
Apa itu percaya?
"Chris, apa itu percaya?" Jay bertanya ketika ia sedang duduk di dalam bus bersama Chris. Mereka akan kembali ke Seattle bersama.
Mata pria itu tak lepas dari jendela, menatap hamparan langit yang luas. Rasa bersalah semakin pekat menyelimuti hatinya. Semua yang terjadi padanya sudah terlanjur, tak bisa dibenahi apalagi diulang.
Jay mungkin tak menyangka bahwa ia akan berada dalam hubungan yang sejauh ini bersama Dara. Ia pikir semuanya bisa ia kendalikan. Nyatanya ia hanya makin memperburuk keadaan.
"Apa anda sedang bertanya tentang hal yang berkaitan dengan ketuhanan?" tanya Chris, mengingat akhir-akhir ini Jay menjadi sosok yang cukup religius karna selalu membicarakan Tuhan.
"Entahlah... Aku hanya bingung, apakah orang sepertiku layak untuk dipercaya?" tanya Jay lagi.
Saat itu Chris tersadar bahwa Jay mungkin sedang membicarakan hubungannya dengan Dara. Chris tak dapat berkata-kata, ia tak bisa menjawab pertanyaan itu.
"Aku lelah harus berbohong setiap hari," ucap Jay lirih. Raut muram tergambar jelas di wajahnya, ia masih tak bisa melepaskan pandangannya dari langit yang nampak cerah hari ini.
"Anda tidak sengaja melakukannya," balas Chris. Jay juga berpikir bahwa Chris tak akan pernah menyalahkannya. Tapi bagaimana pun juga, Jay tahu ia yang paling bersalah saat ini.
"Andai saja dari awal aku tidak berbohong," ucap Jay. Ia mulai memikirkan apa yang akan terjadi saat ini jika ia tak pernah berbohong pada Dara.
"Tapi jika aku tidak berbohong mungkin aku tak akan berakhir menikah dengan Dara," lanjut Jay.
Chris menunduk, ia dengar perkataan Jay sedikit bergetar. Selama ia bekerja dengan Jay, ia tak pernah melihat pria itu begitu sedih seperti hari ini.
"Apa yang membuat anda yakin dan memutuskan untuk menikahi nona Alexandra Meggie?" tanya Chris. Bahkan sebelumnya Jay mampu menyembunyikan ini dari Chris.
"Dia sudah hamil..." Jay tertawa pelan, meski begitu Chris dapat mendengar kegetiran dari tawa Jay.
"Saya tahu, bukan hanya itu alasan anda menikahinya."
__ADS_1
Jay menoleh pada lelaki yang lebih dekat dengannya dibanding sang ayah. Benar, Chris lah yang paling mengerti Jay selama ini. Jika Jay membutuhkan suatu dukungan moril, ia akan lari pada Chris bukan Bill.
"Itu karna dia...mau menerimaku apa adanya. Yang dia tahu, Jay adalah seorang pecundang tuna wisma yang mengemis tempat tinggal padanya. Dia juga mau menerima Jay yang hanya bekerja di sebuah kedai mie kecil, bahkan aku cuma mempunyai penghasilan yang tidak seberapa. Dia mau mencintai versi terburuk dariku... Apa itu bisa ku jadikan alasan kuat mengapa aku memilih untuk menikahinya?" jawab Jay.
Chris memahami bagaimana perasaan Jay saat ini. Dari sosok yang semula takut kehilangan bisnisnya karna sebuah kasus, menjadi sosok yang takut kehilangan orang yang dicintai.
"Aku bahkan tak mampu membelikannya cincin. Tapi dia masih mau menikah denganku," lanjut Jay. Ia mungkin terlalu mendalami karakternya di sini.
Chris bahkan tak percaya akan perubahan Jay yang terjadi secepat ini. Sosok yang sangat mencintai perhiasan dan suka bersaing dengan orang untuk mengenakan pakaian terbaik kini berubah menjadi sosok sederhana yang mau memakai pakaian seadanya. Jay memang berubah karna keadaan, tapi keadaan itu dia yang menciptakannya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kenapa kau masih diam saja? Apa kau mau terus-terusan dibohongi olehnya?" Bibi Kim marah ketika Dara menceritakan fakta yang ia dapatkan dari Betrice.
Wanita separuh baya itu memijat pelipisnya. Baru saja ia bersiap akan membuka kedai mie-nya, tapi sepertinya itu harus diundur karena mood-nya sedang buruk saat ini.
"Bisa-bisanya dia menipu kita selama ini," ucapnya kesal.
"Mintai cerai saja! Kau tidak pantas bersama dengan b*jingan itu!" seru bibi Kim.
Mendengar hal itu tercetus dari mulut bibi Kim, membuat Dara merasakan dadanya semakin sesak. Ia tak bisa menahan tangisannya lagi.
"Tidak bisa..." Tangisannya pecah. Saat itu juga bibi Kim merasa khawatir, ia mendekati Dara dan memeluknya.
Ia biarkan Dara menangis sejadinya, tanpa melemparkan satu pun desakan yang sudah akan ia keluarkan.
Ya, tak mudah bagi Dara berpisah dengan Jay. Di pernikahan pertama, Dara memang sudah ditipu janji manis oleh suaminya yang bahkan tak mampu bekerja.
Hal itu lah membuat Dara merasa minder jika ada laki-laki mapan yang mendekatinya. Suami pertamanya memang nampak seperti orang mapan di pertemuan pertama, tak heran jika Dara mungkin trauma bertemu dengan orang seperti itu.
__ADS_1
Ketika berjumpa dengan Jay, ia merasa pria itu begitu tulus dan murni. Sosoknya yang sederhana dan apa adanya-lah yang membuat Dara jatuh cinta. Setidaknya Dara tak akan berekspetasi lebih soal masalah finansial pada Jay.
Ia senang bisa hidup sederhana bersama Jay dan putranya Noah. Dara pikir semuanya akan berjalan seperti apa yang dipikirkan di dalam kepalanya.
Tapi nyatanya ia kembali tenggelam dalam ekspetasinya sendiri. Meski tak berharap yang indah dan muluk-muluk bersama Jay, nyatanya Dara kembali dikecewakan.
"Aku paham bagaimana perasaanmu, Dara. Kumohon jangan menangis," pinta bibi Kim. Ia juga merasa sakit melihat Dara yang terluka.
"Baiklah...setidaknya dia tidak mendua. Dia pasti punya alasan kenapa harus berbohong," ucap bibi Kim menenangkan Dara.
Ya, benar. Setidaknya Jay tidak mendua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sebuah cincin dilingkarkan di jari manis Archi. Seluruh orang yang ada di ruangan itu bertepuk tangan seolah ikut bahagia atas pertunangan yang baru saja diselenggarakan oleh Bill Parker.
Jay Parker dan Archi Kim sudah resmi mengikat hubungan pertunangan secara simbolis. Cincin dengan batu pertama zamrud mungil yang indah itu begitu cocok dengan jari jenjang Archi.
Gadis itu tersenyum lebar menatap sang tunangan di depannya, meski pria itu hanya berekspresi datar. Tak ada sedikit pun senyum di wajahnya yang otomatis menimbulkan desas desus dari para tamu yang diundang di acara itu. Tak ingin menimbulkan rumor buruk, Bill Parker akhirnya meluruskan hal itu.
"Akhir-akhir ini ada banyak hal yang Jay lakukan. Sebagai pemilik Won Company, dia sangat sibuk mengurus bisnisnya. Apalagi di akhir tahun ini dia juga berencana membangun pabrik di LA. Jadi, aku harap para tamu memaklumi itu," ucap Bill, mengacu pada sikap dingin tanpa antusias yang digambarkan oleh Jay.
Jay tersenyum sinis. Ia tak mau berkomentar apa pun. Pria itu lalu memutuskan untuk ke teras belakang dan duduk di tepi kolam renang, di mana ikan-ikan koi-nya ada dirawat di sana.
"Kalian menungguku?" tanya Jay, ia mengambil makanan ikan yang diambil dari ruang belakang lalu menaburkannya ke dalam kolam.
"Sepertinya lebih menyenangkan mengobrol dengan ikan daripada dengan orang-orang palsu di dalam," gumam Jay.
Sebuah senyum kini terukir di wajahnya. Melihat ikan-ikannya yang antusias menyahut makanan yang ditaburnya terasa menggembirakan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...