Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Conversation


__ADS_3

"Maaf?" Jay bertanya. Dari mana pelanggan wanita itu tahu dirinya, pernahkah mereka bertemu?


"Kau mirip dengan aktor drama asia yang ku tonton setiap hari."


Jay menghembuskan napas lega. Ia pikir ia hampir ketahuan tentang identitas yang sebenarnya.


"Drama Asia?" Jay kembali bertanya.


Pelanggan wanita itu mengangguk antusias, kebanyakan warga Asia Town adalah orang Asia asli.


"Ya, kau tahu 'kan? Meskipun kita semua tinggal di Amerika, kita masih menonton acara televisi Asia."


"Oh.. Itu, aku tidak tahu. Aku tidak punya televisi," ucap Jay.


"Ya ampun benarkah? Kau bisa menonton televisi di rumahku—"


"Dia sibuk membantuku di kedai, dia tidak bisa menonton televisi di rumahmu!" sahut Bibi Kim menyela, ia agak kesal dengan pelanggan yang genit pada Jay.


"Ayolah, Bibi Kim. Dia bisa mampir ke rumahku setelah pulang dari kedai. Benar 'kan?" Wanita muda itu mengerling. "Ini alamatku, kau bisa datang kapan saja." Ia menyerahkan secarik kertas bertuliskan alamat lengkapnya pada Jay.


Pria itu hanya mengangguk dan menyimpan kertas itu di saku celananya.


Setelah kedai tutup, Bibi Kim dan Jay membersihkan tempat itu sebelum pulang. Pengunjung semakin ramai dari hari ke hari. Sepertinya pesona Jay menarik perhatian wanita-wanita muda di kota yang penduduknya mayoritas orang Asia itu.


"Bibi Kim, aku sudah merapikan seluruh meja. Bisakah aku pergi lebih dulu?" tanya Jay.


"Jay, kau tidak berniat menonton televisi ke rumah wanita itu 'kan?"


Jay menggeleng. "Tidak. Kenapa anda berpikir begitu?"


"Aku melihatmu menyimpan kertas itu di saku celana," ucap Bibi Kim.


Jay tersenyum, ia kemudian mengeluarkan kertas itu lalu membuangnya ke tempat sampah.


"Aku hanya mencoba bersikap sopan. Tidak mungkin 'kan aku membuangnya langsung di hadapan wanita itu," jawab Jay.


"Lalu, kau mau kemana? Kenapa terlihat buru-buru?" tanya Bibi Kim lagi.

__ADS_1


"Aku akan menjemput Noah," jawab Jay.


Bibi Kim tertegun ketika mendengar jawaban itu. Banyak hal yang membuatnya curiga akan kebaikan Jay pada Dara dan Noah, mungkinkah Jay memiliki perasaan pada Dara.


"Dara bilang dia sangat sibuk mulai hari ini. Dia takut kalau terlambat menjemput Noah, jadi dia meminta tolong padaku. Agar Noah tidak terlalu lama menunggu," jelas Jay.


Bibi Kim mengangguk paham. Noah sekarang dititipkan di sebuah tempat pra sekolah khusus anak Asia. Tempat itu mulai buka sejak tempat Betrice tutup. Ada lebih banyak anak di sana dan jumlah pengasuhnya memadai. Noah juga nampak nyaman di lingkungannya yang baru.


"Selamat sore, Bibi Kim. Sampai jumpa besok pagi," pamit Jay. Pria itu kemudian bergegas pergi ke tempat penitipan anak.


Tempat itu kurang lebih terletak beberapa blok setelah tempat penitipan yang sebelumnya. Hari ini adalah pertama kalinya Jay ke sana untuk menjemput Noah.


"Maaf, saya ingin menjemput anak yang bernama Noah," ucap Jay pada salah satu pengasuh yang menyambutnya. Pengasuh di sana semuanya adalah wanita Asia.


"Apa anda ayahnya Noah?" tanya pengasuh itu. Jay terdiam sebentar, sejujurnya ia bingung harus menjawab apa.


"Iya..." Ucapan itu lolos begitu saja dari mulutnya. Entah kenapa jantungnya berdebar-debar setelah mengucapkan itu.


Pengasuh itu kemudian membawa Noah keluar untuk bertemu dengan Jay. Anak balita gemuk itu nampak kegirangan ketika melihat Jay ada di sana.


"Wah... Rupanya Noah sangat senang ketika dijemput ayahnya, ya," ucap si pengasung gemas. Ia kemudian menyerahkan Noah pada Jay.


"Wah...Mommy juga sudah datang," ucap pengasuh itu.


Jay yang mendengar hal itu pun langsung menoleh. Ia dapati Dara yang berjalan dengan wajah sumringah menghampiri.


"Noah... Mommy merindukanmu." Dara mencium gemas pipi gembul sang putra yang saat ini berada di gendongan Jay.


"Anda berdua pasangan yang sangat cocok," puji pengasuh itu.


Baik Jay maupun Dara, keduanya hanya tersenyum canggung.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seperti biasa, sesampainya di rumah Jay dan Dara bergantian mandi dan mengurus Noah, mereka juga makan bersama layaknya keluarga kecil yang bahagia. Setelah melakukan rutinitas itu, Dara biasanya menimang-nimang Noah hingga tertidur.


Jay sedang duduk-duduk di teras belakang dan sibuk memandangi bintang, Dara yang baru saja keluar dari kamar pun duduk menghampiri Jay.

__ADS_1


"Sedang apa?" tanya Dara.


"Menghitung bintang," jawab Jay polos.


Dara tertawa pelan. "Kenapa melakukan itu?" tanyanya.


Jay memicingkan mata, lalu menerawang jauh. "Aku tidak tahu banyak tentangmu, jadi aku melihat ke langit. Mungkin saja Tuhan akan memberikan jawabannya," ucap Jay.


Dara tersenyum, ia tak tahu akan mengarah ke mana pembicaraan ini.


"Aku juga tak tahu banyak tentangmu," balas Dara.


"Aku mungkin akan senang menceritakan kisah hidupku, tapi aku juga membenci kenangan itu." Jay mulai mengingat masa lalunya. "Dua puluh tahun yang lalu, kita semua mengalami krisis. Banyak dari bangsa kita yang memutuskan untuk menjadi imigran di Amerika. Aku dan keluargaku adalah salah satunya."


"Aku terkejut mengetahui bahwa kau sudah di sini selama dua puluh tahun. Karna aku tidak pernah merasakan krisis yang kau alami, jadi tidak tahu bagaimana sulitnya masa-masa itu," jawab Dara.


"Keluargaku mengalami dampak krisis ekonomi waktu itu dan suatu hari ayahku memutuskan untuk membawa keluarganya bermigrasi ke Amerika. Tapi sehari sebelum keberangkatan, ayahku meninggal karena terjadi kerusuhan di kota kami." Jay menghela napas, ia masih mengingat betapa kelamnya hari itu. "Akhirnya, hanya tertinggal aku dan ibuku yang bisa berangkat dengan menaiki kapal feri bermuatan sangat penuh. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja selagi aku masih mempunyai ibu. Tapi, hal tak terduga kembali terjadi. Ibuku mengalami serangan jantung di sana. Saat itu kami masih berada di atas laut, bahkan di dalam kapal tak ada satu pun tenaga medis. Hal itu membuat ibuku tak bisa diselamatkan. Karna sudah meninggal dan kapal yang sangat melebihi muatan, akhirnya jasad ibuku dibuang ke laut."


"Jay, maafkan aku jika aku membuatmu membuka luka lama," ucap Dara. Wanita itu merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Aku sudah mengingat kejadian itu berulang-ulang dalam waktu puluhan tahun, aku sudah terbiasa." Jay menoleh pada Dara. " Bagaimana denganmu?" tanya Jay.


"Aku belum lama berpindah ke sini, baru sekitar lima tahun," jawab Dara. Sebenarnya ia tak pernah menceritakan alasan ia tinggal di Amerika sebelumnya. Tapi karna Jay sudah bercerita lebih dulu, ia pun memutuskan untuk melakukan hal yang sama.


"Waktu itu aku baru saja lulus dari universitas. Lalu, aku bertemu dengan seorang pria yang kucintai. Kami memiliki visi misi yang sama. Singkat cerita, kami pun menikah. Mendiang suamiku mengajakku berpindah dari Filipina ke Amerika untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Tapi, semua tak berjalan sesuai rencana. Dia mulai sakit-sakitan, jadi aku yang harus mencari nafkah di sini. Dia meninggal beberapa hari sebelum Noah lahir. Itulah kenapa Noah tak pernah mengenal figur seorang ayah sejak dia lahir."


"Kau hebat bisa melewati ini semua," ucap Jay.


"Ya, kau juga lebih hebat." Dara melirik ke arah Jay. Pria itu kembali sibuk menatap langit. Seindah itukah langit malam ini? Dara pun mengikuti arah pandangan Jay. Ya, ia merasa tenang hanyan dengan memperhatikan kelap-kelip di langit itu.


"Tuhan benar-benar memberikan jawaban. Kita sudah tahu tentang jalan hidup masing-masing." Jay bergumam.


"Iya. Aku lega sudah mengetahuinya," jawab Dara.


Keduanya saling menoleh hingga tanpa sengaja, sepasang mata mereka saling bertatapan. Entah apa yang terjadi, gaya gravitasi yang kuat seolah menarik Jay pada Dara. Tanpa kendali, Jay tiba-tiba mengecup bibir Dara. Wanita itu membatu, sesuatu terasa berkedut di dalam dirinya. Kecupan singkat itu membuat keringat mengalir lancar di punggung Jay.


Pria itu tahu, apa yang dilakukannya adalah hal gila. Menyadari bahwa itu adalah sebuah kesalahan, Jay pun meminta maaf.

__ADS_1


"Ma-maaf, aku sangat lancang. Kau bisa menamparku sakarang," ucap Jay panik.


Sebuah tamparan pelan mendarat di pipi kirinya. Namun setelahnya, bibir ranum Dara yang mendarat di pipi.


__ADS_2