
Apa yang terjadi?
Jay terdiam memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan itu. Bibi Kim meninggalkan tempat itu begitu saja tanpa berkata apa pun.
Jay tahu pasti alasan mengapa Bibi Kim sangat marah padanya karena ia tiba-tiba pergi tanpa memberi kabar. Jay mungkin telah disalahi karena diusik privasinya, tapi lari dan pergi seperti pecundang adalah kesalahannya juga.
"Aku pasti juga sangat marah padaku," ucap Jay lirih. Dara melengos, air mukanya berubah. Ia bersikap seolah-olah tak sanggup atau bahkan tak bisa melihat Jay lagi seumur hidup.
"Masuklah, kita bicarakan di dalam," jawab Dara. Wanita itu masuk mendahului Jay. Ia ajak pria itu duduk di dapur dan menuangkan segelas air untuknya.
Tangan Dara mulai gemetar meraih sebuah amplop berwarna putih yang ada di laci meja dapur. Ia menyodorkannya pada Jay, biar saja pria itu yang membacanya sendiri. Dara tak ingin kehabisan energi untuk menyampaikannya.
Jay membuka amplop itu. Di dalamnya terdapat sebuah kertas keterangan dari rumah sakir. Kedua pupil matanya membesar, ia menoleh ke arah Dara dengan raut tak percaya.
"Jadi kau..."
Belum sempat Jay melengkapi kalimatnya, Dara justru mulai menangis. Pria itu mencoba menenangkannya. Ia mengusap punggung Dara dan menepuk-nepuknya perlahan.
"Kenapa menangis? Apa kau tidak senang?" tanya Jay.
Dara menoleh lalu buru-buru menyeka air matanya yang keluar. "Apa maksudmu?"
"Seharusnya kau senang mengetahui ini," ucap Jay lagi.
"Bagaimana denganmu? Apa kau senang?" tanya Dara balik. Raut muram di wajah Jay seolah sudah menggambarkan apa jawaban darinya.
Pria itu mengubah raut muram itu. Sebuah senyum merekah di wajah tampannya. "Ya. Aku senang," jawab Jay.
"Aku memang mempunyai cita-cita memiliki keluarga kecil yang bahagia," lanjut Jay.
__ADS_1
Dara hanya terdiam membisu dengan raut bingung yang begitu pekat di wajahnya. Kedua tangan Jay meraih tangan Dara dan menggenggamnya erat. Ia pandang wajah wanita di depannya dengan tatapan dalam.
"Kapan kita menikah? Apa hari ini bisa?" tanya Jay yang spontan saja disambut oleh reflek tawa kecil dari bibir Dara.
"Kenapa? Apa aku lucu?" Jay pun turut tertawa.
"Jangan bercanda. Menikah tidak bisa secepat itu dilakukan," jawab Dara.
"Kenapa tidak? Memangnya persiapan apa yang harus kita lakukan?" Wajar saja Jay bertanya, dia belum pernah menikah.
"Pertama-tama kita harus meminta persetujuan dari keluarga kita."
"Baiklah, aku akan telepon pamanku sekarang," sahut Jay.
Bersamaan dengan itu, Dara malah mendadak ragu. Sebenarnya apa makna pernikahan di mata Jay?
"Kau sepertinya tidak serius," ucap Dara lirih.
"Jay...."
"Lakukan secepat mungkin. Aku tidak ingin kau menanggung aib karna perbuatanku," ucap Jay. Ia mengerti bagaimana kultur Asia, oleh sebab itu ia tak akan membiarkan hidup Dara semakin hancur karenanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam itu juga, Jay meminta ijin pada Dara untuk menelpon sang paman. Karena masih khawatir Jay akan meninggalkannya, Dara pun memutuskan untuk ikut Jay ke tempat telepon umum.
"Kau tunggu di sini dulu, ya!" pinta Jay. Dara menahan lengan pria itu agar tak menjauh darinya.
"Aku ikut," ucap Dara. Jay mungkin agak keberatan dengan hal itu, tapi akhirnya ia menyetujui permintaan Dara.
__ADS_1
"Pamanku tidak fasih berbahasa inggris, jadi aku akan menggunakan bahasa sehari-hari kami," ucap Jay meminta agar Dara memahaminya.
"Iya, tidak apa-apa. Mungkin sedikit-sedikit aku paham dengan bahasa Asia," balas Dara.
Saat itu Jay merasa ketar-ketir, untuk mencari aman akhirnya ia bertanya. "Wah, berapa bahasa yang kau kuasai?"
"Hanya tiga. Inggris, Korea dan tagalog."
Jay mengangguk-angguk, sembari berpikir bahasa apa yang akan ia gunakan.
"Pamanku biasanya menggunakan bahasa Spanyol," jawab Jay.
"Oh begitu." Dara cukup asing dengan bahasa Spanyol, ia hanya tinggal di kawasan Asia Town selama ini. Di mana ada banyak percampuran bahsa di sana. Tapi kebanyakan dari mereka berbahasa Korea dan China.
Jay mulai menyambungkan telepon. Begitu telepon itu diangkat. Jay langsung berbicara.
"Hallo, paman. Ini Jay," kalimat itu yang terdengar pertama kali dari bibir Jay.
"Tengo un problema aquí. Tal vez no estaré en casa por unos días." Jay menatap Dara sambil tersenyum. Wanita itu membalas senyuman Jay, ia mungkin berpikir bahwa Jay benar-benar mengabari orang yang disebutnya paman itu.
"Pero no te preocupes, lo resolveré yo mismo. No hace falta que mandes gente, yo te llamo y te pido que me recojas para ir a casa," lanjut Jay.
Dara kembali tersenyum setelah Jay menutup teleponnya.
"Apa kata pamanmu?" tanya Dara dengan polosnya.
Jay tersenyum. "Dia merestui kita. Tapi..."
Dahi Dara mengernyit. Kenapa masih ada tapi?
__ADS_1
"Pamanku tidak bisa datang ke upacara pemberkatan. Itu karna dia masih harus menyelesaikan masalah dengan perusahaan Won Company." Jay beralasan.
Dara seolah dapat memaklumi itu, lagi pula ia tak bisa memaksa keluarga untuk datang. Pria itu juga sebatang kara sepertinya.