
Hari ini hari sabtu. Mamah Ambar meminta aku dan Axel ke rumah. Berhubung Axel tidak masuk kantor ia pun menyetujuinya.
Di dalam mobil aku dan Axel hanya diam. Aku sibuk dengan baik handphoneku dan Axel fokus menyetir.
"Emm Flo.." suara Axel membuatku menoleh ke arahnya namun ia masih tetap fokus ke depan.
"Ada apa?' jawabku.
"Nanti di depan mamah kita harus bertingkah seperti suami istri ya." ucapnya.
"Seperti suami istri? Bukannya aku dan dia memang suami istri ya?" bisikku dalam hati.
Ehh aku lupa. Dia hanya menganggap aku teman biasa kan?
Aku menatapnya. Mungkin dia menyadari tatapanku.
"Ada apa?" tanyanya dengan terus fokus ke depan.
"Tidak apa-apa. Baiklah." ucapku pada akhirnya.
Kembali aku fokus dengan smartphone milikku. Hingga handphoneku berbunyi tanda panggilan masuk.
KEVIN.
ada apa dia menelponku.
Aku menggeser tombol hijau yang ada di layar handphoneku dan mengarahkannya ke telingaku.
"Halo"
"Hai Flo lagi dimana''
"Lagi di jalan"
"Mau kemana?"
"Aku mau kemana apa urusannya dengamu?"
"Astaga Flo teganya kamu berkata seperti itu."
"Sudahlah hentikan dramamu itu. Ada apa?"
"Hmm ok. sepertinya aku gagal menjadi pemain Drakor ya."
Aku terkekeh mendengar ucapannya.
Dari sudut mataku aku melihat Axel memperhatikanku. Biarkan sajalah.
"Memang kamu tidak pantas!"
"Huh! Jika berdebat denganmu aku pasti kalah."
Kembali aku terkekeh mendengar dengusannya.
"Ada apa sih?"
"Mm tidak. Aku hanya merindukanmu"
"Astaga Kevin. Baru beberapa hari kemarin kita bertemu dan sekarang kamu merindukanku?"
"Memang. Tapi aku tidak tahu. Aku hanya ingin melihat wajah cantikmu itu setiap hari."
"Ishh, kamu ada-ada saja. Baiklah-baiklah. Sepertinya kita bisa bertemu setiap hari agar kamu tidak tersiksa dengan rasa rindumu itu." ucapku dengan penuh candaan tapi terdengar serius.
Ckkiiittttt
Tiba-tiba Axel menginjak rem dengan tiba-tiba. Hingga aku terkejut. Aku menatapnya tajam.
"Ada kucing." ucapnya datar.
Aku melihat keseliling tidak ada apa-apa.
Ada apa dengannya.
Aneh.
Kembali aku fokus dengan handphoneku.
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa."
"Ohh. Mm Flo besok kalau tidak sibuk besok temani aku ya."
"Temani kemana?"
"Temani aku ke Hotel Fairy."
"Ke hotel? Hanya kita berdua?"
Ckiiiitttttt
Lagi Axel menginjak rem dengan tiba-tiba. Aku menatapnya dengan tajam sementara dia hanya bersikap biasa saja.
Apa dia sudah gila.
"Kucing". Katanya dengan santai.
Kucing lagi?
"Iya. Mau tidak?"
"Oh tentu saja Vin. Aku akan menemanimu."
"Astaga honey terimakasih."
"Honey? Sejak kapan kamu memanggilku Honey?"
"Sssttt. Disini ada mantanku."
Bisiknya. Aku terkekeh.
"Baiklah honey terserahmu saja."
Ckiiiittttt
Untuk ketiga kalinya Axel menginjak rem dengan mendadak. Aku geram melihatnya.
"Kamu apa-apaan sih!" ketusku padanya. Ini tidak mungkin kucing yang menyebrang lagi. Sudah tiga kali.
"Dinosaurus nyebrang." ucapnya datar. Aku mencebikkan bibirku. Mana ada dinosaurus jaman ini.
"Ada apa Flo?"
" bukan apa-apa. Hanya ada orang usil disini."
Ucapku dengan kesal.
Tiiiiinnnnnnn
Axel menekan klakson dengan kuat. Hingga membuat telingaku nyeri.
"Ishhh kuda nil nyebrang sembarangan." gumam Axel yang masih dapat ku dengar.
Aku yakin dia sudah gila. Mana ada kuda nil di tengah kota dan menyebrang jalan raya.
Axel gila!
"Ada apa sih Flo?"
"Tidak ada. Hanya ada orang gila. Mm baiklah besok aku kabari. Semoga aku tidak sibuk ya."
"Ok. Kamu dandan yang cantik."
"Emang mau ngapain sih di hotel?"
Kali ini bukan rem mendadak atau klakson yang berbunyi tapi suara musik yang sangat keras memekakan telinga.
Aku mematikan musik itu.
Dan ingin meneruskan percakapanku dengan Kevin. Tapi Axel kembali memasang musik. Aku mematikannya. Kembali dia menghidupkannya. Begitu terus hingga aku tidak bisa berbicara dengan Kevin dan tidak bisa mendengar suaranya dengan jelas.
"Kevin ya sudah besok jemput aku di apartemen!" pekikku di dalam mobil. Aku tidak peduli Axel akan marah. Aku yang lebih marah dia menggangguku berbicara dengan Kevin.
Ckiiittttttt
Lagi ia menginjak rem dengan tiba-tiba. Kali ini kesabaranku sudah habis. Aku akan memarahinya.
"Sudah sampai!" ketusnya. Lalu ia keluar dari mobil. Aku mengatupkan mulutku dan melihat keseliling. Benar ini di depan rumah mamah.
"Baiklah Flo. Terimakasih."
"Iya."
Aku mengakhiri panggilan. Dan keluar dari mobil menuju rumah.
___
Author p.o.v
Dengan wajah kesal Axel masuk ke dalam rumah. Mengabaikan Anya yang duduk di sofa. Ambar datang dari dapur.
"Axel kamu sudah datang sayang? Dimana Flo?" ucap Ambar antusias.
Axel tidak menjawab ia hanya mencium pipi mamahnya dan beranjak ke kamarnya di lantai dua.
"Dia kenapa Ann?" tanya Ambar pada Anya.
"Ga tau tan. Kayanya dia ga di kasih jatah sama Flo." ucap Annya dan tertawa bersama Ambar.
"Mamah." ucap Flo yang baru saja masuk.
"Astaga Flo mamah kangen sekali sama kamu sayang." Ambar memeluk Flo dengan sayang.
__ADS_1
"Flo juga kangen mamah." balas Flo. Ambar mengurai pelukan mereka.
"Hai Flo." ucap Anya yang sudah berdiri di sebelah Flo. Flo tersenyum. Dan memeluk Anya.
"Hai ann." balasnya.mereka menyudahi pelukannya dan berjalan menuju meja makan.
"Hari ini mamah masak banyak. Khusus untuk kalian." ucap Ambar sambil berjalan ke arah meja makan.
"Wahh, ini pasti lezat,Flo jadi lapar." kata Flo seraya mengusap perutnya.
"Ya sudah ayo kita makan." ajak Ambar. Mereka duduk di kursi.
"Bi mar tolong panggilin Axel." suruh Ambar pada Bi Mar yang sedang mencuci piring.
"Baik Nyonya." kata Bi Mar dan ia berlalu menuju kamar Axel yang ada di lantai dua.
"Flo, Axel kenapa? Kok wajahnya kelihatan kesal begitu?" tanya Anya yang duduk di hadapan Flo.
"Ntah. Aku tidak tahu." singkat Flo. Ia mengedikkan bahunya.
Axel tiba di meja makan masih dengan wajah kesalnya. Ia duduk di samping Flo. Ketika Flo ingin menyendokkan nasi ke dalam piring Axel ia mencegahnya.
"Aku bisa sendiri." datarnya. Flo melepaskan sendok itu dan kembali memakan makanannya.
"Kamu kenapa Xel?" tanya Ambar yang bingung dengan sikap Axel.
"Ga papa mah." jawab Axel.
"Dia ga di kasih Jatah kali tan." ucap Anya dengan senyum menggoda.
Mendengar ucapan Anya yang terdengar ambigu di telinga Flo membuat ia tersedak bersamaan dengan Axel yang menghentikan aktivitasnya serta menatap tajam Anya.
Uhukk
Uhukk
Uhukk
"Astaga Flo hati-hati sayang. Pelan-pelan saja makannya." ucap Ambar yang mengusap punggung Flo dengan lembut dan menyodorkan air minum.
"Apa ucapanku salah?" tanya Anya karna ia merasa di tatap tajam oleh Axel.
"Ngga Ann. Udah lanjut makan lagi." kata Flo ketika ia sudah merasa tenang.
Mereka melanjutkan makannya dalam henig.
_
Aku dan Mamah duduk di kursi taman belakang. Hanya kami berdua. Anya sedang di kamarnya karna kakinya terluka di jepit kursi. Dan Axel. Selesai makan tadi ia langsung masuk ke dalam kamarnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya.
Mungkin Nadya tidak memberi kabar.
"Gimana hubungan kamu dengan Axel?" tanya Mamah Ambar. Pertanyaannya membuat aku bingung harus menjawab apa.
"Ya begitulah mah." jawabku dengan singkat.
"Maafkan sikap Axel yang dingin seperti itu ya sayang." ucap Mamah dengan sedih.
"Ga papa mah. Flo bisa menghadapinya kok." aku mencoba menghibur mamah Ambar agar tidak sedih lagi. Aku tidak tega melihatnya.
"Sebenarnya bukan itu sikap Axel yang sebenarnya. Dia berubah 92 persen dari sikap aslinya. Semua berubah ketika kejadian tujuh tahun lalu. Ia semakin dingin seperti sekarang. Mamah sedih melihat dia seperti ini Flo. Mamah tahu dia terpukul dengan ke pergian Papah dan Arsya. Dia sangat hancur. Termasuk mamah."
Astaga,Mamah. Jangan sedih lagi dong.
Aku mengusap lengan Mamah dengan lembut. Seolah memberi kekuatan.
Aku membiarkan mamah menangis. Membiarkan dia menumpahkan semua kesedihannya yang ia pendam selama ini.
"Sampai saat ini Mamah belum bisa terima kalau Suami Mamah sudah tidak ada."
"Kenapa mamah ngomong kaya gitu?" tanyaku lembut.
"Karna sampai saat ini jasadnya belum di temukan."
Apa?
Jasadnya belum di temukan?
"Mamah sudah meminta pihak kepolisian untuk mencarinya. Tapi mereka mengatakan bahwa Suami Mamah sudah tidak ada. Dengan bukti jam tangan,sepatu dan robekan bajunya di temukan di jurang. Kepolisian mengklaim jika Papah di makan binatang buas."
Apa?
Bagaimana mungkin itu terjadi. Sementara Om Robert tidak bisa berjalan saat itu.
Aku semakin bingung mendengar penuturan Mamah Ambar.
"Polisi hanya menemukan jasad Arsya di dekat mobil. Saat itu mamah benar-benar hancur. Mamah pikir mereka tidak akan terselamatkan lagi. Tapi mamah bersyukur Tuhan mengirimkan kamu untuk menyelamatkan Axel. Terimakasih Flo."
Mamah Ambar memelukku dengan terus menangis. Aku membalas pelukannya.
"Tidak perlu mengucapkan terimakasih Mah. Anggap saja itu sebagai balas budi atas kebaikan kalian 15 tahun lalu." kataku pada Mamah Ambar.
"Lalu apa polisi menyelidiki kasus itu mah?" tanyaku. Aku ingin mengorek sedikit informasi tentang kejadian itu setelah aku pergi.
"Polisi mengatakan kecelakaan itu di sengaja. Ada yang sengaja ingin mencelakai mereka."
Great!
Seperti dugaanku.
"Lalu?" tanyaku.
"Pihak kepolisian sudah mencari bukti. Tapi sampai saat ini mereka belum mendapatkan bukti apapun. Pelakunya terlalu licin."
"Apa mamah mencurigai seseorang?" tanyaku lagi. Siapa tahu ada celah untuk mencari tahu siapa dalang di balik ini semua.
"Ya. Mamah mencurigai seseorang. Tapi sekarang dia menghilang bak di telan bumi. Tidak ada yang tahu dia kemana."
"Siapa dia mah?" tanyaku. Mamah Ambar menatap lurus ke depan. Namun dengan tatapan yang terluka.
"Mamah mencurigai Prayogo. Mamah percaya dia dalang di balik semua ini."
Prayogo?
Siapa dia?
"Apa mamah yakin? Lalu kenapa Mamah tidak melaporkannya ke polisi?" jika memang Mamah Ambar curiga padanya. Mengapa tidak di laporkan ke polisi. Biar kepolisian yang mencari bukti.
"Mamah yakin. Karna hanya dia yang menaruh dendam pada suami Mamah.Mamah takut Flo. Mamah takut. Jika Mamah melaporkan dia bisa-bisa dia mencelakai Axel. Apalagi surat yang teror yang di kirim untuk mamah. Itu yang membuat mamah semakin takut. Prayogo itu orangnya nekat."
Surat teror?
Apa yang di maksud mamah Ambar surat yang di apartemen itu?
Jadi benar teror itu?
"Mamah takut kehilangan Axel Flo. Cukup mamah kehilangan Papah dan Arsya. Mamah tidak ingin kehilangan Axel." mamah menangis tersedu-sedu dalam pelukanku. Aku tidak tega melihatnya.
"Mamah tenang saja. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti Axel. Aku akan melindunginya." ucapanku berhasil membuat Mamah Ambar sedikit lebih tenang.
"Terimakasih sayang." kata mamah pada akhirnya.
Aku mendapat sedikit celah untuk ini semua. Aku akan mencari tahu tentang siapa Prayogo itu. Aku yakin dia adalah dalangnya. Dia memiliki dendam pada Om Robert. Pasti itu alasannya.
Aku akan mencari tahu yang kebenarannya. Secepat mungkin.
__
Author p.o.v
Tidak ada yang tahu semenjak tadi ada yang memperhatikan Flo dan Ambar.
Axel yang memperhatikan mereka berdua dari balkon lantai dua namun tidak mendengar apa yang mereka bincangkan.
"Apa mamah begitu menyayangi Flo. Bagaimana jika mamah tahu aku akan menceraikan Flo? Apa mamah akan membenciku?" tanya Axel dalam hati. Ia tidak menyangka mamahnya begitu dekat dengan Flo sehingga menangis seperti itu dalam pelukan Flo.
Ambar tidak pernah seperti itu pada Axel sekalipun. Hanya pada Papahnya saja dan pada Flo Ambar bersikap seperti itu.
_
Di dekat kolam berenang Flo duduk bersama Anya. Mereka duduk di Gazebo yang ada di sana.
"Tante Ambar kemana Flo?" tanya Anya.
"Mamah keluar. Katanya mau ketemu temennya." jawab Flo. Anya hanya menganggukkan kepalanya.
"Mmm Ann. Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Flo sembari menatap Anya yang fokus dengan Handphonenya.
"Boleh. Tanyakan saja." jawab Anya yang masih setia dengan handphonenya.
"Kamu ada hubungan apa dengan Dave?" pertanyaan Flo membuat Anya menghentikan aktivitasnya dan menatap Flo.
"Ada apa? Kenapa kamu bertanya seperti itu?" tanya Anya balik.
Flo gugup. Ia merutuki dirinya sendiri. Tidak seharusnya ia bertanya seperti itu pada Anya. Mungkin lebih baik dia bertanya pada Dave saja. Itu lebih baik.
"Ohh. Tidak aku hanya penasaran saja. Kalau kamu tidak mau cerita juga tidak apa." ucap sebiasa mungkin. Namun jantungnya sudah berdendang. Takut ia salah bicara dan Anya marah padanya.
Anya menarik nafas perlahan. Dan menatap lurus ke depan.
"Apa Flo orang yang bisa ku percaya?" tanya Anya dalam hati. Sedetik kemudian Anya tersenyum pada Flo.
"Aku percaya padamu Flo." ucap Anya lalu memperbaiki posisi duduknya menghadap Flo.
Flo tersenyum. Ia merasa tenang sekarang.
"Aku dan Dave dulu berpacaran. Aku sangat mencintainya begitu pun dia. Dia tak pernah marah padaku meskipun aku salah. Dia selalu meminta maaf duluan. Hingga kejadian tiga tahun lalu membuat aku meninggalkannya begitu saja. Aku benci padanya. Dia mengabaikanku. Dia mendiamiku tanpa sebab. Kami bertemu namun dia tidak menyapaku. Itu membuatku terluka. Aku memintanya untuk menemuiku di taman tapi dia tidak datang. Yang ku lihat ia berjalan dengan seorang gadis. Saat itu juga aku langsung mengakhiri hubungan kami. Dan aku pergi ke Korea. Aku berharap dia mencariku dan meminta maaf. Tapi nyatanya tidak." Flo termenung mendengar cerita Anya. Anya menangis namun tidak mengeluarkan suara.
"Apa kamu bertanya apa yang terjadi padanya?" tanya Flo. Anya menggelengkan kepalanya.
"Untuk apa? Jelas-jelas dia bersama gadis lain. Itu sudah cukup jelas untukku." jawab Anya lalu ia mengusap air matanya dengan kasar.
Flo mendesah ringan lalu ia tersenyum.
__ADS_1
"Bagaimana kalau gadis yang kamu lihat itu adalah sepupunya atau saudaranya?" tanya Flo. Anya menatap Flo dengan bingung. Kenapa bisa ia berkata seperti itu.
"Kamu tahu Ann. Dave itu pria yang baik. Aku menjulukinya pria pemaksa. Karna dia selalu memaksaku. Dia itu sangat protective padaku dan Nela. Dia akan marah jika kami tidak sarapan. Dia sangat menghargai wanita dan hubungan. Dia akan cemberut jika kami menghabiskan milk shake kesukaannya." Flo bercerita dengan tersenyum kecil. Aya yang mendengar itu tertawa kecil.
"Dia tidak berubah." gumam Anya yang masih di dengar jelas oleh Flo.
"Dia tidak berubah. Dan tak akan pernah berubah. Sampai kapanpun. Buktinya dia masih setia menunggumu." kata Flo lalu ia menatap Anya yang kelihatannya bingung dengan ucapan Flo.
"Maksud kamu?" tanya Anya.
"Dia masih mencintaimu sampai saat ini. Meskipun dia tidak memberitahuku tapi aku tahu dari sorot matanya ketika kita bertemu di caffe. Dia masih mengharapkanmu. Buktinya dia menjauhi semua wanita dan hanya mau dekat denganku dan Nela." ucap Flo.
"Jika memang benar. Kenapa dia tidak mencariku saat aku pergi ke Korea. Kenapa dia tidak mencegahku." kata Anya sedikit kesal.
Flo tersenyum kecil.
"Apa kamu pamit padanya?" tanya Flo. Anya menggelengkan kepala.
"Kamu memutuskan hubungan secara sepihak tanpa mendengar penjelasannya kan?". Anya menganggukkan kepalanya. Matanya menunjukkan penyesalan. Apa yang dikatakan Flo benar.
"Kamu memutuskan semua alat komunikasi dengannya kan?" lagi Anya menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana caranya dia mencari kamu? Kamu pergi begitu saja. Dan membiarkan dia hancur sampai sekarang. Aku tahu kalian masih saling mencintai." . Anya mematung mendengar ucapan Flo. Ia sadar ia yang salah meninggalkan Dave begitu saja tanpa menanyakan apa yang terjadi.
"Lalu apa yang harus ku lakukan?" tanya Anya dengan raut wajah yang sedih.
"Temui Dave. Berbicaralah dengannya. Tanyakan apa yang terjadi saat itu. Berikan dia waktu untuk menjelaskannya. Jangan sampai kamu menyesal nantinya Ann." kata Flo. Tiba-tiba Anya memeluknya. Flo terkejut dan hampir terjungkal ke belakang.
"Makasih Flo. Makasih atas saranmu. Aku akan mencobanya." ucap Anya. Flo membalas pelukan Anya dan tersenyum tipis.
"Sama-sama." balas Flo.
"Non. Permisi ini minumannya." suara Bi Mar membuat mereka menguraikan pelukannya.
Bi Mar meletakkan dua buah gelas berisi orange juice di atas meja.
"Makasih Bi." ucap Flo.
"Sama-sama Non." jawab Bi Mar. "Non Anya itu miko datang." ucap Bi Mar ketika ingin membalikkan tubuhnya untuk kembali ke dalam Rumah.
Flo kebingungan. Siapa Miko?
Kekasihnya Anya kah?
"Heii miko sayang." ucap Anya antusias. Flo terlonjak dari duduknya ketika melihat Miko mendekati mereka.
Miko yang di maksud adalah kucing. Sementara Flo tidak suka dengan Kucing.
"Kenapa Flo?" tanya Anya kebingungan.
"A..aku tidak suka kucing. Geli!" ucapnya dengan bergidik geli melihat kucing yang berada di pelukan Anya.
Anya terkekeh.
"Aku tidak tahu kamu tidak menyukai kucing." kata Anya seraya mengusap kepala kucing itu." ini hadiah dari Dave." kata Anya lagi.
Flo terus mundur ke belakang.
Tiba-tiba kucing itu melompat ke arah Flo. Flo kaget dan berteriak hingga ia tidak sadar jika ia sudah sampai di pinggir kolam. Dan......
"Flo...!''
"Non Flo!"
Anya dan Bi Mar berteriak bersamaan.
Byiiuurrrrrr
Flo jatuh ke dalam kolam renang. Anya kebingungan. Tidak tahu harus berbuat apa. Flo berteriak meminta tolong karna ia tidak bisa berenang.
"Flo! Astaga apa yang harus ku perbuat." Anya bingung. Ia tidak bisa menolong Flo karna kakinya masih sakit dan di perban.
Bi Mar juga sama paniknya. Dia tidak tahu berbuat apa karna dia tidak bisa berenang.
"Bi panggil Axel bi!" pekik Anya yang semakin bingung melihat Flo yang melambai-lambaikan tangannya ke atas.
Tanpa pikir panjang Bi Mar berlari ke dalam rumah menuju kamar Axel. Ia mengetuk-ngetuk pintu kamar Axel.
Tok..tok..tok..
Tok..tok..tok..
Tok..tok..tok..
Bi Mar terus mengetuk pintuk kamar Axel tanpa henti. Hingga Axel keluar dengan wajah yang sangat kesal.
"Ada apa sih Bi!" kata Axel dengan kesal karna Bi Mar mengganggu tidurnya.
"Itu..itu..non..Flo den. Non Flo." kata Bi Mar gugup dan panik menjadi satu.
"Kenapa dengan dia." katanya datar. Sepertinya Axel masih kesal.
"Non Flo di kolam berenang Den." ucap Bi Mar.
"Ck, kirain apa. Biarkan saja." kata Axel lalu ia ingin masuk ke dalam kamarnya lagi.
"Tapi den..."
"Biarkan saja Bi." balas Axel dengan cepat dan ingin menutup pintu.
"Non Flora tenggelam!" pekik Bi Mar bersamaan dengan teriakan Anya dari luar.
"AXEL!!"
"Apa?" kata Axel dia terkejut.
"Kenapa tidak bilang dari tadi bi?!" ucap Axel dengan panik. Dia berlari dengan cepat menuruni tangga menuju pintu samping yang mengarah ke kolam berenang.
"Bagaimana sih si aden. Dari tadi katanya biarkan saja. " gerutu Bi Mar yang kebingungan.
Axel berlari dengan cepat ke arah kolam renang. Dan mendapati Anya yang sedang panik memanggil nama Flo dan Axel.
Axel melihat Flo yang sudah tenggelam di dasar kolam renang. Wajahnya semakin panik.
"Flora!!!" pekiknya. Lalu Axel melompat ke dalam kolam renang. Dia berenang dengan cepat dan menggapai tangan Flo. Membawanya ke tepi kolam.
Di bantu Bi Mar dan Anya. Flo terbaring di pinggir kolam. Dia sudah pingsan.
"Apa yang terjadi. Kenapa bisa seperti ini?" tanya Axel dengan panik.
"Flo..Flora..bangun Flo.." Axel menggerak-gerakkan pipi Flo. Tapi Flo tetap tidak bergerak.
"Bagaimana ini?" tanya Axel. Sedikit jelas ada ke khawatiran di wajahnya.
"Kasih nafas buatan Xel." ucap Anya. Axel menegang mendengar itu.
"Gua?" tunjuk Axel pada dirinya sendiri.
"Ya iyalah siapa lagi? Lu kan suaminya. Ga mungkin gua atau Bi Mar. Gila kali lu!" ucap Anya yang kesal dengan sikap Axel.
Axel diam menatap Flo yang sudah pucat.
"Aden ayo cepat. Nanti non Flo kenapa-kenapa." desak Bi Mar yang sama paniknya dengan Anya.
Jantung Axel berdetak kencang. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Flo. Semakin dekat dan bibirnya sudah berada di atas bibir Flo. Ia memberikan nafas buatan. Untuk ketiga kalinya Flo terbatuk-batuk dan mengeluarkan Air yang ia telan tadi.
Uhukk
Uhukkk
Uhukk
Axel, Anya dan Bi Mar bernafas lega. Flo baik-baik saja.
Axel mengangkat tubuh Flo menuju Kamar dan membaringkannya di atas kasur. Flo pingsan mungkin dia kelelahan dan syok.
"Ann gantiin baju Flo ya." ucap Axel pada Anya yang berdiri di pintu.
"Lu aja yang ganti. Kan lu suaminya." kata Anya.
"Gila lu. Masa gua yang ganti pakaiannya." ucap Axel yang kaget dengan ucapan Anya.
"Kenapa lu kaget gitu? Jangan-jangan lu..." ucapan Anya menggantung ia memicingkan matanya pada Axel.
Axel gugup. Tidak mungkin dia mengatakan jika ia tidak pernah menyentuh dan bahkan tidur terpisah dengan Flo. Wajah Axel memerah. Ia mencari alasan.
"Jangan-jangan apa?" kata Axel sesantai mungkin."gua juga basah kuyup. Kalau gua yang ganti pakaiannya. Bisa-bisa dia juga basah. Kalau gua duluan ganti baju. Dia bisa masuk angin." ucap Axel panjang lebar.
"Benar juga." gumam Anya." ya udah sana lu ganti baju. Biar gua yang ganti baju Flo." Axel bernafas lega mendengar ucapan Anya.
Saat Axel berada di depan lemari. Anya memintanya mengambil pakaian dalam Flo.
"Xel ambilin pakaian dalamnya Flo dong." pinta Anya. Axel terkejut.
"Gila lu! Ambil aja sendiri!" ketus Axel lalu ia masuk ke dalam kamar mandi dengan cepat.
Anya mendengus.
"Suami-istri aneh!" Ucapnya kesal.
Hanya untuk mengambil pakaian dalam Flo pun Axel tidak mau. Karna ia malu jika menyentuh itu. Pasalnya tidur bersama Flo pun dia tidak pernah. Apalagi menyentuhnya.
Menyentuh pakaian dalam Flo baginya sama saja menyentuh tubuh Flo.
Pria aneh!!
•••••
Tbc
__ADS_1