Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Sup Rempah


__ADS_3

Aroma masakan menyeruak dari dapur menggelitik indera penciuman Dara. Wanitu terbangun dari tidur dan merenggangkan otot-ototnya. Ia dapati sang putra masih terlelap memeluk guling kecilnya. Jam juga baru menunjukkan pukul enam pagi.


Karna penasaran, Dara segera bangun untuk memeriksa siapakah yang sedang sibuk di sana. Ketika memasuki ruangan itu, Dara mendapati Bibi Kim yang kini menggunakan celemek di badannya dan sibuk memasak sup.


"Hmmmm... Baunya enak," ujar Dara yang sekaligus menarik perhatian Bibi Kim. Wanita separuh baya itu tersenyum.


"Ada wortel di lemari, jadi aku berinisiatif untuk membuat sup rempah," jawab Bibi Kim.


Dara mendekat pada wanita itu kemudian meraih sendok sup untuk merasakan kuahnya.


"Enak sekali..." Matanya sampai berkaca-kaca.


"Tentu saja enak. Cepat mandi, aku akan mengurus Noah. Setelah itu mari kita makan bersama," pinta Bibi Kim.


Dara melakukan pose hormat pada sang bibi. "Siap, bos!" ucapnya yang kemudian berjalan ke kamar mandi dan meraih handuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini begitu dingin, Pak Chris berinisiatif untuk menyajikan sup untuk sarapan Jay pagi ini. Ia memerintah juru masak untuk membuatkan Jay sup ayam dengan menambahkan bumbu rempah yang kuat. Itu dipercayai bisa menaikkan mood dan menghangatkan tubuh di cuaca seperti ini.


Jay hampir tak bisa tidur tadi malam. Entah mengapa berada di rumahnya sendiri justru membuatnya merasa tak tenang. Ia sebenarnya mengkhawatirkan keadaan Dara dan Noah di Asia Town.


"Tuan Jay." Chris mengetuk pintu kamar Jay.


"Masuk," jawab Jay memberikan ijin. Lelaki separuh bawa yang sudah rapi itu masuk.


"Sarapan anda sudah siap, tuan," ucapnya. Jay hanya mengangguk. Ia beranjak dari ranjangnya dan berjalan keluar menuju ruang makan.


Sesampainya di sana, ia melihat sebuah hidangan sup yang sudah tersaji di atas meja.


"Sup?" Ia bertanya.


"Iya, tuan. Cuaca di luar sangat dingin, sepertinya musim dingin akan segera datang," jawab Chris.


Tak mendekati meja makan, Jay justru berjalan menuju ke jendela besar yang terdapat di ruangan itu. Ia memandangi keadaan di luar. Embun sepertinya sudah memenuhi dedaunan.


"Apa yang mengusik pikiran anda, tuan?" tanya Chris khawatir.


Jay berbalik dan duduk di meja makan untuk mulai menyantap supnya selagi hangat.


"Tidak ada," jawabnya cuek. Pria itu kemudian mulai menyendokkan kuah sup itu ke mulutnya. Rasa kuah dengan rempah yang kuat benar-benar memanjakan lidahnya. Saat ia menyantap makanan enak, tiba-tiba ia teringat pada Dara dan Noah.


Kira-kira hari ini mereka makan apa ya? Tanya Jay dalam hati. Pria itu sepertinya tak bisa berhenti memikirkan 'keluarga' barunya.


"Bagaimana rasanya, tuan?" tanya Chris. Jay meliriknya sekilas kemudian mengangguk-angguk tanda ia bisa menikmati makanan itu dengan baik.

__ADS_1


"Enak. Berikan hadiah pada juru masaknya. Ini mengingatkanku pada Asia Town," jawab Jay.


Mendengar hal itu, Chris langsung tersenyum. "Apa masakan ini mengingatkan anda pada seseorang?"


"Ya... Rempah yang kuat mengingatkanku pada kuah di kedai mie tempat aku bekerja," ujar Jay sembari menikmati makanannya.


"Saya pikir anda mengingat orang lain."


Jay kembali melirik. "Siapa?"


Chris masih tersenyum, sebenarnya ia tak berani menggoda Jay. "Anak laki-laki bernama Noah itu...."


"Kau lucu, mana bisa balita itu memasak sup rempah," potong Jay.


"Ya, benar. Tapi ibunya pasti bisa."


Jay seketika tersedak. Chris segera menuangkan air putih pada gelas kosong dan menyodorkannya pada Jay.


"Pelan-pelan makannya, tuan," ucapnya panik.


Jay kemudian meneguk air putih di dalam gelas itu hingga habis. Setelah berhenti batuk, ia kemudian menatap tajam ke arah Chris.


"Ma-maaf, tuan. Ini gara-gara saya, ya?" Chris menunduk menampakkan raut sesal, meski sebenarnya ia tertawa dalam hati karena sudah berhasil menggoda Jay.


"Chris, aku punya pengakuan," ucap Jay kemudian.


Saat itu Jay kembali berpikir, haruskah ia bercerita pada Chris tentang apa yang sudah terjadi antaranya dan Dara?


"Sebenarnya Bibi Kim hanya memberikanku libur satu hari," jawab Jay setelah mengurungkan pengakuan konyol di kepalanya.


"Jadi bagaimana, tuan?"


"Aku harus kembali ke Asia Town hari ini juga," ujar Jay yang kemudian melanjutkan kegiatan makannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jay hanya diantar oleh Chris sampai ke halte, di mana jalan masuk menuju Asia Town tak jauh dari sana.


"Kapan lagi saya harus menjemput anda?" tanya Chris.


"Tidak perlu dijemput. Aku tidak yakin kapan aku akan kembali." Jay kemudian keluar dari mobil. "Oh ya, terima kasih oleh-olehnya, paman!" goda Jay.


Chris hanya membeku di balik kemudi mobil. Berpura-pura menjadi pamannya Jay membuat Chris merasa canggung.


"Ba-baik, tuan." Ia bahkan sampai terbata-bata.

__ADS_1


Jay kemudian berbalik memasuki kota sambil menggendong tas ransel lusuh berisikan cemilan khas Seattle. Jumlahnya tak banyak, secukupnya saja untuk menyempurnakan penyamaran.


Sesampainya di rumah, ia tak menyangka jika akan disambut oleh Dara dan Bibi Kim. Bahkan Noah juga kegirangan melihat kepulangan Jay.


"Kenapa baru pulang. Bibi sangat mengkhawatirkanmu," ucap Bibi Kim sembari menggiring Jay masuk ke rumah.


"He He... Pamanku tak membiarkanku pulang." Jay berdalih.


"Itu yang ku khawatirkan. Aku pikir kau tak akan kembali ke sini."


"Sepertinya aku harus tetap kembali. Karna kalau tidak, aku akan kehilangan pekerjaan."


Dara yang ada di sana pun hanya dapat tersenyum melihat Jay berbincang akrab dengan Bibi Kim. Sama seperti sang bibi, Dara sebenarnya juga khawatir jika Jay tak akan kembali.


"Kau naik apa tadi?" tanya Bibi Kim.


"Aku naik bus tadi. Terminalnya sangat ramai, aku hampir saja ketinggalan bus," jawab Jay.


"Tadi apa kau sempat berpindah bus?" tanya Bibi Kim lagi. Jay menggeleng.


"Tidak. Dari Seattle aku langsung turun di Asia Town," balas Jay.


"Apa itu bisa? Aku baru tahu kalau dari Seattle bisa langsung ke Asia Town," sahut Dara. Jarak Seattle dan Asia Town yang cukup jauh memungkinkan penumpang bus harus naik bus lain, karena bus di sana hanya beroperasi paling jauh dua puluh kilo meter.


Mendengar perkataan Dara, membuat Jay bingung harus beralasan apa. Seharusnya ia mencari tahu dulu rute bus dari Seattle menuju Asia Town. Bukan malah asal menjawab saja.


"Ah... Aku lapar. Aku tidak sempat sarapan tadi," ujar Jay mengalihkan topik pembicaraan.


"Ayo, makan dulu. Bibi memasak sup rempah spesial hari ini, kau pasti belum pernah makan yang seperti ini 'kan?" Bibi Kim berjalan ke dapur diikuti oleh Jay.


Wanita separuh baya itu kemudian memindahkan sup itu ke sebuah mangkuk. Ia kemudian menyajikannya pada Jay.


"Ini adalah makanan favorit orang menengah ke atas. Mereka biasa membuat sup seperti ini ketika menjelang musim dingin," ucap Bibi Kim.


Jay menyendokkan sup itu ke mulutnya dan menunjukkan eskpresi suka.


"Kau menyukainya? Enak tidak?" tanya Bibi Kim meminta pendapat.


Jay mengangguk-angguk. "Ini enak sekali... Luar biasa!" pujinya. "Oh ya, bi. Aku juga membawakan kalian oleh-oleh dari pamanku di Seattle." Jay mengeluarkan bungkusan cemilan berupa roti kering dan kripik kentang itu dari tasnya.


"Wah... Pamanmu sangat baik. Terima kasih, ya!" ucap Bibi Kim.


Dara yang juga antusias mulai melihat bungkusan itu satu per satu. Pada label nama di cemilan itu bertuliskan nama perusahaan. Dara kemudian menatap Jay dengan raut bingung.


"Makanan ini dari Won Company."

__ADS_1


Bibi Kim dan Jay yang sebelumnya berbincang pun menoleh ke arah Dara. Wanita itu masih menatap Jay dengan penuh tanya.


"Apa kau berasal dari Won Company?" tanya Dara pada Jay. Pria itu terdiam, rencana apa yang akan dia susun setelah ini?


__ADS_2