
Axel p.o.v
Aku bangun dari tidurku. Tubuhku rasanya kaku. Rasanya perutku seperti di lindas truk. Sakit sekali.
Dengan susah payah aku berusaha duduk dan menyandarkan punggungku pada kepala ranjang. Ku perhatikan seisi ruangan ini. Ini di kamarku. Siapa yang membawaku ke sini? .
Dan rasanya hatiku kecewa tidak mendapati Flo disini. Seperti saat kejadian aku mabuk dulu Flo yang menjagaku.
Apa dia sudah kembali pada kekasihnya itu?
Akhh sudahlah aku tidak peduli. Dia kembali pada kekasihnya itu terserah dia. Itu lebih baik bukan.
Ceklekk
Seseorang membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
"Ehh maaf aden Bibi ga ketuk pintu. Bibi pikir aden belom bangun." ucap Bi Mar yang masih berdiri di depan pintu.
"Gak papa Bi." jawabku dengan lesu.
Bi Mar menghampiriku dengan membawa nampan berisi makanan.
"Ini aden makan dulu. Biar punya tenaga." ucap Bi Mar meletakkan makanan itu di atas nakas.
"Makasih Bi."
"Sama-sama aden. Ayo di makan nanti makanan keburu dingin." kata Bi Mar menunjuk ke arah makana.
Ku lirik makanan yang ada di atas nakas. Bubur. Kembali aku mengingat Flo.
"Aden ada apa? Aden tidak suka bubur? Biar Bibi ganti." ucap Bi Mar. Mungkin dia merasa aneh saat aku hanya melirik bubur itu dengan tidak selera.
"Eh nggak bi. Nanti saya makan kok." ucapku dengan senyum yang ku paksakan." Bi Flo ga datang ya?" tanyaku dengan nada ragu-ragu.
Ehh tunggu dulu kenapa aku menanyakan Flo. Apa aku sudah gila? Ini pertama kalinya aku menanyakan Flo.
Bi Mar tertawa kecil.
Tuh kan pasti aku akan di tertawakan.
"Aden kangen ya sama non Flo?"
Astaga! Ada apa denganku. Kenapa jantungku melaju dengan cepat saat Bi Mar mengucapkan itu.
Cepat-cepat aku menjawabnya. Ini tidak benar mana mungkin aku merindukannya.
Big No!!
"Akh bukan bi. Biasanyakan dia selalu disini." elakku lalu meraih mangkuk berisi bubur itu.
"Ohh. Tidak den. Non Flo tidak kesini." jawab bi Mar. Seketika hatiku kecewa mendengar ucapan bi Mar.
Dia tidak kesini?
Apa benar dia sudah kembali dengan kekasihnya itu?
Aku mengaduk-aduk bubur yang ada di tanganku. Tanpa berniat untuk memakannya.
"O iya aden." aku mendongakkan kepalaku menatap bi Mar yang berdiri di sebelahku.
"Tadi malam orang yang nganter aden itu siapa?" . aku hanya mengernyit mendengar pertanyaan Bi Mar.
Orang yang mengantarku?
Bukannya aku pulang sendiri?
Siapa yang mengantarku?
"Siapa Bi? Bukannya saya pulang sendiri?" tanyaku balik.
"Si aden ini bagaimana toh. Wong aden mabuk. Mana bisa pulang sendiri."
Hah mabuk?
Aku mabuk?
O iya seingatku kemarin aku ke club.
Sampai mabuk?
Tapi aku tidak ingat sama sekali.
"Mabuk? Masa sih bi? Trus siapa yang mengantar saya pulang?" tanyaku dengan terus mengaduk-aduk bubur yang di tanganku.
"Iya aden. Aden mabuk. Itu dia bibi gak tau siapa wanita itu."
"Wanita?" tanyaku.
"Iya. Wanita berambut panjang. Semua pakaiannya serba hitam dan pakai topi. Bibi sempat memanggilnya tapi dia pergi saja. Dia bawa motor gede yang seperti aden bawa waktu SMA dulu. Tapi motor wanita itu warna hitam." ucap Bi Mar panjang lebar. Aku menautkan alisku mendengarkan penuturan bi Mar.
Wanita berpakaian serba hitam?
Pakai topi?
Motor berwarna hitam?
Apa dia wanita yang menolong aku, Alex dan Albert pada malam itu?
"O iya. Wanita itu pakai anting. Seperti anting aden itu loh." bi Mar berusaha mengingatnya." ahh iya sama persis seperti anting aden." ucap bi Mar dengan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di udara.
Apa?
Anting seperti milikku?
Ting..tong..ting..tong..
Lamunanku buyar mendengar suara bel rumah.
"Maaf aden bibi permisi ada tamu." pamit bi Mar. Aku hanya menganggukkan kepalaku.
Apa itu Flo?
Semoga sajalah.
Sudah lima menit tapi orang yang menekan bel itu tidak kunjung datang ke dalam kamarku.
Kok lama sekali sih?
Flo ngapain coba di bawah.
Suara derap kaki dari luar terdengar oleh telingaku. Segera ku letakkan mangkuk yang aku pegang di atas nakas.
Itu pasti Flo.
Aku pura-pura memejamkan mataku.
Ceklekk
Ehh tunggu suara derap kakinya kok lebih dari satu.
Suara kaki itu semakin mendekat.
Ohh mungkin Flo bersama bi Mar.
Aku dapat merasakan mangkuk yang ada di atas nakas di ambil. Aku mendengar suara dentingan sendok.
Yess sepertinya Flo ingin menyuapiku.
Tinggal menunggu beberapa saat lagi dia akan membangunkanku.
Satu
Dua
__ADS_1
Tiga
Bughh
Apa Flo sekasar ini membangunkanku dengan memukul bantal ke kepalaku?
Jahat sekali dia. Dia tidak tahu apa aku sedang sakit begini?
"Woiii nyet ngapain senyum-senyum sendiri?"
Hah sejak kapan suara Flo berganti dengan suara Alex.
Apa mereka melakukan operasi pita suara?
memang apa enaknya suara Alex.
Dan dia memanggilku nyet?
Kenapa dia menjadi sekasar ini sih?
Apa karena selama ini aku selalu kasar padanya lalu dia membalasku.
Ku rasakan sebuah tangan mengusap wajahku dengan kasar. Perlu kalian tahu posisiku masih bersandar pada kepala ranjang.
Tapi tunggu kenapa tangan Flo sebesar ini sih?
Apa jangan-jangan dia bukan Flo lagi. Perlahan-perlahan mataku ku buka sedikit-demi sedikit.
Taraaaaaa
Ternyata benar bukan Flo. Tapi dua makhluk alien.
"Lu berdua ngapain di sini?" tanyaku sinis. Aku berharap Flo yang datang. Tapi malah mereka.
"Ahhhh." Alex menjatuhkan tubuhnya di atas kasur sebelahku." ya kita ngejenguk elu lah bro." katanya dengan tangan yang ada di atas kepalanya.
Mataku melirik ke arah nakas.
Astaga!!!
"Ehh bro ini bubur gua abisin ya. Enak banget man. Kebetulan gua blom sarapan." ucap Albert yang melahap bubur milikku tadi. Aku bergidik jijik melihatnya. Terserah dia sajalah. Toh aku sudah tidak selera lagi.
"Ehh mobil lu udah kita bawa pulang." ucap Alex masih dengan posisi semula dan mata yang terpejam. Aku meliriknya yang ada di sebelah kananku.
"Semalam lu ke club ya?" tany Albert yang sudah menyelesaikan makannya.
Aku berdehem menjawab pertanyaannya.
"Dan lu mabuk. Berantem dengan orang di club. Buat malu aja lu bro." Aku menatap Albert yang sedang minum.
Berantem?
"Berantem sama siapa?" tanyaku bingung.
"Lu amnesia? Sampai gak ingat?" tanya Albert yang berjalan ke arah sofa.
"Tadi Bara nelpon gua. Katanya mobil lu ketinggalan di club. Ya gua sama Albert langsung kesana. Mengingat dari kemarin siang lu menghilang. Dan Bara ceritain semuanya dari lu minum yang banyak, berantem dan pulang di antar orang misterius." ucap Alex panjang lebar. Aku menatapnya penuh kebingungan.
"Dan menurut cerita Bara. Orang yang sama yang nolongin kita pada malam kita di hadang preman-preman itu." lanjut Alex.
Jadi benar yang di katakan bi Mar.
"Gua curiga tu orang kenal sama lu man. Ga mungkin suatu kebetulan dia nolongin lu dua kali." kali ini Albert yang membuka suara.
"Tapi dia siapa? Gua gak kenal." ucapku.
"Nah itu dia. Lu aja gak tau apalagi kita." Aku mendengus mendengar ucapan Albert. Gak ada faedahnya.
"Trus kemarin kenapa lu pergi gitu aja. Lu cemburu ngelihat Flo pelukan mesra sama pacarnya waktu SMA?" tanya Albert. Aku melempar Albert dengan bantal yang aku pegang.
"Sok tau lu!!" ucapku sinis.
Jadi benar itu pacarnya Flo.
________
At campus
Flo, Dave dan Nela duduk di kantin. Sebenarnya ini sudah waktu mereka pulang. Tapi mereka tunda katanya cooling down sebentar.
Saat Nela dan Dave sedang asik bercerita Axel Cs datang menghampiri mereka. Lain halnya dengan Flo yang sedang asyik dengan handphonenya dan memakai handsfree dia senyum-senyum sendiri. Entah apa yang dia lihat di handphonenya.
Axel duduk di antara Flo dan Alex. Sementara Albert duduk di sebelah Dave.
"Ehh Xel. Gimana kabar hati lu?" tanya Dave. Axel mengernyit bingung tidak mengerti arti ucapan Dave.
"Maksud lu?" tanya balik Axel.
"Kata Albert lu cemburu makanya lu pergi kemarin lusa." ucap Dave dengan santai. Mendengar ucapan Dave,Axel menatap tajam Albert. Yang di tatap hanya menyengir.
"Lah emang benarkan. Gak mungkin lu pergi gitu aja tanpa ada sebab. Pasti lu cemburu ngelihat Flo CLBK sama..sama siapa cowok itu?" Tanya Albert yang lupa dengan nama mantan kekasih Flo.
"Reyhan.." Ucap Nela dan Dave bersamaan.
"Haa..itu namanya Reyhan.." Lanjut Albert.
"Jangan sok tau. Mau gua tenggelamin lu." Ucap Axel datar. Dia merasa harga dirinya hancur setelah Albert mengatakan dia cemburu pada Reyhan.
"Gak mungkin gua cemburu." Gumam Axel dalam hatinya.
"Ck, kalian kaya gak paham aja sifat Axel. Gengsinya tinggi bro. Ya dia malu lah mengakui kalau dia cemburu. Apalagi di depan Flo." Kata Alex panjang lebar. Mereka tertawa kecil karna berhasil memojokkan Axel.
"Tenang aja Xel Flo gak akan dengar kok." Ujar Dave yang melihat Axel gelisah.
"Mau dia dengar atau nggak. Gua gak peduli. Gua gak akan pernah cemburu sama dia." Ucap Axel dengan nada suara yang semakin datar.
Mereka berempat hanya mendesah mendengar ucapan Axel. Dia tidak akan pernah mengakuinya.
Tiba-tiba Flo tertawa kecil.
"Dia kenapa?" Tanya Albert. Dan mereka semua menatap Flo.
"Ck, Flo ngapain Sih?" Tanya Nela lalu kemudian ia melepaskan handsfree yang di telinga Flo. Flo gelagapan.
"Hah. Ada apa Ne?" Tanya Flo kebingungan.
"Lihatin apa sih. Asyik banget dari tadi." Ujar Nela yang ada di hadapan Flo.
"Oh nggak. Ini aku lagi lihat video yang di kirim Kevin. Lucu banget." Ucap Flo di selingi tawa kecilnya.
"Kevin siapa Flo?" Tanya Albert kepo.
"Ehh kalian di sini." Ujar Flo setelah menyadari keberadaan Albert,Alex dan Axel."Kevin itu...
Ucapan Flo terhenti karna Nela memotongnya.
"Gebetan Flo. Ya, Kevin itu gebetan Flo."
Flo menatap tajam Nela. Apa maksudnya dia ngomong seperti itu. Flo dan Kevin tidak ada hubungan apa-apa.
Mendengar itu Axel menaikkan sebelah alisnya."gebetan?" Tanyanya dalam hati.
"Oh Kevin yang ngedate sama lu kemarin ya?" Tanya Dave.
"Ahh iya bener Dave." Bukan Flo yang menjawab tapi Nela. Nela ingin membuat Axel cemburu makanya dia mengatakan seperti itu.
Flo hanya menggeleng kecil mendengar ucapan Nela. "Biar sajalah. Terserah mereka." Bisik Flo dalam hati.
"Ohh ternyata dia kemarin jalan ya. Hebat. Gua sakit dia malah ngedate." Batin Axel. Dia kesal pada Flo.
Alex dan Albert hanya manggut-manggut mendengar percakapan Dave dan Nela.
"Ehh ngomong-ngomong kapan sepupu lu datang Xel?" Tanya Alex yang mencairkan suasana setelah sempat kaku beberapa saat.
__ADS_1
"Besok." Singkat Axel. Wajahnya terlihat kesal.
"Besok Anya datang?" Tanya Dave dalam hati. Ia terlihat bahagia mendengar bahwa Anya sepupu Axel akan datang.
"Ehh Flo pulang bareng gua ya." Seru Dave. Dia ingin curhat pada Flo tentang Anya.
"Gak! Flo bareng gua!" Seru Nela. Dia ingin main ke apartemen Flo.
"Bareng gua aja gimana?" Ujar Albert. Ya dia sedikit serius. Kalaupun Flo mau dia tidak masalah untuk mengantarkan Flo pulang.
"Flo pulang bareng gua aja lah." Kali ini Alex yang bersuara. Dia ingin melihat reaksi Axel.
Flo jengah mendengar mereka. Dia bukan anak kecil lagi yang harus di antar-antar bukan?
"Kalian apa-apaan sih?! Gak usah aku pulang sendiri aja. Lagian Kevin mau jemput kok." Ujar Flo dengan senyum mengembang.
"Apa? Di jemput? Kevin kevin itu lagi?" Tanya Axel dalam hati.
"Dia udah otw ke sini." Ucap Flo lagi.
"Gak! Lu pulang bareng gua!" Ucap Axel tiba-tiba yang membuat mereka semua terkejut. Apalagi Flo.
"Tumben?" Gumam Flo.
Alex dan Albert tersenyum. Sementara Nela dan Dave masih bingung dengan sikap Axel.
"Ehh gak usah Xel. Aku bareng Kevin aja." Tolak Flo dengan halus. "Ntar kamu tinggalin lagi di tengah jalan." Gumam Flo yang dapat di dengar mereka semua.
Axel menatap Flo tajam. Sementara yang lainnya tertawa cekikikan.
"Gua gak mau dengar penolakan! Sekarang pulang!" Dengan cepat Axel menarik paksa tangan Flo untuk pergi dari kantin menuju parkiran.
"Ehh..ehh" Flo ditarik secara tiba-tiba oleh Axel.
Tinggallah Alex, Albert, Dave dan Nela yang tertawa geli melihat tingkah aneh Axel.
"Dia cemburu?" Tanya Nela.
"Mungkin." Jawab Alex.
_______
In Car
Diam tanpa ada yang membuka suara. Flo hanya menatap keluar kaca jendela mobil. Sementara Axel fokus dengan jalanan di depannya.
Axel memberanikan diri untuk bertanya.
"Gimana urusan lu sama Reno?" Tanya Axel dengan datar seperti biasanya.
Flo menatap Axel.
"Udah selesai kok. Kemarin dia udah berangkat ke Paris." Jawab Flo masih menatap Axel.
"Trus gimana sama pacar lu itu." Lanjut Axel. Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan tidak ada tanda tanya disana.
"Pacar?" Tanya Flo kebingungan. Lalu setelah mengerti Flo tersenyum."Reyhan maksud kamu?" Tanya Flo lagi. Axel hanya mengangguk malas.
"Lu bisa batalin pernikahan ini kalau mau balik sama dia." Ucap Axel namun pandangannya tetap fokus kedepan.
Flo tersenyum.
"Ya. Sebenarnya dia datang untuk kembali. Tapi itu tidak mungkin." Jawab Flo.
"Kenapa?" Tanya Axel.
"Aku udah tunangan. Dan bahkan dalam hitungan hari akan menjadi istri orang. Untuk apa aku kembali padanya. Dia meninggalkan aku dalam keterpurukan dan tidak peduli padaku. Aku tau dia hanya salah paham. Dia datang untuk meminta maaf. Aku sudah memaafkannya. Tapi bukan berarti aku menerimanya kembali aku sudah bahagia dengan kehidupanku sekarang." Ucap Flo panjang lebar lalu dia tersenyum. Sekilas ia menatap Axel lalu kembali menatap ke arah jalanan.
Axel. Ada rasa lega di hatinya. Entah apa isi hatinya. Dia sendiripun tidak tahu.
Tiba-tiba Axel menghentikan mobilnya.
"Kok berhenti?" Tanya Flo yang kebingungan. Kenapa mereka berhenti di pinggir jalan dekat taman.
"Mau ice cream?" Tanya Axel. Walaupun datar namun ada kesan ramah di sana. Flo tersenyum bahagia melihat sisi lain Axel. Baru kali ini Axel menawarkan sesuatu padanya. Tanpa pikir panjang lagi Flo menganggukkan kepalanya.
"Tunggu di sini." Ucap Axel. Lalu ia membuka seatbeltnya dan turun dari mobil meninggalkan Flo yang masih senyum-senyum sendiri.
Axel berjalan menuju taman disana ada seorang penjual ice cream. Flo hanya menatapnya dari jauh lalu ia bergerak untuk keluar dari dalam mobil.
Flo menikmati suasana taman yang tenang. Tidak terlalu banyak kendaraan yang lewat dan taman ini pun terlihat masih sepi berhubung ini masih jam tiga sore nanti jam empat atau lima taman ini akan ramai.
Raut bahagia di wajah Flo terukir jelas.
Tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya tepat di belakangnya.
"FLORA CHATARINA!!" Suara itu begitu menyeramkan. Flo menegang mendengar suara itu. Tubuhnya gemetar. Dengan rasa takut Flo membalikkan badannya menghadap pemilik suara itu.
Tubuh Flo kaku melihat seseorang yang berdiri tepat di hadapannya.
"Ka..kamu?" Gugup Flo dengan mata yang melebar sempurna. Jantungnya berdegup kencang.
"Sudah lama aku mencarimu. Akhirnya bertemu juga." Wanita itu menunjukkan smirk yang menyeramkan.
"Apa maumu?" Tanya Flo dengan rasa takut.
"Mauku simpel saja. Aku hanya ingin menghancurkan hidupmu! Karna kau sudah merenggut nyawa orang yang aku sayangi! Pembawa sial!!!" Bentak orang itu pada Flo.
Plakkk
Plakkk
Plakkk
Plakkk
Dengan sekuat tenaga wanita itu menampar Flo hingga tersungkur dan pingsan. Lalu wanita itu mengambil sebuah kayu yang ada di sekitarnya untuk memukul kepala Flo. Sepertinya dia ingin melenyapkan nyawa Flo. Namun gerakannya terhenti ketika mendengar suara teriakan seseorang.
"FLORAAA!!!" pekik Zack yang kebetulan melakukan patroli dari daerah itu.
Sementara Axel yang sedang membayar ice creamnya mendengar nama Flo di panggil. Ia menoleh ke arah mobil. Tepat di depan mobil Flo tersungkur dan seorang wanita sedang mengangkat kayu ke udara untuk memukul Flo.
Tanpa mempedulikan ice cream dan uang kembaliannya Axel berteriak dan berlari ke arah Flo.
"FLO!!!!" Teriaknya.
Melihat Axel dan Zack yang berlari bersamaan dari arah yang berbeda menuju tempat Flo membuat wanita itu melemparkan kayu itu dengan asal dan berlari pergi meninggalkan taman itu.
Zack sampai duluan di tempat Flo. Ia membalikkan tubuh Flo. Dan terlihatlah wajah Flo memerah bekas lima jari dan sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Flo bangun Flo.." Zack menangkup wajah Flo dengan sebelah tangannya. Memanggil-manggil namanya berharap Flo membuka matanya. Sangat terlihat dengan jelas raut wajah khawatir Zack.
Axel sampai di tempat Flo pingsan.
"Flo..Flora kenapa Zack?" Tanya Axel banyak terlihat kekhawatiran di wajahnya.
"Lu darimana aja! Kenapa ninggalin Flo sendirian!" Ketus Zack pada Axel.
"Gua dari sana." Jawab Axel.
"Arghh sudahlah kita bawa Flo pulang ke apartemen." Ucap Zack. Lalu mengangkat tubuh Flo membawanya masuk ke dalam mobil Axel.
Dengan cekatan Axel membukakan pintu mobil. Setelah Zack masuk ia menutup pintu dan berlari menuju tempat kemudi. Axel mengemudikan mobil di atas rata-rata.
Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Zack berusaha membangunkan Flo. Namun tetap saja sia-sia.
"Flo bangun. Jangan buat gua takut kaya gini." Zack terus menggerak-gerakkan pipi Flo. Axel hanya melihat dari kaca depan.
"Ada apa dengan Flo. Siapa wanita tadi?" Itu pertanyaan yang berputar-putar di kepala Axel.
Dia berusaha secepat mungkin untuk sampai ke apartemen . Dia tidak peduli dengan umpatan orang-orang karna mobilnya melaju dengan sangat cepat. Yang terpenting sekarang semoga Flo baik-baik saja.
•••••••••
__ADS_1
TBC