
"Kenapa kau tega membohongiku, Jay..." suara itu terdengar pelan. Mungkin sulit juga untuk mengeluarkan kata-kata bagi Dara.
"Mengapa kau menipuku, Jay?"
"Mengapa kau lakukan ini padaku?"
Jay membuka mata. Aliran darahnya seolah berhenti satu detik begitu pun detak jantungnya. Ia hampir saja serangan jantung akibat mimpi di tidurnya yang singkat itu.
"Tuan Jay, makan malam anda sudah siap," ujar Chris yang sepertinya sedari tadi sibuk mengetuk pintu kamar Jay.
Syukurlah panggilan dari Chris yang menyadarkan Jay dari halusinasinya yang seolah siap mengoyak setiap bagian tubuhnya.
Jay berjalan gontai menuju pintu dan membukanya. Didapatinya Chris yang saat ini membawa sebuah nampan berisi sepiring olahan daging sapi dengan keju sebagai campuran. Di atas nampan juga ada segelas wine, minuman yang belakangan ini menjadi favorit Jay.
"Letakkan di atas nakas!" pinta Jay.
__ADS_1
Chris bergerak patuh. Ia kemudian meninggalkan kamar Jay dan membiarkan majikannya itu makan dengan tenang. Jay memang memiliki kebiasaan makan di dalam kamar, kecuali untuk sarapan pagi ia terbiasa berada di meja makan.
Ketika ia menggigit daging sapi itu, seketika ia teringat pada Dara dan Noah. Ia ingat kali pertama memasakkan mereka daging sapi, Dara terlihat lahap seolah-olah itu adalah masakan terenak di dunia. Mendadak Jay merindukan istrinya itu. Tapi ia belum akan kembali jika belum membawa cincin yang telah ia pesan dari Chris.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Besoknya Jay berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Ia akan mengecek dokumen surat tanah di wilayah LA setelah adanya kesepakatan jual beli.
Ia mendapat harga murah untuk ukuran tanah hampir satu hektar. Tanah itu adalah bekas lahan pertanian sehingga Jay perlu memastikan apakah tempat itu layak untuk dibuat pabrik. Selain itu, Jay juga berpikir untuk menggunakan sebagian dari tanah itu untuk lahan pertanian. Akan ada pertanian di dalam pabrik yang diyakini akan meminimalisir biaya pengeluaran untuk bahan baku. Jay sendiri bahkan juga bisa melakukan kontrol rutin untuk kualitas hasil pertanian yang nantinya akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan miras.
"Ada apa?" tanya Jay. Ia penasaran mengapa Chris seolah kesulitan mengatur napasnya. Ia sudah tua, untuk berlari dan terburu-buru seperti itu tidaklah cocok untuknya. Memangnya keadaan genting macam apa yang akan ia laporkan?
"Tuan Jay, ada yang mencari anda..." Chris masih berusaha mengatur napasnya. Melihat wajah cemas Chris membuat Jay merasakan hal yang sama juga.
Jay berdebar-debar. Ia merasakan de javu akan mimpi yang menghantuinya tadi malam. Tak bisakah ia bernapas tenang untuk sejenak. Meski otaknya terus saja memaksa untuk memikirkan hal yang baik-baik, tapi justru pikiran negatif-lah yang kini memenuhi kepala Jay. Seolah itu adalah proyeksi atas semua kekhawatiran Jay akhir-akhir ini.
__ADS_1
Seseorang rupanya telah datang, bahkan langkah kakinya yang bersepatu pantofel dapat terdengar oleh telinga Jay. Sosok itu muncul dan berdiri di depan pintu, menatap Jay yang kini duduk di meja presdir dengan tumpukan dokumen yang meyakinkan. Pakaian Jay yang rapi pun seolah menegaskan bahwa pria itu memanglah pemilik perusahaan miras terbesar di Amerika untuk saat ini.
"Dara..." Jay bergumam lirih.
Wanita bertubuh mungil itu menatap nanar sosok Jay yang sangat bertolak belakang dengan sang suami yang selama ini ia kenal. Matanya yang berkaca-kaca juga mempertegas betapa kecewanya dia pada Jay—salah satu orang yang paling dipercaya oleh Dara di dunia ini.
"Jay?" Dara berucap seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Tapi semuanya benar, apa yang ada di hadapannya saat ini adalah nyata.
Jay Parker, putra angkat dari Bill Parker yang juga memiliki nama asli Cho Jin Ryuk. Pemuda asal Asia yang terseret gelombang migrasi yang kehilangan kedua orang tuanya. Merangkak perlahan membuka bisnis miras tradisional yang terkenal dari negara asal hingga dapat meraih kesuksesan dalam tempo waktu yang singkat. Ya, dia lah orangnya. Sosok yang Dara kenal sebagai tuna wisma sebatang kara dan tak punya apa-apa, nyatanya adalah satu dari jajaran orang terkaya di Amerika.
Kepala Dara mendadak pusing, kedua lututnya seakan lemas. Keringat dingin tiba-tiba mengucur deras dari tubuhnya. Dara tak bisa berdiri rasanya. Pandangan Dara berubah jadi gelap, dunianya seolah runtuh di depan Jay. Sepersekon kemudian, wanita itu tumbang.
"Dara!" seru Jay sambil berlari menuju sang istri. Ia tak akan membiarkan lantai dingin menyentuh kulit sang istri.
"Dara...!" panggil Jay lagi, yang kini berusaha menyadarkan Dara. Ia berhasil menangkap tubuh mungil itu dan mulai mengguncangnya.
__ADS_1
"Dara...bangun..." Bibir Jay bergetar. Ia takut jika Dara tak bangun lagi.