
Malam itu, Jay dicegah untuk kembali ke Asia Town oleh sang ayah. Ia diajak ke sebuah acara makan malam yang diikuti oleh para konglomerat di sebuah hotel bintang lima.
Pertemuan rutin itu biasa dihadiri oleh puluhan pengusaha sukses yang tersebar di seluruh Amerika. Tak hanya dari kalangan orang asli, orang Asia yang dinyatakan berhasil berbisnis di Amerika pun turut diundang di sana.
Jay ingat waktu kali pertama ia diundang dan justru menyuruh sang ayah untuk mewakilinya karena ia takut tak diperlakukan baik. Selema beberapa kali pertemuan, sang ayah telah mewakilinya. Tapi ia tak bisa membiarkan Jay hanya bersembunyi di balik statusnya sebagai orang Amerika.
Tepatnya tujuh tahun yang lalu, ketika Jay mulai menghadiri pertemuan itu. Seperti yang ia khawatirkan, dirinya memang tak diperlakukan cukup baik. Tak ada yang mau mengobrol dengannya atau hanya sekedar mendekat. Hingga Jay berakhir di sebuah meja yang berada di sudut dan memakan waffle seorang diri.
Tapi, masa-masa itu telah berlalu. Keberadaannya kini sudah diakui. Status Jay sebagai orang Asia pun dikesampingkan. Ini adalah buah dari kesuksesannya sendiri.
Saat ini Jay bersama dengan sang ayah sedang menikmati hidangan salad. Hari ini Jay sedang tak berminat untuk berpesta pora.
Di kepalanya kini hanya memikirkan bagaimana keadaan keluarga barunya di Asia Town. Kedai Bibi Kim hari ini tutup sehingga ia punya banyak waktu untuk mengasuh Noah. Sedangkan Dara seperti biasa harus pergi ke kantor untuk menyusun berkas-berkas tuntutan untuk sidang selanjutnya.
Malam ini mungkin mereka bertiga sudah berkumpul di rumah. Pikiran itulah yang mengganggu Jay, ia sebenarnya tak ingin melewatkan momen-momen itu.
"Jay, apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Bill ketika menyadari bahwa sang putra angkat terlihat sedikit melamun.
"Tidak ada." Jay berbohong. Ia kembali menyendokkan salad sayur itu ke muludnya. Sudah lama ia tak makan makanan mahal seperti ini.
"Aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu," sahut Bill. Ia masih menatap intens pada sang putra.
Jay menghela napas, ia meraih gelas berisikan air putih yang diletakkan di samping saladnya. Pria itu kemudian meneguknya untuk melancarkan jalan makanan ke perutnya.
"Sebenarnya, aku menemukan sesuatu dalam penyeledikanku di Asia Town," ucap Jay. Sang ayah terlihat antusias dengan apa yang akan disampaikan oleh Jay.
"Ada monopoli harga yang sangat merugikan para pekerja di sana," lanjut Jay.
"Apa? Siapa yang melakukan itu?" tanya Bill penasaran. Sebenarnya respon itu sudah diduga oleh kepala Jay. Sekali pun benar sang ayah melakukan monopoli harga, ia pasti akan terkejut dan bersikap seolah tak tahu di hadapan Jay.
"Aku baru akan mencari tahu."
"Kenapa kau bersusah-susah mencari tahu sendiri, kalau kau bisa memerintah Chris atau pegawai yang lain untuk melakukannya?" Bill berpendapat. Raut cemas tergambar jelas di wajahnya.
"Aku tidak akan lega jika tidak mencari tahu sendiri," jawab Jay.
"Apa kau butuh bantuan ayah?" tanya Bill. Jay terdiam untuk sesaat, ia harus menyusun rencana secepat mungkin.
__ADS_1
"Iya," jawab Jay.
"Apa yang harus ayah lakukan?"
"Aku ingin ayah tidak melakukan apa-apa. Hanya diam di tempatmu dan lihat bagaimana caraku bekerja."
Sudut bibir Bill terangkat, ia tersenyum bangga pada sang putra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dara dan Bibi Kim sedang duduk-duduk di teras belakang malam itu. Noah sudah tidur di kamarnya, sedangkan Dara justru tak bisa tidur karena resah menantikan kepulangan Jay. Bibi Kim juga berniat menginap di sana jika Jay tak juga pulang.
"Dara, kira-kira Jay kembali tidak ya?" tanya Bibi Kim.
Dara yang hatinya sedang dipenuhi oleh prasangka buruk tak ingin terpancing. Ia menghela napas untuk menenangkan dirinya.
"Kenapa bibi bertanya begitu?"
"Jay bilang dia sempat bertengkar dengan pamannya. Sebelum ini Jay bekerja dengannya, tapi karna pertengkaran itu Jay memutuskan untuk pergi dan kehilangan pekerjaan. Jika hari ini mereka bertemu dan berbaikan, bukankah mungkin saja Jay memilih untuk kembali pada pamannya?" ujar Bibi Kim.
Dara hanya terdiam, hatinya kini bergejolak. Ia tak mungkin kehilangan Jay hanya dalam waktu semalam 'kan? Ayolah, mereka bahkan sudah semakin dekat dan peristiwa tadi malam adalah puncak dari kedekatan mereka.
Dara agaknya bodoh karna tak mempertimbangkan jika ada kemungkinan buruk yang akan datang. Ia justru terbawa dalam perasaannya hingga membiarkan kejadian panas malam itu terjadi. Dara memang wanita yang bodoh.
"Bibi Kim takut kalau Jay tidak kembali?" tanya Dara. Wanita separuh baya yang duduk di sampingnya mengangguk.
"Kenapa harus takut. Seharusnya bibi bahagia karena Jay bisa kembali pada keluarganya," jawab Dara.
Bibi Kim menghela napas panjang seolah lelah. "Seperti baru kemarin kita bertemu dengan Jay." Ia tertawa pelan. "Pria itu seperti kucing yang kehilangan induknya."
"Bibi tak ingat saat menentangku untuk membiarkan Jay tinggal di sini? Sekarang bibi justru takut jika Jay tidak kembali ke sini."
"Iya aku ingat. Sebenarnya dulu aku takut jika itu hanya akal-akalanmu saja untuk memasukkan laki-laki ke rumahmu..."
"Astaga..." Dara melirik sinis. "Bibi pikir aku wanita macam apa?"
"Haha... Aku tadinya berpikir kalau Jay adalah kekasih gelapmu." Bibi Kim tertawa. Wajah Dara seketika memerah.
__ADS_1
"Itu sangat ngawur... Aku bahkan tak pernah punya kekasih gelap. Lagi pula aku sudah jadi janda, jadi aku bebas," balas Dara mengejek Bibi Kim dengan gesturnya.
"Ya... Aku tahu itu. Ngomong-ngomong, apa kau menyukai Jay?" tanya Bibi Kim yang langsung saja membuat Dara mati kutu.
"A-apa yang bibi bicarakan....itu...Aaaahhh, jangan bahas." Dara terbata, ia mulai salah tingkah.
"Sejujurnya, aku akan senang jika kau menjalin hubungan dengan Jay," ucap wanita separuh baya itu. "Aku kesal melihat Jay digoda oleh pelanggan wanita!" lanjutnya sebal.
Mendengar Jay sering digoda oleh pelanggan wanita di kedai, membuat Dara merasa cemburu. Ia tak rela jika ada wanita yang melirik Jay di belakangnya.
"Sudah malam, bagaimana kalau kita tidur saja. Dari pada pembicaraan kita semakin melantur," ucap Dara. Wanita itu kemudian beranjak dari tempatnya dan masuk, diikuti oleh Bibi Kim.
"Kau benar. Kita tidur saja, Jay mungkin akan sampai di sini besok," jawab Bibi Kim.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Halo, Tuan Bill Parker. Aku sudah berjaga di pintu masuk Asia Town. Tuan Jay Parker belum terlihat lewat di sini." Seorang pria misterius kini tengah menelpon di wartel. Ia masih celingukan untuk mengintai keadaan di sana.
"Sepertinya Jay pulang ke rumahnya. Tetap di sana dan laporkan sesuatu jika kau melihat Jay kembali ke sana."
"Baik, tuan."
"Oh ya.... Satu lagi. Tolong selidiki Pengacara Alexandra Meggie!"
Pria itu menjawab patuh.
Dari kejauhan rupanya Jay menemukan pengintai itu. Ia memandang lurus ke arah pria suruhan sang ayah dari dalam mobilnya. Tentunya ia menggunakan mobil lain agar tak dikenali oleh pengintai itu.
"Bagaimana, tuan? Apa anda akan kembali ke sana sekarang?" tanya Chris yang duduk di belakang setir mobil.
"Tidak," jawab Jay datar.
"Bagaimana jika orang itu berniat mencelakai Nona Alexandra?"
"Tenang saja. Dia hanya akan mengawasi," ucap Jay sambil menaikkan sudut bibirnya. Senyuman sinis terukir di wajahnya.
"Jika anda mengijinkan, saya akan mengirim orang untuk ikut mengintai juga. Jadi jika sewaktu-waktu pengintai itu berniat mencelakai Nona Alexandra, maka orang saya yang akan mengurusnya."
__ADS_1
Jay merebahkan punggungnya pada bangku mobilnya. "Ide yang bagus," jawabnya setuju.