
Pelan-pelan Dara digiring memasuki kamar yang biasa ditiduri wanita itu dengan sang putra. Jay memang tak pernah sampai ke dalam sana, karna ia tidur di ruangan depan. Jadi, malam ini adalah kali pertamanya.
Jay mulai membaringkan tubuh Dara. Pria itu mengambil alih, meletakkan Dara di bawah kuasanya.
Kedua tangan Jay yang terampil mulai melucuti pakaian yang melekat di tubuh Dara, hingga menyisakan pakaian dalam berwarna nude senada dengan kulit.
Jay melepaskan miliknya juga. Beberapa menit kemudian keduanya sudah melepaskan semua yang melekat di tubuh.
Kedua kaki Dara diangkat oleh Jay dan ia sampirkan di pundak. Benda kebanggaan Jay mulai ia benamkan pada tubuh bagian bawah milik Dara.
Wanita itu semakin kehilangan akal ketika Jay mulai menggerakkan pinggulnya. Rasanya lebih gilaaaaa dibanding kali pertama mereka melakukannya di teras belakang rumah.
Kedua tangan Dara yang mengalung di leher Jay, mulai menelusuri tubuh Jay. Ia menjambak pelan rambut lurus Jay, sembari menikmati perlakuan panas itu.
"Angkkhhh..." satu desisan lolos begitu saja dari bibir Dara.
Bibir Jay yang bebas tanpa pagutan kini mulai menelusuri leher wanitanya. Diberikannya hembusan napas yang otomatis merang.sang sang wanita. Kedua tangan Jay pun mulai memilin ujung dada Dara, membuat wanita itu semakin membara.
Tanpa disadari, permainan panas itu membuat keduanya tiba-tiba tertegun. Muntahan sari kehidupan milik Jay kini hangat memenuhi rahim Dara.
__ADS_1
Jantung gadis itu berdebar-debar, suhu tubuhnya meningkat drastis membiarkan bulir keringat keluar membasahi badan. Rahimnya terasa berkedut menanggapi sodokan keras benda Jay. Milik pria itu kini terasa melemah tak sekokoh tadi.
Ah... Benar, dia baru saja keluar. Tapi apa yang akan terjadi selanjutnya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah olah raga malam itu, Jay dan Dara memutuskan mandi. Rintik hujan masih menemani mereka sejak tadi. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
Keduanya keluar dari kamar mandi bersamaan, ya...mereka mandi bersama. Masing-masing dari mereka kini sibuk mengeringkan rambut dengan handuk. Setelah selesai, Jay kemudian menarik Dara dan menggiringnya duduk di atas pangkuan.
"Jay... Apa-apaan ini?" Dara tersipu, wajahnya selalu mendadak merah ketika menatap Jay.
"Bermanjaan?" Dara memiringkan kepala. Ya, rasanya kedua orang itu sedang dimabuk cinta.
Jay kemudian menyandarkan kepalanya di dada Dara. Kedua tangan Jay mendekap erat tubuh mungil itu untuk menyalurkan kehangatan di cuaca yang dingin ini.
Dara merasa senang dengan sikap manja Jay. Tapi kepalanya tak henti-henti dihujani oleh kekhawatiran akan hal yang baru saja mereka kerjakan.
Jay sesekali mencium pipi Dara, lalu berlanjut ke leher. Salah satu tangannya kadang nakal dan tiba-tiba meremas dada si wanita.
__ADS_1
"Jay... Boleh aku bertanya sesuatu?"
Jay mendongak menatap wajah Dara. Ia mulai takut jika wanita itu menanyakan hal yang tak diinginkannya.
"Apa itu?" tanya Jay balik.
Dara terlihat resah. "Apakah kau—"
"Ya, aku menyukaimu," potong Jay yang seketika membuat wajah Dara semakin merah. Tapi bukanlah hal itu yang ingin ditanyakan oleh Dara.
"Bukan itu," ucap Dara. Ia menunduk, membuat Jay juga bertanya-tanya apakah yang ada di pikirannya. "Kau...ehmm...keluar di dalam. Apa itu tak akan jadi masalah?"
"Kau takut hamil?" tanya Jay.
Dara mengangguk membenarkan pertanyaan itu. Kalau dia hamil, apa yang akan dikatakan oleh orang-orang nantinya? Mereka bahkan belum menikah.
"Hanya sekali, mungkin kau tidak akan hamil," ucap Jay.
"Ya, sepertinya begitu." Dara berucap gugup. Tubuhnya yang ada di pangkuan Jay kini menegang.
__ADS_1
"Besok aku akan beli pengaman, agar kau tidak cemas lagi." Jay tersenyum dan kemudian melayangkan sebuah kecupan di dahi Dara.