Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Orang Penting


__ADS_3

Sudah senja, Jay baru sampai di Seattle dan segera berlari masuk ke kamarnya untuk memeriksa brangkasnya.


Sesampainya di kamar, Jay segera mengambil plastik untuk meletakkan satu gepok uang berisi sekitar lima puluh lembar pecahan seratus dollar.


"Tuan, apa yang terjadi?" tanya Chris ketika mendapati Jay terburu-buru dan wajahnya yang babak belur.


"Siapkan mobil, antar aku ke Asia Town sekarang!" pinta Jay..


"B-baik, tuan." Chris cukup bingung, bukankah Jay sudah berpamitan ke Asia Town tadi pagi.


Mengapa ia kembali dengan keadaan yang seperti ini? Apakah terjadi suatu hal yang buruk padanya?


Jay mengambil duduk di belakang setir, ia melongok ke luar dan segera menyuruh Chris masuk.


"Cepat masuk, aku sedang buru-buru!"


"Maaf, tuan. Biarkan saya yang menyetir."


Jay berdecak. "Kau tak bisa jalan cepat, duduk saja di bangku penumpang. Cepat, aku sudah kehabisan banyak waktu!" pinta Jay.


"B-baik, tuan."


Chris menuruti perintah Jay. Mobil itu melaju kencang. Jay pernah dilarang oleh Bill menaiki mobil karna ia akan membuat jalanan kacau dengan caranya mengemudi.


Pria itu menerobos jalanan yang cukup ramai menuju Asia Town. Dia bisa sampai ke tempat itu kurang lebih tiga jam dengan kecepatan seperti ini.


Di sepanjang jalan, Chris harap-harap cemas. Menjadi penumpang dengan supir gila yang mengemudi di depan telah membuatnya senam jantung.


Tapi meski begitu, Jay tetap memperhatikan keselamatannya. Ia memang ahli mengemudi. Kalau saja ia punya kesempatan, pasti ia sudah menjadi pembalap mobil sekarang.


Sesampainya di rumah sakit, Jay segera beranjak keluar. Ia membawa plastik berisi uang untuk membayar biaya pengobatan Noah.


Selain itu, ia juga punya senjata lain untuk mengancam pihak rumah sakit jika menyepelekan para korban yang berasal dari Asia Town.


"Cepat! Kau harus pulang sekarang! Aku akan menghubungimu jika perlu bantuan," ucap Jay.


Chris hanya bisa mematuhi Jay, tanpa sempat menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa wajah Jay babak belur, mengapa ia membawa uang yang begitu banyak dan mengapa ia malah berhenti di rumah sakit?


Lelaki separuh baya itu kemudian bergegas pergi tanpa menunggu Jay masuk ke rumah sakit. Sejujurnya Chris sangat mengkhawatirkan Jay, apalagi ketika Bill bilang bahwa ia mungkin akan membuat Jay kesulitan jika masih berhubungan dengan orang-orang dari Asia Town.


Jay segera memasuki ruangan administrasi, ia sodorkan satu gepok uang yang semula ia letakkan di dalam plastik.

__ADS_1


"Maaf, tuan. Apa maksudnya ini?" tanya seorang perawat wanita asli Amerika di bagian administrasi.


"Pasien balita korban kebakaran di Asia Town sangat membutuhkan perawatan khusus. Aku akan membayar berapa pun biayanya!" ucap Jay.


Perawat itu terdiam, ia kemudian menampakkan senyuman sinis. "Anda sangat meyakinkan."


Jay mungkin patut dicela dengan penampilannya saat ini. Wajah babak belur, pakaian jelek dan raut wajah khawatirnya.


"Ya, aku bersungguh-sungguh." Jay kini menatap tajam wanita itu.


"Kau tidak akan mengamuk di sini 'kan, jika aku menjawab kami harus menunggu keputusan pengelola rumah sakit." Wanita itu menjawab angkuh.


"Di mana pengelola rumah sakit ini? Aku harus bertemu dengannya," ucap Jay.


Perawat itu justru tertawa. "Ya ampun, aku ragu apakah tuan pengelola rumah sakit akan mau bertemu dengan orang sepertimu."


"Ada apa ini?" tanya seorang lelaki separuh baya yang baru saja datang.


Saat itu Jay menoleh, laki-laki yang baru saja sampai di sana adalah si pengelola rumah sakit.


Begitu melihat wajah Jay, ia cukup terkejut.


Si perawat terlihat bingung. "Maaf, tuan. Apa anda mengenal orang ini?" Perawat itu menunjuk ke arah Jay.


"Tidak bisakah kau bertindak sopan?!" maki lelaki itu.


"Tuan Cho Jin Ryuk adalah donatur tetap rumah sakit ini," lanjutnya.


Jay melipat kedua tangannya di dada, ia menatap kesal pada si pengelola rumah sakit. Ia bernama Piere Mc Caly, seorang berkewarganegaraan Perancis yang sudah lama menetap di Amerika karena harus mengelola rumah sakit.


"Apa anda yakin?" Perawat itu masih menatap remeh pada Jay.


"Tutup mulutmu dan berhenti menatapnya seperti itu! Jika kau bertindak tidak sopan lagi, aku akan memecatmu secara tidak hormat!" Piere memarahi perawat itu.


"Maafkan saya, dokter Piere," ucapnya.


Sedangkan Piere tak mencoba menggubrisnya.


"Silahkan bicara di ruangan saya, tuan." Ia mempersilahkan Jay ke ruangannya.


Piere merasa tidak enak atas perlakuan pegawai rumah sakitnya pada Jay. Pria itu terhitung sudah lima tahun memberikan sumbangan rumah sakit, yang mana sumbangan itu sangat membantu rumah sakit ini untuk terus berjalan dan memberikan fasilitas yang memadai.

__ADS_1


"Kupikir bilik Asia dibuat untuk memberikan hak yang setara untuk mereka. Ternyata itu hanya untuk mempermudah kalian untuk melakukan tindakan apa yang menurut kalian pantas untuk mereka," protes Jay bahkan sebelum Piere berbicara untuk menjelaskan hal yang terjadi di sana.


"Bukan begitu, tuan. Kami benar-benar memberikan hak yang setara untuk para imigran dari Asia. Anda hanya salah paham," jelas Piere.


"Aku melihat para korban kebakaran dari Asia Town yang terlantar di lorong-lorong rumah sakit. Mereka bahkan tidak mendapat perawatan yang layak. Sebenarnya apa yang kau pikirkan dokter Piere? Ku pikir kau membuka rumah sakit untuk tujuan memberikan fasilitas sosial yang pantas. Rupanya, kau masih memandang perbedaan tanpa adanya empati sama sekali!" marah Jay.


Piere hanya menunduk, ia mungkin tak acuh bahwa donasi terbesar rumah sakitnya adalah dari Jay yang juga adalah orang Asia asli.


"Maaf atas ketidak nyamanan ini, tuan. Saya akan segera mengurus masalah ini," ucap Piere.


"Dahulukan pasien balita yang mengalami luka bakar yang parah, dia sedang kritis saat ini!" pinta Jay.


"Baik, tuan," jawab Piere.


Jay beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan Piere.


Ia kemudian kembali menghampiri Dara yang saat ini terduduk di depan ruangan Noah dirawat.


Ruangan itu memang hanya boleh dimasuki dokter saat ini, karna kondisi pasien yang kritis.


"Jay," ucap Dara ketika Jay datang menghampirinya. "Bagaimana?" tanyanya. Ia mengharapkan kabar baik dari Jay.


"Dokter akan segera mengurus Noah, tenang saja," jawab Jay. Dara menghembuskan napas lega saat itu juga.


Tak berselang lama, jajaran perawat dan dokter datang ke ruangan Noah. Mereka meminta ijin untuk memindahkan Noah di instalansi gawat darurat.


Setelahnya, beberapa tenaga medis mulai berdatangan menuju 'bilik Asia' dan mulai melakukan perawatan pada korban kebakaran, tak terkecuali Dara.


Perban yang sudah melekat sejak kemarin itu akhirnya diganti. Ia diberikan beberapa butir obat untuk meredakan rasa sakit dan mempercepat pemulihan.


Hal ini cukup membuat Dara bertanya-tanya. Mengapa para tenaga medis di rumah sakit ini berubah menjadi lebih tanggap pada orang Asia, seolah mereka semua sudah dibayar oleh seseorang.


Samar-samar, Dara mendengar percakapan dari pasien lain. Mungkin mereka mengetahui informasi itu dari para perawat.


"Kita harus berterima kasih pada pemilik Won Company. Kudengar dia yang membayar seluruh biaya rumah sakit warga Asia Town."


"Kupikir dia bukan orang baik karna kasus monopoli harga itu, ternyata dia begitu mempedulikan kita yang berada di Asia Town."


Dara menoleh pada Jay yang mencoba terjaga dari tidur. Sebuah pikiran yang gila menurut Dara, tiba-tiba memenuhi kepalanya.


'Apa jangan-jangan Jay adalah pemilik Won Company?' tanya Dara dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2