Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Episode 32


__ADS_3

Flo masih belum sadarkan diri sejak tiga puluh lima menit yang lalu mereka sampai di apartemen. Zack dengan setia berada di samping Flo. Dia takut Flo mengigau seperti biasa dan dia tak ada di samping Flo. Itu akan membuat Flo semakin ketakutan nantinya.


"Zack. Ini kompres dulu pipinya Flo. Gua mau masak siapa tau nanti Flo bangun." Ucap Axel yang datang membawa baskom berisi air es serta handuk kecil.


Zack menganggukkan kepalanya. Lalu Axel keluar kamar menuju dapur bersiap untuk memasak. Dia memasak bubur untuk Flo. Sebenarnya banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Zack. Tapi ia urungkan nanti saja ia menanyakan semuanya.


Tiga puluh menit kemudian


Axel sudah selesai memasak. Bubur yang ia buat sudah terhidang rapi dan kelihatannya sangat lezat.


Axel berjalan menuju kamar Flo dengan nampan yang ia bawa berisi bubur dan air minum.


Saat Axel ingin masuk. Langkahnya terhenti ketika ia mendengar percakapan Flo dan Zack. Dia dapat mendengar jelas percakapan mereka karna pintu sedikit terbuka.


"Flo jangan bergerak dulu. Tunggu aku kompres memarnya dulu." Ucap Zack dengan satu tangan menahan dagu Flo agar tetap menoleh ke samping.


"Ihh Zack aku ga apa-apa. Udah ah gak usah berlebihan gitu." Protes Flo yang terlihat kesal pada sikap Zack yang overnya kumat.


"Gak papa gimana. Pipi kamu berbekas gini dan ini lihat bibir kamu berdarah." Tunjuk Zack pada ujung bibir Flo.


"Ck, zig-zag. Dengar ya. Aku udah biasa ngalamin hal kaya gini. Ini itu belum seberapa kamu taukan?" Tanya Flo. Zack mendengus kesal dengan kekeras kepalaan Flo.


"Flo. Dia udah kembali. Kamu harus hati-hati." Ujar Zack yang mengusap pundak Flo.


"Aku tahu. Dengar Zack. Aku udah dewasa aku bisa jaga diri aku sendiri. Kalian gak usah terlalu mengkhawatirkan aku." Ucap Flo dengan tegas.


"Jelas kita khawatir Flora!" Zack berdiri membelakangi Flo." Kita semua sayang sama kamu." Lanjut Zack kini dia sudah membalikkan tubuhnya menghadap Flo.


"Bahkan sekarang dia bisa menemukan kamu. Dan tadi saat kamu dalam bahaya aku terlambat untuk nolongin kamu, aku tidak tau apa yang akan dia lakukan kalau saja aku dan Axel tidak meneriaki namamu." Ucap Zack lirih. Sangat jelas wajahnya menggambarkan kekhawatiran.


Flo tersenyum mendengar nama Axel.


Zack yang menyadari itu mengernyit bingung.


"Ngapain kamu senyum-senyum sendiri!" Ketus Zack.


"Ehh.ng..gak kok." Elak Flo.


Zack duduk di sisi kasur. Matanya menatap lekat manik mata Flo.


"Flo dengar. Kamu harus pindah ke rumah bunda." Ucap Zack. Mata Flo melebar mendengar ucapan Zack.


Jika dia pindah bagaimana dengan Axel. Pasti dia tidak leluasa untuk memantau Axel. Bagaimana jika orang-orang jahat itu menyakiti Axel atau tante Ambar.


Tidak-tidak ini tidak bisa terjadi.


Dengan cepat Flo menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Tanya Zack."di sana kamu pasti aman. Karena ada bunda yang selalu mengawasi dan menjagamu ada ayah juga." Kata Zack dengan serius.


"Zack. Di sini aku juga sudah aman." Lagi Flo mengelak.


"Flo tolonglah. Agar aku tenang meninggalkan kamu. Kamu tau besok aku akan berangkat ke Surabaya. Aku di pindah tugaskan kesana selama tiga bulan. Bagaimana aku bisa tenang jika kamu tinggal sendirian dan wanita itu pasti akan menemukanmu." Ucap Zack semakin lirih. Ia tidak mau meninggalkan Flo sendirian seperti ini.


"Zack...


"Flo dengarkan aku dulu aku belum selesai bicara." Tegas Zack saat Flo ingin mengeluarkan suaranya. Flo mendengus kesal.


"Kamu tau tujuan aku masuk anggota aparat adalah untuk menjaga kamu. Tapi apa gunanya itu semua kalau pada akhirnya aku tidak bisa melindungimu?" Tanya Zack wajahnya terlihat frustasi melihat keadaan Flo. Zack menangkup wajahnya sendiri. Ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Flo jika ia sudah jauh.


"Aku hanya tidak ingin kejadian itu terulang lagi." Lirih Zack masih dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dan setengah menunduk.


Flo tahu apa yang dirasakan Zack. Meskipun Flo tidak peduli dengan dirinya sendiri tapi banyak orang yang menyayanginya. Kejadian itu membuat Zack dan seluruh keluarganya over protectife pada Flo.


Flo meletakkan tangannya di atas pundak Zack.


"Zack. Dengarkan aku. Aku tau kalian semua sangat menyayangi aku. Aku bersyukur di berikan keluarga seperti kalian. Aku tau kalian semua selalu berusaha untuk melindungi aku. Tapi ingat kalian tidak selalu bisa melindungiku. Ada saatnya kalian meneruskan hidup kalian masing-masing. Begitu juga dengan aku. Kalian tak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja. Walaupun kamu jauh, Nathan jauh, mamah dan ayah jauh. Tapi jangan lupa ayah Bunda juga ada di sini, mamah Ambar ada, Axel ada. Aku akan berlindung pada mereka. Dan jangan lupa juga aku memiliki sahabat-sahabat yang sangat menyayangiku. Buang rasa khawatirmu itu. Dan jika suatu saat nanti ada hal yang tidak diinginkan terjadi itu semua sudah menjadi takdir Tuhan." Kata Flo panjang lebar. Perlahan Zack melepaskan tangannya yang menutupi wajahnya.


"Kamu menangis?" Tanya Flo ketika melihat pipi Zack basah. Tanpa menjawab pertanyaan Flo Zack memeluk Flo dengan erat.


"Terserah. Mau kamu katakan aku cengeng aku tidak peduli. Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-napa." Ucap Zack dalam pelukannya.


"Ck, kamu ini anggota polisi kok punya hati hello kitty gak cocok tau." Flo mencibir Zack.


"Biar saja. Aku tidak peduli. Aku hanya tidak ingin adikku dalam bahaya." Ucap Zack. Mendengar itu Flo mendorong tubuh Zack dari pelukannya.


"Enak saja! Aku bukan adikmu Zack. Tahun lahir kita sama. Kita hanya beda dua bulan saja." Protes Flo tidak setuju Zack memanggilnya adik.


"Tetap saja aku paling tua Flo." Ucap Zack lalu dia berdiri.


"Tidak Zack!" Tegas Flo.


"Terserahmu sajalah. Tapi kenapa tadi kamu bangun tidak berteriak histeris?" Tanya Zack.


"Entahlah. Mungkin karena aku sedang bahagia." Jawab Flo. Lalu ia tersenyum bahagia.


"Bahagia kenapa?" Tanya Zack lagi.


"Rahasia dong." Ucap Flo dengan antusias.


"Akh rahasia. Padahal aku tau. Kamu bahagia karna Axel ingin membelikanmu ice creamkan?" Ledek Zack pada Flo. Lalu ia berlari menuju kamar mandi sebelum dia cakar oleh Flo.


"Zack!!!" Pekik Flo. Zack tertawa terbahak-bahak. Lalu ia menutup pintu.


Saat Flo ingin bangkit dari kasur. Axel masuk dengan nampan yang di tangannya.


"Mau kemana?" Tanya Axel datar. Flo yang melihat Axel berjalan ke arahnya hanya bisa mematung dan mengerjap-ngerjapkan matanya beberapakali.


Dia tidak menyangka Axel ada di sini.


"Apakah ini mimpi?" Tanya Flo dalam hati.


"Duduk." Perintah Axel pada Flo. Flo hanya menurut saja. Saat tangan Axel tidak sengaja menyentuh kulit Flo.


"Ini bukan mimpi?" Tanya Flo. Axel mengernyit bingung dengan pertanyaan Flo.


"Ini kenyataan." Datar Axel. Lalu ia mengambil mangkuk berisi bubur.


Flo tersenyum bahagia. Tahu kalau ini adalah kenyataan.


"Makan dulu." Ucap Axel. Flo meraih mangkuk berisi bubur itu. Namun di jauhkan oleh Axel.


"Mau ngapain?" Tanya Axel.


"Katanya makan. Gimana sih?!" Flo mendengus kesal. Axel ingin tersenyum melihat wajah Flo yang lucu. Tapi ia tahan.


"Buka mulut." Perintah Axel pada Flo. Flo melotot tak percaya. Axel ingin menyuapinya?


"Tuhan apa ini mimpi? Axel ingin menyuapiku?" Tanya Flo dalam hati.


"Kok bengong. Keburu dingin." Meskipun ucapan Axel datar namu Flo merasa sangat bahagia. Flo membuka mulutnya lalu Axel menyuapkan bubur itu pada Flo.


Axel duduk di sisi kasur jaraknya sangat dekat dengan Flo.


"Semoga ini tidak cepat berakhir." Doa Flo dalam hati.


Tak menunggu lama bubur itu sudah habis di lahap Flo. Karena lapar atau ingin menyenangkan hati Axel. Entahlah hanya dia yang tahu.


Setelah minum. Axel menyuruh Flo untuk tidur.


"Tidurlah." Ucap Axel. Flo hanya menurutinya dengan mebenarkan posisi tubuhnya menjadi berbaring lurus. Tanpa menunggu lama Flo memejamkan matanya. Axel menarik selimut untuk menutupi tubuh Flo sebatas dada.


Zack keluar dari kamar mandi. Ia melihat Flo sudah tertidur.


"Aihh udah tidur aja dia. Dasar kebo!" Zack mencibir Flo yang dengan mudahnya tertidur.


"Biarin dia istirahat." Ujar Axel lalu ia keluar membawa nampan tadi dan di susul oleh Zack.


Sampai di pantry Zack duduk di kursi.


"Lu mau minum apa?" Tanya Axel yang meletakkan nampan tadi di dalam sink.


"Kopi deh." Jawab Zack singkat.

__ADS_1


Axel mengambil gelas, dan dua sachet kopi.


"Lu sering main kesini? Kayanya lu hapal banget seluk beluk apartemen ini." Tanya Zack yang melihat Axel dengan cepat menemukan barang-barang yang di butuhkan.


"Dulu gua tinggal di sini. Ini apartemen almarhum papa. Tapi karna jarang gua bersihin mamah ngusir gua dari sini." Jujur Axel pada Zack.


"Hahaha" Zack tertawa." Lu sih aneh-aneh aja. Masa tempat sebagus ini gak pernah lu bersihin." Ujar Zack.


"Ya gitulah. Sorry nih tadi gua dengar percakapan lu sama Flo. Benar besok lu mau ke Surabaya?" Tanya Axel yang menyeduh kopi dengan air panas dan mengaduknya perlahan.


"Lu dengar semuanya?" Tanya Zack.


"Ga. Itu doang." Bohong Axel. Padahal dia mendengar semuanya.


"Iya. Besok gua akan ke Surabaya." Jawab Zack.


"Berapa lama?" Tanya Axel dia berjalan ke arah pantry meletakkan gelas berisi kopi di hadapan Zack.


"Thanks. Mungkin tiga bulan lebih. Gua bisa minta tolong sama lu?" Tanya Zack. Lalu ia menyesap kopi miliknya.


"Hmm. Minta tolong apa?" Tanya balik Axel.


Zack meletakkan gelas miliknya di atas meja pantry.


"Tolong jaga Flo. Lindungi dia terutama dari wanita tadi." Ucap Zack. Matanya menerawang jauh ke depan.


"Emang siapa wanita itu?" Tanya Axel penasaran.


"Lu dekatin Flo. Buat dia nyaman sama . Kalau dia udah nyaman sama lu dia akan cerita semua yang ingin lu tau. Gua gak berani buat cerita sama lu karna kemarin saat gua cerita tentang Reno, dia udah mau nenggelamin gua ke Samudra Atlantik." Zack terkekeh mengingat kemarahan Flo yang ia rasa itu tidak menyeramkan tapi malah lucu menurut Zack.


"Seperti yang udah gua bilang banyak hal yang menyakitkan yang di pendam Flo. Banyak rahasia yang dia simpan. Dia itu wanita yang kuat gua rasa kalau gua yang ada di posisinya gua ga  akan sanggup untuk menanggung semuanya." Axel termangu mendengar cerita Zack tentang Flo. Apa yang di alami oleh Flo hingga Zack mengatakan banyak hal yang menyakitkan yang di alami Flo.


Suara dering handphone Zack menarik Axel kedunia nyata.


"Halo."


"...."


"Siap Ndan!"


"....."


"Siap! Selamat sore Ndan!"


"Kayaknya gua harus pergi." Ucap Zack lalu ia meminum kopinya.


"Tolong lindungi Flo. Meskipun gak menginginkan dia dalam hidup lu pliss buat dia bahagia agar dia bisa melupakan trauma yang dia alami." Zack berdiri dan menepuk pundak Axel.


"Bantu dia lepas dari traumanya. Gua pergi." Pamit Zack. Lalu Zack berjalan menuju pintu keluar.


Hal yang perlu kalian tahu. Zack masih memakai seragamnya.


Axel semakin tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan Zack.


Banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya.


Handphonenya berbunyi. Dengan segera Axel mengangkatnya.


"Halo."


"...."


"Sorry kayanya gua gak bisa jemput lu. Naik taksi aja deh. Atau pak Deni yang jemput ya."


"...."


"Anya hari ini gua gak bisa. Lagian bukannya lu bilang besok lu datang?"


"......"


"Serah lu dah."


Axel memutuskan secara sepihak. Ia menggerutu tak jelas. Bagaimana dia menjemput sepupunya di bandara sementara dia sedang menjaga Flo. Gak mungkin dia meninggalkan Flo sendirian. Jika terjadi sesuatu padanya bagaimana.


"Ada masalah?" Tanya Flo. Axel kaget melihat Flo yang tiba-tiba sudah disana. Flo membuka lemari es,mengambil air putih dingin dan menuangkannya ke dalam gelas yang ia pegang.


"Ngapain lu di sini. Bukannya istirahat." Axel mengucapkannya datar tanpa memandang Flo.


Flo meneguk minumannya sampai setengah.


"Malas di kamar terus." Flo duduk di kursi pantry di hadapan Axel. " ada apa? Tadi aku dengar kamu nelpon."


Mendengar ucapan Flo. Axel mendesah.


"Anya. Dia udah sampai di bandara. Dia minta gua untuk jemput dia." Kata Axel. Lalu dia menyesap kopinya yang sudah sedikit dingin.


"Terus? Apa masalahnya? Kamu jemput aja." Saran Flo dia selalu menatap Axel saat bicara.


"Gua gak mungkin ninggalin lu dalam keadaan begini. Bisa-bisa gua di hajar Zack nanti." Protes Axel. Flo mendengus kesal.


"Entah gosip apalagi yang di sebar si ember itu." Gumam Flo. Lalu ia menatap Axel.


"Tenang aja aku ga apa-apa disini. Pergilah jemput Anya. Kasihan dia menunggu lama." Ujar Flo serius.


"Lu yakin?" Tanya Axel memastikan. Flo menganggukkan kepalanya tanda mengatakan iya.


"Udah sana. Kasihan Anya sendirian. Nanti kalau ada orang jahat yang mengganggunya bagaimana?" Tanya Flo saat Axel tidak juga bergerak dari duduknya.


"Ya udah. Kalau ada apa-apa lu hubungi gua." Pesan Axel. Lalu dia bergegas meraih handphone dan berjalan menuju pintu keluar. Flo menganggukkan kepalanya.


Setelah Axel keluar. Flo tersenyum bahagia.


"Arggh mamah dia mengkhawatirkanku." Pekik Flo. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menengadah ke atas. Sepertinya Flo sangat bahagia hari ini.


Saat Flo beranjak menuju kamarnya. Bel berbunyi.


Ting...tong..ting..tong..


"Siapa itu?" Gumam Flo.


Gak mungkin Axel karna dia baru saja pergi. Dan ga mungkin juga Dave atau Nela. Mereka selalu memberitahu jika mereka akan kesini. Atau jangan-jangan wanita itu. Tapi ga mungkin. Darimana dia tahu apartemen yang di tinggali oleh Flo.


Lama berkutat dengan pikirannya. Handphone Flo berbunyi. Tanpa melihat pemanggilnya Flo segera mengangkatnya.


"Halo."


"Sampai kapan lu biarin gua di luar. Buruan buka pintunya."


Flo berdecak. Ternyata itu adalah Zack. Segera Flo berjalan menuju pintu untuk membukakannya.


"Lama banget sih!" Protes Zack saat pintu sudah terbuka. Flo mendengus.


"Ada apa lagi? Bukannya prepare untuk berangkat ke Surabaya malah keluyuran." Flo menatap Zack datar dengan tangan yang terlipat di depan dada.


"Ck, lu bawel!" Zack menarik hidung Flo sebentar lalu masuk begitu saja." Dimana Axel?" Tanya Zack yang sudah duduk di sofa.


"Dia pergi ke bandara. Menjemput sepupunya." Ucap Flo lalu ia menutup pintu dan datang menghampiri Flo.


"Gimana sih tuh orang. Udah gua bilangin jaga Flo malah pergi." Gerutu Zack dengan wajah kesalnya. Dia sudah meminta Axel untuk menjaga Flo malah di tinggal seperti ini.


"aky yang minta dia untuk jemput Anya Zack." Tegas Flo. Ia tidak ma Zack menyalahkan Axel sementara tadi Flo yang memaksa Axel untuk menjemput Anya di bandara.


"Hehhh dasar nyonya pemaksa!" Gumam Zack lalu ia memutar bola matanya.


"Itu apaan Zack?" Tanya Flo menunjuk ke arah kotak hitam yang di bawa Zack. Zack tersenyum.


"Sini dekat sama gua." Ucap Zack. Flo menggeser pantatnya agar dekat dengan Zack.


"Flora benar yang lu bilang. Ga selamanya gua ataupun yang lainnya bisa ngejaga lu. Karna itu biar gua sedikit tenang gua kasih ini buat lu. Lu gunain sebaik mungkin. Jangan main-main dengan benda ini." Ujar Zack lalu menyerahkan kotak hitam itu pada Flo.


Flo mengernyit bingung. Lalu ia menerima kotak itu dari Zack. Flo membuka kotak itu dengan perlahan dan hati-hati.


"Ini kado ulang tahun yang lu minta." Ucap Zack. Mata Flo melebar sempurna ketika sudah melihat benda yang ada di dalam kotak itu. Benar saja itu adalah kado yang ia minta pada Zack ketika ulang tahunnya.

__ADS_1


Itu adalah pistol.


"Zack. Ini beneran?" Tanya Flo yang masih tidak percaya. Zack menganggukkan kepalanya.


"Ini pistol dengan surat izinnya. Gua minta jangan sampai lu salah gunain ini. Nanti lu bisa kena pasal." Ucap Zack. Dengan tiba-tiba Flo memeluk Zack.


"Makasih Zack. Kamu emang sepupu gua yang paling baik." Ucap Flo dalam pelukannya.


"Hmm. Kalau udah kaya gini baru lu bilang gua sepupu yang baik." Cibir Zack. Flo melepaskan pelukannya dan memukul kecil dada Zack.


"Paan sih! Ya udah kalau gak mau di bilang baik." Kesal Flo ia mengetucutkan bibirnya. Sudah dibilang baik malah protes. Zack terkekeh lalu ia mengacak-acak rambut aneh Flo.


_______


Flora p.o.v


Akhhhhh akhirnya.....


Lepas juga behel sialan itu dari gigiku. Tadi aku sangat kesusahan membukanya.


Entah sampai kapan ini akan berlanjut. Aku takut jika aku menunjukkan diriku yang sebenarnya Axel akan mengenaliku.


Tapi jika dia tidak mengenaliku aku tidak masalah. Aku akan menunjukkan siapa aku sebenarnya.


Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagiku.


Kalian tahu?


Pertama, Axel perhatian sekali padaku. Meskipun raut wajahnya selalu dingin seperti itu aku tau dia mengkhawatirkan aku.


Bisakah aku berharap padanya untuk mencintaiku?


Kedua, Zack memberikan kado yang aku minta. Ya memang terdengar gila. Aku meminta pistol. Tapi itu untuk menjaga diriku. Contohnya dari wanita tadi sore.


Akhirnya dia menemukanku juga. Meskipun aku berpenampilan aneh seperti ini dia tetap mengenaliku.


Tapi tidak apa. Yang penting aku sudah memiliki senjata untuk melindungi diri.


Aku meraih laptopku lalu membukanya.


Axel dimana ya? Kok dia ga ngasih kabar.


Hahaha


Kayanya tingkat ke-PDan ku semakin tinggi.


Ya ga mungkinlah Axel memberi kabar padaku. Hanya ada dalam mimpi saja.


Aku membuka CCTV yang terhubung pada laptopku. Dan terlihatlah suasana rumah Axel.


Sepertinya Axel sudah pulang. Mobilnya sudah ada di halaman rumah.


Ehh tunggu! Dia mau kemana?


Keluar bersama Anya?


Mereka mau kemana?


Kulihat Axel memasuki mobilnya bersama seorang gadis. Aku yakin itu adalah Anya. Sepupu Axel. Putri dari saudara perempuan mamah Ambar.


Mataku melotot sempurna saat melihat ada beberapa orang naik motor mengikuti mobil Axel dari belakang.


"Oh shit!!" Pekikku sendiri. Saat menyadari siapa orang-orang itu.


Tanpa pikir panjang aku segera mengganti pakaianku,tak lupa topi,kunci motor,dan pistol tadi aku selipkan di dalam saku jaketku. Segera aku keluar apartemen memasuki lift dan menekan tombol P2 Basement parking motor.


Kutunggangi motorku dan melajukannya dengan sangat cepat. Kubuka GPS untuk mengetahui keberadaan Axel.


Aku menemukannya. Mereka berada di jalan Kenari 3. Aku segera melesatkan motorku menuju jalan itu.


Kalian tidak perlu bingung. Darimana aku bisa mengendarai motor sebesar ini. Tentu aku memaksa Zack dan Nathan untuk mengajariku. Jangan panggil aku Flora jika tidak bisa memaksa mereka.


Gotcha!!


Aku menemukan mereka.


Tapi kenapa berhenti?


Oh No!!


Mereka di hadang preman-preman itu. Bagaimana mungkin bisa sebanding. Mereka berlima. Sementara Axel sendiri.


Ku lihat Axel yang sudah turun dari mobil dan di serang dua orang preman itu. Axel dengan mudah mengalahkannya.


Tapi ini tetap tidak adil.


Aku ikut bergabung ketika kulihat tiga orang preman itu ingin menyerang Axel juga.


Aku menendang punggung seorang preman yang ingin diam-diam menyerang Axel dari belakang. Lalu kuberikan pukulan-pukulan pada wajah preman yang ada di hadapanku.


Dua orang preman yang dihadapi Axel sudah terkapar. Dan Axel menghadapi seorang lagi. Dan sisa dua lagi berhadapan denganku.


Aku menyikut rahang preman yang berambut panjang. Ia terjungkal kebelakang dan preman yang satu lagi menyerangku. Ku tangkap tangannya dan memutarnya kebelakang. Hingga ia tidak dapat bergerak dan meringis kesakitan karna aku mengunci tangannya dan menekannya dengan kuat.


Segera ku pukul tengkuk preman itu dengan sekuat tenagaku saat aku melihat preman berambut panjang mengeluarkan pisau dan berjalan ke arah Axel yang membelakanginya.


Ku dorong preman itu.


Hingga


Sraaakkkkk


Pisau itu mengenai lenganku.


Perih..


Sakit sekali.


Dapat kurasakan darahku mengucur keluar. Aku menendang alat vital pria itu sebelum dia menyakiti Axel.


Terdengar sirine mobil polisi yang mungkin sedang patroli.


Preman-preman itu berteriak satu sama lain untuk kabur. Mereka menaiki motor masing-masing lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Aku meringis kesakitan.


Ku dengar Axel memanggilku yang sedang membelakanginya.


"Heyy!!" Panggilnya.


Sebelum dia tiba di sampingku aku sudah berlari menuju motorku.


Menghiraukan rasa sakit yang semakin sakit. Ku naiki motorku lalu aku pergi meninggalkan Axel sebelum dia mengenali wajahku.


Sampai di apartemen aku hanya bisa meringis,menahan rasa sakit. Ku buka jaketku perlahan dan terlihatlah luka yang memanjang sekitar 15 cm.


Ku pejamkan mataku. Bukannya menahan rasa sakitnya.


Tapi aku takut melihat darah.


Dalam hati aku berdoa semoga darahnya berhenti.


Doa yang aneh memang. Mana mungkin darahnya berhenti menetes jika tidak di obati.


Tapi aku benar-benar takut melihat darah.


Someone help me please!!


•••••••••


TBC


 

__ADS_1


 


__ADS_2