Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Episode 20


__ADS_3

"Makasih ya pak." Ucap Flo pada pak Deni supir pribadi Ambar. Tadi Flo minta tolong pada Pak Deni untuk mengantarkan mereka ke kampus karena kondisi Axel belum bisa untuk menyetir mobil.


Flo menutup pintu mobil. Dan dia berjalan bersama Axel. Flo sudah meminta Axel untuk tidak masuk kuliah hari ini,bahkan Flo menelfon Ambar untuk mengatakannya pada Axel, namun tetap saja Axel si keras kepala.


Sontak semua mahasiswa kaget melihat kedekatan Flo dan Axel. Yang mereka tahu Axel tidak pernah dekat dengan wanita di kampus selain Nela dan Shera.


Axel tidak mempedulikan tatapan mereka sementara Flo sudah merasa sangat risih.


"Kok tatapan mereka aneh ya, emangnya aku ******* apa?" Tanya Flo dalam hati.


Saat mereka berjalan menuju kantin, ada seseorang yang berjalan dengan buru-buru hingga tidak memperhatikan jalannya orang itu menabrak Axel. Kondisi Axel yang masih lemah membuat ia terhuyung kebelakang dengan cepat Flo menarik tangan Axel dan melingkarkan tangannya di pinggang Axel. Orang itu pergi tanpa meminta maaf terlebih dahulu.


Mata Axel dan Flo bertemu, ada tatapan yang tidak bisa di artikan di sana.


Satu detik


Tiga detik


Lima detik


Bugghhh


Ada yang mendorong tubuh Flo hingga kepalanya membentur tembok. Itu bukan Axel tapi yang mendorong Flo adalah Sheranita.


"Lu jangan kegatelan ya dekat dekat sama Axel! Cewek udik!" Shera mendorong kembali tubuh Flo hingga terjungkal kebelakang bokongnya terbentur kelantai ia meringis kesakitan.


"Sayang kamu gak apa-apakan? Trus kenapa wajah kamu jadi kaya gini. Siapa yang ngelakuin ini sama kamu?" Shera mengusap lembut kedua pipi Axel dengan raut wajah khawatir. Axel tidak menjawab pertanyaan Shera matanya memandang pada Flo yang  di lantai memegang kening dan bokongnya.


Jantung Axel yang tiba-tiba berdetak tak karuan tidak memberi respon apapun selain menatap Flo. Shera kesal melihat itu.


"Ngapain sih kamu lihat-lihat cewek udik itu. Ayo kita pergi aja!" Shera menarik tangan Axel membawa dia pergi dari hadapan Flo meninggalkan dia begitu saja.


Dave p.o.v


Aku berjalan bersama Nela di koridor kampus, dari kejauhan kami melihat Flo yang di dorong oleh Shera hingga Flo jatuh kelantai.


"Astaga Flo!"


Nela yang mendengar pekikanku mengikuti   arah pandanganku. Nela ikut memekik memanggil nama Flo.


Kami berlari mendekati Flo. Saat kami tiba di sana Shera sudah pergi bersama Axel meninggalkan Flo begitu saja.


Kulihat Flo yang meringis menahan sakit. Lalu Nela membantu Flo untuk berdiri.


"Flo gak apa-apa?" Tanya Nela.


"Lu di apain sama Shera Flo?" Tanyaku pada Flo yang sudah berdiri di hadapanku.


"Ntah, itu orang udah gila kali. Aku gak punya salah apa-apa malah di dorong tiba-tiba. Jidat aku memar gak?" Tanya Flo  menyentuh dahinya yang sudah sedikit membiru.


"Keterlaluan!" Ucapku.


"Gua harus kasih dia pelajaran!" Sepertinya emosi Nela sudah memuncak. Lihat wajahnya sudah memerah seperti itu.


Aku dan Nela sudah lama bersahabat jadi aku pasti tahu sifatnya. Dia tidak akan tinggal diam kalau orang yang sangat dekat dengannya di perlakukan seperti ini.


"Jangan Ne. Aku gak mau memperpanjang masalah." Flo menahan tangan Nela yang ingin melangkahkan kakinya.


Aku dan Nela bingung mendengar apa yang di katakan Flo. Kenapa dia melarang sementara Shera sudah memperlakukan dia dengan kasar seperti ini. Flo berjalan meninggalkan kami yang masih kebingungan.


"Flo tunggu." Nela memanggil Flo dan menyusulnya aku mengikuti mereka dari belakang.


Dan sampailah kami di taman kampus. Kami bertiga duduk di kursi panjang ini.


"Kenapa lu ngelarang gua. Gua mau hajar itu Nenek sihir." Nela menahan emosi.


Flo hanya diam.


"Kenapa diam aja saat lu di perlakukan kasar kaya tadi?" Tanyaku pada Flo.


Dia menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Sesaat dia menatapku dan Nela bergantian. Aku tidak bisa mengartikan raut wajahnya.


"belum saatnya." Ucap Flo


Maksudnya?


Aku menatap Nela yang menyuarakan isi pikiranku.


"Belum saatnya aku tunjukin diri aku yang sebenarnya."


Apa maksud Flo?


Dirinya yang sebenarnya?


"Maksud lu apa sih gua gak ngerti." Tanyaku yang semakin bingung dengan ucapan Flo. Dia hanya tersenyum kecut.


"Jangan buat kita penasaran. Ceritakan yang sebenarnya."

__ADS_1


Aihh Flo bukannya menjawab pertanyaanku malah dia tertawa dan menarik hidungku.


"Hahaha. Kamu jangan terlalu dingin kaya gini. Jomblo seumur hidup mau?."


Issshhh malah ngelantur omongannya. Kenapa jadi ngebahas jomblo.


"Jangan ngalihin pembicaraan Flo." Mungkin Flo menyadari ucapandan raut wajahku yang semakin serius dia menggaruk kepalanya yang aku rasa itu tidak gatal.


"Flo kalau lu memang menganggap kita sebagai sahabat, cerita sama kita." Nela mengusap lengan Flo.


"Ya udah ntar kalian datang ke apartemen dan aku akan cerita semuanya ke kalian."


Aku dan Nela menganggukan kepala menyetujui ucapannya.


Tapi dari raut wajahnya sepertinya banyak hal yang dia sembunyikan.


Kenapa raut wajahnya berubah-ubah seperti itu. Tadi seperti menanggung banyak beban dan sekarang dia terlihat bahagia.


"Ya udah yuk. Kita masuk kelas." Ucapnya kemudian dengan senyum yang mengembang di wajahnya.


"Tunggu." Aku menahan tangannya yang sudah ingin berdiri.


Mungkin ini saatnya aku bertanya tentang hubungannya dan Axel. Sebenarnya aku sudah tahu kalau dia adalah tunangan Axel. Awalnya aku tidak percaya tapi sekarang aku sudah benar-benar yakin kalau mereka sudah bertunangan.


Kalian jangan bingung aku tahu darimana. Aku mendapat kebenarannya dari orang yang terpercaya. Albert. Ya, dia tidak mungkin menolak karena aku sudah mengancamnya.


"Ada apa?" Tanya Flo yang kemudian duduk kembali bersama Nela.


"Gua mau nanya sesuatu. Tapi lu harus jujur."


"Iya." Jawab Flo.


"Ada apa sih, buat gua penasaran aja." Ujar Nela.


"Ada hubungan apa lu sama Axel?"Wajah Flo mendadak  menjadi pucat seperti itu setelah mendengar ucapanku.


"Ngg...mmm.. Itu..mm..ga,gak ada hubungan apa-apa kok."  Tepat dugaanku dia akan mengelak.


"Jangan bohong Flo."Ucapku dengan datar.


"Ihh, A..aku gak bohong Dave."


"Beneran aku gak punya hubungan apa-apa sama Axel. Percaya deh sama aku." Ucap Flo, dia berusaha meyakinkan aku.


"Mmm tapi sayangnya gua gak percaya tuh." Ucapku lalu aku pura-pura menatap ke langit.


"Ada apa sih?" Tanya Nela yang kelihatannya semakin bingung. Memang aku belum memberitahu Nela tentang pertunangan Flo dan Axel.


"Flo adalah tunangan Axel." Aku menekan tiap kata yang aku ucapkan dan itu membuat Nela terkejut dengan tangan yang menutup mulutnya.


"Serius Dave. Jangan bercanda deh." Ujar Nela yang belum percaya.


"Apa wajah gua kayak orang bercanda Ne?" Tanyaku pada Nela, dia hanya menggelengkan kepala dengan mulut yang menganga.


Nela tahu aku adalah orang yang tidak suka bercanda jika dalam keadaan serius seperti saat ini. Aku melirik Flo yang ada ditengah antara aku dan Nela. Wajahnya menjadi pucat. Nah lo, ketahuan kan Flo?.


"Jangan sok tau Dave." Kayanya Flo masih berusaha mengelak.


"Masih ngelak Flo?" Tanyaku.


"Banyak buktinya kok Flo." Ucapku dengan santai.


"Apaan buktinya?" Hmm kayanya Nela udah mulai kepo nih.


"Gak mungkin suatu kebetulan elu dan Axel punya cincin yang sama." Ucapku pada Flo yang kemudian tubuhnya menegang.


"Beneran Flo?" Tanya Nela yang meraih tangan Flo dan menatap lekat cincin yang ada di jari manis Flo.


"Dan gak mungkin juga Albert berbohongkan?" Tanyaku pada Flo. Lalu dia mendesah.


"Kayaknya aku udah gak bisa bohong lagi." Ucap Flo dengan lesu.


"Jadi bener lu tunangan Axel?" Tanya Nela dan setelah sekian lama dia menatap cincin Flo baru saja ia melepaskan tangan Flo.


"Ya. Itulah kebenarannya." Ucap Flo.


"Tapi kenapa lu nutup nutupin ini dari kita?" Tanya Nela dengan wajah serius.


"Ini semua permintaan Axel. Dia terpaksa menerima pertunangan ini jadi dia minta aku untuk menutupinya dari orang-orang. Gak tau kenapa Dia itu benci banget sama aku. Dan aku minta ke kalian berdua jangan bilang pada siapapun. Cukup hanya kalian berdua yang tahu." Ucap Flo panjang lebar. Ada raut sedih di wajahnya. Lalu dia pergi meninggalkan kami yang masih menganga tak percaya dengan apa yang di katakannya tadi.


Terpaksa?


Benci?


Jika terpaksa dan benci kenapa mereka harus di tunangkan?


Kasihan sekali Flo, di saat orang lain bahagia dengan sebuah pertunangan dia malah menyembunyikan pertunangannya.

__ADS_1


Kenapa Axel menyembunyikannya?


Apa dia malu memiliki tunangan seperti Flo?


Atau dia masih menyimpan rasa untuk cinta pertamanya?


Tapi kasihan dengan Flo. Dia pasti tersiksa apalagi selama ini aku lihat Axel tidak pernah berperilaku baik pada Flo malah kata kasarnya tidak pernah di anggap sebagai tunangannya.


Saling bicara atau berjalan bersama di kampus tidak pernah aku lihat.


Aku tidak tega melihat Flo seperti ini.


_____


Setelah pulang kuliah Flo, Dave, dan Nela pulang bersama menuju apartemen Flo. Seperti yang sudah di katakan oleh Flo tadi ia akan menunjukkan dirinya yang sebenarnya.


Axel pulang bersama Shera. Flo tidak masalah karena Ambar sudah pulang dari luar kota pasti dia sudah berada di rumahnya. Lagi pula Axel tidak terlalu peduli siapa yang akan mengantarnya pulang.


Sesampai di apartemen TLS Flo mengajak kedua sahabatnya masuk ke dalam apartemen yang ia tempati.


"Aku mau ganti baju. Anggap saja rumah sendiri, terserah kalian mau ngapain aja." Ucap Flo dan hanya di angguki oleh Nela dan Dave. Flo berjalan menuju kamarnya dan menutup pintu.


"Ini apartemen yang pernah di tempati Axel kan?" Tanya Nela pada Dave yang kemudian mereka berjalan menuju dapur.


"Iya. Dan di sita sama Tante Ambar karena dia tidak pernah membersihkan tempat ini." Seru Dave lalu tangannya bergerak membuka lemari es, mengambil dua tin minuman segar dan berjalan menuju pantry memberikan satu pada Nela. Kemudian mereka tertawa bersama.


Tawa mereka terhenti ketika melihat seseorang berdiri di hadapan mereka.


Seorang gadis cantik berambut panjang warna coklat alami. Mata mereka melotot melihat wanita yang ada di hadapan mereka dengan mulut yang terbuka.


Gadis itu tersenyum pada mereka.


"Kenapa?" Tanya Flo.


"I..i.ni lu Flo?" Gugup Dave. Flo menganggukkan kepalanya.


"Ini..beneran Flora?" Tanya Nela yang kemudian berdiri dari kursi yang ia duduki.


"Iya aku FLORA KHATARINA." Ucap Flo yang menekankan namanya.


"Tapi kok beda..." Dave meletakkan minuman yang ia pegang tadi di atas meja pantry.


Flo menarik nafas perlahan lalu menghembuskannya.


"Ini aku yang sebenarnya. Aku minta sama kalian jangan katakan pada siapapun tentang ini. Aku percaya sama kalian berdua." Flo berjalan ke arah Nela dan Dave menarik kursi dan mendudukinya.


"Tapi kenapa lu nyembunyiin diri lu yang sebenarnya?" Tanya Nela yang sudah duduk kembali di kursi.


"Ada sesuatu yang menyebabkan aku menjadi begini. Suatu saat aku akan ceritakan pada kalian. Tapi tidak sekarang." Ucap Flo.


"Axel tahu tentang ini?" Tanya Nela kemudian.


Flo menggelengkan kepalanya. Wajahnya menyiratkan kesedihan yang mendalam.


"Tapi dia itu tunangan lu Flo. Seharusnya lu kasih tahu dia diri lu yang sebenarnya." Sambung Nela lalu tangannya terulur mengusap lengan Flo.


"Belum saatnya Ne. Tunggu waktu yang tepat." Flo mendesah. Dia takut Axel akan mengenalinya nanti jika Flo menunjukkan dirinya yang sebenarnya dan semua akan terbongkar sebelum waktunya.


"Kita akan dukung apapun keputusan lu. Dan kita akan tunggu sampai lu siap untuk cerita semuanya sama kita Flo." Seru Dave dan mengambil minumannya kembali yang di atas meja lalu menenggaknya hingga setengah.


"Thanks. Kalian emang sahabat terbaik aku." Ucap Flo lalu memeluk Nela yang berada di sebelahnya.


"Apapun yang lu alami. Apapun masalah lu. Cerita sama kita, kita akan bantu semampu yang kita bisa. Jangan sungkan-sungkan. Oke." Masih dalam keadaan berpelukan Nela berkata seperti itu. Flo menganggukan kepalanya dalam pelukan Nela.


Dave yang merasakan suasana menjadi dramatis itu merasa jengah. Dia tidak suka suasana yang seperti ini. Lalu dia melepaskan pelukan Nela dan Flo secara paksa.


"Ngapain sih peluk-pelukan segala. Dramatis amat hidup lu berdua." Ketus Dave yang bersandar pada meja pantry


"Apaan sih lu Dave. Ganggu orang aja. Ini tuh pelukan kasih sayang. Bilang aja lu ngirikan karna ga bisa meluk kita?" Ledek Nela dengan menyipitkan matanya.


"Ck, ngiri. Gak lah. Lagian siapa bilang gua gak bisa meluk kalian?" Tanya Dave lalu meletakkan minuman kaleng yang di tangannya tadi.


"Sini gua peluk." Dave merentangkan tangannya di hadapan Flo dan Nela seolah ingin memeluk mereka. Dave yang semakin mendekat ke arah mereka tiba tiba berhenti mendengar ucapan Flo.


"Lu mendekat hidung lu pindah ke belakang." Flo mengepalkan tangannya di hadapan wajah Dave. Dave mendengus melihat itu.


Nela tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Dave.


Mereka tertawa bersama dan sesekali saling meledek satu sama yang lain.


Awalnya Flo ragu ingin menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Tapi kemudian dia benar-benar yakin dan percaya pada Dave dan Nela jika mereka adalah sahabat yang baik.


Perlahan dia akan menceritakannya semua kepada mereka. Tapi tidak dengan rahasia dan pengintaian yang akan dia lakukan nanti. Cukup hanya dia yang tahu tentang itu. Karena ia tidak ingin melibatkan siapapun dalam hal ini. Flo siap menerima resiko yang sangat besar akibat dari keberaniannya untuk mengetahui siapa yang telah meneror keluarga Ambar dan yang telah mengancam untuk menghabisi Axel sesuai isi surat yang ia temukan itu.


Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Axel dan Ambar. Ia bertekad akan melindungi mereka berdua.


•••••••

__ADS_1


 


 


__ADS_2