
Saat Archi membuka matanya, ia melihat Jay yang masih terlelap di sampingnya. Gadis itu tersenyum, dibelainya pipi Jay dengan lembut.
Debaran jantungnya memberontak, rasa bahagia spontan menyerang. Hari ini untuk kali pertamanya, Archi merasa Jay begitu mempedulikannya. Bahkan mereka telah melewati malam bersama—secara harfiah.
Jay membuka matanya ketika ia merasakan sentuhan Archi. Tapi, sebenarnya Jay masih bergulat di dalam mimpi.
Pikirannya terbang jauh ke Asia Town, tepatnya di dalam sebuah hunian kecil sederhana.
Pagi berisik akan aktifitas tetangga, membuatnya yakin bahwa dirinya telah kembali ke pelukan Dara. Ya, meski sebenarnya ia masih terjebak di dalam mimpi. Karna kenyataannya, Jay masih berada di Paris bersama Archi.
Archi tersenyum tatkala Jay menatapnya tajam, pria itu kembali memejamkan mata. Tangannya menyentuh tangan Archi yang masih bergerilya di pipi seolah tak mengijinkan gadis itu melepasnya.
"Pagi, Dara." Jay melenguh.
Senyuman Archi pudar seketika. Jay tak sedang mabuk, ia hanya dibutakan oleh ilusi pagi.
Sedangkan Archi hanya terdiam dengan hati yang hancur berkeping-keping. Ia baru pertama ini mendengar Jay menyebutkan nama seorang wanita.
Apa dia lah wanita beruntung yang mampu menaklukan hati Jay? Archi bertanya-tanya dalam hati.
Tanpa ia perkirakan, tangan Jay meraih tubuhnya dan menggiringnya ke dalam dekapan yang erat.
Jantung Archi kembali berdebar-debar, sungguh hal luar biasa yang harus ia rasakan ketika hatinya juga tengah remuk.
Gadis itu pun tak peduli, ia menggeliat di pelukan Jay dan balas memeluknya. Ya, inilah yang sejak lama ia inginkan. Tak apa meski Jay berpikir bahwa Archi adalah gadis lain, setidaknya ia bisa merasakan kasih sayang Jay meski hanya sesaat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di Seattle, Bill mulai mengulik tentang apa yang sebenarnya Jay lakukan di Asia Town.
Bahkan ketika kasus itu dianggap sudah selesai, sang putra masih kembali ke sana secara diam-diam.
__ADS_1
"Apa kira-kira Jay mempunya hubungan dengan pengacara itu?" tanya Bill pada Chris.
Laki-laki separuh baya itu saat ini berada di rumah Jay.
"Mohon maaf, tuan Bill. Saya tidak tahu menahu soal itu," jawab Chris.
Sebenarnya Chris pun penasaran, tapi sepandai-pandainya ia memancing Jay untuk membicarakan itu ia selalu gagal.
"Kurasa mereka mempunyai hubungan spesial." Bill menunjukkan sebuah foto yang pernah diambil oleh orang suruhannya.
Chris meraih foto itu, Jay dan Dara terlihat sedang berciuman di sana. Meski sering menggoda Jay dan mengaitkannya dengan Dara, Chris tak pernah berpikir bahwa hal itu akan menjadi nyata.
Lelaki separuh baya itu hanya dapat diam, ia tak bisa berkata apa-apa ketika melihat foto yang ada di luar ekspetasinya itu.
Satu hal lagi yang membuatnya bertanya-tanya adalah mengapa Jay sering mengirimkan uang melalui wesel ke sana?
"Kau terlihat terkejut, sepertinya kau tak benar-benar dekat dengan Jay. Kau bahkan tak tahu dengan siapa tuanmu sedang menjalin hubungan." Bill meraih kembali foto yang ada di tangan Chris.
"Ya, aku mengerti betul apa tugasmu di sini. Masalahnya aku sangat khawatir jika Jay menjalin hubungan dengan janda beranak satu itu, karna kau harus tahu bahwa aku ingin menjodohkan Jay dengan Archi," jelas Bill.
Ya, mengenai ini Chris sudah tahu. Inilah juga yang membuat Jay merasa resah sepanjang hidupnya.
"Kau tidak terlihat terkejut soal ini. Apa Jay sudah memberi tahu?" tanya Bill.
"Tuan Jay juga tidak memberi tahu saya soal ini. Alasan saya tidak terkejut karena saat ini tuan Jay sedang berada di Paris bersama nona Archi, jadi saya sudah menebak-nebak sebelumnya," jawab Chris. Ia tak boleh salah bicara.
Bill mengangguk-angguk paham. "Benar, kau cukup pandai menebak. Sekarang coba tebak kemungkinan atas pernyataanku ini...."
Chris menahan napas sejenak, ia penasaran dengan apa yang akan dinyatakan oleh Bill.
"...mengapa Jay mengirim uang melalui wesel untuk Alexandra Meggie?" tanya Bill.
__ADS_1
Chris kembali terkejut, bukan masalah fakta Jay mengirim uang. Tapi tentang bagaimana Bill bisa mengetahui hal itu.
"Bagaimana anda tahu?" tanya Chris terbata. Ia gugup, gemetar dan takut jika tak bisa menjawab pertanyaan dari Bill. Jay tak pernah berpesan padanya untuk mengatasi ini.
"Bagaimana aku tahu? Ohhh... Baik, jadi kau pun sudah tahu soal ini?" Bill balik bertanya.
"Bu-bukan itu, tuan. Maksud saya, bagaimana anda yakin bahwa tuan Jay benar-benar mengirim uang untuk nona Alexandra Meggie?"
Bill berdecak kesal. "Aku menyuruhmu untuk menebak, bukan mempertanyakan bagaimana cara aku memperoleh informasi itu!"
"Itu..."
"Katakan!" desak Bill.
"Mungkin untuk membalas budi," lanjut Chris.
"Balas budi? Apa yang dilakukan jal*ng itu hingga Jay harus membalas budi?"
"Mungkin karna selama di Asia Town, tuan Jay tinggal di rumahnya." Chris mencoba realistis.
"Lalu bagaimana dengan foto itu? Cepat tebak!" pinta Bill lagi.
Chris bingung, foto itu tidak bisa dielakkan lagi. "Mungkin, tuan Jay memiliki hubungan dengannya."
"Nah... Itulah jawaban yang kutunggu darimu sejak tadi." Bill tertawa puas.
"Bisa kau pisahkan mereka?" tanya Bill.
"Maaf, tuan?"
"Aku hanya memberimu tugas sederhana. Pisahkan mereka, itu saja."
__ADS_1
Chris menelan salivanya. Ia tak bisa menentang Jay dan berbalik ke kubu Bill Parker. Jay sudah sangat mempercayai Chris, jika Chris melakukan itu ia akan sangat mengecewakan Jay.