
Dara hanya dapat pasrah ketika persidangan yang seharusnya dilakukan hari ini ditunda oleh hakim. Pihak tergugat meminta waktu untuk mereka mengumpulkan bukti-bukti pembelaan yang digunakan melawan pihak penggugat.
Wajah letih dari para pekerja yang menempuh perjalan jauh dengan truk seolah mengiris hati Dara. Ia justru harus kembali dari ruang persidangan dengan tangan hampa.
Harusnya sebelum ditunda, pihak pengadilan biasanya menghubungi pengacara terlebih dahulu. Tapi ini semua kesannya sangat mendadak. Seolah-olah ada pihak yang sengaja melakukannya.
"Bagaimana, nona Alexandra?" tanya salah satu pekerja. Dengan berat hati akhirnya Dara menjawab.
"Maaf..." Ia menunduk tak ingin menunjukkan raut sesalnya. "Persidangan hari ini harus ditunda," lanjutnya.
Untuk beberapa detik audien di depannya tak merespon. Tapi beberapa saat kemudian sebuah kalimat protes dilontarkan oleh salah satu dari mereka.
"Kau bercanda? Kami jauh-jauh datang ke sini dengan menaiki truk hanya untuk mendengar bahwa persidangan ditunda? Kami menghabiskan ongkos yang tak sedikit untuk datang kemari."
"Maafkan aku. Aku tak menerima kabar dari pihak pengadilan sebelumnya. Jadi, aku sama kagetnya dengan kalian," ucap Dara.
Raut-raut kecewa di depan mata Dara membuatnya merasa bersedih. Mereka sudah menaruh harapan lebih pada Dara.
"Aku akan menghubungi kalian lagi jika sudah ada kabar dari pengadilan," ucap Dara lagi.
"Apa kau tahu kapan kira-kira persidangan selanjutnya akan dilakukan?" tanya mereka.
"Aku masih belum tahu. Tapi, aku akan mencoba mengusahakannya secepat mungkin. Aku akan mendesak pengadilan untuk memberikan peringatan pada pihak tergugat agar tidak mengulur waktu," jawab Dara meyakinkan orang-orang di depannya.
Mereka terlihat menghela napas seolah tak sabar jika harus menunggu lagi.
"Begini nona Alexandra, selama hampir dua bulan ini kami tak bertani dan bekerja. Kami sangat bergantung dengan hasil dari persidangan hari ini. Jika hari ini tak ada kejelasan, kami memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan kami. Biarlah Won Company membayar hasil panen kami dengan harga rendah, setidaknya dengan itu kami masih bisa makan untuk melanjutkan hidup kami," ucap wanita separuh baya yang menjadi perwakilan dari para pekerja di depan Dara.
"Ku mohon, tunggu satu minggu lagi. Penundaan persidangan paling lama hanya tujuh hari, jadi tenang saja kalian tak perlu khawatir. Aku akan memenangkan kasus ini untuk kalian," jawab Dara yang kembali mencoba meyakinkan orang-orang di depannya.
Namun, wajah-wajah kecewa itu rupanya sudah lelah dengan usaha mereka yang selalu nihil. Mereka mungkin akan memutuskan untuk menyerah.
"Sudahlah nona Alexandra. Sudah kami bilang sejak awal, kau tidak perlu membuang waktumu untuk melawan Won Company. Mereka terlalu kuat," ucap wanita itu.
"Tapi—" Perkataan Dara terputus ketika gerombolan orang di depannya memilih pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Apakah benar, apa yang dilakukan oleh Dara selama ini hanyalah sia-sia?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jay mengambil alih kedai mie hari ini. Bibi Kim tiba-tiba pusing, mungkin karena tekanan darahnya naik. Belakangan ini harga bahan mie melonjak tinggi membuatnya mengalami sedikit kerugian karena tak ingin menaikkan harga.
"Kalau harga dinaikkan, kedai akan sepi. Kalau tidak dinaikkan aku akan rugi. Bagaimana ini Jay?" gumam Bibi Kim yang terduduk lemas di kursinya.
"Anda tak perlu memikirkan itu dulu. Lebih baik beristirahat, bukankah anda baru saja minum obat?"
Bibi Kim mengangguk, ia mulai merebahkan dirinya di kursi panjang yang terletak di sebelah tempat cuci piring.
"Aku jadi ngantuk. Tidak apa 'kan kau mengurus kedai sendiri? Atau kalau tidak sanggup, kau bisa menutup kedai sekarang," ucap Bibi Kim.
Melihat kedai yang ramai pengunjung, Jay tak mau menutup kedai. Sayang sekali jika harus memulangkan pelanggan yang rela mengantre di sana.
"Tenang saja, bi. Aku sanggup mengurusnya," jawab Jay yang kemudian menyambar celemek yang digantung di sudut, Jay lalu menggunakannya.
Bibi Kim menarik sudut bibirnya, ia seharusnya tak meremehkan Jay. "Kau yakin bisa masak?" tanyanya.
Ia tak tahu bagaimana cara Bibi Kim memasak, entah itu bumbu atau sayuran apa saja yang perlu ditambahkan. Jay akan memanfaatkan bakat terpendamnya kali ini. Ya, memasak.
Tak sekali dua kali pria itu pergi ke luar negeri. Ia berniat menawarkan menu kesukaannya dari negara Perancis, pasta.
Pelanggan yang penasaran dengan menu itu pun memilih untuk memesannya. Dengan kelihaian Jay meracik bumbu dan merebus mie dalam waktu yang bersamaan, membuat pelanggan terpukau.
Mereka juga sangat menyukai masakan Jay. Lidah mereka termanjakan dengan rasa masakan baru yang belum pernah mereka cicipi.
Dengan menyiasati menu baru, Jay menaikkan sedikit harganya. Para pelanggan pun juga tak keberatan akan hal itu.
Melihat Jay yang sangat hebat memecahkan masalah dalam hal penjualan membuat Bibi Kim merasa makin kagum pada pria itu.
Sepertinya Jay adalah malaikat yang dikirim oleh Tuhan ke Asia Town. Batin wanita separuh baya itu.
"Jay, jujur baru pertama kali ini aku melihat ada orang yang memasak mie dengan cara seperti ini," ucap Bibi Kim.
__ADS_1
"Seharusnya ini menggunakan mie jenis pasta, tapi karna di sini tidak ada maka aku mengkombinasikannya saja," jawab Jay.
"Dari mana kau belajar memasak ini?" tanya Bibi Kim lagi. Jay bahkan tak terlihat kikuk menggunakan alat masak, seolah ia tahu fungsi masing-masing dari alat masak di sana.
"Mmmm... Aku pernah bekerja di kapal feri," jawab Jay bohong. Tak mungkin juga ia berkata bahwa ia telah keliling dunia untuk mencoba masakan khas di sana dan mempraktekkan cara masaknya.
"Kau menjadi juru masak?" Bibi Kim memiringkan kepala. Ia tahu orang semuda Jay tak mungkin jadi juru masak di sebuah feri. Bahkan koki profesional di sana sangat diseleksi dan tak sembarang orang bisa diterima.
"Tidak... Bagaimana ya menjelaskannya. Mmmmm bisa dibilang aku hanya asisten," jawab Jay.
"Asisten?"
"Oh, Ya. Tapi bukan asisten secara resmi hehe." Jay segera meralat jawabannya.
Bibi Kim mengangguk-angguk seakan paham. Jay menghela napasnya. Berbohong tak akan sesulit ini 'kan?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Wajah lesu Dara sudah terlihat sejak pulang kerja tadi. Ia tak banyak bicara dan bercerita pengalamannya hari ini pada Jay. Bahkan ketika hari berakhir, Dara memilih untuk langsung tidur menemani Noah—sang putra.
Diamnya Dara membuat Jay merasa cemas. Berbeda dengan Dara yang bisa tidur awal, Jay justru tak bisa tidur. Sebenarnya ia sangat ingin bertanya apakah yang sedang terjadi. Tapi ia tak sempat. Jay mungkin akan menunggu pagi untuk menuntaskan rasa keingin tahuannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Paginya Jay yang kelelahan karena mengurus kedai sendirian kemarin pun harus bangun kesiangan. Lagi-lagi ia melewatkan kesempatan untuk berbincang dengan Dara.
Pria itu terbangun dan melirik jam dinding yang terpampang di salah satu sudut ruangan. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Keadaan rumah sudah rapi, Dara sudah berangkat dan membawa Noah untuk dititipkan ke tempat pra sekolahnya.
Jay menggeliat sebentar, lalu bangkit dan melipat selimut serta merapikan alas tidurnya. Ia berjalan ke dapur dan menemukan sepucuk surat yang diletakkan Dara di atas meja makan dengan ditindih dengan segelas air putih. Jay meraih kertas itu untuk mencari tahu apa yang dituliskan oleh Dara di sana.
"Kau benar, Jay. Jika aku ingin mengetahui seluk beluk tentang Won Company, maka aku harus ke sana dan menemukan seseorang yang mau bekerja sama denganku." tulis Dara di atas secarik kertas itu.
Jay terkejut dengan tekat Dara. Apa di dunia ini ada orang yang datang secara terang-terangan di hadapan musuhnya.
"Wanita itu apa sudah gila?" gumam Jay yang tak percaya dengan apa yang diputuskan oleh Dara.
__ADS_1
"Aku harus tiba di sana lebih dulu. Dia tak boleh tahu kalau aku adalah pemilik Won Company," ucap Jay yang kemudian bersiap untuk pergi ke sana.