Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Siasat Panas


__ADS_3

Rintik hujan mulai membasahi jalanan. Dara sedang dalam perjalanan pulang dengan menaiki bus. Ia duduk di sudut dekat jendela sambil memandangi keadaan di luar dari sana.


Seperti perkiraannya tadi siang, cuaca benar-benar berubah signifikan. Langit kini gelap, hujan pun juga semakin deras. Sepertinya badai akan datang.


Di sepanjang jalan, ia masih terpikirkan dengan perkataan Bill Parker. Apakah lelaki itu ingin memberikan clue pada Dara? Lalu apa maksudnya bersenang-senang di Asia Town?


Pikiran Dara mulai melayang, semua kecurigaannya kini mengarah pada Jay. Pria itu adalah warga asing di Asia Town. Belum lama ini bahkan ia mengunjungi pamannya di Seattle. Ya, pasti dia.


Bus kloter kedua yang dinaiki Dara kini berhenti di sebuah halte. Rupanya perjalanan itu tak terasa di kala pikiran Dara melayang.


"Nona, kita sudah sampai di halte terakhir," ucap kondektur yang sekaligus membuyarkan lamunan Dara.


Wanita itu kemudian beranjak dari tempat duduknya setelah membayar ongkos bus. Ia keluar sambil menutupi kepalanya dengan tas. Hujan semakin lebat hingga membasahi seluruh tubuh Dara. Wanita itu tak bisa menyelamatkan dirinya dari guyuran hujan.


Hari sudah gelap, ditambah dengan cuaca buruk membuat Dara semakin muram. Ia biarkan saja tubuhnya diterpa hujan, bahkan kaki-kakinya serasa enggan berlari.


Sesampainya di rumah, Dara segera mengetuk pintu. Di balik sana ada Jay yang muncul menampakkan raut cemas.


"Dara, kau tidak bawa payung?" tanya Jay.


Raut muram Dara membuat Jay semakin cemas. "Aku tidak punya payung," jawab Dara yang masuk begitu saja melewati Jay.


"Noah dijemput oleh Bibi Kim sore tadi. Aku baru akan menjemputnya dari rumah bibi, tapi hujan masih sangat lebat," ucap Jay.


Dara hanya melangkah menuju kamar mandi tanpa merespon apa pun. Entah kenapa pikirannya semakin kacau ketika melihat wajah Jay.


Di dalam kamar mandi setelah menelan.jangi tubuhnya, Dara mulai menangis. Ia lelah mengurus kasus kali ini. Bukan cuma ancaman kesalamatan, tapi juga kenyataan pahit jika sampai orang yang dipercayainya adalah pengkhianat.


Jay polos yang pernah dihindarinya di kala pertemuan pertama mereka di bus, kini seolah menjadi satu-satunya orang yang bisa melindungi dan dipercaya oleh Dara. Bagaimana jika ternyata ia adalah pengkhianat?


Cukup lama berdiam di kamar mandi, membuat Jay cemas. Bahkan Jay tidak mendengar suara guyuran air dari dalam.


"Dara, kau tidak apa-apa 'kan?" tanya Jay sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Ya, i'm okay," balas Dara yang kini mulai mengguyur tubuhnya. Ia tak boleh larut dalam kemungkinan-kemungkinan buruk yang ada di kepalanya. Tak sekali dua kali ia menghadapi kasus besar, kali ini pun ia tak boleh kalah.

__ADS_1


Wanita itu keluar dengan hanya melilitkan handuk di tubuhnya. Ia tak sempat mengambil baju di kamar karena saat itu tubuhnya basah kehujanan.


"Aku membuat makan malam untukmu," ucap Jay. Pria itu melirik sekilas Dara yang hanya mengenakan handuk sampai ke atas lutut. Jay terkesiap diikuti tegukan saliva di tenggorokannya yang mendadak kering. Pria itu segera mengalihkan pandangannya karena tak ingin benda di bawah sana menegang di saat yang tak tepat.


"Ya. Aku ganti baju dulu," jawab Dara yang merasa santai-santai saja dengan keberadaan Jay.


Sesaat setelah Dara menghilang di balik pintu, Jay menghela napas lega. Ia tak mau tenggelam dalam api membara yang pernah diciptakannya bersama Dara.


Tak berapa lama wanita itu muncul dengan mengenakan kaos kebesaran dan celana training yang nyaman digunakan untuk tidur.


Di atas meja sudah ada nasi dan sup tulang buatan Jay. Pria itu sempat pergi ke pasar untuk berbelanja keperluan kedai, ia pun membeli iga sapi untuk bahan makanan.


"Berhentilah menghamburkan uang," ucap Dara sembari menikmati sup itu. Rasanya begitu enak dan mengingatkan Dara pada kampung halamannya.


Jay terkekeh, sekali-kali ia ingin mempersembahkan makanan enak pada Dara dan Noah. "Bibi Kim memberikan sepuluh persen keuntungan kedai hari ini. Itu karna menu buatanku laku keras," ujar Jay bercerita.


Semenjak Dara semakin sibuk, mereka jadi jarang berbicara atau bahkan menceritakan keseharian masing-masing.


"Sepertinya kau pintar dalam mencari siasat. Kedai mie Bibi Kim sempat sepi dan tidak berpengunjung, tapi setelah kau datang, kedai itu semakin ramai," ucap Dara.


"Sepertinya kau mirip dengan seseorang," sela Dara.


"Siapa?" tanya Jay penasaran.


"Pemilik Won Company..."


Jay hampir terbatuk. Apa usaha Chris hari ini tak berhasil?


"Kau sudah ke sana?" tanya Jay.


Dara mengangguk. Ia telah menghabiskan supnya dan meminum segelas air yang di atas meja.


"Aku baru tahu kalau pemilik Won Company adalah orang Asia, tapi dia punya ayah angkat orang Amerika," jawab Dara.


Jay hanya mengangguk-angguk, ia tak mau menanggapinya berlebihan. Yang jelas di kepalanya saat ini sedang mencari plan B, apabila ia ketahuan sebagai pemilik Won Company.

__ADS_1


"Jay, apa kau—"


TOKK TOKK... Suara ketukan pintu membuyarkan fokus.


"Ada tamu," potong Jay. Ia tak ingin mendengar Dara bertanya hal yang tak diinginkannya. Itulah mengapa Jay begitu berterima kasih pada orang di luar sana yang mengetuk pintu.


Dara beranjak dari duduknya. Mungkin saja Bibi Kim yang ada di luar dan berniat mengantar Noah pulang.


Pintu rumah kecil itu dibuka, seorang wanita berusia enam puluh tahun berdiri di sana dengan membawa sebuah payung yang melindunginya dari rintik lebat hujan.


"Bibi Merry," sapa Dara pada tetangga yang tinggal tepat di sebelah persis rumah Dara.


"Kim baru saja menelponku. Dia bilang tidak usah menjemput Noah karna hujan sangat lebat, anakmu juga sudah makan dan sekarang tertidur. Kau jemput besok pagi saja," ucap Bibi Merry.


"Oh, begitu. Baik, terima kasih Bi," jawab Dara.


Dara kemudian masuk dan melihat Jay yang mengintip dari pintu dapur.


"Noah menginap di tempat Bibi Kim, ya?" tanya Jay.


Dara mengangguk. Tepat setelah Dara menutup pintunya, Jay tiba-tiba mendekat. Ia meraih tubuh mungil Dara dan membawanya ke dalam pelukan.


"J-Jay," lenguh Dara.


Tak menghiraukan protes kecil itu, Jay kemudian merengkuh kedua pipi Dara dengan tangannya. Sesaat setelahnya, bibir tipis Dara tak mungkin lolos dari ku.lu.man bibir Jay.


Ah... Benar. Dara merindukan sentuhan pria itu. Ia hanya pasrah menerima setiap perlakuan Jay padanya.


Sedangkan apa yang dilakukan Jay saat ini hanyalah salah satu dari siasatnya untuk tetap menyembunyikan identitas dan menyelamatkan diri dari pertanyaan yang mungkin akan keluar dari mulut Dara.


"Angkhh..." Wanita itu mulai kelabakan ketika tangan bertato Jay mulai menangkup buah dadanya.


"Hahhhh..." Pria itu beralih menelusuri leher Dara. Ia menghembuskan napasnya yang memburu di telinga.


Yes, girl. Let's do se(x) therapy... Batin Jay.

__ADS_1


__ADS_2