Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Rumah Untuk Pulang


__ADS_3

Dara terbangun ketika mendapati matahari sudah meninggi. Sang putra masih terlelap di sampingnya. Kedua mata wanita itu melirik ke arah jam dinding yang terpajang di salah satu sisi kamarnya. Sudah jam enam pagi. Ia pun terbangun untuk memasak dan mulai bersiap berangkat kerja.


Ketika keluar dari kamarnya, ia tak mendapati Jay di sana. Wanita itu kemudian memeriksanya di dapur, tempat itu juga kosong. Kamar mandinya juga kosong, bagian belakang rumah juga tak ada siapa pun. Wanita itu kemudian berlari ke depan, benar dugaannya sepatu Jay tak ada. Apakah pria itu benar-benar pergi setelag peristiwa semalam?


"Huh... Dia benar-benar pergi?" Dara bergumam. Agak menyesal karena peristiwa semalam, harusnya Dara tak menyuruh Jay pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan sebuah rumah besar. Gerbang rumah itu dibuka oleh security, menandakan bahwa mobil itu bisa masuk.


"Anda sudah ditunggu oleh tuan besar." Security itu menghampiri mobil orang-orang itu untuk memberi tahu.


"Wah... Hebat. Kira-kira hadiah apa yang akan diberikan oleh tuan besar pada kita?" tanya salah satu pria yang baru saja keluar dari mobil.


Pria yang lain yang sebelumnya masih berada di dalam dan melepas sabuk pengaman kini juga keluar.


"Emmmm... Uang?" Ia turut bertanya-tanya.


"Bodoh. Ada hal yang lebih penting dari sekedar hadiah uang."


"Apa itu?"


Pria itu menyeringai seolah sang tuan besar akan menuruti semua permintaannya. "Kekuasaan," ucapnya sembari melangkah masuk.


Dua orang pria itu disambut oleh beberapa pelayan laki-laki.


"Anda berdua sudah ditunggu di ruang pertemuan," ucap pelayan itu.


Dua pria yang merasa mendapatkan undangan itu berjalan angkuh melewati para pelayan dan masuk ke ruang pertemuan.


Di dalam sama terdapat sebuah meja berbentuk bundar, di mana ada sekitar delapan kursi yang berjajar melingkar di meja.


"Wah... Sepertinya kita benar-benar orang yang terpilih. Hanya ada sedikit kursi di sini," bisik pria itu pada temannya.


"Ya... Sepertinya kita akan dipromosikan." Pria yang satunya terkikik.


"Oh...Kalian sudah datang," ucap seorang pria berpakaian rapi yang muncul dari pintu bagian dalam. Ia mengenakan celana kantor dan kaos panjang yang longgar.


Dua pria itu merasa tak asing dengan wajah sang bos besar. Tapi mereka lupa bertemu dengannya di mana.


"Silahkan duduk, kenapa hanya berdiri?" ucap sang bos besar mempersilahkan.


Dua pria itu duduk dengan gugup. Perasaannya mendadak tidak enak.


"A-apa anda bos besar?" tanya pria bertubuh kurus itu.


"Iya."


"Anda tuan Jay Parker?" tanya pria yang satunya, ia bertubuh agak gendut.


"Iya. Kenapa? Apa kalian pernah melihatku?" Jay yang mengenakan sebuah kaos panjang longgar, menaikkan lengan kaosnya hingga ke siku.


Dua orang di depan Jay saling bertatapan untuk memastikan. Meski salah satu mereka ingin menebak bahwa Jay adalah orang yang ia tikam, tapi ia masih menjaga mulutnya untuk melontarkan tebakan.


"Oh... Kalian tidak ingat?" tanya Jay. Pria itu kemudian berdiri, lalu melepaskan kaos longgar yang semula membalut tubuhnya.


Dua orang pria itu terbelalak mendapati dada Jay yang diperban. Tebakan itu benar, sang bos besar adalah orang yang mereka tikam.


"SAYA MINTA MAAF!" Pria kurus itu tiba-tiba bersujud. Melihat temannya yang bersujud, si pria gemuk pun turut melakukannya.


"SAYA JUGA MINTA MAAF, TUAN!" ucapnya memohon pengampunan.

__ADS_1


Tanpa sepatah kata yang keluar dari bibir, Jay dengan penuh emosi menendang dua pria itu satu per satu.


"Maafkan kami, tuan..."


"Ampuni kami, tuan..."


Tapi Jay tak berhenti. Sebelum dua samsak hidup itu babak belur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sore itu ketika Bibi Kim pulang dari kedainya, ia memutuskan untuk mampir ke rumah Dara.


"Loh, kau sudah pulang?" tanya Bibi Kim pada Dara yang kini hanya berpakaian santai. Wanita itu hanya mengenakan celana pendek dan kaos. Saat ini pun ia juga tengah sibuk mengupas ubi, sedangkan Noah sang putra sedang asyik memainkan mobil-mobilannya.


"Aku tidak kerja hari ini," jawab Dara cuek. Ia masih sibuk dengan ubi di depannya.


"Kenapa tidak kerja? Bukankah kau bilang akan sibuk mengumpulkan berkas dan bukti tuntutan minggu ini?" tanya Bibi Kim lagi.


Dara menghentikan aktifitasnya sesaat, lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.


"Tidak ada yang mengasuh Noah," jawabnya.


"Di mana Jay?"


Mood Dara seketika semakin turun. Ia meletakkan pisaunya di atas wadah dan mencuci ubi-ubi yang sudah ia kupas. Wanita itu kemudian memasukkannya ke dalam lemari makan.


"Dara. Jawab aku. Di mana Jay?"


"Bibi lihat sendiri 'kan. Dia sudah pergi. Lagi pula, apa untungnya dia di sini. Bahkan aku tidak bisa membayarnya."


Bibi Kim melipat kedua tangannya di depan dada, ia mulai mencurigai Dara.


Dara hanya diam, ia sibuk mencuci pisaunya yang kotor karena sisa-sisa tanah di kulit ubi yang ia kupas.


"Kau mengusirnya?" Sekali lagi Bibi Kim bertanya.


Dara yang semula duduk membelakangi Bibi Kim, kini berdiri dan berbalik. Ia seperti keberatan dihujam pertanyaan-pertanyaan itu.


"Aku tidak mengusirnya. Aku hanya bilang dia bisa pergi, jika keberatan denganku."


"Kau mengusirnya?" Bibi Kim menegaskan lagi.


Dara hanya melengos, ia meraih Noah dan menggendongnya tanpa menghiraukan Bibi Kim.


"Teganya kau melakukan itu. Padahal Jay sangat baik, dia bahkan rela mati untukmu," gumam Bibi Kim. Wanita separuh baya itu kemudian berjalan keluar, ia kecewa pada Dara saat ini.


Sementara itu, Dara yang terlihat sibuk menimang-nimang Noah rupanya menitikkan air mata. Ia menyesal sudah berkata seperti itu pada Jay.


Di sela penyesalannya, Dara samar-samar mendengar Bibi Kim bercengkrama dengan seseorang.


"Jay, ke mana saja kau?"


Pria itu tertawa pelan, "Maaf, aku tak sempat berpamitan."


Mendengar itu, Dara segera bergegas keluar untuk melihat siapakah yang datang. Jantungnya berdebar-debar tatkala melihat wajah Jay dengan senyum merekah yang menyambutnya di depan.


"Jay...." Dara bergumam. Tak hanya dia, bahkan Noah mulai kegirangan melihat Jay datang.


"Apa yang kau lakukan seharian ini? Noah merindukanmu," ujar Bibi Kim.


"Maaf... Aku seharian ini berputar-putar untuk mencari pekerjaan," jawab Jay.

__ADS_1


"Kau mendapatkannya?" tanya Bibi Kim.


Jay menggeleng. "Ternyata mereka menolakku karna aku orang Asia," jawab Jay


Memang begitu miris ketimpangan sosial di sini. Perbedaan yang terjadi oleh kedatangan imigran puluhan tahun lalu seolah menjadi konflik intern yang tak akan pernah usai.


"Tak perlu repot mencari pekerjaan. Kau bisa bekerja di kedaiku mulai besok," pinta Bibi Kim.


Jay sangat terkejut saat itu. "Bibi serius?"


Wanitu separuh baya itu mengangguk sambil tersenyum.


"Terima kasih, Bibi Kim." Pria itu semakin sumringah.


"Ya. Tapi aku hanya bisa memberimu gaji kecil. Kedaiku tak pernah ramai."


"Tidak apa-apa. Aku sangat berterima kasih karena Bibi Kim mau memberiku pekerjaan," ucap Jay senang.


Setelah bercengkrama cukup lama, Bibi Kim akhirnya pulang. Tinggalah di sana Jay, Dara dan Noah.


"Jay, maafkan aku." Dara menunduk.


"Kenapa meminta maaf?"


"Karna aku menyuruhmu pergi..."


Jay terdiam. Sebenarnya, ia memang tidak berhak tinggal di sini. Ia hanyalah orang lain.


"Justru aku yang harus meminta maaf karna tidak tahu diri. Seharusnya aku tidak menyia-nyiakan kebaikanmu yang sudah mau menampungku di rumahmu," balas Jay.


"Itu bukan masalah. Selagi kau masih belum menemukan tempat tinggal, kau bisa tinggal di sini terlebih dulu. Ini adalah caraku membalas kebaikanmu," ucap Dara.


Sebuah senyuman manis terukir di wajah Jay. Sebenarnya Jay mulai takut jika Dara mengetahui identitas sesungguhnya sebagai bos perusahaan miras yang sedang dituntut oleh Dara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Siapa dia?"


"Tampan..."


"Uuuu sexy..."


"Dia orang Asia?"


Beberapa perempuan muda mulai berdatangan ke kedai mie milik Bibi Kim. Jay rupanya telah menarik perhatian para perempuan muda itu.


"Sssttt, Jay." Bibi Kim berbisik.


"Ada apa, Bibi Kim?" tanya Jay.


"Jangan tersinggung, ya. Sepertinya merekrutmu adalah keberkahan untukku. Lihat para perempuan muda itu. Mereka ingin melihatmu di kedai ini." Bibi Kim terkekeh.


Jay tersenyum. "Tolong beri aku komisi lebih," guraunya.


Bibi Kim tertawa. Keduanya kini semakin sibuk. Bibi Kim memasak di dapur, sedangkan Jay yang melayani pelanggan.


"Tunggu, sepertinya aku pernah melihatmu..." seru salah seorang pelanggan wanita yang mejanya sedang dilayani oleh Jay.


Saat itu Jay merasa was-was.


Apa dia mengetahui identitasku? Batin Jay.

__ADS_1


__ADS_2