
Flora p.o.v
Hari ini aku pulang sendiri,naik angkutan umum.
Dua minggu ini,setelah aku masuk kuliah mengenal Nela dan Dave,mereka yang bergantian mengantarku pulang.
Sebenarnya aku selalu menolak,toh aku juga bisa pulang sendirikan? Pulang naik angkutan umum itu sudah hal biasa bagiku yang hidup dan di besarkan dalam keluarga yamg sederhana.
Tapi mereka selalu bilang."sekarang kita menjadi sahabat,sahabat itu harus saling menolong dan berbagi bukan." Itu yang selalu mereka katakan.
Membuat aku bosan mendengarnya,dan sudah menghapal kalimat mereka itu luar kepala.
Sahabat?
Yah,mungkin saja aku sudah menganggap mereka sahabat. Terlebih Nela,aku tidak pernah sedekat ini dengan teman perempuan,disekolah ataupun kampus yang lama. Aku trauma,berteman dengan perempuan.
Dulu waktu SMA aku hanya punya satu sahabat lelaki. Hanya satu,dari SMP kami sudah bersahabat. Tapi sekarang aku sangat membencinya. Aahh sudahlah aku tidak ingin mengingat masa lalu.
Sejak saat itu,aku putuskan untuk tidak ingin mengenal namanya sahabat.
Tapi berbeda dengan Dave dan Nela,aku merasakan ketulusan dihati mereka,aku berharap aku tidak salah memilih dan mengatakan bahwa mereka sahabatku.
Hari ini mereka tidak bisa mengantarku pulang,karna Dave dan Nela ada urusan penting katanya.
Mengharapkan Axel,hanya ada dalam mimpi kurasa. Yang ada sebelum aku memintanya mengantarku,mungkin sumpah serapahnya yang akan menenggelamkan aku terlebih dahulu.
Tunangan berasa ******* ini namanya.
Atau tunangan yang tak dianggap.
Menyakitkan memang.
Kadang aku ingin membatalkan pertunangan ini,karna memang aku juga tidak menginginkannya, apalagi melihat sikap Axel padaku,sakit rasanya.
tapi hatiku selalu menolak,dan berkeras untuk mempertahankan ini semua. Aku tidak tau kenapa,apa ini ada hubungannya dengan janjiku?
Ntahlah,yang pasti aku akan menjalaninya,
Semoga Tuhan memberkatiku.
Aku singgah ke minimarket di depan apartemenku eh ralat apartemen mamah Ambar maksudku.
Ingin membeli makanan ringan atau apalah.
Karyawan karyawan dimini market ini sudah mengenalku,karna aku sering mampir kesini,kadang sekali sehari atau sekali dua hari.
Aku pelanggan setia mereka.
Saat keluar dari mini market,aku mendengar suara orang banyak berteriak disudut toko,pojok sana.
"Gebukin aja biar tau rasa."
"Ayo pukuli saja biar jera."
"Masih kecil sudah mencuri."
"Mau jadi apa nanti kalau sudah besar,dasar gembel!"
Aku bergidik ngeri,jangan jangan itu maling yang sudah di gebukin,dan banyak darah yang berceceran.
Jujur aku sangat takut dengan darah.
Aku bersiap melanjutkan langkahku meninggalkan tempat itu.
Tapi hatiku terasa sakit mendengar ucapan lirih seseorang.
"Ampun,maafkan aku.hiks..hiks..maaf. Jangan pukuli aku."
Jantungku berdetak dengan kencang,itu suara anak kecil.
Mataku membelalak,kakiku gemetar. Rasanya aku tidak sanggup berdiri.
Tapi aku melawan semua rasa takutku.
Saat ku dengar suara
"Ayo kita gebuki saja. Jangan kasih ampun!!"
Tanpa pikir panjang lagi aku berlari menghampiri kerumunan itu.
"Hentikaannnn!!!!!!!
Suaraku yang kencang menghentikan mereka saat mereka ingin memukuli seseorang yang mereka kerumuni.
Mereka menoleh padaku,
Aku berjalan menuju kerumunan mereka,seakan mengerti mereka memberi jalan padaku.
Jantungku berdetak tak karuan,nafasku seperti terhenti sesaat,kakiku berasa seperti jely yang akan hancur jika di hentakkan ketika melihat pemandangan di hadapanku.
Aku tidak bisa berkata apa apa.
Aku mematung,dengan tangan yang menutup mulutku.
Seorang anak berusia 8 tahun dengan pakaian lusuh dan sudah koyak,terduduk ditanah matanya bengkak,dan sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah dan membiru,tulang pipinya membiru,kurasa itu dipukul atau ditampar.
Yang paling menyakitkan,tangan dan kakinya diikat seperti binatang.
Hatiku sakit dan pilu melihat semua ini.
Tuhan apa yang sudah mereka lakukan pada anak sekecil ini.
"APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN!!!!! "
Aku berteriak seperti orang kesetanan di hadapan mereka.
Melampiaskan rasa pilu dan amarahku pada orang orang yang tidak punya hati nurani ini.
"Dia pantas mendapatkan ini! Dia sudah mencuri,seharusnya kami membawa dia kekantor polisi!"
Ucap seorang ibu ibu paruh baya.
Aku hanya menggelengkan kepala.
"Apa yang dia curi?!!"
"Dia mencuri dagangan Bapak ini."ucap seorang lainnya dan menunjuk kearah Bapak bapak berumur 45 tahun.
"Dia sudah mencuri roti daganganku! Itu," orang itu menunjuk sebungkus roti yang tergeletak ditanah,sebesar kepalan tangan dan sudah hancur tak berbentuk.
"Aku sudah cukup baik denga tidak melaporkannya kekantor polisi!"
Dengan bangganya orang itu mengatakannya.
Aku tersulut emosi,kurasakan wajahku memanas mungkin sudah memerah seperti tomat.
"Sudah cukup baik katamu?!!! Bangga sekali kau!!"
Aku tidak bisa mengontrol emosiku,aku sangat menghargai orang tua,tapi jika sudah keterlaluan seperti ini,ini tidak benar lagi.
"Apa dengan uang dua ribu kau bisa kenyang?!! Apa dengan uang dua ribu kau bisa kaya?!! Apa dengan uang dua ribu kau bisa masuk surga?!!"
Orang orang disana terkejut mendengar ucapanku.
"Kenapa kau membelanya?! Apa kau mengenalnya?!"
Suara seorang yang lain,aku tidak peduli lagi siapa yang berbicara.
__ADS_1
"Aku tidak tau dia siapa. Tapi aku mengenal dia sebagai manusia!. Dia bukan binatang yang harus kalian ikat seperti ini! Dia manusia sama seperti kalian! Apa kalian tidak punya hati nurani?! Apa kalian tidak punya anak?!"
Mereka semua terdiam.
Tak ada yang bisa membalas ucapanku.
"Kalau memang kalian benar benar tidak pernah melakukan kesalahan,silahkan pukuli dia!"
Tidak ada respon dari mereka.
"Kenapa kalian diam?! Ayo lakukan!!"
Kulihat mereka bungkam dan memasang wajah tidak bersalah.
Cih,apa mereka tidak punya hati nurani?
"Tidak ada yang berani?! Sekarang kalian pergi dari sini!! PERGI!!"
Aku berteriak kepada mereka.
Perlahan mereka membubarkan diri dan sudah tidak ada disana lagi.
Hatiku nyeri melihat anak laki laki yang malang ini.
Dia menatapku dengan wajah yang penuh rasa belaskasih.
Ya Tuhan,kenapa mereka tega melakukan ini pada seorang anak kecil? "Aku bertanya dalam hati.
Perlahan aku mendekati anak itu,dia seperti ketakutan.
"Jangan,jangan pukuli aku,jangan bawa aku kekantor polisi,aku mohon?????"
Suaranya yang bergetar karna menangis,membuat mataku berkaca kaca.
Sangat menyakitkan kurasa.
"Ade,jangan takut,kakak ga jahat kok,kaka cuma bantuin kamu."
Aku meraih tangannya,membuka tali yang mengikat tangan dan kakinya.
Dia hanya termangu melihatku.
Lalu,dengan tiba-tiba dia merampas bungkus roti yang jatuh ditanah yang sudah hancur dan tidak berbentuk itu.
"Terimakasih kak." Ucapnya,lalu pergi berlari meninggalkanku.
"De,tunggu,kamu mau kemana?"
Aku mengejarnya.
Kulihat dia memasuki sebuah gang kecil yang kumuh,tepat disebelah klinik.
Dia kemana? Tanyaku dalam hati.
Tanpa aku sadari aku terus mengikutinya.
Aku masih bisa melihat dia,memasuki sebuah gubuk yang di lapisi dengan karung karung yang sudah robek.
Aku terus melangkah menuju gubuk itu.
Saat aku mendekati gubuk itu,aku mendengar suara tangis dari dalam.
"Ibu,ini Adi bawain makanan buat ibu,ibu makan ya."
"Tidak nak,kamu saja yang makan. Kamu pasti laparkan,bagi dengan adikmu. Ibu bisa tahan lapar."
Suara yang hampir tidak terdengar olehku.
Kuberanikan diri melihat ke dalam.
Aku menangis melihat apa yang terjadi di dalam.
"Ibu,ibu kenapa?,hiks,ibu,ibu kenapa bu?" Tangis anak kecil itu sungguh menyayat hatiku.
"Kak ibu kenapa menggigil seperti ini?" tanya seorang gadis kecil dipojok sebelah ibunya.
Mereka mengguncang guncangkan tubuh ibu itu.
Aku terkejut melihat ibu itu menggigil.
Tanpa pikir panjang aku memasuki gubuk kecil itu,
"Ibu kamu kenapa?"
Awalnya mereka terkejut melihatku. Tapi tidak lagi karna aku mendekati mereka.
"Ga tau kak,ibu sakit sudah satu minggu."anak laki laki itu,menjawab pertanyaanku dengan tetap menangis.
"Ayo kita bawa berobat."ucapku.
"Tidak nak,ibu tidak punya uang."ucap ibu itu dengan sangat lemah.
"Ibu tidak perlu memikirkan itu,yang penting ibu sehat dulu. Ibu harus memikirkan anak anak ibu,mereka masih kecil,siapa yang akan menjaga mereka nanti?"
"Tapi nak..
"Sudah jangan dipikirkan,mari saya bantu bu." Aku membantu ibu itu berdiri,dan memapahnya.
"Kak,kami ikut." Ucap anak laki laki itu.
"Ya udah. Ayo," ucapku,dan terus memapah ibu itu keluar dari gubuk mereka.
Syukurlah tempat mereka tidak begitu jauh dari klinik di depan apartemenku.
Kami sampai di depan klinik,
Aku tertatih memapah ibu itu.
"Dok,dokter,," aku memanggil dokter,namun tidak ada yang menyahut atau keluar.
Mataku tertuju pada seseorang yang duduk di dalam lingkaran etalase obat.
"Apa dia tidak punya telinga?" Tanyaku dalam hati.
Aku menghampirinya dengan ibu yang masih kupapah.
"Mba,tolong periksa ibu ini. Dia sakit keras."
Ucapan ku tidak di gubris sedikitpun.
Matanya menilai penampilan ibu ini dengan rasa jijik.
"Apa anda tuli?" Kataku yang sudah kesal melihatnya.
"Ehh,mba ini klinik ternama,klinik ini tidak menerima gembel seperti mereka." ucapnya menunjuk ibu dan anak anaknya yang ada di sebelahku.
Kurang asam ini orang,baru jadi perawat sudah sombong.
"Maksud mba apa? Nanti juga akan di bayarkan?!" Aku sudah semakin kesal di buat wanita satu ini,di tambah lagi behelku yang sudah longgar.
Membuat emosiku semakin meningkat.
"Darimana gembel punya uang! Mencuri?!!"
Dia semakin sombong mengucapkannya.
Ini tidak bisa di diamkan.
__ADS_1
Ibu ini sudah semakin kesakitan,dan dia masih bermain main denganku.
Braakkkk
Aku memukul meja yang ada di hadapannya.
Dia terlonjak kaget.
"Sombong sekali kamu,dimana pemilik klinik ini!!"
Mataku melotot padanya.
Dia seperti ketakutan.
"Ada apa ini?"
Suara berat seseorang membuatku menoleh kebelakang,dan terlihat seorang pria,berpakaian rapi,memakai kacamata.
"Saya cari pemilik klinik ini." Ucapku padanya.
"Saya pemiliknya,ada apa?" Suara pria itu terdengar sangat halus.
"Apa klinikmu ini untuk orang orang kaya saja?" Tanyaku dengan wajah yang sudah sangat jengkel.
Pria itu terlihat bingung.
"Tidak,ada ap...
Perkataannya terhenti ketika ibu yang kupapah tadi meringis kesakitan.
"A..aaduuhhh" ibu itu memegangi perutnya.
"Dia kenapa? Ayo bawa kedalam" pria itu terlihat panik.
Aku memapah ibu itu kedalam,pria itu membuka tirai, dengan perlahan aku membaringkan ibu itu diatas brankar.
"Kamu tunggu diluar saja." Ucap pria itu yang kuyakini,dialah Dokternya.
Aku berjalan keluar ruang kamar itu.
Kuhampiri wanita sombong tadi.
"Ehh mba,kalau sampai terjadi apa apa dengan ibu itu,saya akan tuntut anda!" Ucapku dengan nada yang sengit.
Mendengar ucapanku dan melihat wajahku yang menyeramkan,membuat dia menunduk ketakutan.
Aku paling tidak suka dengan manusia seperti ini. Sombong sekali dia.
Mataku tertuju pada dua anak kecil yang berdiri ditempat kami tadi.
"Kalian berdua,sini." Panggilku pada mereka dan datang menghampiriku.
Aku membawa mereka duduk diruang tunggu,baru kusadari mereka tidak memakai alas kaki.
Kasihan sekali mereka.
"Kak,ibu baik baik sajakan?" Tanya anak laki laki itu.
Aku tersenyum sambil mengusap kepala mereka berdua yang duduk disebelah kiri dan kananku.
"Kalian tenang saja,ibu kalian pasti baik baik saja kok. Kalian berdoa sama Tuhan,biar ibu kalian bisa cepat sembuh."
Mereka hanya mengangguk dan berdoa.
"Ya Tuhan,semoga ibu baik baik saja. Amin." Aku tersenyum melihat mereka yang begitu polos.
Apa dulu aku begini juga ya?
Tiba-tiba,aku merasa,seperti ada yang memperhatikanku dari tadi.
"Kalian tunggu disini dulu ya." ucapku pada mereka berdua.
"Kakak kemana? " tanya anak perempuan itu.
"Kakak ke depan sebentar,nanti kakak balik lagi kok." Mereka menganggukan kepalanya,dan kemudian aku melangkah keluar.
Saat tiba diluar,kulihat seseorang sedang membelakangiku.
"Dia masih melihat kearah sini ga ya?" Aku mendengar dia mengatakan itu.
Aku berdiri tepat dibelakangnya.
Dia tidak menyadari kehadiranku.
"Berbalik ga ya?" Dia bertanya mungkin pada dirinya sendiri,tidak mungkin padaku kan,dia tidak tau aku disini.
"Balik, ga,,,balik,ga..balik,ga..balik,ga.." Entah berapa kali dia mengucapkan itu sambil menghitung jarinya.
"Berbalik aja deh,kalau cewek stres itu ngelihat gua,ya bilang aja gua beli obat." Seketika dia terkekeh.
Apa dia sudah gila ya,
"Hehehe,pintar juga lu Kevin." dia mengetuk tepat diujung pelipisnya dengan jari telunjuknya.
Ohh namanya Kevin??
Tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya.
"Ehh,Setann!!!!" Pekiknya.
Dia terkejut,dan hampir terjungkal ke belakang karna mendapati aku berdiri tepat di belakangnya.
"Lu!" Aku menunjuknya.
Dia pria menyebalkan yang aku temui dilift dan dipinggir jalan kemarin.
"Lu bilang gua setan?!" Aku memelototinya sambil berkacak pinggang dihadapannya.
"Ehh,bukan,cewek stress" ucapnya tergugup dan kemudian menutup mulutnya dengan tangannya.
"Apa?! Cewek stress. Jadi maksud lu,gua cewek stres itu? Lu nguntit gua ya?!"
Aku menatapnya dengan tatapan membunuh.
Kenapa hari ini banyak sekali orang yang membuatku marah.
Menyebalkan.
"Bukan,kamu PD banget sih,aku kesini mau beli obat." Ucapnya lalu masuk ke dalam klinik.
Mataku mengikuti pergerakannya. Dia menghampiri wanita sombong itu,wanita itu termangu melihat pria menyebalkan itu. Aku akui dia memang tampan. Ditambah dengan kacamatanya itu menambah kadar ketampanannya.
Kudengar dia memesan obat.,setelah membayar dia keluar dan melewatiku.
"Kamu jangan terlalu PD ya,saya kesini mau beli obat. Cewek stress." Ucapnya lalu pergi berlari meninggalkanku.
"Awas lu ya!" Dia hanya terkikik geli melihatku yang setengah berteriak ke arahnya.
Jujur aku ingin sekali mencakar wajahnya itu,
Dasar pria garis garis.
Iya aku menyebutnya pria garis garis,karna sudah berapa kali aku bertemu dengannya,pasti dia memakai kemeja garis garis.
Awas saja kalau ketemu nanti,takkan kulepaskan dia.
•••••••••••••••
__ADS_1