Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Episode 24


__ADS_3

"Dasar anak pembawa sial!!"


"Kau itu pembawa sial!!"


"Anak pembawa sial!!"


"Kenapa kau tidak mati saja!!!


"Enyah kau dari hadapanku pembawa sial!!!"


Dooorrrrrrr


"Aaaarrrggghh tidakkkkkk!!!!"


"Flo...flora ..kamu kenapa Flo? Bangun!"


Flo terduduk di atas kasur. Nafasnya memburu seperti di kejar penjahat. Bulir-bulir keringat menetes dari keninya. Dia ketakutan. Lututnya di tekuk, badannya membungkuk. Ia memeluk kakinya sendiri.


'Tidak...tidak...tidak....a..aku bu..bukan pembawa sial." Ucapnya ketakutan.


Zack yang melihat itu merasa khawatir dia mendekati Flo.


"Jangan...jangan mendekat..jangan mendekatiku...pergiiiiii!!!" Teriak Flo pada Zack yang mencoba mendekatinya.


"Flo...ini aku Zack..sepupumu. Aku tidak akan menyakitimu Flo." Ucap Zack dengan suara yang bergetar. Dia benar-benar tidak sanggup melihat Flo seperti ini.


"Ini aku Zack. Sepupumu Flo." Dengan suara yang sangat lembut Zack meyakinkan Flo. Sadar akan siapa yang ada di sampingnya Flo langsung memeluk tubuh Zack.


"Zack..aku takut..hiks..hiks..aku takut Zack." Adu Flo pada Zack yang juga memeluk dan mengusap kepala Flo.


"Ssttt, aku di sini. Percayalah everything be okey." Ucap Zack dengan terus mengusap kepala Flo yang terus memeluk dirinya dengan erat.


Lima menit Flo memeluk Zack dengan rasa takut dalam hatinya. Setelah merasa baikan Lalu ia melepaskan pelukannya. Terlihatlah wajah pucat dan mata sembabnya. Tampilan Flo kini benar-benar mengoyak hati Zack.


"Kamu istirahat. Aku akan membuatkan sarapan." Kata Zack pada Flo yang masih mematung.


"Tidak. Aku ingin mandi dan berangkat ke kampus." Ucap Flo datar.


"No! Kamu jangan ke kampus dulu. Keadaanmu belum baik Flo." Ucap Zack tegas. Bagaimana mungkin Flo akan ke kampus dalam keadaan begini. Keadaan yang tidak baik-baik saja.


"Tidak Zack. Aku harus ke kampus. A..aku merindukan Axel." Bohong Flo. Padahal dia ingin memastikan jika Axel baik-baik saja tanpa ada orang-orang jahat yang mengikutinya.


"Cihhhh. Merindukan manusia brengsek itu!" Zack tersenyum sinis.


"Heii apa yang kau katakan dia itu calon suamiku Zack." Ucap Flo pada Zack ia tidak suka Axel di katakan Brengsek.


"Calon suami katamu? Calon suami apa yang tidak menginginkanmu dalam hidupnya?" Tanya Zack. Flo membulatkan matanya.


"Maksudmu?".


"Aku sudah tau semuanya Flo. Aku mendengarkan semua percakapan kalian tadi malam." Flo mematung mendengar ucapan Zack. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nantinya. Zack sudah mengetahuinya.


"Dan akan ku berikan laki-laki brengsek itu pelajaran! Karna dia sudah mengembalikan mimpi burukmu itu!" Rahang Zack mengeras. Tangannya terkepal mengingat apa yang di katakan Axel tadi malam padanya. Zack berjalan menuju pintu kamar. Namun langkahnya terhenti karna ada tangan yang memeluknya dari belakang.


"Jangan Zack..aku mohon. Pliss jangan sakiti dia." Flo terisak di punggung Zack. Dia tidak ingin Zack menyakiti orang yang dia cintai.


"Apa yang kau katakan! Dia sudah menyakitimu dan kau katakan jangan menyakitinya?" Ucap Zack tak suka.


Zack memutar tubuhnya menghadap Flo. Flo semakin menangis.


"Aku mohon. Jangan sakiti dia. Aku mencintainya Zack. Aku mencintainya." Flo menggenggam erat kedua tangan Zack. Memohon padanya agar mengurungkan niatnya itu. Zack tidak sanggup melihat air mata Flo. Dia lebih baik melihat Flo marah padanya daripada harus menangis seperti ini.


"Kau mencintainya?" Tanya Zack dengan lembut dan di jawab anggukan kepala dari Flo.


"Kenapa kau begitu bodoh mencintai orang yang tidak mencintaimu?" Zack mengusap air mata Flo dengan jarinya.


Flo menundukkan kepalanya.


"Bersyukurlah karna aku yang berada disini. Kalau bodyguard setiamu itu yang berada di posisiku saat ini. Mungkin tunangan sialanmu itu tidak akan dapat bergerak lagi!" Ucap Zack tajam. Flo mendongak menatap wajah Zack. Mata sembabnya berbinar.


Ia tau Zack tidak akan sanggup melihat Flo menangis dan memohon seperti ini.


"Berjanjilah untuk tidak memberitahukannya pada siapapun." Ucap Flo dengan wajah memohon.


"Hentikan wajah memohonmu itu. Aku benci melihatnya." Kata Zack yang kemudian membalikkan badan menuju pintu. Flo mengikutinya dari belakang hingga menuju dapur.


"Aku akan menghentikannya. Tapi berjanjilah dulu padaku. Kalau kau tidak akan memberitahukan siapapun." Ucap Flo dengan terus mengekori Zack yang membuka lemari es mengambil sesuatu dan berjalan menuju sink.


"Untuk apa?" Tanya Zack dengan terus melanjutkan aktifitasnya mencuci sayuran.


"Ya berjanjilah dulu. Nanti akan tiba saatnya kau akan tau." Flo terus mengikuti Zack.


"Nanti kapan?"


"Tidak akan lama lagi. Awww!" Ucap Flo lalu kemudian memekik karna Zack tiba-tiba berhenti dan memutarkan badannya. Kepala Flo membentur dada bidang dan keras Zack.


Zack menatapnya datar.


"Baiklah. Aku harap secepatnya. Kau taukan aku tidak tahan rahasia." Zack mengangkat sebelah alisnya.


"Iya aku berjanji. Secepatnya!" Ujar Flo dengan antusias dan senyum yang mengembang.


"Akhirnya Flora kembali lagi. Tetaplah bahagia seperti ini Flo. Jangan ingat lagi masa lalumu." Batin Zack dengan terus memandangi Flo. Merasa di pandangi seperti itu Flo bingung.


"Heiii zig-zag!! Sadar woiii..ada yang aneh di wajahku ?" Tanya Flo. Dia benar-benar sudah kembali seperti Flo semula. Lamunan Zack buyar kala Flo mengguncang lengannya.


"Ohhh ga. Lu mandi dah. Gua buat sarapan. Gua harus buru-buru ke kantor nih." Ucap Zack dan kembali dengan aktifitas memasaknya.


"Siap pak komandan!" Flo memberi hormat pada Zack. Zack terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Flo.


Skiipp


Zack sudah berangkat ke kantor. Dan tinggallah Flo sendiri di rumah Zack. Tadi malam saat pulang dari rumah Axel di tengah jalan Flo tertidur di mobil Zack. Zack tidak tahu alamat apartemen Flo. Lalu dia berinisiatif membawa Flo ke rumahnya. Orangtua Zack sedang dalam perjalanan dari luar kota menuju jakarta.


Flo berjalan di ruang tamu dia melihat figura yang cukup besar. Dua orang wanita kembar dan dua orang pria tampan tersenyum di foto itu.


"Mah..yah..Arin kangen." Ucap Flo lirih. Lalu dia tersenyum tipis. Retta dan ibu Zack adalah saudara kembar. Mereka sangat mirip. Hingga sangat sulit membedakannya.


Flo tidak ingin menjadi sedih. Lalu dia berjalan menuju taman sekitar komplek rumah Zack. Ia menghirup udara yang begitu segar karna di komplek rumah ini banyak di tumbuhi pepohonan yang besar-besar dan itu membuat suasana menjadi semakin sejuk.


Ia melihat sebuah kursi panjang besi berwarna kuning. Matanya menatap ke arah kursi itu namun pandangannya kosong. Dia mematung. Seperti mengingat sesuatu dia seolah membayangkan seorang gadis kecil duduk di kursi itu sendirian. Menangis terisak-isak,tubuhnya di penuhi lebam yang sudah membiru ke hitaman.


Air menetes membasahi pipinya. Ia tetap tidak bergeming dari tempat dia berdiri bahkan air itu semakin banyak dan keras mengguyur sekitarnya namun seolah dia tersihir tidak dapat bergerak dari tempatnya. Sudah satu jam hujan terus mengguyur tubuhnya dan satu jam pula dia berdiri disana.


Hingga ada seseorang memekik memanggil namanya.


"Flora!!!!"


Namun tetap tidak di hiraukan olehnya. Dahan pohon di atasnya bergerak tak karuan. Sepertinya dahan itu akan jatuh dan menimpa kepala Flo. Bertepatan saat dahan itu jatuh ada seseorang menarik tubuh Flo.


"Apa yang kau lakukan hujan-hujanan seperti ini! Bagaimana jika dahan itu menimpa tubuhmu?!" Ucap pria itu dengan tegas. Wajahnya menyiratkan amarah. Flo tersadar dari hipnotis dirinya sendiri. Dia terlihat kebingungan.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya." Kevin? Kenapa bisa kamu ada disini?" Tanya Flo lagi setelah menyadari siapa yang memeluk dirinya dari samping.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu." ketus Kevin. Lalu dia membawa Flo ke dalam mobilnya tidak peduli mobilnya akan basah atau tidak.


"Apa yang kamu lakukan di sana?" Tanya Kevin yang mengintrogasi Flo ketika mobilnya sudah melaju.


"Tidak. Aku hanya menikmati suara-suara alam." Ucap Flo berbohonga.

__ADS_1


"Menikmati suara alam? Sampai kamu tidak sadar ada bahaya yang menimpamu?" Tanya Kevin lagi.


"Aduh Kevin sudahlah. Aku baik-baik sajakan. Terimakasih sudah menyelamatkanku." Ucap Flo pada akhirnya. Kevin menghembuskan nafasnya kasar.


"Aku mengkhawatirkanmu Flo." Ujar Kevin. Berharap Flo mengerti arti kekhawatirannya itu.


"Apa yang kamu lakukan di sana?" Tanya Flo. Kevin mendengus Flo mengalihkan pembicaraan mereka.


"Aku baru dari rumah Reza." Jawab Kevin seadanya. Flo hanya membulatkan mulutnya berbentuk O sambil menganggukkan kepalanya.


"Antarkan aku ke apartemen ya." Pinta Flo pada kevin. Kevin hanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu kedinginan Flo?" Tanya Kevin lagi. Flo menganggukkan kepalanya. Kevin menarik sesuatu dari kursi belakang." Pakai ini. Bisa menghangatkan sedikit." Kevin menyodorkan jas kerja miliknya.


"Jangan menolak!" Tegas Kevin saat Flo ingin menolak pemberiannya. Dengan sangat terpaksa Flo memakainya.


45 menit kemudian


"Sudah sampai." Ujar Kevin.


"Mmm ya sudah aku turun dulu. Terimakasih Kevin." Ucap Flo yang membuka sabuknya dan membuka pintu mobil.


"Jangan lupa mandi air hangat. Setelah itu pakai baju hangatmu dan minumlah sesuatu yang hangat agar kamu tidak masuk angin nantinya." Kevin terdengar sangat perhatian pada Flo. Flo hanya tersenyum membalas ucapan Kevin.


"Kamu juga. Hati-hati di jalan." Ucap Flo lalu menutup pintu mobil kembali. Dia berjalan meninggalkan mobil Kevin menuju apartemennya.


"Kapan kamu akan mengerti kalau aku menyayangimu Flora?" Bisik Kevin yang menatap punggung Flo yang semakin menjauh.


Skiippp


Axel p.o.v


Kemarin adalah hari yang teramat panjang bagiku. Ntahlah aku tidak tahu kenapa.


Sejak saat malam ulang tahun Flo yang di rayakan kecil-kecilan aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Tepat saat Flo mengatakan dia akan pergi meninggalkan aku. Seperti ada rasa ketidakrelaan di hatiku. Tapi bukannya ini yang ku inginkan? Ya benar ini yang ku inginkan. Aku sangat membencinya. Aku ingin dia pergi dari hidupku selamanya. Mungkin rasa ini hanya rasa bersalah padanya karna baru pertama kali itu aku berkata kasar pada seorang wanita. Pada Shera pun aku tidak pernah berkata sekasar itu meskipun dia selalu menempel padaku.


Tapi pada Flo aku selalu berkata kasar padanya meskipun dia selalu bersikap baik padaku.


Hahh ntahlah....


Aku selalu menatap ke pintu masuk kantin berharap dia masuk kuliah hari ini. Tapi tetap saja tidak ada bayangannya yang muncul.


Plookkkk


Astaga siapa yang melempar kepalaku!


"Lu ngapain lihat-lihat kesana? Nyari Flora?" Ishhh Albert.tahu saja dia apa yang ada dipikiranku. Tapi seperti biasa hati dan mulutku tidak sejalan.


"Buat apa gua nyariin dia. Hidup gua tenang tanpa dia." Ucapku datar. Kulihat sebentar Alex menggelengkan kepalanya.


"Jangan samapai lu nyesel. Itu aja pesan gua." Ucapnya datar.


Menyesal?


Aku rasa tidak.


Aku bahagia jika dia pergi dari hidupku.


Tapi......


Gubrakkk


"Ehh kampret!! Kaget gua nyet!!"


Kalian pasti tau itu kalimat siapa. Albert pastinya.


"Apa kabar kalian?" Tanyanya. Sekaligus berjabat tangan dengan kami.


"Baik. Lama ga kelihatan." Ujar Albert lalu Reno terkekeh kecil.


"Gua belum nemuin yang gua cari. Padahal minggu depan gua bakal pindah ke Paris."


Kami bertiga kaget mendengar ucapan Reno. Dia akan pindah? Ke Paris?.


"Yang bener!" Tukas Alex. Hmmm bahkan dia sepupunya saja tidak tahu.


"Serius lu?" Aihh tidak cukup satu orang aja apa yang bertanya. Memang Albert ini kadang-kadang over dosis ya.


"Iya. Mangkanya gua mau ngumpul-ngumpul bareng kalian sekalian perpisahan gitu. Tapi ga pernah bisa." Reno meringis.


"Tenang aja next week bisa kok. Dua hari sebelum lu berangkat mungkin." Ucap Alex yang diangguki oleh Aku dan Albert.


"Ok kalau gitu gua duluan. Mau ketemu soulmate gua." Ucapnya antusias. Lalu dia pergi.


"Prettttt soulmate apaan. Ntar juga putus kalau LDRan." Albert mencibir Reno yang sudah pergi. Perlu kalian tahu kalau di antara kami ini Albert lah yang paling mirip perempuan. Cerewet.


"Bilang aja lu ngiri! Jomblo akut!" Alex meledek Albert. Aku hanya menggeleng kepala mendengar perdebatan mereka.


"Kaya lu ga jomblo!" Lagi Albert membalas Alex. Apa mereka berdua ini tidak bisa diam? Aku lagi pusing.


"Ck, sama-sama jomblo juga saling ngejek. Makanya cari pacar sana! Biar ga kesepian." Ucapku pada akhirnya yang jengah dengan perdebatan mereka.


Ehhh


Tunggu...


Apa ada yang aneh dengan ucapanku?


Kenapa mereka menatapku seperti itu?


Senyum misterius mereka yang membuat aku bergidik geli.


Aku mengangkat sebelah alisku. Seolah mengatakan "apa?" Mungkin mereka mengerti dengan ekspresiku ini.


Mereka berdua menunjukkan smirk yang aneh menurutku. Ada apa dengan mereka ini


"Jadi udah ngakuin kalau Flora adalah tunangan lu?"


Jleebbbb


Senjata makan tuan ini namanya.


Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Albert.


Tapi jika aku tidak menjawabnya mereka nanti berfikir kalau aku sudah


Menerima Flo dalam hidupku.


Tidak..tidak


Aku harus mencari alasan.


Tapi apa??


Yahh aku tau....


"Cihh gak lah. Lu berdua lupa kalau gua belum putus dari Nadya?" Tanyaku pada mereka. Nah loh.,ga bisa jawabkan.


Ya aku memang belum putus dari dia wanita yang aku cintai. Tapi dia malah pergi meninggalkan akau tanpa pesan apapun. But aku yakin suatu saat dia akan kembali padaku.

__ADS_1


"Sampai kapan nunggu orang yang gak akan pernah hadir lagi dalam hidup lu? Dia udah pergi Xel. Lu harus lupain dia. Dan ingat ada Flo dalam hidup lu!"


Alex berusaha menasehatiku? Tapi itu tidak akan berhasil. Karna aku masih mencintai wanitaku. Terserah mereka mau bilang apa aku tidak peduli.


"Dia akan kembali Lex." Ucapku datar.


"Lex..lex. Capek hati lu nasehatin dia. Dia ga bakalan nyadar sebelum dia menyesal pada akhirnya." Aku menatap tajam Albert yang mengucapkan perkataan itu. Apa maksudnya coba?


"Woii..pada kenapa sih tegang amat." Dave datang bersama Nela mengagetkan kami.


"Bisa ga sih lu gak ngagetin kita?" Tanya Albert. Tumben ga mengumpat.


"Gak bisa. Gua suka lihat kalian terkejut." KataDave dengan kekehan garingnya.


"Dasar sepupu durhaka lu ya!" Ketus Albert pada Dave. Ck,kenapa sih sahabatku yang satu ini cerewet sekali,apa jangan-jangan dulu sebelum lahir jenis kelaminnya di tukar Tuhan tiba-tiba?


Hehhh


Tapi tunggu dulu. Kenapa mereka hanya berdua. Kemana Flo. Aku tidak melihatnya.


"Ehhh Flo kemana? Dari kemarin gua ga lihat?" Pertanyaan yang di kepalaku di suarakan oleh Alex. Mungkin dia tahu aku tidak akan pernah menanyakan hal itu.


"Itu dia. Kita ga tau. Dari kemarin handphonenya ga aktif. Dan kemarin Gua udah coba ke apartemen yang dia tempati tapi kayanya ga ada orang. Gua khawatir banget dia kenapa-napa." Mendengar perkataan Nela aku biasa saja. Tapi jujur hatiku berkecamuk sekarang.


"Xel, lu tahu Flo dimana?"


Hah! Aku menatap Dave yang bertanya padaku. Aku menggelengkan kepala.


"Lu tunangannya kok lu ga tau sih!" Ketus Nela. Sepertinya dia akan marah padaku. Raut wajahnya benar-benar tidak bersahabat.


"Gua ga peduli Nela. Hidup gua tenang tanpa dia." Ucapku datar. Iya hidupku tenang tanpa dia.


"Lu benar-benar berubah tau ga!" Nela menunjuk wajahku dengan jarinya. Lalu pergi meninggalkan kami dan di susul oleh Dave.


Tatapan Alex dan Albert padaku sangat aneh. Seperti tidak bersahabat gitu. Apa yang salah? Aku membenci Flo. Aku ingin lepas dari dia. Aku ingin dia pergi dari hidupku.


Jika kalian membenci seseorang pasti kalian tidak ingin melihat wajahnya bukan? Sama seperti aku.


Apa aku salah menurut kalian?.


______


Hari ini. Hari ketiga setelah ulang tahun Flo. Sudah dua hari dia tidak masuk kuliah. Karna kemarin dia Flu akibat main hujan-hujanan itu. Dan hari ini dia harus masuk kuliah karna sebentar lagi harus ujian.


Nela p.o.v


Apa hari ini Flo tidak masuk lagi?


Jujur aku sangat khawatir padanya. Dia sahabatku. Aku sangat peduli padanya.


Sudah dua hari juga handphonenya tidak aktif.


Aku memarkirkan mobilku di parkiran kampus. Lalu keluar dari mobil berjalan menuju kelas.


"Ne...tunggu!" Aku menoleh ke belakang. Dave memanggilku dan berlari kecil menuju tempat aku berdiri.


"Pagi." Sapanya.


"Pagi juga Dave." Aku menjawab sapaannya. Kami berjalan bersama.


"Gimana. Udah ada kabar tentang Flo?" Tanyanya padaku. Aku menggelengkan


Kepalaku.


"Belum Dave. Handphonenya masih gak aktif. Gua khawatir banget sama dia." Aku mendesah. Iya aku benar-benar khawatir pada Flo.


Pada malam ulang tahunnya itu setelah bicara berdua dengan Axel wajahnya benar-benar berubah. Dia memang ceria seperti biasa tapi aku tahu itu semua hanya kepalsuan. Ntah apa yang sudah di katakan Axel padanya. Aku benar-benar tidak habis fikir pada Axel,kenapa bisa dia sangat membenci Flo sementara Flo sangat baik padanya.


Aku ingin menghubungi Zack sepupu Flo tapi aku tidak punya contactnya. Karna malam itu dia datang  tapi terlambat dan Zack yang membawa Flo pulang. Aku,Dave,Alex,dan Albert sudah tahu kalau Zack itu adalah sepupu Flo. Tapi Axel tidak tahu ini. Toh dia juga tidak pedulikan.


Aku dan Dave berjalan di koridor kampus.


"Ne..itu bukannya Flo?" Dave menghentikan langkahnya begitu juga dengan aku. Aku mengikuti arah jari telunjuknya pada seseorang yang berjalan di depan kami.


"Iya itu Flo!" Ucapku antusias. Aku mengenalinya meskipun tidak melihat wajahnya. Terlihat dari rambut anehnya itu dan tasnya. Dia kenapa? Kok memakai jaket tebal seperti itu. Apa dia sakit?.


Dengan cepat Aku dan Dave menghampirinya.


"Flo!" Panggilku lalu menahan pundaknya. Dia menoleh. Aku kaget melihat wajahnya.


"Dari mana aja? Dan kenapa wajah lu begini?" Tanyaku dengan khawatir.


"Lu kok jadi kaya zombie Flo." Ujar Dave. Iya benar. Flo sekarang seperti zombie mata yang menghitam,wajah yang pucat,dan hidung yang memerah.


"Hahahahaha. Iya aku kayak zombie ya?".


Hah! Dia masih tertawa dalam keadaan yang seperti ini.


"Kita khawatir sama lu dan lu masih tertawa seperti ini!?" Ucapku ketus. Aku kesal padanya menghilang dua hari dan tidak memberi kabar.


"Dua hari ini lu menghilang. Lu kemana aja Flo. Handphone lu juga ga aktif."  Kali ini Dave yang bertanya.


Flo menghentikan tawanya. Suaranya serak hampir hilang.


"Kalian gak lihat aku lagi sakit? Dan handphone kayaknya tinggal di rumahnya Zack." Aku dan Dave menganggukkan kepala mendengar penuturan Flo.


"Lah trus gua ke apartemen lu gak ada?" Tanyaku lagi.


"Oh itu gua nginap di rumah Zack. Ya udah ke kelas yuk. Kepala gua pusing." Flo berjalan meninggalkan kami dan tak lama aku dan Dave menyusulnya.


Sampai di kelas aku lihat Flo menelungkupkan kepalanya di atas meja. Aku tidak tega melihatnya.


"Flo udah sarapan blom. Gua beliin sarapan buat lu ya." Aku menyentuh lengannya.


Panasss


"Flo lu demam. Lu pulang aja deh." Ucapku khawatir.


"Nggak..aku gak papa Ne." Ucap Flo masih dengan posisi semula.


Dave datang menghampiri kami lalu menyentuh lengan Flo.


"Flo harus pulang sekarang. Lu demam Flo. Ayo!" Tegas Dave pada Flo dan menarik tangannya. Jika  Dave  seperti berkata tegas seperti ini aku dan Flo tidak bisa berbuat apa-apa.


Aku merangkul Flo dari samping. Badannya panas sekali dia lemas dan tasnya Dave yang membawa.


Sampai di parkiran ku lihat Axel keluar dari mobilnya dia melihat kami sekilas kulihat dia mematung melihat kami lalu dia pergi begitu saja.


Aku benar-benar kecewa padanya. Bisa-bisanya dia berbuat seperti ini pada Flo. Flo ini tunangannya. Sebenci-bencinya dia pada Flo seharusnya dia punya hati nurani sebagai manusia,bertanya ada apa dengan Flo. Ini tidak dia malah pergi begitu saja.


Dia benar-benar berubah tidak seperti Axel yang aku kenal dulu. Yang selalu respect pada wanita dan care pada orang yang membutuhkan bantuan.


Kamu berubah Xel!


•••••••


 


 

__ADS_1


__ADS_2