
Seorang gadis bersepatu high heels mendekat, dari aroma parfumnya Jay sudah bisa menebak siapakah itu.
Ia menoleh bosan menatap wajah yang kini tersenyum ramah. Gaun berwarna hitam yang senada dengan pakaian Jay seolah benar-benar menampakkan kemuraman. Meski sebenarnya ini harusnya menjadi acara yang menyenangkan.
"Jadi kau memutuskan berada di sini untuk memberi makan ikan-ikanmu dibandingkan harus berbincang dengan orang-orang palsu di dalam?" Archi bertanya.
Jay sebenarnya malas berbicara dengan gadis itu, tapi ia terpaksa merespon.
"Bagaimana denganmu? Mengapa kau berada di sini, bukankah kau salah satu dari orang-orang palsu itu?"
Archi tersenyum tipis, ia tahu Jay begitu membencinya saat ini. Apalagi setelah Bill memutuskan untuk melakukan pertunangan megah itu. Setiap orang di penjuru negeri pasti akan memberinya label sebagai seorang pria yang telah bertunangan.
Jay tak bisa menyandang status itu, apalagi saat ini sebenarnya ia sudah beristri. Ia terpaksa melakukan permintaan Bill karna laki-laki itu begitu pandai memanipulasi. Ia akan membuat Jay tak berdaya dan mau tak mau menuruti apa mau Bill.
Memang sulit bagi Jay mengabaikan Bill. Bagaimana pun juga ia adalah ayah angkat Jay, orang yang paling berjasa di hidupnya—tepatnya sesaat setelah ia berpindah ke Seattle.
"Aku bukan orang seperti mereka. Lihat!" Archi meraih makanan ikan di genggaman Jay dan menaburkannya ke atas air. "Aku juga menyayangi ikan-ikanmu."
Jay menaikkan salah satu alisnya, ragu. "Benarkah? Jika begitu, besok aku akan goreng semua ikanku. Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Apa pun yang kau lakukan, aku akan tetap mendukungmu," jawab Archi.
Jay melengos, sebal. "Kalau begitu, sebaiknya kau juga mendukung semua keputusanku."
Archi membisu, ia tahu Jay pasti akan membicarakan soal keberatannya akan pertunangan itu.
"Aku seorang pria beristri. Jadi, aku ingin tunangan ini dibatalkan," pinta Jay.
Archi segera menggeleng. "Pernikahanmu tak pernah sah. Tak ada yang menganggapnya sah."
"Bagaimana kau begitu yakin? Pendeta yang menikahkanku bilang bahwa pernikahanku sudah sah."
Archi kembali menggeleng. "Tak ada ayah atau anggota keluarga lainnya. Pernikahan yang tidak diketahui, itu artinya tidak sah." Gadis itu teguh pada logikanya sendiri.
__ADS_1
Jay tersenyum sinis. "Kau benar. Tapi, apa kau pikir ini yang disebut keluarga?"
Jay menatap Archi tajam. "Keluarga yang tak bisa mengerti bagaimana perasaanku, tidak bisa kuanggap sebagai keluarga lagi."
"Ya, anggap saja aku dan ayah bukan bagian dari keluargamu. Tapi, kita akan menjadi keluarga kan? Kau bisa menganggap Bill Parker sebagai ayah mertua yang mengharapkan kebahagiaan putrinya padamu," ucap Archi. Gadis itu sama manipulatifnya seperti Bill.
"Lupakan! Aku malas berdebat denganmu!" ucap Jay kesal.
Pria itu kemudian pergi beitu saja dari hadapan Archi. Hal itu tanpa sengaja diperhatikan oleh beberapa tamu yang kini tengah berbincang dengan Bill.
"Jay sepertinya kelelahan, dia pasti memutuskan untuk pulang dan beristirahat," ucap Bill agar ia bisa meluruskan hal yang bisa dianggal kesalah pahaman itu.
Orang-orang yang ada di sana memakluminya. Jay adalah pengusaha muda yang begitu sukses. Sibuk adalah makanan sehari-harinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jay melepaskan cincin yang melingkar di jarinya. Pria itu kemudian memasukkan cincin tunagan itu di laci meja kantornya.
"Sarapan anda, tuan," ucap Chris.
Jay tak sempat sarapan di rumah karena ingin segera bergegas ke kantor. Ia sebenarnya ingin menghindari Archi yang mungkin saja datang ke rumahnya di pagi hari.
"Terima kasih, Chris," ucap Jay. Ia kemudian meraih cangkir kopi itu dan meneguknya. Setelah itu, ia meraih roti gandung yang diletakkan oleh Chris di atas piring. Jay pun menikmati roti itu.
"Chris, carikan aku cincin dengan desain sederhana. Kalau bisa yang terbuat dari campuran perak dan emas. Tak perlu bagus, yang murahan pun tidak apa-apa," pinta Jay.
Chris keheranan mengapa Jay mencari benda seperti itu.
"Ada banyak pengrajin perhiasan di Seattle, tuan. Mengapa tidak memilih cincin dengan emas murni yang dihiasi dengan berlian," balas Chris.
"Ini untuk Dara," ucap Jay. "Dia menginginkan cincin sebagai tanda bahwa dia telah menikah denganku. Kau tahu 'kan, aku tak mungkin memberikannya perhiasan yang mahal. Itu akan mencurigakan."
"Baik, tuan. Saya akan usahakan untuk mencari cincin yang seperti itu," jawab Chris patuh.
__ADS_1
Jay kembali ke rumahnya ketika sore tiba. Ia tak bisa lagi berpikir setelah pertunangannya dengan Archi waktu itu. Ia harus mencari solusi untuk mengakhiri hubungan ini tanpa membuat Bill kecewa.
Sumpah, Jay tak ingin ada pertengkaran antaranya dengan sang ayah angkat. Ia hanya ingin semuanya kembali normal tanpa harus menghadapi drama yang seperti ini.
Ia akan bahagia, begitu pun Archi. Gadis itu masih memiliki masa depan yang panjang. Sudah pasti akan ada pria yang mencintai dan menerima Archi, meskipun itu bukan Jay.
Sejumlah skenario-skenario mulai tersusun di kepalanya. Ya, mungkin hanya ada ide-ide bodoh yang terpikirkan di dalam kepala Jay, tapi bukankah tak ada yang tak mungkin. Segala upaya yang dipikirkan olehnya mungkin mempunyai kemungkinan berhasil, meski di bawah lima puluh persen. Lelah berpikir, Jay pun tertidur dengan sendirinya. Padahal ia masih belum sempat makan malam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tuan Jay!" seru Chris yang muncul dari balik pintu, ia berdiri di sana sembari membiarkan pintu itu terbuka. Raut cemas tergambar jelas di wajah Chris, membuat Jay merasa sangat penasaran.
"Ada apa?" tanya Jay.
Chris nampak harap-harap cemas. Ia seolah kesulitan untuk bicara. "A-ada yang mencari anda." Chris tergagap.
Jay semakin penasaran dan hanya memfokuskan pandangannya ke arah pintu. Seorang wanita muncul dari sana, menatap Jay dengan pandangan nanar yang seolah membuat kedua lutut Jay melemas.
Meski begitu, Jay beranjak dari kursinya dan berdiri menyambut wanita yang perlahan-lahan berjalan mendekatinya. Wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan untuk sekilas.
Matanya mulai berkaca-kaca melihat Jay yang hanya bisa membisu di depannya. Bukan tak mau bicara, tenggorokan Jay seolah mengatup membuatnya kesulitan untuk berbicara bahkan bernapas.
Keringat dingin mulai mengucur membasahi tubuh Jay. Melihat wanita bermata sendu di depannya membuat hati Jay terasa remuk.
"Dara, aku bisa jelaskan," ucap Jay setelah berusaha berbicara pelan-pelan.
Raut kecewa tergambar jelas di wajah Dara, ia mulai menitikkan air matanya.
"Kenapa kau tega membohongiku, Jay..." suara itu terdengar pelan. Mungkin sulit juga untuk mengeluarkan kata-kata bagi Dara.
"Mengapa kau menipuku, Jay?"
"Mengapa kau lakukan ini padaku?"
__ADS_1