Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Pengintai


__ADS_3

"Won Company?" Jay memiringkan kepala. Ia nampak tak tahu tentang apa yang ditanyakan oleh Dara.


"Iya, makanan-makanan ini berasal dari Won Company. Bagaimana kau bisa mendapatkannya?" tanya Dara lagi.


Oleh-oleh yang dibawa oleh Jay memang tak dijual bebas di pasaran. Hanya kalangan tertentu saja yang bisa mendapatkannya. Tapi Jay tak kehilangan akal begitu saja.


"Oh, itu... Pamanku mendapatkannya dari toko oleh-oleh di Seattle. Pegawai Won Company yang mendapatkan bingkisan dan makanan-makanan itu biasa menjualnya lagi ke publik. Kau tahu 'kan kalau perusahaan itu sedang sangat berjaya. Banyak orang yang penasaran dengan cemilannya," jelas Jay.


Dara nampak diam. Sebenarnya penjelasan Jay cukup masuk akal.


"Kenapa perusahaan miras itu memprodukai kue kering dan keripik kentang?" Bibi Kim justru bertanya-tanya tentang itu.


"Mmmm... Mungkin karna cemilan ini cocok untuk menemani minum-minum," tebak Jay.


"Benar juga. Orang-orang yang tak punya akses ke dalam perusahaan pasti sangat penasaran dengan cemilan mereka. Apalagi mirasnya begitu enak," ujar Bibi Kim sembari memilih-milih bungkusan di atas meja.


"Apa pamanmu bekerja di Won Company?" tanya Dara lagi.


"Tidak," jawab Jay. Raut curiga yang tergambar jelas di wajah Dara membuat Bibi Kim merasa kesal.


"Ayolah, Dara... Jangan membebani Jay dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Lagi pula apa yang diceritakan Jay itu sangat wajar."


"Iya, aku tahu. Aku hanya penasaran. Maaf ya, Jay," ucap Dara. Jay tersenyum dan mengangguk. Tapi raut penasaran masih tersisa di wajah wanita itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam itu Jay kembali duduk-duduk di halaman belakang. Ia kini merasa kecanduan melihat langit, apalagi langit malam yang dipenuhi bintang.


Ketika mendekati musim dingin, bintang-bintang memang terlihat jauh lebih banyak. Langit malam pun juga menjadi lebih cerah. Dara yang selesai menidurkan Noah pun menghampiri Jay di belakang. Ia duduk di samping Jay dan ikut memandangi langit.


"Aku pikir kau tidak akan kembali," ucap Dara mengawali obrolan.


Jay yang semula sibuk memandangi langit pun kini menoleh ke arah Dara. Ia tersenyum simpul. "Kau merindukanku?" godanya.


"Tidak. Biasa saja," jawab Dara cepat.


Jay menggeser sedikit duduknya hingga menepis jaraknya dengan Dara.


"Aku merindukanmu," ucap Jay sedikit berbisik.


"Bohong," jawab Dara sambil melirik sinis. Hal itu hanya dibalas dengan tawa oleh Jay.

__ADS_1


"Jay... Aku masih penasaran. Apa pamanmu kenal seseorang dari Won Company?" tanya Dara. Wanita itu memang tak perna menyerah jika harus menggali informasi.


"Ya." Jay mengubah nada bicaranya jadi seriua. "Dia melayani seseorang dari Won Company."


Mendengar itu, Dara sedikit terkejut. "Itu artinya pamanmu mungkin saja tahu sesuatu tentang Won Company?"


"Belum tentu." Jay mengelak. "Pamanku hanya melayani orang itu, dia tak mungkin tahu tentang permasalahan perusahaan," lanjut Jay.


Dara menghembuskan napas panjang. "Aku sangat membutuhkan informasi itu, sekecil apa pun."


"Kau harus ke sana jika ingin menggali informasi."


"Maksudmu, ke kantor Won Company?"


Jay mengangguk. "Kau tidak takut melawan perusahaan besar itu?"


"Sedikit." Dara tersenyum getir. "Awalnya aku merasa paling pemberani karena mengambil kasus itu. Tapi kini aku merasa takut."


Masih segar di ingatannya ketika ia disambangi oleh dua orang tak dikenal hingga Jay berakhir menjadi korban penikaman.


"Aku takut membahayakan orang-orang di sekitarku," lanjut Dara.


"Tenang saja. Aku sudah memutuskan untuk menjaga kalian," ucap Jay.


"Harusnya kau sudah tahu jawabannya," balas Jay.


Kedua insan itu saling memandang, hingga Jay mulai mendekatkan wajahnya berniat mendaratkan bibirnya di bibir Dara. Namun tiba-tiba tanpa sengaja, Jay melihat bayangan seseorang yang tengah mengawasi mereka dari kejauhan.


"Dara," ucap Jay mengurungkan hal yang akan dilakukannya. "Cepat masuk."


Jay kemudian menggiring Dara untuk masuk dan mengunci pintu.


"Tunggu di sini dan jaga Noah. Aku akan segera kembali," ucap Jay sembari berbalik. Tapi Dara malah menahan tangan Jay.


"Kau mau ke mana?"


"Ada sesuatu yang harus ku urus?"


"Apa ada orang yang mengintai lagi?"


Jay mengangguk. "Aku akan bereskan, tenang saja."

__ADS_1


"Kau hanya sendirian. Apa itu tidak apa-apa?" tanya Dara khawatir.


"Tenang saja, aku bisa mengurusnya." Jay menenangkan Dara. Wanita itu akhirnya mengijinkan Jay pergi.


Sementara itu seorang pria misterius sedang bersembunyi di balik tembok. Ia mengibas-ngibas selembar foto polaroid yang baru saja tercetak dari kameranya.


Kebetulan ia mendapatkan gambar yang bagua di mana Jay sedang berciuman dengan Pengacara para pekerja. Ya, meskipun hal itu batal dilakukan.


"Tuan Bill pasti memberikanku bonus tinggi untuk foto-foto ini," gumamnya sembari terkekeh.


"Sayang sekali, sepertinya kau tidak akan mendapatkan bonus," ujar Jay yang tiba-tiba sudah berdiri di depan penguntit itu.


Tak sempat kabur, si penguntit ditarik oleh Jay hingga ia terjatuh. Jay meraih kerah baju pria itu dan mencengkeramnya kencang.


"Akh...Akh..." Pria itu hampir tercekik.


"Berikan foto itu, atau hidupmu akan berakhir malam ini juga!" ancam Jay. Pria di depannya mengangguk sembari menahan sakit di lehernya yang tercekik.


Ia meraih foto itu di kantong dan menyerahkannya pada Jay. Setelah Jay mendapatkan foto itu, ia melepaskan kerah baju pria pengintai yang semula ia cengkeram.


Jay melihat foto itu sesaat. Dari angle-nya begitu jelas terlihat bahwa dirinya sedang berciuman dengan Dara, padahal sebenarnya belum sempat. Tak ingin hal ini bocor ke sang ayah, Jay kemudian menyobek-nyobek foto itu menjadi bagian yang kecil-kecil. Jay juga merebut kamera yang mengalung di leher si pria pengintai, lalu menginjak kamera itu hingga rusak.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Meski telah babak belur karena dihajar oleh Jay, pria pengintai itu tetap memutuskan untuk menghadap sang bos—Bill Parker. Rupanya ia tak hanya mengambil satu foto. Ia berhasil memotret beberapa kali sehingga ia tetap bisa melapor pada ayah angkat Jay.


Bill Parker mengamati foto-foto itu, bahkan di sana juga ada foto ketika Jay hendak mencium Dara. Hanya saja foto terakhir yang dirusak oleh Jay adalah foto yang terbaik. Jika saja pria itu bisa membawanya langsung ke Bill Parker maka ia akan mendapatkan bonus yang lebih.


"Bukankah Alexandra Meggie sudah menikah?" tanya Bill yang merasa tak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan oleh Jay.


"Dari informasi yang berhasil saya kumpulkan, Alexandra Meggie sudah menjadi janda sepeninggal suaminya," jelas pria itu.


"Aku sebenarnya bingung dengan apa yang berusaha Jay lakukan. Ku kira dia akan menyelidiki kasus yang menimpa perusahaannya, cih...rupanya dia malah asyik bersenang-senang dengan janda," sungut Bill Parker.


"Tapi sepertinya ini adalah siasat tuan Jay untuk menggali informasi itu, tuan."


"Informasi?" Bill memiringkan kepala. Ia tertawa kemudian. "Sepertinya ini pure cinta. Jay memang akan bodoh jika sedang jatuh cinta."


"Oh, ya... Aku punya satu tugas lagi untukmu," ucap Bill.


"Apa itu, tuan?"

__ADS_1


"Sogok hakim dan suruh dia menunda penyelidikan dan penyerahan bukti," jawab Bill.


"Baik, tuan."


__ADS_2