
🎶 Bila memang berakhir akhirilah saja, bila memang kau pergi lupakanlah aku.🎶
Aku meraih handphoneku yang berbunyi saat aku menikmati sarapanku.
"Halo."
"Hai Flo sore nanti sibuk gak?"
"Mmm enggak Vin. Ada apa?"
"Aku mau bawa kamu ke suatu tempat. Sore nanti aku jemput kamu di kampus. Oke. Bye."
Tut..tut..tut..
Belum sempat aku menjawab ucapan Kevin dia sudah memutuskan panggilannya.
Ada apa sih dengan dia.
Aneh.
Sebenarnya sih aku masih canggung padanya. Setelah kejadian di caffe itu. Dia mencium pipiku didepan sahabat-sahabatku. Jelas saja aku malu. Apalagi ada Anya di sana.
Axel. Ntahlah, sikapnya selalu berubah-ubah. Tapi aku tahu dia tidak peduli padaku.
Tapi jujur. Aku sangat mencintai dia. Meskipun dia tidak pernah memperlakukanku dengan baik. Tapi aku tidak pernah bisa membencinya.
Ahh sudahlah.
Yang penting dia tidak mengenali wajahku. Benar yang dikatakan dokter Yoga. Dia tidak ingat padaku. Dia tidak mengingat orang yang sudah membawanya kerumah sakit.
Syukurlah.
Setelah sarapanku selesai aku segera berangkat ke kampus. Tentunya naik angkutan umum. Apartemen yang ku tempati tidak jauh dari halte busway. Jadi aksesnya sangat mudah bagiku.
Sampai di kampus aku tidak ingin ke kantin. Aku langsung masuk ke kelas. Meskipun dari tadi Nela memintaku ke kantin. Aku malas. Aku malas bertemu Axel. Biarkan untuk sementara ini aku menghindar darinya dulu.
Karna dua minggu lagi aku tidak bisa menghindarinya lagi. Dua minggu lagi pernikahan kami akan di laksanakan.
Sebenarnya ada rasa bahagia dalam hatiku mengingat sebentar lagi aku akan menjadi istrinya.
Yang pertama aku bisa bersama dengannya. Aku bisa memantau keadaannya.
Yang kedua di hari pernikahanku nanti pasti Ayah dan Mamah akan datang. Itu yang paling membahagiakan bagiku karena aku sudah sangat merindukan mereka.
"Flo!!!!"
Aku tersentak mendengar pekikan Nela di depan pintu kelas.
"Ah Nela suaramu bisa membelah samudra Pasifik tau gak!'' Kesal Dave yang sedang menggosok-gosok telinganya.
"Ada apa sih Ne?" Tanyaku saat Nela sudah duduk disampingku.
"Lu kenapa gak nyusul kekantin?" Tanyanya. Aku sudah duga dia akan menanyakan itu.
"Males." Jawabku singkat. Entahlah sejak kemarin moodku benar-benar tidak baik.
"Tumben lu males." Ujar Dave. Aku hanya berdehem menanggapi ucapannya. Jika sudah seperti ini mereka akan paham.
Sejak pagi hingga sore ini aku hanya berada di kelas. Tidak keluar ke kantin ataupun ke toilet. Dave dan Nela sampai kebingungan denganku.
Ya tidak biasanya aku seperti ini.
Aku berjalan gontai menuju parkiran karna tadi Kevin mengatakan dia sudah sampai di parkiran.
Benar saja. Dia sudah berdiri di pintu mobilnya. Aku menghampirinya.
"Maaf. lama ya?" Tanyaku.
"Gak kok. Ayo kita berangkat." Katanya sambil membukakan pintu mobil untuk.
Jujur Kevin ini sangat baik. Perhatian. Seandainya saja Axel bersikap seperti dia pasti aku sangat bahagia sekali. Tapi itu semua adalah hal yang tak mungkin terjadi.
Aku tidak tahu kemana Kevin akan membawaku. Katanya sih rahasia.
"Vin kita mau kemana sih?" Tanyaku untuk kesekian kalinya.
"Rahasia Flo." Itu saja jawabannya jika kutanya. Aku mendengus kesal. Dia tertawa kecil melihatku.
"Kamu lucu. Kalau kayak gitu." Katanya dengan kekehan garingnya itu. Aku hanya mengerucutkan bibirku.
"Oke kita sampai." Ucapnya antusias. Aku bingung. Aku tidak tahu ini dimana. Tempatnya terasa asing bagiku.
Sebelum aku bertanya ini dimana Kevin sudah turun duluan. Dia mengitari mobil dan membukakan pintu mobil untukku. Masih dengan raut wajah yang kebingungan aku menatap Kevin.
"Vin ini kita mau kemana?" Tanyaku saat kami masuki sebuah gedung.
__ADS_1
"Nanti juga kamu bakalan tau." Ucapnya lalu tersenyum.
"Kamu gak mau bunuh aku kan?" Tanyaku was-was.
"Ya ngga lah Flo. Kamu ada-ada aja." Katanya lalu mengacak-acak rambutku. Ya siapa tahu aja iyakan? Dia ada dendam yang tersimpan dalam hatinya untukku. Lalu ingin balas dendam seperti di sinetron-sinetron itu.
Kami menaiki lift hingga kelantai 30. Keluar dari lift Kevin menutup mataku.
Apasih maksudnya.
"Udah tenang aja. Aku ga bakal nyakitin kamu. Percaya sama aku." Ucapnya ketika aku ingin menolak tangannya yang menutupi mataku. Aku hanya menurut saja. Tidak mungkin juga dia menyakitiku kan? Kalaupun ia aku bisa menghadapinya.
Kevin menuntunku menaiki tiap anak tangga. Aku tidak tahu ini mau kemana.
Tiba di anak tangga terakhir kami berhenti. Perlahan-lahan Kevin melepaskan tangannya dari mataku. Aku mengerjapkan Mataku beberapakali karna sedikit kabur.
Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat.
Jujur ini sangat indah sekali.
Saat ini kami berada di rooftop sebuah gedung. Dan terlihatlah senja yang ingin kembali ke asalnya. Ini sangat indah sekali.
Sunset yang sangat indah. Ini adalah hal yang paling ku inginkan selama ini. Menatap senja. Dan mengucapkan selamat tinggal.
"Vin ini indah banget." Ucapku dengan antusias dan tangan yang menutup mulutku sendiri.
"Kamu suka?" Tanyanya dengan kedua tangan yang dia masukkan kedalam saku celananya.
"Suka. Suka banget." Jawabku dengan sedikit berteriak.
Sungguh aku sangat bahagia. Meskipun hanya melihat senja yang ingin terbenam tapi itu sangat membahagiakan untukku.
Lama aku menatap sang surya hingga ia tak terlihat lagi dan langitpun sudah mulai gelap.
Tanpa kusadari hari sudah malam.
Saat aku membalikkan badanku kebelakang untuk melihat Kevin tapi dia tidak ada disana.
"Kevin." Panggilku. Tak ada yang menyahut.
"Vin kamu dimana?" Panggilku lagi.
Apa dia sudah turun duluan karna kelamaan menungguku?
Aku berjalan ke arah tangga untuk keluar dari rooftop ini. Tapi langkahku terhenti ketika suara seseorang memanggilku.
Aku membalikkan tubuhku. Dan terlihatlah Kevin berdiri di lingkaran lilin berbentuk hati dan di taburi dengan kelopak bunga mawar.
Aku terpaku melihat ini semua.
Untuk apa Kevin melakukan ini?
Kevin datang menghampiriku. Membawaku ke dalam lingkaran lilin itu. Aku hanya mengikuti pergerakannya.
Lalu dia menggenggam tanganku dengan lembut.
"Flo, memang benar kita baru saling mengenal. Bahkan kita bertemu baru beberapa bulan yang lalu. Dan pertemuan kita yang ku rasa tidak ada kesannya malah saat pertama kali kita bertemu kita saling adu mulut. Lucu memang tapi aku sangat menyukainya. Aku menyukai saat-saat aku bersamamu. Aku bahagia ketika kamu tertawa karnaku. Aku menyukai semua hal tentangmu, kebaikanmu, ketulusanmu, kepolosanmu, kesederhanaanmu. Mungkin ini terlalu cepat Flo. Tapi jujur aku menyukaimu saat pertama kali bertemu denganmu. Flo aku menyayangimu. AKU MENCINTAIMU."
Aku tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Aku tidak percaya ini semua.
Kevin...
Dia....
"FLO WILL YOU MARRY ME?"Â Ucapnya dengan berlutut di hadapanku dan memberikan cincin yang berada di dalam kotak berbentuk hati.
Apa yang dia katakan?
Marry me?
Apa aku sedang bermimpi?
Jika aku sedang bermimpi buruk tolong bangunkan aku segera.
Tapi aku rasa ini bukan mimpi, karna Kevin benar-benar nyata di hadapanku.
Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilakukan Kevin.
Dia menyukaiku?
Dia mencintaiku?
Tapi...
Tapi bagaimana mungkin?
__ADS_1
Jujur aku tersanjung dengan semua ucapan dan perlakuannya padaku. Tapi.....
Hahh
Apa yang harus ku katakan?
Aku gak tega menyakitinya dengan mengatakan kenyataan bahwa aku akan menikah.
Aku menyayanginya. Aku sayang padanya. Karna aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri. Sama halnya dengan Zack dan Nathan.
Tapi aku harus mengatakan yang sebenarnya. Sebelum dia berharap terlalu dalam.
Aku membantunya berdiri. Ku lihat raut wajahnya yang sangat bahagia.
Aku menatap lekat manik matanya.
Maafkan aku Kevin.
"Kevin. Jujur aku benar-benar tersanjung dengan apa yang kamu lakukan padaku. Aku juga nyaman berada di dekatmu. Aku tidak percaya dengan apa yang kamu ucapkan tadi. Bahkan aku tidak pernah berfikir ke arah sana. Tapi aku berterimakasih padamu. Terimakasih atas semuanya, perhatianmu, kebaikanmu, kepedulianmu terhadapku. Terimakasih." Ucapku dengan panjang lebar. Seketika ku lihat wajahnya berbinar.
Kutarik nafasku lalu ku hembuskan perlahan.....
"Tapi maaf aku tidak bisa." Ucapku final. Wajahnya yang bahagia tadi berubah dalam hitungan detik.
"Kenapa? Apa kamu belum mencintaiku? Aku bisa tunggu sampai kamu mencintaiku. Aku akan tunggu." Ucapnya dengan lembut. Tapi aku tau dia terluka dengan jawabanku.
Tapi apa yang bisa ku perbuat? Aku benar-benar tidak bisa.
"Bukan. Bukan itu Vin."
"Lalu kenapa?" Tanyanya lagi.
Ku pejamkan mataku.
Aku harus mengatakannya.
"Aku sudah bertunangan." Jawabku.
Dia tersenyum kecil.
"Jangan bercanda Flo." Ucapnya.
Heii apa aku bercanda?
Kalian juga tahu bukan kalau aku sudah bertunangan. Bahkan akan menikah.
"Aku tidak bercanda Kevin." Ucapku." Lihat ini." Kataku dengan menunjukkan jari manisku yang dilingkari cincin pertunanganku dengan Axel.
Kevin menatap cincinku. Ada rasa tidak percaya dimatanya.
"Tapi aku tidak pernah melihatmu bersama tunanganmu itu. Dan kamu pun tidak pernah menceritakannya padaku." Ucapnya. Kini cincin yang ia pegang tadi sudah jatuh ke lantai.
"Aku memang tidak memberitahumu. Karna aku pikir itu tidak penting bagimu. Dan..dan aku tidak tahu kalau kamu ada rasa untukku."
"Flo...." Ucapnya melemah.
"Maafkan aku Kevin. Maafkan aku. Dan..dan dua minggu lagi pernikahanku akan dilaksanakan." Jawabku dengan suara yang semakin rendah.
Maafkan aku Kevin.
Kevin tersenyum kecut.
Aku tahu dia kecewa. Aku tahu dia terluka.
Kevin tidak mengatakan apapun. Dia menatapku dengan penuh kekecewaan. Lalu dia pergi begitu saja meninggalkanku tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Aku memanggil namanya.
Namun tetap saja dia tidak berhenti ataupun menoleh padaku. Dia terus berjalan tanpa peduli padaku.
Aku tidak menemukan Kevin yang ceria, yang peduli padaku, yang perhatian padaku,yang selalu ada untukku.
Dia pergi.
Maafkan aku Kevin. Maafkan aku.
Aku tidak bisa. Aku tidak bisa.
••••••••
 
💔💔💔
TBC
__ADS_1
 
Hellooo,,, udah lama ya gak update. Untuk itu kali ini aku update beberapa part. Semoga kalian menyukainya.