
Jay terbangun dari tidur singkatnya, Dara saat ini tengah menatapnya seolah ada pertanyaan yang akan ia katakan.
"Ada apa?" tanya Jay.
"Tidak apa-apa." Wanita itu menyentuh pipi Jay yang lebam, ujung bibir pria itu juga terluka. "Apa yang terjadi padamu?" tanyanya.
"Ah...biasa." Jay terkekeh.
"Kau berkelahi?" tanya Dara, Jay mengangguk membenarkan. Meski secara harfiah ia tak benar-benar berkelahi melainkan dipukuli.
"Kenapa berkelahi?" tanya Dara lagi.
"Ya....biasa. Kau tahu 'kan, banyak orang yang sensitif pada imigran Asia," jawab Jay. Itulah kesehariannya jika berada di sekitar orang Asia Town, menjadi pengarang bebas namun kurang handal.
"Lain kali hindari saja mereka. Kau tak perlu membuang tenagamu," ucap Dara memberi nasehat.
Jay mengangguk sambil tersenyum, ia tak akan menyalahkan Dara yang sedang mengkhawatirkannya. Mereka adalah suami-istri, sudah sewajarnya jika saling mengkhawatirkan.
"Kau lapar?" tanya Jay.
Dara menunduk, perutnya memang belum terisi sejak kemarin.
"Aku akan membelikanmu makanan." Jay beranjak, namun Dara menahan lengan pria itu.
"Bagaimana dengan uangnya? Bukankah kau baru saja membayar biaya pengobatan Noah. Biaya itu tidak sedikit, Jay..."
"Tenang saja, masih ada uang tersisa untuk membeli makanan," jawab Jay sambil tersenyum.
"Sebenarnya dari mana kau dapatkan uang itu, Jay?" tanya Dara.
Ah, lagi-lagi Jay harus memutar otak untuk menjawab pertanyaan semacam itu.
"I-itu...mmmm... Pamanku!" jawab Jay. Di kepalanya hanya bisa memikirkan jawaban itu.
"Pamanmu yang meminjamkan uangnya?" tanya Dara.
Jay mengangguk. "Iya. Uang itu adalah tabungan pensiunnya."
Ingin rasanya Jay merutuki dirinya sendiri. Ia tak pandai berbohong, tapi semoga saja Dara percaya.
"Bagaimana cara kita mengembalikannya?"
"Tenang saja, itu adalah urusanku."
"Jay..." Dara masih tak mau melepaskan tangan Jay. "Terima kasih sudah berjuang untuk Noah."
Jay menggenggam tangan Dara. "Apa kau lupa kalau aku adalah suamimu? Ini adalah kewajibanku, kau bahkan tak perlu berterima kasih."
__ADS_1
Dara menitikkan air matanya, ia mengangguk. Jay kemudian beranjak keluar dari rumah sakit untuk membeli makanan.
Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Jay mampir ke sebuah tempat telepon umum. Ia akan memberikan tugas pada Chris.
"Hallo, ini Jay Parker. Chris, aku punya tugas untukmu. Tolong selidiki apa penyebab kebakaran besar yang terjadi di pemukiman Asia Town!" pinta Jay.
Chris yang diberi tugas pun patuh. Jay kemudian segera menutup telepon dan bergegas membeli makanan.
Ketika kembali di rumah sakit, Jay disuguhkan oleh pemandangan yang tak ia inginkan. Beberapa jajaran dokter dan perawat tengah berdiri di depan ruang rawat Noah, sementara di sana juga ada seorang perawat yang sedang menenangkan Dara yang saat itu sedang menangis.
"Dara, apa yang terjadi?" tanya Jay setelah berlari menghampiri orang-orang itu.
Wanitanya tak dapat menjawab, menghentikan tangisnya sana sudah susah. Ia tak bisa berkata-kata saat ini.
"Pasien balita yang dirawat di ruangan ini meninggal dunia," ucap salah satu dokter pada Jay.
Seketika runtuh sudah dunia Jay. Plastik berisi makanan yang ada digenggamannya jatuh, seketika jari-jari Jay mulai melemas.
Matanya mulai memerah, bulir-bulir air mata mulai menggenang. Pria itu kemudian meraih tubuh Dara dan membawanya ke dalam dekapan.
Jay bahkan tak mampu menangis meski ia begitu ingin melakukannya. Ia harus terlihat kuat di depan Dara yang saat ini merasa hancur karena ditinggal oleh sang putra.
Pelan-pelan, Jay menepuk-nepuk punggung Dara dan membiarkan wanita menangis sejadinya. Dunia terasa sunyi seketika. Tak ada satu pun suara yang mampu menembus pendengaran Jay, hanya tangisan Dara saja yang memenuhi kepalanya saat ini.
'Ya Tuhan, kenapa ini semua terjadi pada kami?' Batin Jay.
Jay melihat sendiri peti sang ayah ditelan oleh tanah, ia tak bisa menghentikan tangisannya saat itu. Di sampingnya ada sang ibu yang menggandeng tangan Jay dengan erat. Wanita itu sama sekali tak menangis, sama seperti Jay saat ini.
Dulu Jay sempat berpikir apakah sang ibu tak bersedih ketika ayah Jay meninggal, tapi kini ia tahu apa alasan dari ibunya yang tak menangis waktu itu. Ia hanya berusaha menguatkan Jay. Begitu pun Jay yang saat ini berusaha menguatkan Dara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebuah peti berukuran kecil dibawa oleh kedua tangan Jay. Pria itu sendiri yang akan mengantarkan Noah ke liang lahatnya.
Jajaran pelayat dengan pakaian serba hitam menangisi kepergian satu-satunya korban meninggal dalam peristiwa kebakaran besar itu.
Bibi Kim bersama dengan Dara terlihat meratapi kepergian Noah untuk selamanya. Mereka bahkan masih menangis saat ini.
Jay meletakkan peti itu ke dalam liang lahat. Setelahnya liang itu ditutup dengan tanah hingga menghilang dari pandangan Jay.
'Selamat tinggal, putraku!' batin Jay.
Semua kenangan yang telah dilewatinya bersama Noah kini terputar di dalam kepalanya layaknya adegan kilas balik. Di hari ini setelah sekian lama, luka Jay yang telah tertutup, kini kembali terbuka. Ia merasakan luka yang sama ketika ia kehilangan kedua orang tuanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jay kembali ke Seattle dan menyuruh Chris untuk menjemputnya. Di perjalanan Chris menunjukkan sebuah penemuan di lokasi kejadian kebakaran.
__ADS_1
Seorang pria katanya pergi ke lokasi kebakaran untuk mengambil barang bukti yang tertinggal.
Saat itu, orang suruhan Chris sempat memotret kehadiran pria-pria misterius itu.
Barang yang tertinggal di lokasi adalah sebuah korek dan beberapa derigen bahan bakar yang dibeli dari stasiun pengisian ulang.
Ketika melihat potret itu, Jay merasa tak asing dengan beberapa pria berbadan besar yang tertangkap di dalam foto.
"Orang-orang ini sepertinya adalah bodyguard ayahku," gumam Jay.
"Apa anda yakin, tuan? Mengapa tuan Bill melakukan tindakan itu?" Chris ikut penasaran.
"Hanya aku yang tahu alasannya. Sekarang, antar aku ke rumah ayahku!" pinta Jay.
"Baik, tuan." Chris mengangguk patuh.
Mereka melaju kencang menembus jalanan Seattle yang cukup ramai. Sesampainya di rumah Bill, Jay segera mencari keberadaan sang ayah.
Laki-laki separuh baya itu rupanya berada di halaman belakang dan berdiri di depan kolam renang.
Salah satu tangannya membawa satu plastik makanan ikan, sesekali Bill menaburkan itu ke dalam kolam.
Begitu melihat kedatangan Jay, Bill pun tersenyum. Ia menyambut kedatangan sang putra dengan sangat ramah.
"Lihat, Jay! Ayah sedang memberi makan ikan-ikanmu, kau senang 'kan?" ujarnya.
Jay yang baru saja sampai di depan Bill segera menampik plastik makanan ikan itu hingga semuanya terjatuh ke dalam kolam.
Bill menghembuskan napas kesal. "Ya, ikan-ikan itu akan benar-benar berpesta," ujarnya sembari meratapi seluruh makanan ikan yang tercebur ke dalam kolam.
"Apa ayah bisa jelaskan ini?!" tanya Jay, meninggikan nada bicaranya.
Ia menunjukkan foto yang diperolehnya dari Chris pada Bill.
"Jadi, mereka ketahuan?" Bill merespon datar.
"Apa? Jadi itu semua benar, ayah yang melakukan ini?" tanya Jay. Ia merasa sangat kecewa pada Bill.
"Kau pikir aku main-main?" Bill tersenyum. "Kau hanya tinggal menurut saja padaku, maka semua akan baik-baik saja," lanjutnya.
"Aku bukan anak kecil yang bisa selalu kau atur seumur hidup," balas Jay.
"Berapa pun usiamu, kau tetaplah putraku Jay. Ayah berhak mengaturmu seumur hidup," ucap Bill.
Jay merasa berdebat dengan Bill adalah suatu hal yang percuma. Ia memilih berbalik dan pergi, tapi sebuah ancaman kembali terucap dari mulut Bill.
"Teruskan saja, masih ada banyak kejutan-kejutan kecil untukmu," ucap Bill.
__ADS_1
Sementara Jay hanya pergi tanpa mau menghiraukan ancaman itu.