibuk? Terserah aku dong. Siapa yang berani melarangku. Tunjukkan padaku. Akan ku hajar dia."


"Cihh gayamu banyak sekali! Ingin menghajar orang? Sama banci saja kau takut."


"Ck, jelas aku takut. Banci itu ingin menciumku. Aku tidak mau wajah tampanku ini ternodai."


"Cihh tampan apanya. Ya Tuhan. Kenapa aku harus memiliki saudara kembar sepertinya."


Mereka adik-adikku. Fanilla dan Frans. Mereka kembar tapi tidak pernah akur .


"Apa kalian berdua tidak bisa akur? Haruskah kalian membuat keributan di acara pernikahan kakak kalian?!" Ucap mamah tajam ketika mereka berdua sudah sampai di depan pintu.


Aku terkekeh melihat mereka.


Mereka berdua hanya menunduk. Tapi itu hanya sebentar.


"Astaga! Benarkah ini kakak kesayanganku?" Tanya Frans saat ia melihatku.


"Lalu siapa lagi! Apa otakmu amnesia?!" Bukan aku yang menjawab tapi Fani.


"Cantik sekali." Ucap Frans dengan mulut yang menganga. Aku dan mamah tertawa kecil melihat ekspresinya itu.


"Ya kak Arin emang cantik. Seperti aku." Ujar Fani dengan senyum kebanggaannya.


"Astaga! Apa kau sadar mengucapkan itu. Kalau kau cantik tidak mungkin umurmu yang sudah 19 ini tetap masih jomblo." Ucap Frans dengan sinis.


Nah loh..mereka mulai lagi.


"Kau..


Aku memotong ucapan Fani. Kalau tidak mereka akan berdebat sepanjang hari.


"Apa kalian tidak ingin memeluk kakak kalian ini? Apa kalian tidak merindukanku?" Ucapku pada mereka. Mereka tersenyum lalu berjalan ke arahku dan memelukku dengan erat.


"Kakak tau. Aku sangat merindukanmu. Aku sangat merindukan mie gorengmu yang gosong itu." Ujar Frans dalam pelukanku. Aku tertawa mendengar ucapannya. Dia ini selalu mengejek masakanku.


"Kak aku sangat merindukanmu. Kau tahu kak aku lelah sekali dirumah. Semua pekerjaan rumah aku yang mengerjakannya. Dan sipembully yang satu ini tidak mau membantuku. Dia hanya bisa mengacaukan semuanya saja." Adu Fani padaku. Astaga adikku yang dua ini selalu saja begini. Saling menyalahkan.


"Diamlah tukang ngadu!" Ujar Frans. Aku tidak tahu kapan mereka akan akur. Tapi aku tahu meskipun Frans bersikap seperti itu pada Fani dia sangat menyayangi Fani dan akan sangat over protective padanya jika ada yang mengganggu dirinya.


Aku memeluk mereka dengan erat. Aku sangat merindukan mereka. Ku lihat mamah tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Heii...heiii apa kalian akan berpelukan terus. Sampai semua tamu bubar?" Tanya Kak Faustina yang datang bersama mamah Ambar. Dia kakak tertua kami.


Aku melepaskan pelukan kami.


"Kakak cerewet sekali. Tidak tahu apa kami sangat merindukan kaka tersayang kami ini." Gerutu Frans. Memang diantara kami semua hanya kak Faustina yang paling cerewet.


"Sudah..sudah. Mari kita masuk ke gereja. Semuanya sudah siap." Ujar mamah Ambar.


"Apa kamu sudah siap Arin?" Tanya mamah. Aku menganggukkan kepalaku. Tapi aku tidak yakin hatiku akan siap.


"Mamah minta tetaplah bersama Axel apapun yang terjadi. Berjanjilah pada mamah Flo." Ucap Mamah Ambar. Dia menangis dan memelukku. Aku menganggukkan kepalaku.


"Aku janji mah." Jawabku.


Maafkan aku mah. Aku tidak yakin bisa bersama dengan Axel selamanya. Maafkan Flo.


Mamah menuntunku menuju gereja. Lalu menyerahkan aku pada Ayah. Aku menatap Ayahku. Pria tampan itu tersenyum padaku.


"Ayah berdoa semoga kehidupanmu bahagia selalu sayang. Jangan ingat lagi masa lalumu. Pandanglah kedepan. Ke arah masa depan yang dijanjikan Tuhan." Aku tersenyum mendengar ucapan Ayah. Lalu melingkarkan tanganku pada lengan kiri Ayah.

__ADS_1


Pintu gereja terbuka. Aku Ayah berjalan melewati karpet merah yang ditaburi dengan kelopak mawar. Banyak sekali tamu yang datang diacara pemberkatan ini. Aku tidak mengenali mereka. Tapi yang jelas aku lihat ada teman sekampusku yang datang.


Jujur saja. Kakiku pegal sekali memakai heels ini. Tingginya membuat aku menyerupai tinggi Ayah. Selama tiga hari Anya dengan sabar mengajariku memakai heels hingga heels kesayangannya patah.Ini menyebalkan sekali.


Semua orang berdiri menyambut aku dan ayah.


Di depan Altar sudah ada Pastur. Dan Axel yang berdiri disana. Aku dapat melihat dengan jelas tidak ada kebahagiaan di wajah Axel. Dia menatapku dengan wajah yang datar.


Dan disisi kanannya ada tiga orang pria yang sedang berbisik-bisik. Entah apa yang mereka bisikkan aku tidak tahu.


Ya. Mereka Alex, Albert dan Dave.


Sampai di depan Altar ayah menyerahkan aku pada Axel. Dia menyambutku dengan senyum palsu.


"Jaga putri ayah. Ayah percaya padamu." Ujar Ayah. Axel tersenyum.


"Pasti ayah." Jawabnya.


Pasti apa? Pasti akan menyakitiku?


Acara pemberkatan dimulai. Dengan lantang Axel mengucapkan janji pernikahan kami. Aku tahu dia hanya menutupi ketidak inginannya.


Setelah pemasangan cincin selesai, semua para tamu bertepuk tangan. Sekilas kulihat mamah meneteskan air matanya antara bahagia dan sedih.


Sebenarnya hatiku ingin menangis.


Seharusnya wanita yang melahirkan aku berada disini. Tapi nyatanya? Tidak sama sekali.


Acara resepsi yang didirikan disebuah hotel bintang lima, dan tamu yang tidak hentinya berdatangan. Sampai-sampai tangan dan bibirku pegal menyalami dan tersenyum. Tidak hanya itu, kurasa kakiku sudah lecet. Sungguh ini pegal sekali.


Bisakah acara selesai sekarang juga?


Aku ingin istirahat.


Tapi mataku berbinar melihat seorang pria yang berdiri tepat dihadapanku.


Dia menyodorkan tangannya padaku dan berkata "Selamat Flo. Semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia dan keluarga yang takut akan Tuhan." Ucapnya dengan senyum ramah.


Dia Kevin.


"Terimakasih. Kamu datang?" Tanyaku yang masih tidak percaya. Karna setelah kejadian di rooftop itu aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Aku merasa bersalah padanya. Aku sudah mematahkan hatinya.


"Tentu saja. Kamu mengundangku kan?" Aku menganggukkan kepalaku mendengar pertanyaannya. Jadi ini nyata? Dia benar-benar datang. Aku bahagia sekali.


"Aku akan terlalu childish jika menjahuimu hanya karna masalah itu. Meskipun aku tidak dapat memilikimu tapi aku tidak ingin kehilangnmu." Katanya dengan penuh ketulusan. Syukurlah dia tidak marah lagi padaku. Aku memeluknya dan mengucapkan kata terimakasih. Bagiku Kevin sama seperti Zack. Sudah kuanggap sebagai saudara sendiri.


Lalu dia beralih pada Axel yang berada disampingku dengan senyum yang dipaksakan.


"Aku harap kamu menjaga Flo dengan baik. Jika tidak aku akan merebutnya dari kamu. Karna berlian tidak pantas untuk disia-siakan. Selamat!" Ucapnya dengan tegas pada Axel. Aku meneguk Salivaku dengan susah payah saat mendengar ucapan Kevin. Apa maksudnya coba? Sementara Axel hanya memberikan senyum tipis.


"Mm Flo aku ke sana dulu ya. Ada cewek cantik." Ujar Kevin dengan senyum genitnya. Mataku mengikuti arah telunjuknya.


Aku tersenyum melihat siapa yang dia tunjuk.


"Baik. Siapa takut. Dan ingat akan janjimu." Jawab Kevin dengan cepat. Lalu dia berjalan ke arah gadis yang dia tunjuk tadi.


Ya. Aku mau lihat apa dia bisa menghadapi Frans. Karna gadis yang ditunjuk oleh Kevin adalah adikku Fanilla.


Lama aku memperhatikan Kevin yang dihadang oleh Frans ketika akan mendekati Fani yang tak kunjung berhasil. Pandanganku terarah pada suara seorang wanita yang memanggil nama Axel dengan lembut tepat dihadapan kami.


"Axel.." Dan terlihatlah seorang wanita cantik seperti gadis-gadis Korea.


Aku mematung mendengar perkataannya pada Axel.


"Kamu jahat tau gak! Kamu menikah dengan orang lain saat aku pergi. Aku benci sama kamu. Aku benci!" Ucap wanita itu dengan air mata yang membanjiri pipinya. Lalu dia pergi meninggalkan kami. Sesaat aku lihat Axel mematung tapi detik kemudian dia pergi mengejar wanita itu.


Hatiku sakit ketika melihat Axel mengejar wanita itu dan meninggalkan aku sendiri disini.


Siapa wanita itu?


Kenapa dia berkata seperti itu?


Apa itu wanita yang di cintai Axel?


Lamunanku buyar karna suara seseorang mengagetkanku.


"Heii ini hari bahagiamu. Kenapa melamun seperti itu baby? Dan dimana Axel?" Tanya Zack yang kini berada di hadapanku. Dia rela meninggalkan tugasnya beberapa hari hanya untuk menghadiri pernikahanku. Tidak seperti Nathan yang hilang terbang entah kemana.


"Ehh. Siapa yang melamun. Aku hanya lelah saja Zack." Ucapku lesu." Dan Axel sedang ke toilet." Bohongku padanya. Aku tidak mungkin mengatakan padanya kalau Axel pergi mengejar seorang wanita.


Zack hanya mengangguk. Aku tahu dia pasti percaya padaku.


_______


Kevin p.o.v


Hari ini hari pernikahan Flora.


Aku menatap undangan berwarna gold yang tergeletak di atas meja kerjaku. Tiga hari lalu asistenku mengantar undangan itu padaku.


Sebenarnya aku dilema antara datang atau tidak. Jika aku datang hatiku akan sangat hancur melihat orang yang kucintai menikah. Tapi jika aku tidak datang aku akan terlihat seperti remaja yang baru putus dari pacarnya. Kekanak-kanakan.


Pada akhirnya aku memutuskan untuk datang ke acara pernikahannya. Cukup aku tidak dapat memilikinya dan aku tidak akan mau kehilangan orang baik sepertinya. Mungkin aku akan memutuskan untuk menjadi sahabatnya.


Ya, sahabat.


Acara resepsinya sangat mewah di salah satu hotel bintang lima.


Aku melihat Flo yang terlihat sangat cantik dan anggun. Dia tersenyum ramah pada orang-orang yang menyalaminya. Dan seorang pria tampan yang berdiri di hadapannya. Mereka terlihat sangat cocok. Semoga mereka bahagia nantinya.


Aku menghampiri mereka untuk mengucapkan kata selamat atas pernikahan mereka. Awalnya Flo terkejut melihatku. Tapi pada akhirnya dia terlihat sangat bahagia karna aku hadir dalam acara resepsinya.

__ADS_1


Setelah mengucapkan kata selamat pada mereka. Aku menghampiri seorang gadis cantik di pojok sana yang sedang menyantap hidangan jamuan pesta.


Aku ingin menunjukkan pada Flo jika aku bisa mendekatinya. Dan dia akan memberikan apapun yang aku minta.


Ini sangat mudah. Dia belum tahu jika aku sangat ahli mendekati seorang wanita.


Belum sampai aku di hadapan gadis itu. Seorang laki-laki langsung menghadangku. Aku tidak tahu dia ini siapa dan kenapa dia terlihat menghalangiku untuk mendekati gadis itu. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang dia tanyakan.


Mau ngapain?


Umur om berapa?


Apa-apaan dia. Kenapa dia memanggilku Om. Apa aku terlihat sangat tua?


Dan masih banyak pertanyaan lagi.


Ahk sudahlah. Aku malas menghadapi bocah tengil ini.


Aku pergi toilet. Saat aku ingin keluar aku tidak sengaja melihat seorang wanita dan pria yang sedang berdebat. Aku ingin mengabaikannya dan pergi dari sana. Langkahku terhenti mendengar ucapan pria itu.


"Aku terpaksa menikahi dia. Aku tidak menginginkan dia. Aku hanya mencintaimu sayang. Percaya padaku." Ucap si pria.


Aku penasaran lalu aku mengintip mereka dari balik pintu toilet.


Mataku membelalak. Aku terkejut melihat siapa pria itu. Dia suami Flora. Dan apa yang dikatakannya tadi?


Terpaksa menikahi Flo?


Dia tidak menginginkan Flo?


Brengsek!!!!


Amarahku benar-benar memuncak. Ingin sekali menghabisinya sekarang juga.


"Tapi kenapa kamu menikahinya?" Tanya wanita itu.


"Sudah ku katakan. Aku terpaksa sayang. Aku..aku hanya mencintaimu. Aku hanya ingin kamu yang menjadi istriku. Aku berjanji aku akan menceraikannya. Tapi tidak sekarang. Aku tidak mungkin menghancurkan kebahagiaan mamah. Bersabarlah sayang."


"Kamu janji?"


"Ya aku berjanji. Karna aku hanya mencintaimu."


Mereka berpelukan.


Benar-benar brengsek!!


Apa yang di katakannya.


Dia akan menceraikan Flo?


Bagaimana perasaan Flo nanti jika mengetahui ini.


Dia pasti akan terluka.


Aku tidak tahu harus berbuat apa.


Aku pergi meninggalkan tempat itu dengan wajah menahan emosi dan tangan yang terkepal.


Apa aku harus menyembunyikan ini dari Flo?


Aku tidak mungkin mengatakan ini padanya. Itu akan meremukkan hatinya. Walaupun nantinya pria itu akan menceraikan Flo.


_______


Tepat pukul 23.00 acara resepsi telah selesai. Kini Flo tengah berada di dalam kamar hotel tempat mereka menginap.


Kamar yang sudah di hias dengan begitu indah khusus untuk malam pertama mereka.


Flo duduk di pinggir ranjang. Wajahnya menyiratkan kesedihan. Apa malam ini adalah malam pertama yang indah bagi mereka. Mengingat sikap Axel yang berubah menjadi semakin dingin setelah  kembali dari toilet tadi.


Pintu kamar terbuka dan terlihatlah Axel dengam wajah cerianya. Tapi kemudian berubah datar setelah melihat Flo yang duduk di pinggir ranjang.


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Axel berjalan menuju kamar mandi dan mengabaikan Flo begitu saja.


Flo tersenyum kecut lalu ia beranjak dari duduknya menuju cermin untuk membuka hiasan-hiasan di rambutnya.


Tidak berapa lama Axel keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap dan rambut yang  basah. Mungkin dia baru selesai mandi.


Tanpa mengeluarkan sepatah katapun dia berjalan menuju kasur untuk mengambil bantal.


Flo memasuki kamar mandi dengan lesu dan kaki yang sedikit pincang karna tadi saat dia ingin masuk ke kamar hotel kakinya keseleo. Axel menatapnya sekilas.


Flo keluar dari kamar mandi dan melihat Axel yang sudah tidur di atas Sofa. Flo sudah tahu ini akan terjadi. Dia hanya senyum tipis tapi menyiratkan ke kecewaan.


Lalu ia mengambil selimut dan menyelimuti Axel.


"Aku tahu ini akan terjadi. Tidurlah yang nyenyak. Semoga mimpi indah." Gumam Flo dalam hati.


Lalu ia naik ke atas kasur. Merebahkan tubuhnya. Dan segera memejamkan mata.


Malam pertama yang sama sekali tidak indah. Tidak seperti pengantin baru yang baru menikah kita sudah tahu mereka akan melakukan apa. Namun berbeda dengan Flo dan Axel. Mereka malah tidur terpisah.


••••••••


Apa yang terbaik untuk diri ini?


Tanyakan ke hatimu sendiri, karna ia tidak pernah menghianati.


''''


 

__ADS_1


 


__ADS_2