Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Episode 22


__ADS_3

Mungkin perbedaan diantara kita yang menyebabkan enggannya mulut untuk berkata


"Aku mencintaimu"


\~\~\~\~\~\~


Flo duduk di balkon apartemen dengan jarinya yang memetik senar gitar.


Biarkan ku pergi


Jangan kau tanyakan lagi


Kuyakin ini yang terbaik 


Untuk kau dan diriku


Biarkan berlalu 


Rasa cinta ini dihati


Ku tak bisa tuk menahan aku


Luka disini....


Setelah Flo menyanyikan itu, dia menghentikan petikan gitarnya. Di letakkan gitar itu di sampingnya lalu dia berdiri dan berjalan kearah pembatas balkon.


Dia menatap langit yang di penuhi bintang. Matanya memancarkan berjuta kesedihan. Tangannya memeluk dirinya sendiri serta mengusap lengannya.


Dia menatap lekat ke arah langit. Berharap ada yang turun dari atas untuk membawa dia pergi. Lama ia memandang langit, tiba-tiba sesuatu yang cair mengalir di pipinya. Flo memejamkan matanya. Dia menangis.


"Haruskah aku yang menghadapi takdir hidup seperti ini. Kenapa takdir begitu jahat padaku. Kenapa aku selalu tidak di inginkan? Apa salahku?


Ingin rasanya aku pergi sekarang juga meninggalkan semuanya. Aku ingin pergi meninggalkan kehidupan yang sangat tidak menginginkanku, kehidupan yang sangat membenciku. Sungguh aku lelah Tuhan.


Jika engkau ingin marah. Tidak apa marahlah padaku. Tapi aku benar-benar lelah, sangat lelah Tuhan."


Ucap Flo dalam hatinya. Tubuhnya bergetar, air matanya terus mengalir. Ingin rasanya ia berteriak namun tidak bisa, seakan tenggorokannya terganjal sesuatu.


Tangannya memukul-mukul besi pembatas balkon tanpa peduli itu akan menyakiti tangannya. Tidak ada suara tangisan tapi air matanya terus mengalir. Tubuhnya merosot kebawah dan terduduk di lantai dengan kedua tangannya memeluk kaki dan kepalanya yang di tumpukan pada lututnya.


Flo terlihat seperti daun kering yang rapuh. Yang jika diremas akan hancur berkeping-keping.


Dia menangis, terus menangis. Seolah tangisan itu bisa mengubah takdir hidupnya. Tangisannya terhenti ketika suara handphonenya berdering. Ia menegakkan tubuhnya lalu berdiri dan mengambil handphone yang ada di atas meja balkon. Tangannya mengusap air matanya. Flo menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Lalu menggeser tombol hijau di layar handphone dan mendekatkannya pada telinganya.


"Halo.." Ucap Flo dengan suara bergetar menahan tangisannya.


"Halo, Arin. Kamu kenapa sayang? Kamu menangis?" Suara di seberang sana terdengar sangat khawatir.


"Nggak kok mah. Arin gak nangis." Flo menggigit bibir bawahnya agar tangisannya tidak lepas ia tidak mau mamahnya tahu jika ia sedang menangis.


"Jangan bohongin mamah Arin. Mamah tahu kamu menangis." Suara Retta terdengar parau.


Dan akhirnya Flo tidak bisa menahan tangisannya lagi. Ia menangis mengeluarkan suara tangisan dan air matanya. Dengan tangan menggenggam handphone yang masih setia di telinganya.


"Arin...." Panggil Retta dengan suara yang bergetar. Ia ikut menangis mendengar tangisan putrinya.


"Jangan menangis lagi sayang. Lupakan yang sudah sudah. Kamu tidak perlu mengingat masa lalu." Ucap Retta dengan suara paraunya.


"Hiks..hiks...mah...Arin benci hidup Arin.."  Dia duduk di lantai balkon tanpa peduli itu kotor atau tidak.


"Jangan bicara seperti itu Arin. Mamah tidak suka. Ingat di sini ada mamah, ayah,  adik-adik kamu dan kakakmu yang sangat menyayangimu. Jangan pernah ucapkan itu lagi. Kenapa kamu kembali mengingat semua itu?"


Pertanyaan Retta tidak di jawab oleh Flo. Ia terus menangis dan tidak peduli akan pekikan Retta di seberang dan tidak peduli orang-orang yang tinggal di apartemen terganggu akan tangisannya. Itulah Flora. Orang-orang yang melihatnya akan mengatakan bahwa ia adalah wanita yang kuat dan pemberani. Namun tidak ada yang tahu seberapa rapuh dirinya.


Skipppp


Saat ini Flo berada di dalam mobil bersama Axel. Mereka baru pulang dari butik untuk fitting baju pengantin.


Sepertinya Flo masih kesal terhadap Axel ketika masih di butik tadi.


Flashback


Axel duduk di sofa dan Flo sedang melihat-lihat gambar gaun yang akan ia pakai saat pernikahannya nanti.


Matanya tertuju pada Axel yang memainkan handphonenya. Flo mendesah. Lalu seorang karyawan butik itu datang menghampiri Axel.


"Pak, bapak sudah memilih tuxedonya?" Tanya wanita itu.


Tanpa menatap wajah lawan bicaranya  Axel menunjuk sebuah tuxedo putih yang di pajang di boneka manekin tidak jauh dari hadapannya. Namun matanya tetap tertuju pada handphone miliknya.


Wanita itu mengangguk lalu berjalan mengambil tuxedo yang di tunjuk  dan memberikannya pada Axel.


"Bapak bisa mencobanya dulu." Ucap wanita itu dengan ramah.


"Tidak perlu." Kata Axel dengan datar.


"Tapi nanti jika kekecilan atau kebesaran bagaimana pak? Ini silahkan bapak coba dulu." Masih dengan ramah wanita itu mengucapkannya. Niat wanita itu baik. Agar nanti tidak terjadi keanehan pada saat pernikahan mereka jika Axel salah memilih ukuran pakaian.


"Kamu tidak dengar! Saya bilang tidak perlu ya tidak perlu!"  Axel menatap wanita itu dengan tajam dan setengah berteriak hingga membuat wanita itu terkejut dan orang-orang yang berada di sana memandangi mereka.


Flo yang menyadari itu langsung menghampiri wanita itu. Dan membawanya pergi.


"Maaf, dia lagi ada masalah. Makanya seperti itu." Ucap Flo yang menenangkan wanita itu. Flo berbohong. Tidak mungkinkan ia mengatakan jika Axel terpaksa menikah dengannya. Wanita itu tersenyum pada Flo.


"Tidak apa-apa. Bagaimana kamu sudah dapat gaunnya?" Tanya wanita itu mengalihkan topik pembicaraan.


"Bagaimana yang ini." Tunjuk Flo pada sebuah gaun putih tanpa lengan. Gaun sederhana tapi indah.

__ADS_1


"Pilihan yang bagus." Puji wanita itu."ya sudah mari kita coba." Ajak wanita itu lalu membawa Flo ke sebuah ruangan yang di tutup dengan tirai.


Flo keluar dari dalam ruangan itu bersama wanita itu.


Gaun itu terlihat sangat cocok di tubuh Flo yang ramping.


"Pak coba lihat calon istri anda. Dia sangat cantik." Ucap wanita itu pada Axel yang masih setia dengan handphonenya.


Axel memasukkan handphonenya kedalam saku switer yang dia kenakan wajahnya kesal menatap Flo dan wanita itu yang berada di hadapannya.


"Lihat dia cantik bukan." Ucap wanita itu menunjuk Flo dengan kedua tangannya dan itu membuat Flo tersenyum malu.


Axel menatap Flo dari bawah hingga atas seakan menilai penampilannya.


"Saya tidak peduli! Mau dia pakai baju gembel sekalipun saya tidak peduli!" Ketus Axel lalu ia berjalan keluar butik.


Hati Flo menjerit sakit mendengar ucapan Axel. Matanya berkaca-kaca menatap Axel yang menghilang di balik pintu.


"Sabar ya mbak." Wanita itu mengusap lengan Flo. Lalu Flo menganggukkan kepalanya dan tersenyum tulus.


Flashback end


Tidak ada yang membuka suara selama perjalan pulang hingga handphone Flo berbunyi dan membuyarkan lamunannya. Tangannya merogoh handphone yang ada di dalam tas.


"Halo.." Ucapnya.


"Halo baby, lagi dimana?"  Tanya Zack dari seberang.


Suara Zack terdengar jelas di telinga Axel hingga ia mengernyit mendengar ucapan Zack " Baby?"  Tanyanya dalam hati.


"Lagi di jalan. Ada apa?" Tanya Flo terdengar lesu.


"Kenapa? Kok suara lu lesu gitu? Ada masalah?" Tanya Zack karena tak biasanya Flo bersikap seperti itu. Jika Zack menghubungi Flo pasti dia  akan menjawab dengan ketus.


"Gak papa. Aku baik-baik aja kok." Ujar Flo berusaha meyakinkan Zack.


"Jangan bohong. Gua tau lu gak baik-baik aja." Kata Zack dengan serius.


"Zack, aku gak apa-apa beneran." Flo terus meyakinkan Zack kalau dia baik-baik saja.


''Zack. Zack yang kemarin?" Batin Axel. Yang masih fokus pada jalanan di hadapannya.


"Jangan bohong. Tadi pagi kak Faustina nelfon gua. Katanya tadi malam Mamah Retta nangis habis nelfon sama lu. Ada apa?" Zack terus mendesak Flo agar jujur.


"Oh itu. Aku cuma kangen aja sama mereka." Bohong Flo.


"Gua harap lu gak lagi ngebohongin gua baby." Ujar Zack.


"Iya beneran. Kamu gak percaya sama aku baby?" Ucap Flo dan itu membuat Axel menoleh kearahnya.


"Ihh tumben lu manggil gua baby. Awas ntar didengar tunangan lu gua bisa di gorok." Flo tersenyum mendengar ucapan Zack. Meskipun Zack selalu memanggilnya Baby baru kali ini Flo memanggil Zack seperti itu.


Pria itu mengerutkan keningnya melihat punggung tangan Flo yang memar dan sedikit membiru." Tangannya kenapa, kok gua baru  lihat." Bisik Axel dalam hatinya.


"Ya udah ah. Kamu berisik. Bye." Flo memutuskan panggilan secara sepihak. Dengan cepat Axel kembali ke posisi semula. Menatap ke depan dan fokus pada jalanan.


Mereka sampai di depan apartemen yang di tempati Flo. Tanpa membuka suara atau mengucapkan terimakasih Flo membuka seatbelt dan pintu mobil lalu keluar begitu saja.


"Cihh..Benar-benar gka punya tata krama!" Gerutu Axel setelah Flo menutup pintu mobil.


Langkah Flo terhenti ketika seseorang memanggil namanya


"Flo...."


Flo menoleh ke belakang.


"Kevin..." Gumamnya. Kevin datang mendekati Flo.


"Astaga Flo aku kangen banget sama kamu." Ucap Kevin dia terlihat sangat bahagia bisa melihat Flo. Tangannya mencubit pelan pipi Flo.


"Ihh kamu kemana aja. Beberapa hari ini gak kelihatan." Ucap Flo yang tak kalah bahagianya dari Kevin. Satu minggu Flo tidak bertemu dengan Kevin.


"Sorry, aku gak ngabarin kamu. Seminggu ini aku ke Singapura. Ada pertemuan mendadak dengan Client." Ucap Kevin. Mereka masih berdiri di depan Apartemen.


"Oh gitu. Terus oleh-olehnya mana?" Flo mengulurkan telapak tangannya di depan Kevin untuk meminta sesuatu.


"Ada kok di rumah. Ntar aku bawain." Ujar Kevin.


"Yeay..Dapat oleh-oleh." Ucap Flo antusias seraya bertepuk tangan.


"Ihh kamu kayak anak kecil deh." Kevin menoel hidung Flo dan gadis itu hanya tertawa kecil.


"O iya. Ada yang mau ketemu sama kamu." Ujar Kevin.


"Siapa?"  Flo Mengernyitkan keningnya. Ia bingung. Tidak biasanya ada yang mencari dirinya.


"Itu..." Tunjuk Kevin ke arah belakang Flo.


Di sana ada dua orang anak kecil laki- laki dan perempuan yang tersenyum padanya dan berlari menghampiri Flo. Flo terkejut melihat mereka.


"Adi. Tasya..." Pekik Flo kemudian kedua anak itu memeluk kaki Flo.


"Kakak..." Ucap kedua anak itu.


Mereka adalah anak yang di tolong oleh Flo satu bulan yang lalu. Anak yang ingin di hakimi oleh warga. Flo mensejajarkan tingginya dengan kedua anak itu. Dia terlihat sangat bahagia. Penampilan kedua anak itu sangat berubah tidak seperti dulu lagi. Sekarang mereka terlihat sangat bersih dan menawan.


"Kalian apa kabar? Kakak kangen." Ucap Flo dan kemudian memeluk mereka berdua.

__ADS_1


"Kalian sudah lupa sama kaka ya?" Tanya Flo berpura-pura sedih. Dan melepas pelukan mereka.


Kedua anak itu menggeleng bersamaan Flo tersenyum dan mengusap pucuk kepala mereka.


Kevin tersenyum melihat mereka bertiga yang sedang melepas rindu.


"Kalian sama siapa kesini?" Tanya Flo lagi.


"Sama ibu dan ayah." Jawab anak laki laki itu yang bernama Adi.


"Ayah?" Flo bingung. "Bukannya Ayah mereka sudah meninggal?" Tanya Flo dalam hati.


"Iya Ayah. Itu.." Tunjuk kedua anak itu pada dua orang yang sudah berdiri di belakang Flo.


Flo menoleh ke belakang. Dia melihat seorang wanita cantik dan seorang pria tampan yang bergandengan tangan dan tersenyum padanya. Flo terkejut matanya melotot melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini.


"Do..dokter Reza?" Tanya Flo dengan hati-hati."dan..dan ibu Mila?" Tanya Flo lagi dengan tidak yakin siapa yang berada di hadapannya ini.


Mila adalah ibu kandung dari Adi dan Tasya yang ia bawa ke klinik dulu.


Mila dan Reza mengangguk bersamaan.


"Iya Flo. Ini Mila ibu dari Adi dan Tasya yang kamu tolong dulu. Dan dia calon istri saya." Ucap Reza dengan tegas seraya tersenyum tulus.


Flo mematung. Dia berusaha mencerna tiap perkataan dokter Reza. Mulutnya menganga tidak percaya.


"Ba..bagaimana bisa?" Tanya Flo masih dengan mulut yang menganga. Dan itu membuat Kevin, Reza, dan Mila tersenyum geli sementara Adi dan Tasya hanya diam tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh orang orang dewasa itu.


"Tentu bisa. Ini takdir Tuhan untuk saya. Dan terimakasih kamu sudah mempertemukan saya dengan jodoh saya." Ujar dokter Reza.


Sesaat mata Flo berkedi-kedip.


"Astaga Flora. Kamu lucu sekali." Gumam Kevin dalam hatinya.


Kemudian....


"Astaga...astaga...ini benerankan? Ya Tuhan ini seriuskan." Ucap Flo antusias setelah dapat mencerna semua perkataan Reza. Kevin, Reza dan Mila mengangguk bersamaan.


"Ya Tuhan. Aku turut bahagia. Selamat..." Flo memeluk Mila dengan tiba-tiba dan hampir membuat ia terjungkal kebelakang reflek Reza menahan punggungnya.


Kedua pria dewasa itu tersenyum dan menggelengkan kepala.


Flo melepaskan pelukannya.


"Vin, dokter Reza. Ini gak mimpikan." Flo masih terlihat tidak percaya ia menatap Kevin dan Reza bergantian. Kevin tersenyum lalu dokter Reza menyerahkan sesuatu pada Flo.


"Biar kamu sadar ini tidak mimpi dan bisa lebih percaya. Ini minggu depan kami akan menikah." Reza menyerahkan amplop berwarna merah dan ada pita di atasnya itu adalah undangan pernikahan mereka.


Flo menerima undangan itu dan membacanya.


"Benar. Ini bukan mimpi." Gumam Flo.


"Selamat ya..selamat sayang." Flo menoleh kebelakang memeluk kedua anak itu. Dia bahagia kedua anak ini bisa mendapatkan kebahagian yang utuh dan kehidupan yang layak.


Itulah kita tidak tahu rencana dari Tuhan.


"Saya harap kamu bisa datang Flo." Ujar Mila lalu Flo bangkit berdiri.


"Pasti mbak. Aku akan datang kok." Ucap Flo dengan antusias.


"Dan lu harus segera nyusul bro." Reza menepuk pundak Kevin.


"Doain aja bro." Ujar Kevin.


"Tau nih. Ingat umur. Udah  tua juga kapan nikahnya." Ledek Flo.


"Astaga Flora..aku belum tua ya. Umurku baru dua delapan." Kevin berpura-pura terkejut.


"Itu udah tuaaaa kevinnnn." Kembali Flo meledek Kevin.


"Astaga Rez..dia bilang gua tua Rez..kamu ya.." Kevin menatap Reza sesaat lalu menarik gemas hidung Flo .


"Sakit Kevinnn..." Pekik Flo seraya menarik-narik tangan Kevin agar melepaskan hidungnya. Itu membuat Reza dan Mila tertawa kecil.


"Makanya jangan bilang aku tua." Ujar Kevin. Tangannya masih setia di hidung Flo.


"Kamu emang udah tua. Terima nasib aja Vin." Flo tidak mau kalah.


"Aku nikahin kamu tau rasa." Kevin melepaskan tangannya dari hidung Flo. Dia sedikit serius dengan ucapannya itu. Tapi Flo malah menertawakannya.


"Hahaha... Nikah sama aku? Yang bener aja!" Flo tertawa lepas dia pikir Kevin bercanda mberkata seperti  itu.


"Udah ah..aku mau pergi. Ayo Adi, Tasya. Hari ini kita bersenang-senang." Flo meraih tangan Adi dan Tasya membawa mereka berdua ke dalam apartemennya.


"Gua yakin lu bisa ngambil hatinya bro. Lu harus berusaha." Ucap Reza pada Kevin setelah Flo masuk ke dalam Lift.


Kevin tersenyum tulus.


"Mungkin sekarang belum. Tapi nanti aku akan naklukin hati kamu Flo." Batin Kevin.


Tidak ada yang sadar sedari tadi ada yang memperhatikan mereka dari dalam mobil.


sejak tadi Axel belum pergi dari tempat ia menurunkan Flo. Dia melihat semua dan mendengar apa yang mereka bincangkan.


Axel menutup kaca jendela mobilnya. Rahangnya mengeras menahan emosi. Kemudian ia menyalakan mesin mobil dan melajukannya di atas rata rata, meninggalkan tempat itu dengan hati yang berkecamuk.


••••••••••••••

__ADS_1


 


 


__ADS_2