
Archi memasuki mobilnya yang terparkir di belakang tempat pengungsian, Jay sudah menanti di sana.
Pria itu duduk bersidekap, menatap ke luar jendela. Wajahnya terlihat marah, mungkin ia terganggu oleh kehadiran Archi di tempat ini. Gadis itu kemudian menyuruh supirnya untuk keluar agar ia bisa bicara empat mata dengan Jay.
"Sudah rindu? Mau melanjutkan yang kemarin tidak?" goda Archi.
Jay hanya meliriknya sekilas, pria itu menghembuskan napas panjang. Terlihat jelas bahwa dia sedang berusaha mengontrol emosinya.
"Sejak kapan kau ada di sini?" tanya Jay yang sama sekali tak mau menoleh pada Archi.
"Sejak kejadian kebakaran itu. Aku bolak-balik dari Seattle ke sini untuk memberikan bantuan berupa moril dan materiil." Archi tersenyum penuh arti. "Berkat aku, orang-orang menyedihkan yang ada di tempat ini bisa makan dan memiliki tempat bernaung."
"Aku tahu kau punya tujuan lain."
"Benar," sahut Archi. "Tenang saja, aku tak akan mengatakannya pada ayah. Jadi, wanita itu akan tetap aman," ucap Archi.
"Apa yang kau maksud aman? Dia menjadi korban kebakaran dan harus kehilangan satu-satunya putra yang dia miliki," marah Jay.
"Dan kau marah soal itu? Kalian sudah menikah 'kan? Itu artinya putra wanita itu juga menjadi putramu." Archi mengatur napasnya. "Bagaimana kau bisa bermesraan denganku sementara istrimu dalam keadaan berkabung karna kehilangan putranya?"
Bagai ditampar oleh ucapan itu, Jay hanya dapat terdiam. Rasa sakit yang ia pendam di dalam dada kini kembali menyiksa.
__ADS_1
Ia tak bisa melakukan tipu daya itu. Yang tergambar pada sosoknya saat ini hanyalah laki-laki bejat yang tak punya empati sama sekali.
"Aku juga heran bagaimana bisa kau bersikap seolah tak terjadi apa pun. Apa kau benar-benar mendalami akting itu?" tambah Archi.
"Ya. Aku memang bukan laki-laki baik, itulah mengapa seharusnya kau menolak perjodohan ini," ucap Jay.
Archi menunduk, air matanya hampir keluar tapi gadis itu menahannya. "Tidak apa-apa. Pada akhirnya, wanita itu yang akan kau tinggalkan."
Jay melirik sebal, ia memijat pelipisnya. Rasa pusing tiba-tiba menyerang, sehingga membuat Jay tak bisa berpikir jernih saat ini.
"Sebenarnya apa yang kau sukai dari wanita janda itu?" tanya Archi.
"Kau tidak akan pernah mengerti," jawab Jay.
Pria itu mengibaskan tangan Archi begitu saja. Ia tak mau disentuh saat ini. Situasi Jay begitu membingungkan, ia seperti berenang di tengah lautan. Sulit rasanya untuk kembali menepi, tapi untuk melanjutkan perjalanan pun terasa begitu berat karna ia sudah sekarat.
"Kapan anak itu lahir?" tanya Archi.
Saat itu Jay makin terkejut, apakah Dara terlalu banyak bercerita pada Archi? Gadis itu seolah mengetahui semuanya.
"Apa maksudmu?" Jay tak langsung menjawab.
__ADS_1
"Anak dalam kandungan wanita itu adalah anakmu 'kan?" tanya Archi. "Jadi, itu sebabnya kalian menikah. Kau bahkan juga selalu menyempatkan waktu untuk bertemu dengannya. Aku tahu, pasti alasannya karena anak itu 'kan?"
"Bukan. Itu karna aku mencintainya," jawab Jay.
Archi tersenyum ketika air mata yang ia tahan sejak tadi meleleh membasahi pipi. Hatinya terasa sakit mendengar hal itu langsung dari mulut Jay.
"Aku iri padanya..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam tiba begitu cepat. Para pengungsi bersiap tidur ke tempat masing-masing. Penerangan di tempat itu sangat minim. Ditambah dengan adanya hampir seratus orang yang menghuni tempat itu, menjadikan udara di dalamnya semakin panas.
Ketika hendak memejamkan mata di tengah kepanasan, Dara merasakan angin-angin menerpa kulitnya. Ia mendongak mendapati Jay yang saat ini duduk sambil mengipasinya dengan sebuah potongan kardus. Pria itu tersenyum, lalu mengusap rambut Dara.
"Tidurlah. Akan kubuat kau tidak kepanasan," ucap Jay.
Dara mengangguk dan tersenyum, wanita itu kemudian mulai memejamkan mata.
Di dalam mimpinya ia terbangun. Sebuah ruangan serba putih menyambut penglihatan Dara.
Ia menoleh ketika menyadari Jay berdiri di sampingnya. Pria itu tersenyum, di tangannya membawa sebuah mantel musim dingin berwarna hitam yang sangat bagus.
__ADS_1
"Apa kau berniat memberikan mantel itu untukku?" tanya Dara.
Jay menggeleng. "Ini milikku."