Penantian Terakhir

Penantian Terakhir
Flashback


__ADS_3

"Maaf bos kami sudah melakukannya tapi kami gagal bos."


"Dasar bodoh! Saya membayar kalian mahal-mahal hanya untuk melaksanakan tugas kecil seperti itu saja kalian tidak bisa?!!!"


"Maaf bos. Sudah tiga kali kami mencobanya. Tapi selalu saja di gagalkan oleh seorang wanita musterius."


"Seorang wanita?! Badanmu saja yang besar! Menghadapi seorang wanita saja kau tidak bisa!"


"Tapi bos wanita itu sangat hebat. Bahkan dia bisa mengalahkan kami berlima."


"Akhh sudahlah! Sepertinya harus aku yang turun tangan sendiri."


"Jadi apa yang akan kami lakukan bos?"


"Kalian tunggu perintah saya. Jangan lakukan apapun. Saya ingin dia menikmati hidup putranya dulu sebelum saya renggut nyawanya. Tunggu kedatangan saya beberapa bulan lagi."


"Tapi bukannya bos katakan akan pulang ke indonesia dua bulan lagi?"


"Jangan banyak tanya bodoh! Terserah saya! Pastikan tawanan saya tidak bisa keluar dari tempat itu. Paham!".


"Iya. Saya paham Bos."


Panggilan terputus. Pria berambut panjang itu menghampiri teman-temannya.


"Apa kedua tawanan kita sudah makan?" Tanya pria berambut panjang itu.


"Sudah." Jawab si botak.


"Apa yang dikatakan si bos?" Tanya pria botak satu lagi.


"Kita tidak perlu melakukan apa-apa. Kita hanya menunggu kedatangan bos dari London." Jawabnya.


"Baguslah. Aku tidak mau lagi berurusan dengan wanita misterius itu. Lihat tanganku patah." Ucap pria yang lain.


Si rambut panjang ikut bergabung dengan mereka. Mereka berlima sibuk bermain kartu. Sementara seorang pria berumur empat puluhan lebih yang pakaiannya sudah lusuh di ikat dikursi. Tubuhnya kurus tak bertenaga. Dia hanya bisa menunduk pasrah.


______


At campus


Flora berjalan tertatih dengan di bantu oleh Kevin. Wajahnya pucat. Tubuhnya lemas tak bertenaga.


Tadi Flo minta tolong pada Kevin untuk mengantarnya, Kevin tidak keberatan.


Tadinya Kevin melarang Flo untuk ke kampus karna melihat kondisi Flo tidak begitu baik. Namun Flo memaksanya.


Kevin tidak tahu jika Flo sedang terluka.


"Kelas kamu dimana?" Tanya Kevin yang merangkul sebelah lengan Flo. Flo menunjukkan arahnya tanpa mengeluarkan suara.


"Kamu yakin mau ngampus? Lihat keadaan kamu gak baik Flo." Ujar Kevin ia merasa khawatir dengan keadaan Flo. Flo hanya menganggukkan kepalanya. Rasanya ia tak sanggup mengeluarkan suaranya.


"Flo lu kenapa?" Tanya Dave yang datang dari arah belakang Flo dan Kevin. Flo hanya menggelengkan kepalanya lemah.


"Aku tidak tahu Flo kenapa. Tadi dia hanya minta tolong untuk mengantarnya ke kampus." Ujar Kevin.


Nela datang dengan tergesa-gesa.


"Flo lu kenapa?" Tanya Nela khawatir lalu menyentuh lengan Flo yang terluka. Sontak Flo memekik dan meringis.


"Flo kenapa sih?!" Tanya Nela semakin khawatir.


Tiba-tiba darah menetes dari lengan Flo, menetes dengan perlahan hingga ke ujung jari Flo dan tetes demi tetes darah jatuh ke lantai.


Dave yang menyadari itu. Melotot tak percaya. Dari mana darah itu menetes.


"Darah." Ucap Dave dengan terus memperhatikan tetesan darah itu. Matanya mengikuti darimana arah darah itu menetes.


Flo semakin tak berdaya. Wajahnya semakin pucat.


Nela dan Kevin mendengar ucapan Dave ikut melihat ke lantai.


Dengan cepat Nela membuka jaket hitam milik Flo. Dan terlihatlah luka Flo akibat goresan pisau dari preman tadi malam. Nela memekik tak percaya.


"Flo ini kenapa?!" Pekik Nela. Kevin dan Dave tak kalah terkejut melihat luka yang ada di lengan Flo.


Albert yang baru lewat dari sana melihat Flo yang lemas tak berdaya. Ia juga melihat darah dan luka Flo. Albert berjalan setengah berlari menuju kantin untuk menghampiri Axel.


Di depan kelas tempat berdiri Flo dan yang lainnya. Hanya ada mereka berempat.


"Flo jawab lu kenapa?" Tanya Dave ia terlihat khawatir.


Tiba-tiba tubuh Flo merosot ke bawah. Beruntung Kevin memiliki reflek yang bagus. Dengan cepat ia menangkap tubuh Flo sebelum sampai ke lantai.


"Flo!!" Pekik mereka bertiga bersamaan.


"Kita harus bawa Flo ke rumah sakit." Ujar Kevin dan di angguki oleh Nela dan Dave. Kevin menggendong tubuh Flo membawanya menuju parkiran.


Di kantin Albert tiba dengan nafas tersengal-sengal.


Dia menggebrak meja tepat di hadapan Alex dan Axel yang sedang bercerita.


Brakkkk


"Lu apa-apaan sih!!" Ketus Alex yang kaget bersama Axel.


Masih dengan ngos-ngosan Albert mencoba berbicara.


"Xel..hah..itu..hah..itu" jari telunjuk Albert menunjuk ke arah belakangnya pintu keluar kantin.


"Apa sih itu-itu mulu!" Kesal Axel yang tidak mengerti dengan ucapan Albert.


"Tenang dulu Al. Santai. Tarik nafas-keluarkan.." Albert mengikuti arahan Alex. Semenit kemudia dia bisa tenang.


"Iya setelah gua tenang. Flo udah lewat." Ucap Albert yang sudah merasa tenang.


"Maksud lu apa?" Tanya Alex kebingungan.


"Flo terluka parah. Di depan kelasnya." Ucap Albert.


"Apa?!!" Pekik Axel. Dia berdiri dari duduknya lalu dengan cepat berlari menuju kelas Flo disusul Alex.


"Astaga bisa istirahat bentar gak. Gua capek lari-lari." Gerutu Albert. Tapi dia juga ikut menyusul kedua sahabatnya.


Sampai di depan kelas Flo. Axel tidak mendapati siapapun di sana. Hanya ada tetesan darah.


Tubuhnya kaku. Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Flo. Apa wanita itu melukai Flo lagi. Apa wanita itu menemukan Flo?


Axel tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Darah." Gumam Alex yang berada tepat di belakang Flo.


"Xel!" Panggil Dave dari arah belakang mereka. Axel menoleh. Dave menghampiri mereka bertiga.


"Lu darimana aja?" Tanya Dave.


"Flora dimana? Apa yang terjadi sama dia?" Tanya Axel tiba-tiba.


"Gua gak tau apa yang terjadi sama dia. Lengannya terluka dan mengeluarkan banyak darah. Dia udah di bawa Kevin ke rumah sakit." Kata Dave. Menjelaskan.


Axel mengusap kasar wajahnya.


Seharusnya ia tidak lalai.


Seharusnya ia menjaga Flo tadi malam bukan malah pergi jalan-jalan bersama Anya.


Axel menyalahkan dirinya sendiri. Ia sudah mengingkari janjinya pada Zack. Tidak bisa menjaga Flo.


Skip


At hospital


Kevin membaringkan tubuh Flo di atas brankar. Lalu suster mendorong brankar itu menuju kamar pasien.


Suster itu masuk dan menutup pintu. Nela dan Kevin menunggu di luar.


Seorang pria berpakaian khas dokter datang menghampiri Kevin.


"Kev..lu ngapain di sini?" Tanya Dokter itu.


Belum sempat mendengar jawaban Kevin seorang suster membuka pintu dan memanggil dokter itu.


"Dokter Yoga mari masuk." Ucap Suster itu. Lalu Yoga masuk ke dalam ruang pasien.


Tiga puluh menit kemudian


Dokter Yoga keluar dari ruang pasien.


"Yo gimana Flo?" Tanya Kevin yang menghampiri Yoga.


"Dia baik-baik saja. Lukanya tidak terlalu dalam tapi itu membuat dia banyak mengeluarkan darah. Sepertinya luka itu dia biarkan begitu saja sejak tadi malam." Kata Yoga menjelaskan.


"Boleh saya masuk melihatnya dok?" Tanya Nela.


"Ya silahkan. Tapi dia belum sadarkan diri." Ujar Dokter itu.


Nela masuk meninggalkan Kevin dan Yoga.


"Dia siapa?" Tanya Yoga pada Kevin.


"Bukan siapa-siapa." Jawab Kevin dengan singkat.


"Bukan siapa-siapa tapi kok lu ada di sini?" Yoga memicingkan matanya pada Kevin dengan senyum menggoda.


"Kepo lu ahk!" Jawab Kevin." Syukurlah  Kalau dia baik-baik aja. Gua harus pergi nih. Ada meeting. Nanti kalau ada apa-apa hubungi gua ya." Ujar Kevin yang melirik jam tangannya sebentar lalu menatap Yoga. Yoga menganggukkan kepalanya.


"Gua pergi." Pamit Kevin pada Yoga,lalu ia menepuk pundak Yoga, setelah itu dia pergi.


Flo sudah siuman. Dia mendapati Nela di sampingnya.


"Flo. Lu udah bangun?" Tanya Nela yang berdiri dari duduknya.


"Ne, kamu ngapain di sini. Seharusnyakan kamu  di kampus." Ujar Flo setelah sadar ia berada di rumah sakit. Saat ia mencium bau obat-obatan.


"Sahabat gua lagi sakit. Gak mungkinkan gua tinggalin sendiri." Ucap Nela yang duduk kembali di kursi.


"Aku gak papa Ne. Mending kamu balik ke kampus deh. Nanti kalau ada apa-apa aku akan hubungin kamu." Ucap Flo.

__ADS_1


"Ya udah deh." Kata Nela pada akhirnya." Nanti gua datang ke sini lagi. Kalau enggak, gua minta Axel yang datang." Ujar Nela.


"Terserah deh." Kata Flo.


Lalu Nela pamit untuk kembali ke kampus karna Flo yang memaksanya. Tinggallah Flo sendiri di kamar pasien.


Setelah Nela pergi Flo hanya memainkan game di handphonenya. Lalu dokter masuk ke dalam kamar yang di tempati oleh Flo.


"Selamat siang bagaimana keadaanmu?" Tanya dokter Yoga pada Flo. Flo hanya menjawab seadanya tapi belum melepaskan pandangannya dari handphone miliknya.


"Baik dok. Kapan saya bisa pulang?" Tanya Flo yang masih setia dengan handphonenya.


"Sebenarnya hari ini kamu sudah bisa pulang." Ucap Dokter Yoga lalu dia mengambil sesuatu dari atas nakas di samping brankar.


"Benarkah Dok?" Tanya Flo antusias. Lalu ia menatap Dokter yang sibuk dengan kertas-kertas yang ada di hadapannya.


"Iya." Jawab dokter itu lalu menatap Flo kembali." Loh. Kamu?" Tunjuk dokter Yoga pada Flo.


"Loh Dokter bawel?" Tanya Flo. Ia juga terkejut melihat dokter itu yang menanganinya.


"Kenapa bisa kamu ada di sini?" Tanya dokter Yoga lagi. Flo hanya tertawa cengengesan.


"Saya balik lagi ke sini Dok." Jawab Flo.


"Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan kamu lagi." Ucap Dokter Yoga dengan senyum mengembang.


"Dok." Panggil Flo.


"Iya?" Jawab Dokter Yoga yang masih setia dengan kertas-kertasnya.


"Tujuh tahun lalu. Waktu kejadian itu. Apa dia mencari saya?" Tanya Flo yang pandangannya mengarah pada langit-langit kamar.


Dokter Yoga membalikkan tubuhnya untuk menatap Flo.


"Tidak. Bahkan dia tidak ingat siapa yang mengantarnya ke rumah sakit. Tapi dia mencari tahu siapa yang sudah menolong nyawanya. Tapi tidak ketemu." Kata Dokter Yoga panjang lebar.


"Ohh baguslah. Dokter tidak memberitahu diakan?" Tanya Flo lagi.


"Tidak Flora. Sayakan sudah berjanji." Ucap Dokter Yoga.


"Loh dokter ingat nama saya?" Flo menatap Dokter Yoga. Bagaimana mungkin dokter ini masih mengingat namanya. Sementara mereka bertemu sudah tujuh tahun lalu.


"Tentu saya ingat dan hapal wajah kamu. Kamu pendonor yang paling cerewet dan pemaksa yang pernah saya temui." Flo tertawa terbahak-bahak diikuti tawa kecil dari Dokter Yoga.


Tawa mereka terhenti karena seseorang masuk ke dalam ruangan Flo.


"Maaf mengganggu." Ucap Axel yang berdiri di depan pintu.


"Loh Axel. Mari masuk." Ajak Dokter Yoga saat menyadari Axel yang berdiri di sana. Mereka terlihat begitu dekat karena Dokter Yoga merupakan Dokter keluarga Kusuma. " Kalian saling kenal?" Tanya Dokter Yoga, dia terlihat terkejut mengapa bisa mereka saling kenal.


"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Axel. Ia berdiri di hadapan Dokter Yoga.


"Dia baik-baik saja dan sudah bisa pulang." Ujar Dokter Yoga. Axel menganggukkan kepalanya


"Ya sudah. Saya permisi ya." Pamit Dokter Yoga lalu berjalan  menuju pintu keluar.


"Mau pulang sekarang?" Tanya Axel. Flo menganggukkan kepalanya. Dia bahagia sekali ada Axel di sini.


Axel membantu Flo turun dari brankar. Menuntunnya berjalan hingga ke mobil.


Sampai di mobilpun tak ada yang yang membuka suara. Hingga Axel bertanya.


"Itu kenapa bisa terluka begitu?" Tanya Axel. Ia masih tetap Fokus ke depan. Flo bingung ingin menjawab apa. Maka ia mencari alasan.


"Aku kepleset di kamar mandi. Terus ada benda runcing gitu di bawah sana itu yang menyayat lenganku." Ucap Flo sebiasa mungkin. Ia tidak mau Axel curiga padanya.


"Dari dulu papah juga ingin membuang benda itu. Tapi gak pernah jadi." Ujar Axel. Flo menautkan alisnya.


"Ehh ternyata kebohongan aku ada benarnya. Tadikan itu cuma tebak-tebakan aja." Flo tertawa dalam hati.


Sampai di apartemen Flo duduk di sofa. Sementara Axel berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman.


Tak ada yang bisa menggambarkan perasaan Flo saat ini. Ia benar-benar bahagia. Apa Axel sudah bisa menerimanya?. Senyum indah tak pernah lepas dari bibirnya.


"Minum dulu." Ucap Axel yang meletakkan segelas air putih di hadapan Flo. Lalu ia duduk di samping Flo.


"Makasih." Kata Flo lalu ia meminumnya.


"Flo ada hal yang ingin aku katakan." Ujar Axel. Flo melotot tak percaya dengan apa yang dia dengar. Axel mengatakan-Aku?


"Katakan." Ucap Flo. Ia tidak ingin terlihat kaku di hadapan Axel.


Axel memperbaiki posisi duduknya. Yang tadi sedikit agak membungkuk menjadi bersandar pada sofa.


"Sebentar lagi kita akan menikah. Kamu tahu aku tidak bisa menerima pernikahan ini dan juga kamu."


Mendengar ucapan Axel. Seketika hati Flo menangis. Tapi raut sedihnya tidak ia tunjukkan ia menegakkan kepalanya. Seolah ia benar-benar kuat untuk ini semua. Ia terus mendengar tiap kata yang diucapkan Axel.


"Jadi aku minta. Jika kita sudah menikah nanti. Jangan pernah berharap lebih dariku. Jangan pernah gunakan perasaanmu."


"Bagaimana bisa aku tidak berharap lebih darimu. Bagaimana bisa aku tidak menggunakan perasaanku? Sementara aku sudah mencintaimu." Batin Flo.


"Aku tidak bisa menganggapmu sebagai tunangan, calon istri, ataupun istri nantinya. Karna aku hanya menganggapmu sebagai teman saja."


Flora p.o.v


Perkataan yang di ucapkan Axel memang lembut. Namun dia tidak tahu. Hatiku terluka mendengar ucapannya.


Ucapanmu begitu lembut. Tapi itu adalah sebuah mata tombak yang tajam yang menembus jantungku.


Apa kamu tidak tahu aku terluka oleh ucapanmu Axel?


Sekali tarikan nafas aku menenangkan diriku. Dan bersiap menerima tusukan-tusukan tombak lagi.


"Kamu tahu aku menerima perjodohan ini hanya untuk menyenangkan hati mamah. Tidak lebih. Jadi aku harap kamu mengerti." Axel menatapku dengan lembut. Tapi bagiku tatapannya itu adalah sebuah pisau yang menancap tepat di uluh hatiku.


Ku pejamkan mataku. Memberi ketenangan pada diriku sendiri.


"Apa kamu bisa memahaminya Flo?" Tanyanya.


"Ohh tentu saja. Kenapa tidak. A..aku juga sama sepertimu. Ya.. Kita tidak perlu menggunakan perasaan dalam hubungan kita." Ucapku dengan sedikit keceriaan disana. Tapi di dalam sini sudah hancur dan remuk.


"Hahh aku lega mendengarnya. Dan kamu tenang saja setelah menikah nanti kamu bebas melakukan apa saja yang kau inginkan aku tidak akan melarang." Ucapnya dengan senyum.


Semua kelembutan dan senyuman yang ia berikan tidak berarti apa-apa lagi bagiku.


Yang aku rasakan saat ini hanyalah rasa sakit. Rasanya hatiku mati dan tak bergerak.


Heii hatiku are you ok?


"Ya ya. Aku mengerti. O iya Xel. Aku ingin istirahat." Aku mencari alasan. Agar Dia bisa pergi dari sini.


"Oh baiklah. Apa kamu yakin sendirian disini? Atau kamu ikut saja denganku. Di rumah ada Anya dan besok mamah juga akan pulang." Ia menawari untuk aku ikut dengannya.


Maaf Xel aku tidak bisa. Aku ingin membalut hatiku yang terluka dulu. Memberinya kekuatan dan menopangnya dengan kayu jati. Agar nanti aku bisa kuat saat kau menyakitiku lagi.


"Oh. Gak usah Xel. Nanti aku bisa datang sendiri ke rumah." Ucapku pada akhirnya.


"Baiklah. Aku pulang dulu. Istirahat yang banyak. Jangan begadang." Katanya penuh perhatian.


Tapi bagiku itu adalah racun sianida yang ia campur pada minuman coklatku. Karna aku tidak suka minum kopi.


Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Kemudian Axel pamit untuk pulang. Aku menutup pintu secepat kilat.


Aku ingin menangis. Menumpahkan semua rasa sakitku.


Aku berjalan menuju balkon.


Keindahan city lights Jakarta tidak berarti lagi bagiku. Semua keindahan itu seakan-akan adalah pisau yang semakin meperdalam lukaku.


Aku berdiri tepat di dekat besi pembatas. Kupejamkan mataku, kepalaku mendongak ke atas, dan ku peluk tubuhku sendiri.


Tanpa ku sadari air mataku jatuh begitu saja.


Katakan aku cengeng. Tapi sungguh ini sangat menyakitkan. Berapa kali lagi mereka menolakku dalam hidupnya.


Tuhan aku ingin melambaikan bendera putih. Tanda menyerah dan berdamai dengan takdirku yang menyakitkan.


Apakah aku harus tersakiti demi sebuah janji?


Kejadian tujuh tahun lalu seolah di putar kembali dalam memoriku.


Flashback 


7 years ago


"Arsya, Axel. Ayo cepat. Nanti mataharinya keburu naik. Papah tidak kuat dengan panas matahari." Ucap Robert suami Ambar.


Mereka ingin pergi lari pagi di akhir pekan seperti ini.


"Iya pah. Arsya nih. Kelamaan dandan." Gerutu Axel yang menghampiri Robert di halaman rumah.


"Heii..heii jangan menyalahkanku. Kau yang lama sekali di kamar mandi." Protes Arsya.


"Sudah-sudah jangan berdebat terus. Papah kalian sudah bosan menunggu." Ucap Ambar yang menengahi perdebatan kedua putranya.


"Kapan kalian tidak berdebat sebentar saja?" Tanya Robert lalu ia mencium kening istrinya. "Kami berangkat." Ucap Robert kemudian dia masuk ke dalam mobil.


"Mah kita pergi ya." Ucap Arsya dan Axel bersamaan. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.


Mobil melaju meninggalkan Ambar sendiri.


Di tengah perjalan mereka hampir sampai di tempat yang mereka tuju.


Jalanan sepi yang di tumbuhi oleh pohon-pohon besar dan rindang. Cocok untuk lari pagi.


Di dalam mobil Robert dan kedua putranya bercanda- bersama.


"Sepertinya. Papah yang menjadi gantinya pak Deni ya?" Ujar Robert yang setia menyetir.


Mereka tertawa bersama.


"Sya apa kamu sudah punya kekasih?" Tanya Robert pada Arsya yang duduk di kursi penumpang bersama Axel.


"Sudah pah. Aku sudah pernah membawanya ke rumah dan mamah sudah bertemu dengannya. Namanya Nelaretha." Ucap Arsya antusias.


"Wahh papah ketinggalan berita dong." Ucap Robert.

__ADS_1


"Lain kali Arsya akan kenalkan pada Papah." Ujar Arsya.


"Baiklah papah akan tunggu. Dan Axel siapa pacar kamu?" Tanya Robert pada Axel.


"Dia tidak punya pacar pah. Jodohkan saja dia dengan putri sahabat papah yang kita temui dulu." Ujar Arsya.


"Heii aku punya pacar oke! Dan aku tidak mau di jodohkan!" Protes Axel. Dia kesal pada Arsya.


"Ehh Xel. Kamu terima saja perjodohan itu. Gadis itu cantik tau. Kamu tidak akan menyesal nantinya. Percaya padaku." Ujar Arsya. Dia berusaha menjahili adik kembarnya itu.


"Aku tidak mau oke!!" Tegas Axel.


"Sudah-sudah jangan berdebat terus." Robert menyudahi perdebatan mereka.


"Ya sudah aku minta maaf." Ujar Arsya. Dia yang selalu mengalah pada Axel. Axel hanya berdehem.


"Xel sekali-kali panggil aku abang kenapa?" Ujar Arsya.


"No! Kita hanya beda 7 menit saja." Protes Axel.


"Ya tetap saja aku yang lahir duluan." Ucap Arsya.


"Sekali enggak. Tetap enggak!" Tegas Axel.


"Terserah kamu sajalah." Ucap Arsya pada akhirnya. Ia menatap keluar jendela mobil.


"Ehh..ehhh ini kenapa?" Tanya Robert panik. Mobilnya tidak bisa berhenti. Dan berjalan tanpa arah.


"Pah..ada apa?" Tanya Arsya dan Axel bersamaan. Mereka ikut panik.


"Papah gak tau. Ya Tuhan remnya blong!!!" Pekik Robert yang menginjak rem beberapa kali namun tidak bekerja.


Mobil melaju semakin cepat tanpa arah. 


"Lindungi diri kalian!!!" Teriak Robert.


Axel bingung harus melakukan apa.


Hingga tiba-tiba Arsya memeluknya, melindungi Axel di bawah tubuhnya.


Robert berteriak ketika mobil menabrak pohon di depan.


Seketika bentuk mobil hancur tak berbentuk.


Flo yang sedang menikmati udara pagi mendengar suara teriakan.Dia yang tengah berlibur mumutuskan untuk berjalan-jalan sendiri, tadinya Zack meminta untuk ikut tetapi dia menolaknya. jika Zack ikut mereka bukannya lari pagi, yang ada Zack mengajaknya mencari makan. Flo mencari sumber suara itu. Dan terlihatlah di perempatan jalan ke arah Selatan sebuah mobil menabrak pohon.


Flo berlari menghampiri mobil itu.


Ia terkejut melihat siapa yang ada di dalam mobil.


"Om Robert!!!!" Pekiknya.


Robert yang berlumuran darah menoleh dengan susah payah untuk melihat orang yang ada di luar mobil.


"Flo...ra.." Ucap Robert terputus-putus.


"Om..om ini ada apa?!" Flora menangis melihat keadaan Robert yang memprihatinkan.


"Pa..pah.." Lirih Arsya memanggil Robert dari belakang.


Flo berjalan ke arah kursi penumpang. Dan terlihatlah Arsya yang memeluk Axel. Mereka benar-benar terluka parah. Darah ada dimana-mana. Sejak saat itulah Flo takut melihat darah.


"Flo..." Panggil Robert dengan lirih. Flo menghampiri Robert.


"Om..tenang. A..aku cari bantuan dulu." Ujar Flo. Ia benar-benar panik dan khawatir. Mengingat jalanan yang sepi membuat ia sulit mencari bantuan.


"Ti..tidak perlu Flo.. Om..hanya ingin..minta to..long." Dengan susah payah Robert mengucapkannya.


"To..long lindungi putra Om... jaga dia." Ucap Robert dengan dahi yang bertumpu pada stir mobil.


"Ber..janjilah Flo.." Ucap Robert. Flo yang tidak bisa berfikir jernih langsung  mengiyakan permintaan Robert dengan air mata yang terus mengalir.


"Tri..maka..sih. Ba..wa pergi me..mereka dari sinihh." Pinta Robert.


"Tidak om aku akan bawa kalian bertiga pergi dari sini." Ucap Flo.


"Tidak Flo. Ba..wa mereka cepat. Se..belum terlambathh." Ucapnya lagi. Robert Tahu siapa yang melakukan ini, dia tahu siapa dalang dari ini. Firasatnya benar-benar kuat tapi dia mengabaikannya.


Flo berlari menuju pintu penumpang. Membukanya.


Arsya mengangkat tubuhnya sendiri yang memeluk Axel. Memberikan Flo celah untuk membantu Axel.


"Xel..per..gi lah. Ka..mu harus se..selamat. Ja..ga ma..mah dan Nela yah." Dengan tersengal-sengal Arsya mengucapkannya.


Axel yang setengah sadar hanya menjawab sebisanya.


"Gak Sya. Ki ta  semua harus se..selamat. Ki..ta harus me..jaga mamah ber..sama sa..ma." Ucap Axel terputus-putus.


Tanpa pikir panjang lagi. Flo membantu Axel keluar. Di baringkannya Axel di atas rumput lalu dia membantu  Arsya keluar.


Tiba-tiba Ada sebuah suara dari arah belakang.


"Pintu mobilnya terbuka. Jangan-jangan mereka kabur!!" Pekik seseorang.


Mendengar itu Arsya melepaskan dirinya dari Flo. Hingga ia sendiri tersungkur di aspal.


"Flo..ra pergihh...ja..ngan pedulikan aku selamatkan A..xel..ce..pathh.." Perintah Arsya. Flo yang semakin ketakutan mendengar suara itu tidak tahu harus berbuat apa. Ia segera membantu Axel yang sudah pingsan berdiri.


"Ber..janjilah untuk..me..lindunginya." Ucap Arsya.


Flo memapah Tubuh Axel dengan susah payah. Suara derap kaki orang itu semakin dekat. Jika terus berlari mereka akan ketahuan.


Flo melihat ada sebuah lobang yang bisa menyembunyikan tubuh mereka berdua. Iya membawa Axel masuk ke dalam sana lalu ia menyusul. Dari sana ia dapat dengan jelas melihat Arsya yang tergeletak namun masih sadarkan diri.


Orang tadi datang menghampiri Arsya lalu berdiri di belakangnya. Flo tidak dapat dengan jelas melihat wajah orang itu karna ia bersembunyi dan di tutupi oleh daun. Hanya kaki orang itu saja yang kelihatan.


"Mau coba kabur Hah!!" Bentak orang itu pada Arsya. Lalu orang itu menginjak punggung Arsya dengan sangat kuat hingga Arsya mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.


Posisi Arsya yang tengkurap dapat melihat Flo bersembunyi. Saat Flo ingin berteriak. Dengan menahan rasa sakit Arsya menggelengkan kepalanya seolah berkata " jangan berteriak."


Flo hanya mampu menggigit telapak tangannya agar tidak mengeluarkan suara. Namun air matanya terus mengalir.


Sekali lagi orang itu menginjak punggung Arsya dengan sangat kuat. Hingga untuk yang terakhir kalinya Arsya mengeluarkan darah dan menutup matanya.


Arsya meninggal tepat di depan mata Flo. Flo memejamkan matanya. Ia tidak ingin melihat Arsya yang sudah tidak berdaya lagi namun di siksa seperti itu.


"Mana satu lagi!! Apa dia kabur??!!!" Tanya suara orang yang lain.


"Kami tidak tahu bos. Kami hanya menemukan mereka berdua di sini." Ujar seorang yang lain.


"Arggh sialan. Aku tidak akan membiarkan dia hidup lebih lama lagi!"  Kata pria itu dengan sangat menyeramkan.


Flo tidak melihat wajah mereka. Namun ia menghapal jelas suara itu.


Setelah orang-orang itu pergi. Flo keluar dari persembunyiannya. Ia membawa Axel dengan susah payah. Lalu ia menghubungi ambulance.


Tidak berapa lama ambulance datang bersama dengan polisi. Flo tidak tahu apa yang terjadi setelahnya di tempat kejadian. Ia pergi bersama Axel menuju rumah sakit.


Sampai di rumah sakit dokter Yoga yang menangani Axel. Satu jam lebih mereka di ruang operasi.


Ambar datang dengan deraian air mata.


"Flo..." Panggil Ambar. Flo segera memeluk Ambar yang menangis histeris.


"Tante yang tabah. Percayalah Axel baik-baik saja. Maaf hanya Axel yang bisa Flo selamatkan. Flo berjanji akan menjaganya dan menepati janji Flo pada om Robert." Ucap Flo di sela pelukan mereka. Dengan air mata yang terurai sangat deras.


Dokter Yoga keluar dari dalam ruang operasi.


"Bagaimana keadaan putra Saya Dokter?" Tanya Ambar yang sudah melepaskan pelukannya dari Flo.


"Axel kehilangan banyak darah. Kami membutuhkan tiga kantong darah. Rumah sakit hanya menyediakan satu kantong saja. Dalam 1 jam kita harus mendapatkan dua kantong darah lagi. Jika tidak Axel tidak akan tertolong." Dokter Yoga menjelaskan.


Ambar menangis histeris. Darimana ia mencari dua kantong darah dalam waktu satu jam.


"Hanya Arsya yang memiliki golongan darah yang sama dengan Axel." Ucap Ambar menangis tersedu-sedu.


"Apa golongan darah Axel dok?" Tanya Flo.


"A positif" ucap dokter Yoga.


"Golongam darah saya A positif. Ambil darah saya dok." Ujar Flo dengan cepat.


Tanpa menunggu lama lagi. Dokter Yoga membawa Flo ke sebuah ruangan.


"Kamu yakin?" Tanya Yoga yang ragu-ragu.


"Dok lakukan sekarang. Kita tidak punya banyak waktu." Ucap Flo.


"Tapi ini berbahaya buat kamu. Kamu bisa..


"Dokter sekarang!'' Tegas Flo. Dokter Yoga hanya menggelengkan kepalanya melihat Flo yang ngotot tanpa tahu bahaya yang akan datang.


Tiga puluh menit kemudian suster membawa dua kantong darah menuju kamar operasi.


Berita yang Flo dengar adalah Axel selamat. Dia baik-baik saja. Setelah mendonorkan darahnya Flo kembali ke Sumatra tanpa pamit pada Ambar.


Flashback End


Air mataku terus mengalir mengingat semua itu.


Bisakah aku menepati janjiku?


Om Robert. Andai om masih ada mungkin aku tidak akan  pernah terlibat dan menyetujui perjodohan yang membuat hatiku mati seperti ini.


Bisakah aku mengakhirinya sekarang?


Takdir macam apa ini?


Ijinkan aku berhenti.


Aku mohon.


Aku lelah.


••••••••••


Tbc

__ADS_1


 


 


__ADS_2