
Suara dering handphone mengganggu tidur Flo. Dia terlihat meraba-raba handphone yang ada di atas nakas.
"Isshhh siapa sih ganggu malam-malam gini. Kalau gak penting bakal gua tabok ni orang!" Gumam Flo dengan raut wajah yang sangat kesal. Tanpa melihat pemanggilnya Flo langsung menggeser tombol hijau di layar handphone dengan mata yang masih terpejam.
"Halo".Ucapnya dengan tangan yang mengucek matanya.
"Halo Flo ini gua Alex, lu lagi dimana?"
"Kamu, ada apa! Di apartemen. Ada apa sih ganggu malam-malam begini?."
"Sorry sorry, tapi gua butuh bantuan lu sekarang."
Flo mengernyit," Bantuan? Tengah malam gini?" tanyanya dalam hati.
"Bantuan . Tengah malam gini ada apa sih?"
"Ntar gua ceritain. Mending lu datang ke rumahnya Axel dulu. Ini darurat banget Flo." Mendengar itu mata Flo melebar.
"Oke oke, aku kesana sekarang."
"Gua tunggu, thanks Flo."
Axel memutuskan sambungan telfonnya. Dengan segera Flo melompat dari kasur menuju kamar mandi. Mencuci muka, memakai behel dan rambutnya.
Dengan tergesa gesa dia keluar dari apartemen, memasuki lift. Setelah sampai di ground floor Flo mencari taksi. Beruntung saat dia sampai di pinggir jalan ada taksi yang lewat. Flo memasuki taksi.
"Mau kemana mba?" Tanya supir taksi.
"Ke perumahan Cempaka Indah pak." Jawab Flo dengan cepat. Lalu dengan segera taksi itu melaju menuju alamat yang di katakan Flo.
Dua puluh menit kemudian Flo sudah sampai di depan rumah Axel. Setelah membayar taksi dengan buru buru dia membuka pagar dan memasuki rumah.
"Apa Tante Ambar gak di rumah?" Tanya Flo dalam hati. Tiba-tiba Alex muncul untuk membukakan pintu.
"Syukur dah Flo lu cepat datang." Kata Alex dengan lega.
"Ada apa Lex? Trus kenapa wajah kamu memar gitu." Flo kebingungan melihat wajah Alex yang di penuhi lebam.
"Lebih baik kita ke kamar Axel dulu ." Ucap Alex yang kemudian menutup pintu dan berjalan menaiki tangga seolah seperti sudah terbiasa berada di rumah ini.
Tiba di kamar Axel, Flo kaget melihat kondisi Axel yang sangat mengenaskan, baju yang berantakan, wajahnya yang di penuhi lebam-lebam dan ada sedikit darah di sudut bibirnya. Terlihat Axel sedang tertidur tak berdaya.
Lalu mata Flo mengarah ke arah sofa, di sana ada Albert yang berpenampilan serupa dengan Axel namun lebih parah Axel.
"Loh, ini ada apa sih? Kok kalian pada bonyok kaya gini?" Flo sangat khawatir melihat keadaan mereka saat ini.
"Tadi kita bertiga janjian di club. Axel datang duluan, dia banyak minum sampai mabuk dan di susul Albert yang minum juga. Sampai di sana gua lihat kalau Albert sama Axel berantem, pukul-pukulan sama lima orang yang ga gua kenal. Gua gak tau masalahnya apa. Mereka yang dalam keadaan mabuk ya jadi babak belur gini. Di tambah gua juga di keroyok karna nolongin mereka." Alex cerita panjang lebar. Dan itu membuat Flo menganga.
"Mamah Ambar dimana?" Tanya Flo.
"Itu dia Flo, gua minta lu kesini karna Tante Ambar lagi ke luar kota." Flo menggelengkan kepala dan berdecak.
"Pantesan aja ini anak jadi liar." Gumam Flo dan mengarahkan pandangannya pada Axel yang tertidur di kasur.
"Maksudnya?" Tanya Alex yang tidak jelas mendengar apa yang di katakan oleh Flo tadi.
"Oh, nggak. Gak apa-apa. Trus sekarang gimana?" Tanyanya balik.
"Gua minta bantuan lu buat jagain Axel, karna lukanya pasti parah banget Flo. Gua mau ngantar Albert pulang dulu. Tadi ini anak mami minta pulang terus. lu gak keberatan kan Flo? " Tanya Alex Dan berjalan ke arah sofa tempat duduk Albert.
"Gak apa-apa Lex. Aku gak keberatan kok. Kamu antar Albert pulang aja." Ucap Flo.
"Thanks Flo. Kalau gitu gua pamit ya." Kata Alex yang kemudian dia memapah Albert yang setengah sadar menuju pintu keluar.
Setelah Alex dan Albert pergi Flo berjalan kearah dapur. Mengambil cawan berisi air hangat, handuk kecil dan kotak P3K dari dalam lemari dapur. Dan membawa itu semua ke dalam kamar Axel.
Sesampai di kamar Axel Flo meletakkan barang bawaannya tadi di atas nakas. Dia membasuh handuk kecil itu dan memerasnya. Kemudian membersihkan luka luka Axel. Sesekali Axel meringis namun dengan mata yang masih terpejam. Dengan telaten Flo membersihkan luka-luka Axel dan meneteskan sedikit obat antiseptik pada lukanya.
Flo melihat kondisi pakaian Axel yang acak -acakan. Dia berinisiatif untuk mengganti kemejanya dengan kaos. Setelah selesai Flo menyelimuti Axel hingga sebatas dada.
Tiba-tiba tubuh Axel menggigil tak karuan. Gadis itu terkejut lalu ia meletakkan telapak tangannya di atas kening tunangannya.
"Ya ampun! Kok bisa demam sih!" Kata Flo dengan gusar. Dengan cepat dia masuk ke kamar mandi dan menukar air yang ada di cawan yang ia gunakan untuk membersihkan luka Axel. Setelah itu Flo memeras kain itu dan meletakkannya di atas kening Axel.
Axel mengerang kecil. Kemudian matanya terbuka sedikit,masih dalam keadaan mabuk Axel menatap Flo.
"Lu. Flora Khatarina. Lu udah hancurin hidup gua! Gua benci sama lu!" Suara Axel sedikit meninggi dan jarinya menunjuk-nunjuk Flo. Flo tersenyum kecut.
"Kamu istirahat dulu Xel. Kamu masih mabuk." Ucap Flo, seraya menurunkan tangan Axel yang menunjuk-nunjuknya tadi.
"Gua minta lu pergi dari hidup gua. Pliss gua mohon." Suara Axel sedikit parau dengan raut wajah yang memoho. Hingga Flo tidak sampai hati melihatnya.
"Iya, aku akan pergi. Tapi gak sekarang. Tidurlah." Flo mengusap kepala Axel tak lama kemudian Axel pun memejamkan matanya secara perlahan.
"Pergi dari hidup gua Flora. Pergi!!" Axel mengigau. Kembali Flora tersenyum kecut. Tangannya menggenggam tangan Axel.
"Bahkan di luar kesadaran pun kamu tetap membenciku. Tunggulah saatnya akan tiba Axel." Gumam Flo, lalu dia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Axel.
Flo melirik jam di atas nakas menunjukkan pukul 02.05 dia mendesah. Lalu dia berjalan menuju pintu kaca yang mengarah ke balkon. Berdiri di sana dengan tangan yang terlipat di depan dadanya. Raut wajahnya menunjukkan banyak kesedihan. Ketika dia memandang ke arah luar tak sengaja ia melihat ada bayangan hitam di luar pagar.
Flo memicingkan matanya untuk memperjelas apa yang ada di luar sana. Dia menyingkapkan sedikit kain gorden. Terlihat sedikit jelas ada tiga orang yang berada di depan pagar. Mereka melihat ke arah rumah Axel. Gerak-gerik mereka sangat mencurigakan.
"Itu orang ngapain? Mencurigakan." Ucap Flo yang berbicara sendiri.
"Apa jangan jangan maling?" Flo terkejut sendiri setelah mengucapkan ucapannya. Jatungnya berdetak tak karuan.
"Itu maling, pasti maling. Aku harus gimana? Aduh mikir dong Flo, mikir..." Flo terlihat gelisah dia berjalan mondar mandir di depan kasur Axel dengan tangan yang memilin jarinya sendiri sementara Axel sudah tertidur pulas.
Seketika Flo menghentikan gerakannya.
"Kalau mereka maling. Gak akan kubiarkan mereka masuk." Kata Flo lalu dia berjalan keluar kamar. Sampai di lantai satu Flo mengambil tongkat baseball yang ada di bawah tangga. Dia berjalan kearah pintu depan namun langkahnya terhenti.
"Kalau aku dari sini, pasti ketahuan. Mending dari pintu samping aja deh." Ucap Flo yang kemudian dia berjalan ke arah pintu samping di dekat kolam berenang. Tanpa rasa takut sedikitpun Flo membuka pintu dan berjalan mengendap-endap menuju halaman depan. Taman rumah yang di tumbuhi banyak tanaman membuat Flo bersembunyi dengan mudah. Langkahnya terhenti ketika mendengar tiga orang mencurigakan itu berbicara. Lalu Flo bersembunyi di balik pohon bonsai yang lumayan besar untuk mendengarkan obrolan mereka.
Flora p.o.v
Di sinilah aku. Bersembunyi di balik pohon bonsai yang lumayan besar tadinya aku ingin mengagetkan mereka tapi niat itu ku urungkan karena mendengar pembicaraan mereka.
__ADS_1
Menguping pembicaraan orang sesekali gak apa-apa kali ya. Berasa jadi stalker jadinya.
Dari tempat persembunyianku aku dapat melihat jelas wajah mereka. Mereka bertiga berbadan kekar dan berotot. Berpakaian hitam, dua orang berkepala plontos dan satu orang lagi berambut panjang.
Aku curiga Mereka ini maling apa mafia sih?. Aneh. Kalau maling pasti sudah masuk ke rumah dengan melompati pagar. Tapi mereka malah berdiri di depan pagar. Ku tajamkan pendengaranku untuk mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Lo yakin ini rumahnya Robert Ardhana Kusuma?" Tanya pria yang berambut panjang.
"Iya, kita udah cari tau. Dan kita yakin ini rumahnya." Pria berkepala botak yang memakai kacamata hitam itu menjawabnya.
Apa mereka maling profesional ya? Sampai sampai nama pemilik rumah pun mereka tahu.
Tapi tunggu dulu. Ada yang aneh. Dulu waktu om Robert masih ada mereka gak tinggal di sini dan setelah kejadian itu Mamah Ambar dan Axel pindah kesini. Dari mana mereka tau ini rumah om Robert, sementara om Robert udah lama meninggal. Ini mencurigakan.
Bugghhh
"Awww, shit!!"
Ahh sialan aku tidak sadar tongkat baseball yang aku pegang jatuh menimpa kakiku. Ini sakit sekali, jangan-jangan kuku kakiku terlepas. Aku menunduk untuk meraba jari kakiku. Tiba tiba seperti ada yang mengusel-ngusel pantatku. Kulihat kearah bawah.
"Ihh mamah..mamah..kucing..kucing.."
Duggg
Aikkhh kepalaku sakit sekali terbentur ke pohon bonsai karena kucing sialan ini. Aku membekap mulutku agar tidak mengeluarkan suara nanti aku ketahuan menguping pembicaraan mereka.
"Apa itu!Kkenapa pohonnya bergoyang-goyang begitu!" Entah suara siapa dari salah satu mereka aku tidak tahu.
Aduhh mampuss, jangan sampai ketahuan, jangan sampai ketahuan.
Aduh kucing pergi dong. Jangan ganggu, aku lagi menguping ini.
"Jangan-jangan ada orang lagi!"
"Gila lo, tengah malam gini mana ada orang berkeliaran. Lagiani ni rumah sepi."
"Kita gak tau. Kali aja pembantunya atau supirnya. Kalau kita ketahuan gimana? Pasti gagal rencana kita nanti."
Aku tidak tahu siapa yang berbicara itu. Karena posisiku sekarang, duduk di atas rumput dengan kepala yang menunduk tepat di atas lututku.
"Lo berdua berisik!".
Ploookkk
Aww kampret siapa yang lempar kepalaku pake batu kerikil akan ku patahkan lehernya nanti.
Lengkap sudah penderitaanku, kakiku yang tertimpa tongkat baseball, kepalaku yang terbentur ke pohon, di lempar pake batu kerikil lagi, di tambah kucing yang mengusel-ngusel pantatku. Ihh pantatku udah gak perawan lagi.
Aku tidak tahan dengan kucing ini. Aku mengusir kucing itu, dan dia melompat ke arah pagar.
"Awww..Aww kucing kucing!"
Aihh itu bukan suaraku. Trus siapa dong?
Kulirik orang orang yang ada di luar pagar. Pria berambut panjang itu melompat kearah pria botak yang ada di sebelahnya dengan tangan yang di kalungkan di leher si botak dan sebelah kakinya di lingkarkan di pinggul si botak.
Ihh badan sebesar badak kok takut sama kucing. Cocoknya jadi penari balet saja.
"Lo takut kucing?" Tanya si botak berkacamata hitam.
"Ehemm. Gak gue gak takut kucing. Gua cuma kaget." Si rambut panjang itu melepaskan dirinya dari si botak yang di sebelahnya dan berpura-pura menjadi orang yang sok cool.
Ihh alasan. Orang tadi dia lompat ketakutan gitu kok.
"Gue bilang juga apa, gak mungkin ada orang. Itu kucing." Seru si botak yang tidak memakai kacamata.
"Trus gimana selanjutnya. Kita sudah menemukan rumahnya. Apa yang harus kita lakukan." Ujar si botak berkacamata hitam. Ini si botak banyak sekali hingga aku sulit membedakannya.
"Kita tunggu perintah dari bos, tiga bulan lagi bos akan pulang ke indonesia."
"Kita habisi sekarang saja gimana?"
"Kalau kita bertindak sekarang. Kita yang di habisi bos nanti. Sudah ayo pergi."
Mereka pun pergi. Aku hanya menganga tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan.
Apa maksud mereka?
Menghabisi siapa?
Perintah dari bos? Bos siapa?
Jantungku benar benar tak karuan saat ini. Rasa khawatirku menjadi semakin besar.
Siapa mereka?
Kenapa mereka menyebut-nyebut nama om Robert. Apa mereka suruhan seseorang?
Kalaupun iya siapa dalang di balik ini semua?
Kenapa akhir akhir ini banyak sekali kejanggalan yang kutemukan, mulai dari surat teror yang ada di apartemen, hingga mereka yang sepertinya mengintai rumah ini.
Apa ini ada hubungannya dengan kejadian 7 tahun lalu? Akhh aku pusing memikirkannya. Dan syukurlah mereka sudah pergi.
Aku beranjak dari persembunyianku tadi untuk masuk ke dalam rumah menuju kamar Axel sampai di sana kulihat Axel tertidur dengan pulas. Kuletakkan telapak tanganku pada keningnya.
"Ahh syukurlah demamnya sudah turun."
Saat aku ingin menjauhkan tanganku dari keningnya, tiba-tiba saja tangan Axel menggenggam tanganku sangat erat, tapi matanya dalam keadaan tertutup dia masih tidur. Kucoba untuk melepaskan genggamannya namun sangat sulit, sepertinya dia tak ingin melepaskan tanganku, malah dia membawa tanganku kepipinya seakan memintaku untuk menangkup pipinya.
Tanganku yang masih tetap setia di genggam olehnya di timpa dengan sebelah pipinya seakan itu adalah hal yang paling membuat dia nyaman. Kutarik perlahan tanganku agar terlepas dari genggaman dan tindihan pipinya, tapi tetap saja, seolah di tahan olehnya malah dia bergumam tidak jelas seakan melarang untukku melepaskan tanganku.
Akhirnya aku duduk di lantai membiarkan dia dalam posisi seperti itu. Tanganku terulur membelai rambutnya, kuperhatikan setiap lekukan wajahnya, ku usap matanya yang masih tertutup, mata yang aku kagumi sejak dulu. Kubelai pipinya yang di penuhi lebam yang sudah terlihat membiru. Ku perhatikan tiap inci dari wajahnya.
"Wajahmu tidak berubah Xel, masih sama seperti dulu. Tampan. Tapi sikapmu benar-benar berubah, sangat berubah. Bahkan sekarang aku tidak mengenal siapa kamu." Aku tersenyum kecut.
"Andai kamu tahu siapa aku, apa kamu tetap memintaku untuk pergi?" Tanyaku, rasanya ingin sekali Axel menjawab pertanyaanku dengan mengatakan tidak, tapi nyatanya dia masih tertidur lelap dan mungkin dia tidak mendengar pertanyaanku sama sekali.
__ADS_1
Tiba tiba rasa kantuk menyerang diriku. Aku memejamkan mataku menyusul Axel ke alam mimpi.
***
Axel mengerjapkan matanya beberapa kali, tangannya terulur memegang kepalanya yang terasa berdenyut-denyut akibat minum terlalu banyak tadi malam. Setelah dapat menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya di sekitarnya matanya terarah pada seseorang yang tidur di sebelahnya. Dengan posisi terduduk di lantai dan kepalanya tertunduk di sisi ranjang, satu tangannya berada di bawah pipi Axel dan tangannya yang satu berada di leher Axel.
"Flo.." Gumam Axel setelah menyadari siapa yang ada di sampingnya.
Saat Axel ingin bergerak dia meringis kesakitan, dia merasa tubuhnya remuk seperti di timpa oleh badak. Mendengar ringisan dan gerakan dari Axel Flo terbangun dari tidurnya.
"Ehh kamu udah bangun?" Tanya Flo dengan suara yang begitu lembut.
"Jauhin tangan lu!" Ucap Axel dengan ketus. Segera Flo menarik tangannya dan menggumamkan kata maaf.
Dengan susah payah Axel duduk di kasur dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Dia memijit kepalanya perlahan, melihat itu dengan segera Flo mengambil air minum yang sudah ia sediakan tadi malam diatas nakas.
"Kamu minum dulu." Flo menyodorkan gelas berisi air minum itu kepada Axel dan dia duduk di sisi kasur. Saat ingin mengambil gelas dari tangan Flo, Axel malah tidak sengaja muntah di baju Flo dan menjatuhkan kepalanya di pundak Flo.
Flo benar benar merasa jijik tapi saat melihat Axel begitu lemas dia tidak sampai hati. Dengan sigap Flo menegakkan tubuh Axel dan terlihatlah wajah Axel sudah sangat pucat, Flo mengambil tissue dan membersihkan mulut Axel. Axel yang melihat itu tidak bisa berkata apa-apa karena merasa begitu lemas dia hanya menatap Flo dengan mata yang sayu.
"Dia tidak jijik?" Tanya Axel dalam hati.
"Tunggu sebentar ya, aku ganti baju dulu." Ucap Flo yang kemudian berdiri dengan hati hati agar kotoran dari muntahan Axel tidak tercecer, kemudian dia terlihat bingung. "Tapi aku gak bawa baju. Aku pinjam baju kamu ga apa-apakan?" Tanya Flo pada Axel dan Axel hanya bisa menganggukkan kepala dengan lemah.
Flo berjalan menuju lemari Axel mengambil kaos berwarna putih dan dia berlalu menuju kamar mandi. Setelah selesai Flo keluar dari kamar mandi.
"Tunggu sebentar ya aku buatin sarapan untuk kamu." Kata Flo kemudian dia berjalan keluar kamar.
Sampai di dapur dia tidak tahu ingin berbuat apa, jika memasak bubur pasti akan lama, kalau makan Roti Axel lagi sakit. Flo kebingungan.
Ting...ting...ting...
Suara itu membawa Flo berlari keluar rumah.
Tidak berapa lama Flo datang membawa nampan. Dia tersenyum ke arah Axel. Flo meletakkan makanan yang ia bawa itu di atas nakas.lalu dia menghampiri Axel yang masih lemah.
"Kamu sarapan dulu ya. Perut kamu pasti kosong."
"Bantuin gua mau ke kamar mandi." Kata Axel dengan datar. Flo tersenyum, lalu memapah Axel perlahan menuju kamar mandi.
"Keluar." Ucap Axel saat mereka sudah sampai di dalam kamar mandi. Flo segera keluar dan menutup pintu.
Sejenak Flo berfikir. Lalu dia membuka lemari dan mencari sesuatu, dia mengambil bedcover. Saat Flo sedang mengganti bedcover tiba-tiba Axel membuka pintu kamar mandi dan kepalanya menyembul sedikit.
"Flo..." Flo menoleh saat namanya di panggil oleh Axel.
"Ada apa?" Tanya Flo dan menghentikan aktifitasnya. Axel terlihat seperti kebingungan.
"Boleh minta tolong gak?" Tanya balik Axel dan di jawab Flo dengan menganggukkan kepalanya.
"Mmm...itu..." Ucap Axel dengan canggung. Flo yang bingung hanya mengangkat kedua alisnya seolah berkata "katakan saja."
"Boleh tolong ambilin celana gua?" Axel memberanikan diri untuk mengatakannya meskipun wajahnya terlihat memerah.
Flo tersenyum senang, baru kali ini Axel berbicara begitu lembut padanya. Gadis itu berjalan kearah lemari mengambil celana jogger milik Axel dan memberikannya.
Saat Flo ingin kembali ke arah kasur, Axel memanggilnya kembali.
"Ehh tunggu!"
Flo yang mendengar itu, membalikkan tubuhnya dan kembali menghadap Axel.
"A..ambilin..underwear gua." Kedua pipi Axel memerah menahan rasa malunya. Mata Flo melebar.
"Gu..gua gak bisa keluar." Ucap Axel lagi.
"Aduh malu banget gua." Batin Axel.
"Ngambil apa tadi? Underwear? O god aku malu sumpah!" Ucap Flo dalam hati.
"Buruan gua kedinginan." Rasa malu yang di rasakan Axel sudah sangat besar, meminta seseorang untuk mengambil pakaian dalamnya itu sangat memalukan.
"Di..dimana?" Tanya Flo pada akhirnya.
"Di laci dalam lemari." Axel memalingkan wajahnya saat mengucapkan itu.
Flo membuka laci lemari dengan rasa canggung dan tangan yang gemetaran Flo mengambil apa yang di minta Axel lalu memberikannya kepada Axel.
Blammmm
Axel membanting pintu setelah mengambil apa yang di berikan Flo. Bukannya dia marah tapi rasa malunya yang sudah kelewatan.
Flo terkejut mendengar suara pintu. Tapi kemudian dia kembali menuju kasur untuk memasang bedcover. Bersamaan dengan selesainya aktifitas Flo, Axel keluar dari kamar mandi. Keadaannya yang belum membaik membuat dia berjalan dengan susah payah. Melihat itu Flo dengan sigap memapah tubuh Axel dan membawanya ke tempat tidur.
Axel duduk di atas kasur dan punggungnya bersandar pada kepala kasur. Flo mengambil makanan yang ia bawa tadi.
"Kamu makan dulu. Aku gak sempat masak jadi aku beli bubur kacang ijo. Ini masih hangat. Gak apa-apa kan?" Tanya Flo. Axel tidak menjawabnya. " berasa ngomong sama tiang listrik tau gak." Gumam Flo dalam hati.
Flo menyuapi Axel dengan sabar, beberapa kali Axel mengatakan sudah, tapi Flo selalu mengatakan sedikit lagi hingga buburnya habis tak bersisa, Axel yang melihat itu memanyunkan bibirnya dia kesal pada Flo yang selalu memaksanya.
Flo memberikan beberapa biji obat dan gelas yang berisi air minum. Sempat Axel ingin menolaknya, tapi ia urungkan ia tidak mau menunjukkan sikap manjanya saat sakit pada orang yang paling di benci olehnya. Dengan sangat terpaksa dan peluh yang bercucuran Axel menelan obat itu.
Setelah itu Axel membaringkan tubuhnya dan perlahan memejamkan mata. Flo menarik selimut untuk menutupi tubuh Axel sampai sebatas dada. Lalu dia berjalan menuju pintu untuk keluar dan membiarkan Axel beristirahat.
••••••••••
__ADS_1