
Flo berjalan dikoridor kampus dan tidak memperhatikan jalannya. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri,yang berkelana entah kemana.
Buggghhh
Dia menabrak seseorang.
"Maaf,maaf,gua ga sengaja". Flo meminta maaf dan menegakkan tubuhnya.
Di hadapannya berdiri seorang gadis yang cantik,berambut panjang warna burgundy di curly memakai softlens berwarna biru.
Flo memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah. Matanya menilai gadis yang di hadapannya itu.
"Ehh cewek udik,lo ga punya mata!" Gadis itu membentak Flo dengan mata melotot.
"Maaf,gua ga sengaja,lu ga apa apakan?" Flo kembali meminta maaf,dan menyentuh lengannya.
Gadis itu menghempaskan tangan Flo dan mendorongnya ke belakang,
"Jangan pernah sentuh gue cewek udik! Gue jijik lihat lu!"
untung saja Flo tidak terjatuh kelantai karna ada seseorang yang menahan tubuhnya.
"Lu apa apaan sih Shera! " pria yang menopang tubuh Flo marah pada gadis itu.
Flo menoleh kebelakang,ada Dave dan Nela disana.
"Seharusnya gue yang marah ke cewek udik ini. Dia nabrak gue!" Gadis itu menunjuk Flo dengan jari telunjuknya.
"Tapikan ga sengaja,lagian Flo udah minta maaf sama lu! Lu ga ngerti kata maaf?!" Nela angkat bicara
"Ne,Dave udah cukup,lagi pula gua yang salah kok. Ga merhatiin jalan tadi." Flo berusaha menghentikan mereka,karna dia merasa pusing sekarang.
"Lo ga usah sok baik cewek udik! Urusan lo sama gue belum selesai!" Gadis itu pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Dasar nenek sihir!" Gerutu Nela.
"Lu ga papa Flo?" Tanya Dave dan melepaskan cengkramannya dari lengan Flo.
"Gua ga papa kok. Thanks ya." Flo tersenyum kecil.
"Kalau lu diganggu sama dia lagi,lu bilang aja kekita Flo."
Flo tersenyum mendengar ucapan Dave.
"Tenang aja. Emang dia siapa sih?" Tanya Flo penasaran dengan gadis itu.
"Dia itu nenek sihir dikampus ini.lu harus hati hati ma dia,karna dia pasti akan ngelakuin apapun untuk menyiksa orang orang yang ga dia suka."
Mendengar penuturan Nela,Flo mengernyit.
"Menyiksa?"
"Iya Flo,Shera akan ngelakuin apapun untuk membuat orang yang ga dia suka sengsara. Dan bahkan ada beberapa mahasiswi yang pindah kampus dari sini,karna ulah dia." Dave memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celananya.
"Segitu parahnya ya? Tapi,kenapa ga dilaporin kepihak kampus?"
"Ga ada yang berani Flo,karna banyak yang bilang kalau Shera itu pacarnya Axel. Mereka ga mau berurusan sama Axel."
"Pacar? Axel?" Flo memberikan ekspresi tidak percaya mendengar ucapan Nela.
"Iya Flo. Udah ahh,ga usah dibahas lagi. Kita kekantin yuk. Gua laperr." Nela menarik tangan Flo,yang ditarik masih kelihatan bingung dengan apa yang dia dengar tadi.
Dave mengikuti mereka dari belakang.
Lain halnya dipojok kantin,Axel,Alex,dan Albert sedang nongkrong disana.
"Ehh,Xel tumben getah lu ga nempel ma lu. Kemana dia?" Alex bertanya pada Axel yang berada dihadapannya.
"Udah pindah haluan kali. Capek ditolak mulu ma dia." Al menunjuk Axel dengan dagunya.
"Ck,gua ga peduli. Yang penting beberapa hari ini gua bebas dari dia." Jawab Axel dengan wajah datarnya.
"Kayanya ucapan lu salah man. Kebebasan lu belum seutuhnya. Cewek yang kita omongin udah nongol." Alex menunjuk ke arah pintu masuk kantin.
Melihat itu Albert terkikik geli dan Axel berdecak dan mendesah panjang.
"Getah nangka lu udah datang Xel." Ucap Albert yang kemudian tertawa bersama Alex.
"Ck,lu berdua bisa diam ga!" Axel memberi tatapan membunuh pada mereka berdua.
"Hai,sayang...aku kangen banget sama kamu." Shera menghampiri meja yang di tempati oleh Axel dan kedua sahabatnya itu.
Shera merangkul Axel dari samping.
__ADS_1
Dan segera ditepis oleh Axel.
"Lu apa apaan sih! Jijik gua tau ga!" Axel terlihat sangat kesal.
"Kamu kenapa sih Xel,kamu ga kangen sama aku?" Dengan suara yang dimanja manjakan Shera merengek pada Axel dan duduk sisebelahnya.
Melihat itu Albert dan Axel bergidik ngeri.
"Ck,bisa ga sih lu jauh jauh dari gua!" Axel menjauhkan wajah Shera yang bersandar pada lengannya.
"Saran gua,lu nyerah aja dah Sher,gua kasihan ngelihat lu." Alex memberikan wajah kasihan pada Shera.
"Lu ga usah sibuk ya! Sampai kapanpun gua ga akan pernah nyerah buat menangin hatinya Axel!"
Dengan penuh emosi Shera mengucapkan perkataannya.
"Wihhh Sher,mata lu keren ya. Kemarin mata jin,sekarang mata ular,besok mata apa? Mata ikan?" Dengan wajah takjub yang dibuat buat,Albert menggelengkan kepala.
Mendengar ucapan Albert,Axel dan Alex menahan tawanya.
Albert mengatakan itu,karna beberapa hari lalu Shera memakai softlens berwarna merah,dan hari ini dia memakai softlens berwarna biru.
"Lo berdua sibuk banget sih sama hidup gue! Atau jangan jangan lo berdua irikan,karna ga bisa dekat sama gue. Lo berdua suka kan sama gue." Shera dengan bangganya mengucapkan itu.
Mata Alex dan Albert melebar mendengar ucapan Shera.
"Mending gua jomblo seumur hidup dari pada gua suka sama lu."dengan sinis Albert mengucapkan itu.
Alex menggeleng pelan.
"PD lu terlalu tinggi Sher,dan lu harus jauhin Axel,karna dia udah tunangan!" dengan santainya Alex mengucapkan itu.
Mendengar ucapan Alex,Axel menatapnya tajam,seolah berkata "lu apa apaan sih!"
Seolah memahami arti dari tatapan Axel,
"Cepat atau lambat semua orang bakalan tau man,lu ga bisa nutupin pertunangan lu terlalu lama." Alex memberi penjelasan kepada Axel.
"Apa!!!"
"Ehh setan setan!" Albert terlonjak kaget mendengar pekikan Shera yang cukup kencang.
"Santai aja dong Sher,gua kaget nih."ucap Albert.
"Xel,yang dikatakan Alex itu ga benarkan? Dia bohongkan. Kamu belum tunangankan?"
Suara Shera yang tidak pelan,membuat orang orang dikantin dapat mendengarnya.
Dan saat itu juga Axel terlihat bingung dan pusing,mendengar bisikan bisikan mahasiswa mahasiswi lainnya.
"Apa,Axel udah tunangan?"
"Siapa tunangan Axel?"
"Kapan dia tunangan?"
"Bukannya Shera pacarnya? Kenapa tunangannya bukan shera?"
Dan banyak bisikan bisikan lainnya.
"Lu ga percayaan banget sih orangnya. Nih lihat. Cincin dijari manis Axel. Apa buktinya masih kurang?". Dengan santai Albert mengucapkannya sambil mengangkat tangan Axel.
Axel sudah mengucapkan sumpah serapah dalam hatinya untuk kedua sahabatnya.
"Xel,bilang sama aku,itu bohongkan?" Shera mengguncang guncangkan lengan Axel meminta jawaban darinya dengan mata yang berkaca kaca.
Axel merasa muak dengan Shera yang selalu mendesaknya.
"Gua emang udah tunangan. Ini buktinya." Axel menunjukkan jarinya yang dilingkari dengan cincin.
"Gua udah tunangan! Jadi gua minta lu jangan ganggu gua lagi!" Lanjut Axel.
Shera menggelengkan kepalanya.
"Siapa cewek murahan yang udah ngerebut kamu dari aku Xel? Siapa?!"
"Heii,lu ga perlu tau siapa tunangan gua. Dan hal yang harus lu ingat,selama ini kita ga ada hubungan apa apa. Jadi stop ngejar ngejar gua,dan stop menyebar gosip ga penting dikampus ini. Paham lu!"
Axel merasa sudah bosan dengan tingkah Shera terhadap dia selama ini dan gosip yang mengatakan dia berpacaran dengannya.
Mendengar penuturan Axel,kembali orang orang dikantin berbisik bisik.
"Jadi selama ini Shera bohong?"
__ADS_1
"Ihh,ga nyangka Shera kaya gitu."
"Cinta bertepuk sebelah tangan tuh."
"Kalau gue jadi dia,gue pasti malu banget."
Shera tidak tahan mendengar bisikan bisikan itu.
"Diam lu semua!!!" Dia berteriak di dalam kantin.
"Dan kamu Axel,asal kamu tau,aku ga akan pernah nyerah buat ngejar kamu. Aku akan jadiin kamu milik aku. Cuma milik aku! Dan aku akan cari tau siapa cewek murahan tunangan kamu itu. Akan aku kasih pelajaran buat dia! Aku ga akan pernah nyerah Axel. Ga akan pernah!" Shera menyambar tasnya yang ada diatas meja,dengan menangis dia pergi keluar kantin.
Shera berpapasan dengan Flo,Dave, dan Nela.
"Kenapa tu nenek sihir,bisa juga dia nangis."ucap Nela setelah Shera berlalu.
"Paling ditolak lagi." Ucap Dave.
Axel menatap Albert dan Alex dengan tatapan membunuh.
Merasa ngeri dengan tatapannya. Albert angkat bicara.
"Eett,slow man,relax,santai,tenang. Cuma ini cara satu satunya,biar dia ngejauhin lu."
"Ngejauhin apanya? Lu berdua dengarkan apa yang dia bilang tadi. Dia ga akan pernah nyerah. Dan lu berdua udah nempatin gua dalam masalah yang lebih besar. Dan orang orang udah tau kalau gua tunangan."
Axel mengacak frustasi rambutnya dan menggeram pelan.
"Serapat apapun lu nutupin pertunangan lu. Cepat atau lambat semua orang bakalan tau man." Ucap Alex dengan santai.
"Arggh,tau akhh!gua pusing!"
Axel menyambar tasnya dan pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu.
"Heh,curut tungguin,asal pergi aja lu." Teriak Albert yang kemudian menyusulnya dan Alex dibelakangnya.
Di tengah jalan Axel berpapasan dengan Flo,Dave dan Nela.
Axel berhenti sebentar,dan menatap tajam ke arah Flo,melihat itu Flo hanya bingung.
"Cewek sialan!!" Geram Axel dalam hati.
"Dia kenapa?" Batin Flo.
Bugghh
"Aelah,,,kalau berhenti bilang bilang dong nyet." Gerutu Albert yang menabrak punggung Axel.
Setelah menatap tajam Flo,Axel melanjutkan langkahnya.
Saat ingin menyusul Axel,tak sengaja tangan Albert bersentuhan dengan tangan Nela.
Dia berhenti sejenak,matanya melebar dan kemudian melanjutkan jalannya.
"Mami...jantung Al mau copot!." Batinnya berteriak.
Dia pergi berlari kecil menyusul Axel.
"Lex,Axel kenapa?" Tanya Dave pada Alex yang berpapasan dengan mereka.
Alex tersenyum kecil.
"Biasa,Shera. Gua duluan ya." Ucap Alex dan pergi menyusul Axel dan Albert.
Dave berdecak.
"Tepat dugaan gua." Ucapnya kemudian.
Melihat apa yang terjadi,Flo benar benar tidak mengerti.
Dia kebingungan.
"Maksud mereka apaan sih?" Tanyanya dalam hati.
"Biarin aja. Udah ahh,perut gua udah keroncongan nih." Ucap Nela pada akhirnya.
Dan mereka melanjutkan langkah menuju kantin.
•••••••••••
__ADS_1