
"Xel.....kamu ngapain di dalam?ayo keluar,temenin Flora sana!"
Ambar berdiri di depan pintu kamar Axel.
Sesekali Ia mengetuk pintu.
"Axel......"
Ceklekk
Pintu terbuka. Dan tampaklah wajah kusut dari Axel,khas orang baru bangun tidur.
Dia mengucek ucek matanya.
"Hoamm,Ada apa sih Mah?" Suaranya serak.
"Ya Tuhan,Axel...Flora ada dibawah dan kamu malah tidur?! Ayo kamu turun! Temenin dia." Sambil berkacak pinggang di hadapan Axel,Ambar memelototi Axel.
Axel berdecak.
"Ngapain sih tu orang kesini. Nyusahin aja tau ga!" Gumam Axel dalam hati.
"Ahhhkk Axel males Mah. Mamah aja yang temenin. Aku mau lanjutin tidur dulu. Ngantuk."
Saat Axel bersiap membalikkan tubuhnya,tiba tiba dia meringis kesakitan.
"Aa..aa..aduh..duh,Mah...mamah sakit mah."Axel meringis saat tangan Ambar memelintir telinganya.
"Kamu ini ya. Susah sekali di bilangin. Ayo sekarang kamu turun!!." Tanpa melepaskan tangannya dari telinga Axel,Ambar berjalan menuju tangga.
"I..iya..aku turun,aku turun. Tapi lepasin dong mah,sakit tau mah."
Ambar melepaskan tangannya dari telinga Axel.
Axel meringis dan mengusap usap telinganya yang memerah dan terasa panas.
"Mamah kejam banget sih." Axel mengerucutkan bibirnya.
Mendengar itu,Ambar berkacak pinggang dan memelototi Axel.
"Apa kamu bilang?!"
Melihat ekspresi Mamahnya seperti itu,Axel bergidik ngeri.
"Ehh,ehhh...nggak,,ga...mamah cantik...mamah cantik" ucapnya dengan tergugup sambil menyengir.
Dengan cepat Axel menuruni anak tangga, sebelum mamahnya menjewer telinganya kembali.
Ambar hanya berdecak dan menggelengkan kepala melihat tingkah putra kesayangannya itu.
Saat Axel berjalan menuruni anak tangga,langkahnya yang sedikit cepat tadi tiba tiba menjadi lambat,ketika melihat seorang gadis duduk disofa ruang tamu.
Ekspresi wajahnya menjadi datar.
Menyadari kehadiran Axel,Flora menoleh ke arahnya.
"Hai Xel," ucap Flora seraya tersenyum tulus kepada Axel.
Bukannya membalas sapaan atau senyum Flora,dia malah menunjukkan ekspresi jijik,dan berjalan terus ke arah dapur,dan menuju lemari es. Membukanya,mengambil botol minuman menuangkannya kegelas dan meminumnya.
Saat menutup botol minuman kembali,Tanpa disadari olehnya,Flora sudah berada di hadapannya dengan senyum yang mengembang.
"Kamu udah makan?" Flora bertanya dan menyentuh lengan Axel.
"Jangan sentuh gua!" Axel menghempaskan tangan Flora,dan menekan setiap kata yang diucapkannya.
"Gua jijik disentuh cewek kampung kaya lu!"
Flora terkejut mendengar ucapan Axel.
"Ehh,maaf,maaf..." Flora meminta maaf dan tersenyum kaku pada Axel.
"Syukurlah,mamah senang melihat kalian semakin dekat seperti ini."
Ambar datang menghampiri mereka,tapi tidak mengetahui apa yang di ucapkan oleh Axel tadi.
Flora tersenyum,dan Axel hanya memasang wajah datarnya.
"Mmm,tante Flo pamit pulang ya."ucap Flo pada akhirnya.
"Loh,kok buru buru Flo?"
"Mmm,itu tan,Flo ada tugas."
"Oh gitu,ya udah kamu diantar Axel ya." Ambar datang menghampiri Flo yang ada di seberang meja makan.
Mendengar itu,wajah Axel memerah dan menatap mamahnya dengan tatapan bingung.
"Dan berapa kali lagi harus mamah katakan? Jangan panggil tante sayang?" Ambar mengusap lengan Flo.
"Maaf tan,,eh mah...Flo lupa" Flo tersenyum kikuk,dan dibalas senyum oleh Ambar.
"Xel,kamu antar Flo ya."
"Ck,apaan sih mah. Tadi dia kan datang sendiri. Pulang sendiri kan bisa. Axel males. Minta pak Deni aja yang nganter."
"Pak Deni udah pulang Axel. Lagian Flo ini tunangan kamu,dan akan menjadi calon istri kamu. Apa salahnya kamu nganter dia pulang?"
"Ga apa apa mah. Benar yang di katakan Axel,tadi Flo datang sendiri,pulang sendiri juga bisa kok. Lagi pula Axel kelihatannya masih ngantuk." Flo mengusap lengan Ambar memberi penjelasan padanya.
"Bagus kalau lu tau!" Ucap Axel dengan sinis,dan melangkah untuk meninggalkan mereka.
Langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan Mamahnya.
"Axel,mamah ga mau tau kamu harus antar Flo pulang sekarang! Kamu sudah berani membantah ucapan Mamah?"
Axel hanya mendesah,mendengar ucapan mamahnya seperti itu.
"Ya udah. Axel akan antar dia."
Akhirnya dengan terpaksa Axel mau mengantarkan Flo pulang ke apartemennya. Karna dia tidak ingin membantah ucapan mamahnya.
Axel berjalan ke arah rak kecil di bawah tangga dan mengambil kunci mobilnya,lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Buruan!" Ucap Axel ketika merasa Flo tidak bergerak dari tempat dia berdiri tadi.
"Ehh,iya..iya. Ya udah mah,Flo pamit pulang ya."
"Ya udah. Kamu hati hati ya sayang. Dan maafin sikap Axel yang seperti itu."
__ADS_1
Ambar merasa tidak enak pada Flo.
"Ga apa apa mah. Flo ngerti kok. Mungkin Axel belum bisa nerima pertunangan ini."
"Kamu jangan nyerah untuk ngambil hatinya ya sayang." Ambar tersenyum dan mengusap pucuk kepala Flo.
"Flo akan berusaha mah. Ya udah,Flo pulang ya mah."
Flo mencium tangan Ambar,dan pergi berjalan menuju pintu keluar.
Flo masuk ke dalam mobil yang ada di depan pintu.
Di dalam sudah ada Axel yang menunggu dengan wajah kesal menahan amarah.
Ya,akhir akhir ini dia selalu marah,apalagi jika menyangkut Flo.
Setelah duduk dan memakai seatbelt dia memberanikan diri untuk membuka suara.
"Maaf ya xel,lama." Flo tersenyum pada Axel.
"Lu bisa ga sih sekali aja ga nyusahin hidup gua!" Dengan rasa kesal Axel menjalankan mobilnya.
Mobil berjalan keluar meninggalkan rumah.
Dengan penuh keberanian di tengah jalan Flo mengeluarkan suaranya lagi.
"Mmm xel kenapa sih kayanya kamu benci banget sama aku?"
Tidak ada respon Axel.
Flo kembali bertanya.
"Apa benar kamu belom bisa nerima pertunangan ini?"
Cittttttttt
Mobil berhenti dengan tiba-tiba.
Wajah Axel memerah.
"Lu berisik tau ga! Dan lu dengar ya! Gua emang benci sama lu! Karna lu udah ngancurin kehidupan gua." Dengan penuh emosi dia mengucapkan perkataannya dan menunjuk wajah Flo dengan jari telunjuknya.
Semua pasti tahu kan perasaan orang yang di paksa bangun tidur dan langsung bertemu dengan orang yang paling dia benci. Itulah yang di rasakan Axel saat ini.
"Pertunangan ini,sampai kapanpun gua ga akan pernah bisa nerima ini. Karna gua ngelakuin ini TERPAKSA demi mamah." Axel menekankan kata terpaksa.
"Jangan berharap lebih. Karna gua ga pernah sudi nerima lu jadi istri gua! Cewek kampung kaya lu ga pantas ada di dalam kehidupan gua!." Axel sudah tidak bisa mengontrol emosinya.
Sebenarnya Axel tidak pernah berkata kasar seperti ini pada wanita. Tapi dia paling tidak suka dengan siapapun yang mengusik ketenangannya. Dan Flo sudah di cap sebagai pengusik hidupnya.
"Sekarang lu turun dari mobil gua,gua jijik lihat muka lu! TURUN!!" Axel berteriak dan membuat Flo kaget dan terlonjak dari duduknya.
Melihat tidak ada respon yang diberikan Flo,Axel melepaskan seatbeltnya membuka pintu dan turun dari mobil,berjalan mengitari mobil,dan membuka pintu tempat duduk Flo.
"Lu turun. Buruan!!"
Flo melepaskan seatbeltnya,dengan penuh kebingungan melihat apa yang dilakukan Axel padanya.
Dengan cepat Axel menarik tangan Flo keluar,dan menghempaskan tangannya.
"Cewek sialan!!!" Ucapnya tepat di wajah Flo,lalu pergi meninggalkan Flo,memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya dengan cepat.
Tin..tin..tin
Suara klakson mobil yang tepat berhenti dihadapannya,membuyarkan lamunan Flo.
Kaca pintu mobil terbuka,dan terlihat seorang pria memakai kacamata.
"Hei cewek stres,ngapain berdiri disitu?"
Merasa dia yang dipanggil,Flo menoleh pada orang yang berada di dalam mobil.
Pria yang ia temui dilift tempo hari.
Flo hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.
Melihat reaksi Flo,pria itu mengerutkan keningnya.
"Kenapa nih cewek,tumben ga marah marah. Malah senyum. Punya kepribadian ganda kali ya." Batinnya.
Dia bingung melihat tingkah Flo yang seperti ini.
"Kamu mau pulangkan? Ya udah bareng saya aja." Pria itu tersenyum menawarkan bantuan pada Flo.
"Ga usah. Makasih." Hanya itu yang di ucapkan oleh Flo dengan wajah yang sedih dan senyum yang dipaksakan.
Flo berjalan ke depan,meninggalkan mobil pria itu, menghentikan taksi dan memasukinya.
Pria itu memperhatikan semua gerak gerik Flo,dari dalam mobilnya.
"Dia kenapa? Aneh!" Ucap pria itu berbicara entah pada siapa.
°°°°°°
Flora p.o.v
Mengingat semua apa yang di ucapkan oleh Axel tadi,rasanya hatiku terasa sakit.
Aku termenung di dalam taksi.
"Mba,mau kemana?"
Suara supir taksi itu membuyarkan lamunanku.
"Ehh,maaf. Kenapa pak?" Tanyaku,karna tidak begitu jelas kudengar apa yang di katakan oleh pak supir tadi.
"Mba mau kemana?" Dengan lembut pak supir mengulangi ucapannya.
"Saya mau ke apartemen Tree Lakeside pak."
Pak supir taksi hanya tersenyum dan mengangguk mendengar ucapanku.
Sepuluh menit kemudian aku sampai di depan apartemen.
Setelah membayar aku keluar dari dalam taksi,tak lupa aku mengucapkan terimakasih pada supir taksi.
Aku berjalan lesu memasuki gedung apartemen,saat ingin memasuki lift langkahku terhenti.
Aku melirik ke arah sebuah pintu diujung lift,tanpa sadar aku memasukinya.
__ADS_1
Itu ruangan loker penitipan surat.
Aku melihat loker B-25-01 itu loker apartemen yang aku tempati.
Tanpa sadar juga aku membukanya.
Entahlah rasanya seperti ada tuntunan dari hatiku,untuk membukanya.
Saat membuka pintu loker,aku hanya melihat beberapa amplop putih yang kuyakini itu adalah tagihan air atau listrik,karna tertulis jelas di bagian depan amplop.
Aku mengambil amplop surat itu,saat mengambilnya mataku tertuju pada sebuah amplop berwarna hitam yang ada dibagian paling bawah.
Aku mengernyit.
Aneh. Iya aku merasa aneh,amplop berwarna hitam polos.
Tanpa ada nama pengirim,atau alamat yang dituju.
"Isinya apaan ya?" Tanyaku dalam hati.
Aku segera mengambilnya,menutup pintu loker,dan meninggalkan ruangan itu.
Aku berjalan memasuki lift yang sudah terbuka.
Tidak berapa lama aku sudah sampai di depan apartemen yang aku tempati.
Aku keluar lift,menekan password dan membuka pintu.
Aku meletakkan amplop amplop itu di atas meja ruang tamu dan berjalan menuju dapur,membuka lemari es,karna aku merasa sangat haus.
Aku membawa segelas air putih menuju ruang tamu.
Karna merasa sangat penasaran aku duduk disofa,dan segera meraih amplop hitam itu.
Membukanya.
Ada kertas putih yang terlipat rapi di dalamnya.
Tanpa ragu ragu aku membuka lipatan kertas itu.
Ini sebuah surat,dengan tulisan tangan yang rapi.
Aku termangu melihat tulisan itu.
Jujur tulisanku saja tidak serapi ini.
Aku membaca isi surat itu.
Bagaimana apa kau sudah menyerah?
Masih ada banyak kejutan lain yang aku siapkan untukmu,sebelum kau menerima permintaanku.
Perlahan orang orang yang kau sayangi akan pergi meninggalkanmu selamanya.
Bagaimana dengan kejutan tujuh tahun lalu?
Saat itu aku sangat bahagia melihat penderitaanmu.
Apa air matamu sudah kering?
Tapi aku belum puas!!!
Sampai kau menangis darahpun aku akan tetap menyiksa hidupmu hingga kau bertekuk lutut dan mencium kakiku memohon ampun.
Sebentar lagi aku akan kembali melanjutkan penderitaanmu.
Akan kuhantar putra kesayanganmu itu menyusul saudara kembarnya itu dan bersama suamimu yang brengsek itu menuju neraka.
Tunggulah. Akan kerenggut kebahagiaanmu yang terakhirAmbar.
AKU AKAN KEMBALI.
B.
Mataku membelalak membaca isi surat itu.
Apa ini?
Apa maksudnya ini?
Siapa B ini?
Kejadian tujuh tahun lalu?
Itu kan kejadian.....
Ahh aku tidak ingin mengingat semua itu.
Siapa yang mengirim surat ini?.
Semua pertanyaan itu terngiang-ngiang dikepalaku.
Jantungku berdetak kencang tak karuan.
Mengingat isi surat ini,rasanya aku ingin marah.
Surat ini aku temukan di dalam loker pemilik apartemen lantai 25 nomor 01 berarti tante Ambar.
Dan dengan jelas nama tante Ambar yang di sebutkan dalam surat ini.
Apa surat ini untuk tante Ambar?
Berarti.....
Tidak tidak,aku harus menyelidiki ini. Bisa saja ini salah masuk loker.
Banyak orang yang memiliki nama Ambar bukan?
Iya pasti salah masuk loker.
Aku harus cari tau siapa pengirimnya ini.
Dan akan kupastikan ini pasti salah kirim.
••••••••••••••••
Garing bat ya ceritanya,maaf baru belajar. Kritik dan sarannya silahkan.😊😊 kalau mau vote silahkan,😀😀
__ADS_1