
Flora p.o.v
Di sinilah aku sekarang. Di kasur tercintaku. Tadinya aku di kampus tapi karna tuan pemaksa a.k.a Dave memaksaku untuk pulang aku bisa apa?
Rasa pusing di kepalaku sudah berkurang karna tadi sebelum pergi Nela memberiku obat. Mereka adalah sahabat terbaikku. Aku menyayangi mereka.
Axel?? Ntahlah.
Mungkin aku harus menjauhinya dulu. Itukan yang dia mau. Sebenarnya aku kecewa padanya. Tapi apa boleh buat. Perjodohan ini tidak diinginkan olehnya.
Lupakan masalah itu.......
Benar-benar bosan.
Mau ngapain ya??
Ahh
Aku tau!
Aku ambil laptopku. Aku ingin memantau rumah Axel. Kali aja ada yang mencurigakan. Aku lupa memberitahu beberapa hari yang lalu aku sudah menyambungkan CCTV dari rumah Axel ke laptopku tanpa sepengetahuan mereka tentunya. Agar aku bisa memantau Axel dengan mudah.
Dan
Klik!
Akhh masih aman ternyata.
Lalu jariku bergerak mengklik aplikasi biru . Facebook.
Aku menscroll ke bawah dengan pelan-pelan. Membaca semua curahan hati orang-orang. Ada yang galau,bahagia,sedih,marah,semualah.
Ada sebuah video aku tidak tahu siapa pemilik akun ini. Tidak sengaja aku mengklik untuk membuka profilnya.
"Aihhh. Salah klik lagi!" Gumamku.
Aku ingin mengembalikannya.
Tapi.....
Tunggu...
Sepertinya aku pernah melihat wajah orang ini. Tapi dimana?
Aku menautkan kedua alisku. Mengingat dimana aku melihat orang ini.
"Inga Flo..ingat Flo..ingat..." Ku ketuk-ketuk dahiku dengan jari telunjukku.
"Akhh aku ingat!" Aku memekik sendiri.
Dia salah satu dari orang yang mencurigakan di depan Rumah Axel.
Ya! Dia pria botak yang memakai kacamata itu.
Ya..ya...
Tidak salah lagi.
Aku melihat semua kirimannya. Hanya ada foto dirinya dan sebuah video .
"Video apa ini?"
Klik!
Aku membuka video itu. Dan terlihat wajahnya sedang berbicara pada kamera.
"Haii besok malam ada yang mau ikut ke club? Kita akan bersenang-senang. Gue akan traktir orang yang mau ikut dengan gue. Khusus untuk cewek ya. Kalian datang ke club jam sembilan malam. Free Club. Aku tunggu."
Itu yang dia katakan di video itu dengan nada suara yang menjijikkan menurutku.
Tapi
Waitttt
Ini kesempatanku. Aku harus mengikutinya. Siapa tahu aku menemukan sesuatu yang bisa mengungkap siapa yang menyuruh mereka mengintai rumah Axel.
Tapi aku tidak tahu dimana letak Club itu.
O iya..
Aku tahu harus bertanya pada siapa.
Roy. Ya Roy. Dia pasti tahu letak Club ini dimana. Secara diakan mahasiswa yang terkenal tidak baiknya di kampus. Sering main perempuan dan keluar masuk Club. Ok besok akan aku tanya padanya.
Skippp
At campus
Sekarang aku ada di kampus. Mencari-cari keberadaan Roy.
Dia kemana. Kok lama sekali datangnya.
"Heii Flo. Udah baikan?"
Isshhh Dave benar-benar mengagetkanku.
"Flo kok udah masuk? Gimana keadaan lu?" Kali ini Nela yang bertanya.
Aihh pertanyaan siapa dulu yang harus kujawab. Aku tahu mereka khawatir padaku.
"Kaget tau. Aku udah baikan kok. Mangkanya masuk kampus hari ini." Ucapku ceria seperti biasa. Nela meletakkan punggung tangannya pada dahiku.
Apa dia belum percaya?
"Ahh syukurlah gak demam lagi. Ok kalau gitu ayo ke kantin. Gua laperrrr."
Ya ampun Nela... Kantin mulu yag di pikirin. Aku dan Dave menggelengkan kepala. Ya udah deh siapa tahu Roy juga ada di kantin.
Kami berjalan menuju kantin. Masih sepi. Lalu aku duduk di salah satu kursi dan di ikuti oleh Dave dan Nela.
"Mau makan apa Dave, Flo. Biar gua pesan." Tanya Nela.
"Biasa Ne." Ucap Dave.
" Aku udah sarapan kok." Ucapku dengan pandangan yang mengelilingi kantin kali aja ada Roy kan.
"Flo! Lihatin apaan sih?" Tanya Dave yang masih jelas ku dengar.
" Ga lihat apa-apa kok." Dave hanya menggelengkan kepala melihat tingkahku.
Ahh itu dia Roy. Baru masuk kantin. Dan dia duduk agak jauh dari kami.
"Yuhuuu makanan datang." ucap Nela antusias dengan membawa sebuah nampan berisi makanan tentunya.
"Ehhh aku ke sana bentar ya." Pamitku pada mereka. Aku sudah pergi sebelum mereka bertanya-tanya yang aneh.
Aku menghampiri Roy.
"Heii Roy. Ganggu gak?" Sapaku pada Roy saat sudah berada dihadapannya. Dia mendongakkan kepalanya menatap wajahku.
"Ehh Flo. Gak kok. Ayo duduk." Dia tersenyum ramah padaku. Aku duduk dihadapannya menghadap ke arah pintu masuk kantin dan dia membelakangi pintu masuk.
"Ada apa? Tumben nyapa gua." Tanyanya dengan senyum yang aneh. Matanya melihat kearah dadaku.
Astaga ingin sekali aku mencolok matanya itu. Tapi demi tujuanku ku redam emosiku. Dia akan tahu berhadapan dengan siapa jika dia macam-macam padaku.
______
Flo berbincang-bincang dengan Roy sesekali mereka tertawa.
Lain halnya dengan Dave dan Nela yang kebingungan melihat Flo mendekati Roy.
"Flo ngapain sama si Roy?" Tanya Nela pada Dave.
"Lu aja gak tau, apalagi gua Ne." Jawab Dave. Mereka benar-benar kebingungan dengan Flo.
Saat Flo dan Roy tertawa bersama. Axel Cs datang memasuki kantin. Axel melihat Flo dan Roy bercanda bersama. Matanya menatap tajam pada Flo ketika ia melewati tempat duduk Flo. Flo yang menyadari itu hanya menatap Axel dengan tatapan tidak peduli. Axel semakin geram.
Sampai di pojok kantin mereka bertiga duduk. Mata Axel tidak lepas dari tempat Flo dan Roy duduk. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal, wajahnya merah padam menahan emosi.
Albert yang menyadari sikap Axel tersenyum tipis. Kakinya menyenggol kaki Alex di bawah meja. Alex yang menyadari itu menatap Albert. Lalu Albert menunjuk Axel dengan dagunya mereka saling pandang kemudian saling menganggukkan kepala dan tersenyum misterius. Seola-olah mereka sedang merencanakan sesuatu. Mereka berdua ini sangat aneh. Kadang saling beradu mulut, kadang tak sepaham, dan kadang ya seperti sekarang ini seakan mereka bisa saling membaca pikiran satu sama lain.
Albert berdehem
"Ehemm, wauww kayaknya Flo dapat gebetan baru tuh." Sekilas Albert melirik ke arah Axel lalu matanya beralih ketempat Flo dan Roy.
"Flo pindah haluan Al. Ya ga papa sih. Mereka kayanya cocok." Ujar Alex santai.
"Gua sih setuju- setuju aja. Paling gak Flo di anggaplah." Albert dan Alex ingin memanas-manasi Axel. Dan mereka berhasil. Lihat wajah Axel semakin memerah.
"Lihat baru kali ini gua lihat Flo tertawa lepas kaya gitu semenjak gua kenal dia." Axel semakin panas mendengar ucapan Alex. Matanya tidak lepas dari Flo dan Roy sementara dua sahabatnya yang kini ada dihadapannya sedang menahan tawa masing-masing.
Flo beranjak dari kursi dan menuju tempat Nela dan Dave. Setelah duduk di kursi Roy menghampirinya lagi.
Jarak yang lumayan dekat antara tempat duduk Axel Cs dan Flo sehingga mereka dapat mendengar ucapan Roy.
"Ok Flo. Kalau gitu ntar malam gua jemput." Ucap Roy dengan senyum ramah dan di jawab oleh Flo dengan anggukan kepalanya. Roy pun pergi.
Mendengar ucapan itu Dave dan Nela cengo. Bagaimana mungkin seorang Flo yang polos akan di jemput oleh Roy yang notabanenya seorang PK.malam-malam lagi.
Mendengar ucapan Roy, Axel semakin mengetatkan rahangnya. Kembali Alex dan Albert memanasinya.
"Hahh mereka ntar malam ngedate berdua bro. Aihh cepat juga mainnya si Roy ya." Albert pura-pura terkejut kepalanya manggut-manggut.
"Gua yakin bentar lagi mereka bakal jadian." Alex tersenyum miring melihat ekspresi Axel setelah mengatakan pendapatnya.
Braakkk
Axel menendang kursi tempat ia duduk lalu ia pergi meninggalkan Kedua sahabatnya begitu saja. Axel melewati Flo namun Flo biasa saja itu membuat Axel semakin marah.
"Hahahahaha"
Alex dan Albert tertawa terbahak-bahak setelah Axel pergi Dave yang melihat itu menghampiri mereka.
"Napa lu berdua?" Tanya Dave kebingungan.
"Kita lagi manas-manasin tuh curut." Albert menunjuk punggung Axel yang sudah jauh. Dave mengernyit dan menggelengkan kepalanya. Dia mengerti maksud dari Alex dan Albert.
"Lu berdua parah. Sahabat sendiri di buat gitu." Ucap Dave.
"Kita cuma mau dia cairin hatinya yang batu itu. Kasihan Flo tersiksa karna dia." Ujar Alex yang menegakkan punggungnya.
__ADS_1
"Trus dia marah? Cemburu?" Tanya Dave.
Albert dan Alex mengedikkan bahu mereka masing-masing. Mereka tidak tahu apakah kemarahan Axel tadi karena ia cemburu atau karena hal lain.
Di tempat Flo duduk Nela bertanya pada Flo.
"Flo ada urusan apa lu ma si Roy?"
"Mmm aku cuma minta bantuan dia kok Ne." Jawab Flo seadanya.
"Lu taukan dia itu gimana?" Nela menyipitkan matanya.
"Tenang aja. Aku bisa jaga diri kok. Percaya deh." Ucap Flo. Nela lega jika Flo sudah berkata begitu dia akan baik-baik saja. Dia sangat percaya dengan sahabatnya ini.
_____
Axel p.o.v
Aihhh apa yang harusku lakukan. Aku meletakkan gitar yang aku pegang di sampingku.
Sedari tadi aku sangat resah mengingat kedekatan Flo dan Roy.
Ada hubungan apa mereka?
Kenapa mereka sedekat itu?
Malam ini mereka janjian?
Astagaaaa
Argghh
Aku mengacak frustasi rambutku.
Malam ini mereka jalan berdua gitu?
Kok bisa?
Apa Flo gak tau gimana sifatnya Roy. Tapi ga mungkin dia gak tau merekakan satu jurusan,satu kelas lagi.
Aisshhh aku benar-benar gelisah.
Ku lirik handphoneku yang tergeletak manis di atas kasurku. Lalu mataku mengarah ke atas pintu melihat jam dinding bergambar spongebob dan sahabatnya patrick yang sedang menangkap ubur-ubur.
Kekanak-kanakan memang. Tapi aku benar-benar menyukai mereka.
Jam menunjukkan pukul 23.40.
Astaga...
Mataku melotot sempurna, segera kusambar handphoneku. Mencari contact seseorang. Ketika ingin menekan tombol gagang telpon itu jariku berhenti.
Berfikir sejenak.
Telfon...nggak..
Telfon...nggak..
Kalau aku telfon ntar dia pikir aku khawatir sama dia. Tapi kalau gak aku telfon aku penasaran.
Akhh aku telfon aja deh.
Bilang aja mamah yang minta.
Ah iya benar.
Aku tersenyum puas.
Tarik nafas....
Keluarkan...
Tenang.
Aihh kenapa aku grogi gini cuma untuk nelpon dia.
Kudekatkan handphone ke telinga kananku.
Tut..tut..
Tut..tut..
Tut..tut..
Kok gak di angkat ya.
Tut..tut..
Tut..
Drap
"Halo.."
"Ha..
Belum sempat aku mengatakan halo ada suara laki-laki yang terdengar di seberang telpon. Dan suara musik yang menggema.
Suara laki-laki? Itu suara Roy.
"Ga tau nih! Argghhh pelan-pelan Roy. Sa...kit.."
"Iya tahan..bentar lagi kok."
"Gua ga tahan....buruan."
"Iya gua juga gak tahan nih lihatnya."
"Akhhh..sshhhh..ahhhhh."
"Sabar..Flo..bentar lagi..yahhh..yess"
"Gimana enakan?"
"Mmmm. Thanks Roy."
Pipppp
Aku memutuskan telepon.
Tubuhku mematung.
Handphoneku jatuh ke lantai. Jantungku berdetak tak karuan. Nafasku memburu.
Tadi apa yang ku dengar.
Desahan-desahan aneh.
Mereka....
Flora..
Aku sudah menduga dia tidak sebaik yang orang pikirkan. Mamah terlalu baik padanya. Mamah tidak tahu siapa Flo sebenarnya.
Cihhh
Dasar wanita murahan.
Dia punya tunangan tapi dia berkencan dengan pria lain.
Aku semakin membencinya.
Aku bersyukur menelponnya dan aku tahu siapa dia sebenarnya sekarang.
Tunggulah Flora. Mamah akan membencimu secepatnya.
_____
Flo berjalan tertatih menuju kantin. Kakinya terasa ngilu. Dia menghampiri Nela dan Dave yang sudah menunggunya.
Bruukk
Flo duduk dengan tiba-tiba di hadapan Dave dan Nela. Ia menumpukan kepalanya di atas meja. Dave dan Nela yang melihat itu kebingungan.
Flo tidak sadar bukan hanya Dave dan Nela yang duduk di sana tapi juga Axel, Alex dan Albert.
"Flo kenapa?" Tanya Nela yang menyentuh punggung Flo. Flo menggelengkan kepalanya masih dengan menumpukan kepalanya di atas meja.
Tiba-tiba Roy datang menghampiri mereka.
"Flo gimana keadaan lu? Udah baikan? Apa masih sakit?" Tanya Roy dengan khawatir.
"Aku gak papa. Cuma masih ngilu." Ucap Flo yang masih menunduk dia atas meja.
"Bentar lagi ngilunya bakalan ilang kok. Sorry gara-gara gua badan lu merah-merah gitu. Apalagi leher elu." Ucap Roy yang masih berdiri di samping Flo.
"Gak papa. Aku maafin lu kok. Lagian kamu tanggungjawabkan." Kata Flo.
Mereka berdua tidak tahu kalau dari tadi ada lima pasang mata dan telinga yang menyaksikan dan mendengar percakapan mereka. Dan tentu saja pikiran mereka langsung ke arah yang aneh-aneh. Apalagi mereka mengenal bagaimana itu Roy. Mereka semua benar-benar terkejut dan syok tentunya.
Termasuk Axel. Rahangnya sudah mengeras,tangannya mengepal. Apalagi mengingat desahan-desahan di telpon tadi malam. Rasanya ia ingin sekali menghabisi Roy saat ini juga.
"Gimana tadi malam serukan?" Tanya Roy lagi.
"Mmm" hanya itu yang di jawab oleh Flo.
"Kalau lu mau kita ke Club lagi bilang gua aja dengan senang hati gua nemanin lu." Ucap Roy dengan genit.
Flo mendongakkan kepalanya menatap Roy yang ada di sampingnya.
"Lu pergi atau gua tonjok !" Sengit Flo pada Roy dan mengepalkan tangannya tepat di wajah Roy. Roy tertawa cengengesan.
"Oke sorry babe. Gua cuma mau ngasih ini. Semoga merah-merahnya cepat hilang." Roy meletakkan minyak angin di atas meja dan pergi meninggalkan mereka.
"Flo....." Flo menatap Nela yang terlihat Syok. Lalu tangannya terulur menyikapkan kerah baju Flo. Dan terlihatlah banyak merah-merah di leher Flo.
Mereka berlima sangat terkejut. Flo menatap mereka satu per satu Flo bingung melihat mereka yang menatap dirinya dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.
Brakk
Axel bangkit dari tempat duduknya meninggalkan mereka semua dan di susul oleh kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Kalian kenapa Sih?" Tanya Flo yang kebingungan dengan ekspresi kedua sahabatnya ini.
"Flo lu dan Roy ngapain tadi malam dari Club?" Flo mengernyit mendengar pertanyaan Nela.
"Tadi malam kalian ngapain?" Tanya Dave lagi. Setelah mengerti maksud dari pertanyaan kedua sahabatnya Flo tertawa terbahak-bahak dan menceritakan semuanya.
Skippp
Flo berjalan memasuki toilet wanita dan Axel baru keluar dari dalam toilet melihat Flo lalu ia bersembunyi ia dapat mendengar ocehan Flo dari dalam toilet.
"Akhhh ngantuk banget......dasar Roy sialan! Dia ngasih minuman apa coba! Akhhh pusing!" Flo mengoceh di dalam toilet yang kebetulan ia sendiri di dalam sana. Dia membasuh wajahnya berharap rasa kantuknya dapat hilang.
Setelah selesai ia keluar dari dalam toilet. Tiba-tiba ada yang menarik paksa tangannya. Menyeret ia ke taman belakang gudang. Setelah sadar siapa yang menyeretnya Flo menghempaskan tangannya.
"Lepas!!!! Sakit tau gak!!" Pekik Flo tepat di depan wajah Axel.
Axel menyeringai dan kemudian tersenyum sinis. Seolah jijik melihat Flo yang ada di hadapannya.
"Mau kamu apa?!" Flo takut melihat Axel yang menyeramkan seperti ini. Kakinya gemetar.
Axel mendekatkan wajahnya kepada Flo,semakin dekat hingga Flo dapat merasakan deru nafas Axel.
"Jangan macam-macam kamu Axel!" Flo memberanikan diri membentak Axel.
"Kalau gua mau macam-macam gimana?" Tanya Axel tepat di telinga Flo dengan nada suara yang menggoda.
Flo semakin ketakutan. Ia menancapkan kuku-kukunya pada telapak tangannya hingga terlihat memutih. Nafasnya memburu. Ada rasa trauma dimatanya.
"Tapi gua jijik menyentuh lu!" Ucap Axel sarkastik dan menjauhkan wajahnya dari wajah Flo. Ada rasa lega di hati Flo.
"Ma..maksud kamu apa?" Tanya Flo.
"Cihhh pura-pura gak ngerti?"
"Gua jijik nyentuh orang yang udah dicicipi orang lain! Cewek murahan!!" Pekik Axel penuh emosi tepat diwajah Flo.
Bagai di sambar petir ucapan Axel yang masuk ke telinga Flo. Rasa lega itu hilang begitu saja. Yang kini rasa hancur,takut,trauma,dan kekecewaan. Wajah Flo pucat,tubuhnya gemetar.
"Di bayar berapa lu sama Roy? Sampai leher lu merah-merah gini?" Tanya Axel enteng. Tubuh Flo semakin bergetar, matanya berkaca-kaca.
"Atau lu dengan suka rela dicicipi Roy. Oh mungkin aja lu kan cewek murahan!" Ketus Axel namun tersenyum mengejek.
Plakkkkk
Plakkkkk
Flo menampar pipi kiri dan kanan Axel meninggalkan bekas yang terlihat diwajah mulus dan tampan Axel. Matanya menatap Flo tajam ada emosi yang memuncak di sana.
"Jagaa ucapann kamuu!" Ucap Flo dengan sangat bergetar menahan air mata. Tidak ada bentakan di ucapan itu hanya ada ketidaksanggupan untuk mengucapkannya. Axel menatap dalam mata Flo. Lalu Flo pergi begitu saja.
Axel mematung di tempatnya berdiri. Ia melihat di mata Flo tadi rasa hancur dan luka yang mendalam. Bahkan dia tidak sanggup mengucapkan ucapannya tadi.
Seketika hati Axel terasa hancur mengingat tatapan mata Flo tadi.
--
"Lu darimana sih. Ke toilet kok setahun." Tanya Albert pada Axel yang duduk di sebelahnya. Axel tidak menjawabnya.
"Pipi lu kenapa man. Kok merah gitu?" Tanya Alex yang menyadari warna pipi Axel." Lu di gampar ama siapa?" Tanyanya lagi.
"Flo." Jawabnya singkat.
Albert menghadapkan tubuhnya pada Axel.
"Kok bisa?!"
"Gua......
Ucapan Axel menggantung. Albert dan Alex mengerti akan lanjutan ucapan Axel. Mereka menggelengkan kepala bersamaan.
Alex keluar kelas. Beberapa menit kemudian ia datang bersama dengan Roy.
"Lu ngapain bawa dia kesini?" Tanya Albert yang menyadari kedatangan Alex dan Roy.
"Gua mau lu jelasin apa yang terjadi antara lu dan Flo tadi malam." Ucap Alex dengan santai pada Roy. Mendengar itu Axel dan Albert menatap Alex.
Rahang Axel mengetat melihat orang yang di hadapannya. Dia berdiri dan menarik kerah baju Roy. Mengangkat tangannya yang sudah mengepal dan siap untuk dilayangkan ke wajah Roy tapi Alex menahan tangan Axel.
"Lu tenang dulu. Dengar penjelasan dia." Ucap Alex santai. Albert yang melihat itu langsung menenangkan Axel.
"Lu kenapa sih mau mukul gua?!" Tanya Roy tidak suka pada sikap Axel.
"Sekarang lu jelasin aja apa yang gua minta tadi." Datar Alex.
"Untuk apa?" Tanya Roy kebingungan.
"Aishhhh banyak tanya lagi. Lu jawab aja sebelum kelamin lu ga berfungsi lagi!" Ketus Albert. Dan itu membuat Roy ketakutan lalu menutupi itunya dengan tangannya. Apa jadinya jika barang pusakanya tidak berfungsi lagi.
"Oke gua akan jelasin." Ucap Roy akhirnya.
Flashback on
"Ini dia clubnya Flo. Lu mau ngapain sih kesini. Lu tu ga pantes kesini." Ucap Roy yang masih berada di dalam mobil.
"Gua gak minat kesini. Gua mau nyari seseorang." Jawab Flo.
"Ya udah. Lu mau masuk gak?" Tanya Roy.
"Gak usah gua tunggu di luar aja." Jawab Flo.
Flo keluar dari dalam mobil. Dan Roy pergi memarkirkan mobilnya.
Saat Flo berdiri di depan Club ada dua orang yang berbadan kekar menghampiri dia.
"Heii sayang. Sendirian aja. Ayo bareng kita mainnya." Goda pria yang agak gemuk.
"Jangan ganggu gua." Ucap Flo datar.
"Jangan sok jual mahal. Berapa sejam. Kita akan bayar kok." Ucap pria yang lain.
Plakkkk
Flo menampar pipi pria itu.
Pria itu menyeringai, jarinya mengusap bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.
"Dasar ******!!" Teriak pria itu.
Saat pria itu ingin menarik rambut Flo. Flo menunduk lalu memukul perut pria itu dan menendangnya hingga terpental. Melihat temannya seperti itu pria yang agak gemuk itu tidak tinggal diam. Dia melayangkan kakinya pada Flo tapi Flo menangkap kakinya memukul dengan sikunya menendang dadanya saat pria itu membungkuk Flo menyikut punggungnya hingga tersungkur.
"Gua udah peringatin jangan ganggu gua." Ucap Flo datar. Bahkan dengan gampangnya ia mengalahkan dua orang pria yang bisa di sebut preman.
Mereka berdua lari terbirit-birit meninggalkan Flo.
Flo tersenyum sinis.
"Payah. Sama cewek aja takut." Gumamnya.
"Tidak..aku tidak mau..lepaskan..lepaskan aku!!" Teriakan seseorang terdengar jelas di telinga Flo. Ia mengedarkan pandangannya. Di sudut sana ada seorang gadis yang diseret paksa oleh seorang pria perut buncit. Flo tidak tinggal diam dia menghampiri mereka.
"Diam kau ******!" Bentak pria itu pada gadis itu lalu mengangkat tangannya untuk menampar gadis itu tapi dengan cepat Flo menangkap tangannya.
"Jangan berbuat kasar pada wanita pak." Ucap Flo datar.
Pria itu menghentakkan tangan Flo.
"Jangan ikut campur kau!"
"Saya ikut campur karna saya tidak suka anda memperlakukan wanita seperti binatang." Datar Flo.
"Biadab. Heii kalian bertiga tangkap wanita lancang ini!!" Panggil pria itu pada bodyguardnya yang dibelakang.
Flo tidak tinggal diam ketika ketiga bodyguard itu ingin menangkapnya. Kedua tangan Flo ditahan bodyguard itu tapi dengan tenang Flo menarik tangannya hingga kedua bodyguard itu beradu. Lalu Flo menendang perut mereka berdua. Tidak tinggal diam bodyguard yang satu lagi juga menyerang Flo dengan senang hati Flo melayaninya. Sangat mudah untuk Flo menghabisi mereka. Karna mereka tidak terlalu menguasai jurus-jurus karate hanya badan saja yang besar.
Ketiga bodyguard itu terkapar lemah. Flo mendekati pria perut buncit itu.
"Lepasin dia atau nasibmu sama seperti mereka." Tunjuk Flo pada ketiga orang yang sudah K.O itu.
"Brengsekk!" Amarah Pria itu tertahan dan melepaskan cekalannya dari gadis itu. Lalu dia pergi. Sebelum memasuki mobilnya pria itu mendorong Flo hingga terjerembab dan kakinya tertusuk batu runcing di sana.
"Argghhh" pekik Flo.
Roy yang dari tadi melihat kejadian itu langsung berlari menuju Flo yang terluka.
"Flo. Lu gak papa? Ya ampun kaki lu berdarah." Panik Roy.
Roy membawa Flo ke dalam Club untuk mengobatinya ia dan gadis itu memapah Flo hingga ke dalam Club.
Roy mengobati kaki Flo yang terluka.
Flashback off
Axel mematung mendengar cerita Roy.
"Gua nelpon Flo tapi yang gua dengar...
"Oh jadi lu yang telpon Flo." Roy memotong ucapan Axel." Saat itu gua lagi ngobatin luka Flo. Kalau kalian ga percaya lihat aja kakinya. lukanya lumayan dalam. gua rasa itu sangat sakit banget." Axel tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Dan gua merasa bersalah. Dia bilang gak mau minum alkohol trus gua beli minuman hangat sari kencur. Gua gak tau dia alergi kencur. Makanya leher dan tangannya merah-merah semua." Lagi Axel merasa frustasi mendengar penjelasan Roy.
"Emang ada hubungan apa kalian sama Flo?" Tanya Roy yang bingung dengan raut wajah mereka bertiga.
"Flo itu tunangan Axel." Ucap Albert. Roy terkejut mendengarnya lalu tersenyum.
"Flo itu wanita baik-baik. Dari cerita gua tadi mungkin kalian bisa menilai dia seperti apa. Gua emang suka main perempuan. Tapi gua gak pernah main-main dengan wanita baik-baik terutama Flo. Selamat atas pertunangan kalian. Gua harap lu jaga Flo baik-baik." Roy menepuk pundak Axel yang menunduk di kursi lalu pergi keluar kelas.
"Arggghhhhhh" teriak Axel dan mengacak rambutnya frustasi. Ia terlihat hancur dan merasa bersalah atas apa yang sudah di lakukannya pada Flo.
"Kenapa gua bodoh banget sih gua udah nyakitin dia!" Axel mengusap wajahnya dengan kasar.
"Seharusnya sebelum bertindak cari tau kebenarannya dulu Xel. Dan sekarang....lu nyeselkan." Ucap Alex yang berdiri di hadapannya.
"Lu harus minta maaf sama Flo bro. Dia pasti terluka." Albert menepuk pundak Axel.
Penyesalan yang Axel rasakan saat ini. Ia sudah sangat keterlaluan menghina Flo seperti itu. Kata-katanya tadi sangat menyakitkan. Axel tidak sanggup mengingat tatapan mata Flo tadi. Ia sangat terluka.
••••••••••
__ADS_1