
"Wah, tumben sekali kau datang kemari. Siapa yang akan kau telfon hari ini?" tanya penjaga tempat telepon umum.
Laki-laki tua itu sudah semakin akrab dengan Bibi Kim. Selain karna usia yang tak terpaut banyak, mereka juga sama-sama orang Asia. Banyak sekali hal yang sangat menarik dibahas ketika mereka bertemu. Entah itu menceritakan masa muda, bahkan keluarga yang mereka tinggalkan di kampung halaman.
"Aku ingin sedikit merepotkanmu. Bisakah aku menelpon riwayat panggilan Jay di sini?" tanya Bibi Kim.
Laki-laki tua di depannya menampakan rasa penasarannya lewat air muka. "Kenapa? Apa dia masih belum kembali?" tanyanya.
"Iya." Bibi Kim tertawa pelan. "Sebenarnya aku sangat membutuhkannya. Kau tahu 'kan? Kedai ku jadi ramai karna dia. Jadi, sebaiknya aku menelpon dan basa-basi untuk menyuruhnya sesekali mampir."
"Oh begitu." Laki-laki tua itu mengajak Bibi Kim untuk memasuki salah satu bilik telepon.
"Entah kenapa setiap datang, dia lebih sering ke bilik ini. Mungkin karna tempatnya yang berada di pojok. Pasti ia membutuhkan privasi," jelasnya.
Laki-laki tua itu mulai mengoperasikan teleponnya. "Kebanyakan riwayat panggilan di tempat ini adalah miliknya. Dia sangat sering datang kemari."
Jay mungkin ke sana puluhan kali. Setelah panggilan sudah menghubungkan, laki-laki tua itu memberikan gagang telepon pada Bibi Kim.
"Silahkan," ucapnya yang kemudian berjalan keluar memberikan privasi pada pelanggannya.
Saat itu Bibi Kim berdebar-debar, tangannya mulai berkeringat. Ia takut jika nomor yang dituju sudah tidak aktif. Bagaimana nasib Dara jika ini semua sampai terjadi?
__ADS_1
"Hallo." Suara parau laki-laki yang kira-kira berusia separuh baya menyambut pendengaran Bibi Kim. Ya, pasti ini adalah pamannya Jay.
"Hallo. Apakah ini benar pamannya Jay yang tinggal di Seattle?" tanya Bibi Kim.
Terdapat jeda yang cukup lama setelah akhirnya laki-laki itu menjawab. "Benar."
Bibi menghembuskan napas lega. Ia bersyukur bisa menghubungi keluarga Jay.
"Anda ini siapa?" tanya laki-laki yang ada di telepon.
"Saya Kim. Bolehkah saya berbicara dengan Jay?"
Saat itu Bibi Kim kembali kebingungan.
"Tapi jika ada sesuatu yang ingin anda sampaikan pada Jay, anda bisa bicara padaku," ucap pria itu lagi.
"Baik, tuan. Tolong sampaikan pada Jay, ada sebuah urusan yang harus dia selesaikan di Asia Town."
"Urusan apa?"
"Mohon maaf, saya tidak bisa mengatakannya pada anda. Karena ini berkaitan dengan privasi Jay," jawab Bibi Kim. Ia rasa ia tak berhak mengadu pada pamannya Jay. Jay sudah dewasa, ia memiliki privasi yang diungkapkannya sendiri.
__ADS_1
"Baiklah. Saya akan memberitahu Jay," balas laki-laki itu.
"Terima kasih, tuan." Bibi Kim menutup teleponnya. Harapannya sangat besar pada Jay saat ini. Meski ia juga ragu apakah Jay akan datang atau tidak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jay turun dari bus di halte Asia Town. Ia tak menyangka akan kembali melangkahkan kakinya lagi di sini. Tempat ini seperti memiliki daya magnet yang mau tak mau, ingin tak ingin akan membuat Jay kembali ke sini. Anehnya, ia justru merasa seperti pulang ke rumah.
Pelan ia melangkah masuk, seolah tak terburu-buru. Memangnya tanggungan apa yang harus ia penuhi di sini? Jay mungkin akan menempatkan dirinya dalam bahaya.
"Apa aku akan kena sanksi sosial di sini? Bukankah aku sudah menipu mereka?" gumam Jay.
Ia sudah sampai di depan rumah Dara, ke sana lah ia akan datang pertama kali.
Begitu ia melangkah dan hendak mengetuk pintu, seseorang tiba-tiba keluar. Dia Dara, yang berdiri di hadapan Jay dengan menampakkan raut sendu dan dua mata yang sembab.
"Dara, apa yang terjadi?" tanya Jay. Wanita itu tak menjawab. Bibi Kim yang baru muncul dari dalam tiba-tiba malah menampar pipi Jay.
Tamparan yang cukup keras tapi tak seberapa untuk Jay. Raut kemarahan tergambar jelas di wajah wanita separuh baya itu.
"Akhirnya kau datang! Aku sudah ingin melakukan itu sejak kemarin!"
__ADS_1