
Jay segera berjalan menuju telepon umum terdekat. Ia masih menyimpan beberapa koin yang pernah ia tukarkan ketika akan menghubungi Chris dulu.
"Hallo, ini Jay Parker," ucapnya segera setelah panggilannya diangkat.
"Tuan Jay. Ada apa menelpon pagi-pagi sekali?" tanya Chris. Ia memang menetap di rumah Jay untuk merawat tempat itu agar tetap bersih dan mengawasi para pelayan yang dipekerjakan oleh Jay.
"Alexandra Meggie sedang menuju Seattle. Dia ingin pergi ke Won Company. Tolong pastikan tidak ada jejakku di sana. Kau tahu 'kan? Dia tak boleh tahu kalau aku pemilik Won Company," pinta Jay.
"Baik, tuan. Saya akan segera mengurusnya," jawab Chris patuh.
"Aku juga akan bersiap pergi ke sana—"
"Sebaiknya jangan, tuan. Jika anda ke sini, saya takut Nona Alexandra Meggie akan mengetahui keberadaan anda."
Jay memang tak sempat berpikir saat ini karna terlanjur panik.
"Ah.. Iya, kau benar. Aku serahkan semuanya padamu," ucap Jay yang kemudian menutup telepon. Sebenarnya ia ketar-ketir karna tak bisa memastikannya sendirian. Tapi, setidaknya Jay harus percaya pada Chris yang telah bekerja padanya selama hampir sepuluh tahun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Memakan waktu sekitar empat jam dari Asia Town menuju Seattle dengan menaiki bus. Meski berangkat pagi-pagi sekali, Dara baru sampai di sana bahkan ketika matahari sudah meninggi.
Wanita itu mendongak menatap langit yang cerah. Ah, tidak. Tak ada awan di atas sana yang menandakan bahwa mungkin saja cuaca akan berubah tanpa memberi peringatan.
Meski firasatnya mulai tak enak, Dara tak akan gentar untuk melangkah. Wanita itu kini sudah berada di depan gedung Won Company.
Sebuah gerbang besar yang tertutup rapat menyambut kedatangannya. Tempat itu di kelilingi dinding yang tinggi, benar-benar tertutup dan orang tak akan tahu bagaimana isinya jika gerbang tak dibuka.
Wanita itu mengintip dari sebuah jendela kecil yang dibuat untuk memudahkan petugas di dalam melihat siapakah yang datang.
"Permisi, selamat siang!" seru Dara.
Seorang security keluar dan menghampiri Dara. "Selamat siang, nona. Ada perlu apa?" tanya lelaki keturuan Afrika-Amerika itu. Perawakannya besar, wajahnya cukup ngeri. Patut saja dia dijadikan security untuk perusahaan beromset ratusan juta tiap bulannya itu.
"Saya ingin melakukan observasi di sini," jawab Dara.
Security itu kemudian membukakan gerbang dan mempersilahkan wanita itu masuk.
Wanita itu kemudian masuk dan berjalan ke bagian informasi. Seorang wanita Amerika berambut pirang menyambut kedatangannya dengan ramah.
"Ada yang bisa saya bantu, nona?" tanyanya.
"Maaf, bolehkan saya bertemu dengan pemilik perusahaan?"
"Maaf, apakah anda sudah membuat janji?"
Dara menggeleng. "Saya tidak mempunyai kontaknya. Jadi, saya langsung ke sini."
"Kalau boleh tahu, apa keperluan anda datang ke sini?" tanya wanita Amerika itu lagi.
__ADS_1
"Saya ingin melakukan observasi," jawab Dara.
Wanita Amerika di depannya meraih telepon kantor dan terlihat menekan beberapa digit nomor untuk dihubungi. "Tunggu sebentar ya, nona......?"
"Alexandra Meggie," ujar Dara.
"Oh baik, Nona Alexandra Meggie."
Dara mengangguk, wanita di depannya kini mulai berbincang dengan seseorang yang ditelponnya.
"Baik, tuan. Saya akan sampaikan," ucap wanita itu. Ia kemudian menutup teleponnya.
"CEO Won Company sedang tidak di tempat. Tapi, ada perwakilan beliau yang akan menemui anda. Silahkan menunggu di ruangan pertemuan," ucap wanita Amerika itu. Ia mengantarkan Dara ke sebuah ruangan tertutup. Ia disuruh menunggu di sana.
Wanita itu mulai resah. Tak henti-hentinya ia mengamati jam yang terpajang di ruangan itu. Mengapa jarumnya seolah tak bergerak? Apa karna Dara terlalu gugup saat ini?
Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, seseorang masuk ke ruangan itu. Dara seketika berdiri untuk menyambut kedatangan perwakilan CEO Won Company.
Seorang lelaki separuh baya yang mengenakan jas hitam masuk, ia tersenyum ramah.
"Apa anda lama menunggu?" tanyanya.
"Tidak juga. Saya senang bisa bertemu dengan anda hari ini," jawab Dara.
Lelaki separuh baya itu mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Dara. "Saya perwakilan dari CEO Won Company, anda bisa memanggil saya Chris."
Dara meraih uluran tangan Chris dan menjabatnya. "Saya Alexandra Meggie," jawabnya memperkenalkan diri.
"Ada keperluan apa anda datang ke sini?" tanya Chris.
"Saya ingin melakukan observasi di sini. Saya adalah bagian dari Firma Hukum Amerika yang saat ini mewakili para pekerja dari Won Company," jawab Dara.
Chris cukup terkejut ketika Dara blak-blakan memberi tahu tujuannya.
"Wah... Sebuah kehormatan bagiku bisa menjadi pemandu anda, seorang pengacara muda yang sukses."
Dara tersenyum tipis, ucapan Chris lebih seperti sindiran dibanding dengan pujian.
"Saya tidak mempunyai maksud buruk di sini. Tujuan saya ke sini adalah semata-mata untuk melakukan observasi pada perusahaan, sekaligus ingin mengetahui sejarah singkat Won Company," jelas Dara.
"Saya tidak tahu apa sebenarnya niat anda. Tapi, saya akan menemani anda berkeliling ke seluruh kantor untuk mengetahui sejarah singkat perusahaan ini," balas Chris ramah.
"Terima kasih, tuan Chris."
Chris kemudian berjalan keluar diikuti oleh Dara. Mereka pun mulai berkeliling.
Ketika sampai di sebuah aula di mana ada sebuah papan bagan organisasi, Dara mulai mencatat satu per satu nama di sana.
"Pemilik sekaligus pendiri Won Company adalah tuan Cho Jin Ryuk. Usianya saat ini mungkin masih sangat muda. Tapi berkat usaha gigihnya, tuan Cho Jin Ryuk bisa membesarkan Won Company," jelas Chris yang saat ini seolah menjadi tour guide.
__ADS_1
"Saya baru mengetahui bahwa pemilik Won Company rupanya orang Asia," ucap Dara menanggapi.
"Meski begitu, tuan Cho Jin Ryuk bisa meraih kesuksesan di sini." Chris kembali membanggakan bosnya.
Hal itu agak janggal di kepala Dara. Sangat mustahil bagi orang Asia bisa sukses di negara ini. Tak mungkin seorang yang terseret arus transmigrasi bisa jadi milyarder dalam waktu sepuluh tahun saja. Ya, meski ada kemungkinan sedikit yaitu sekitar 5% saja.
"Saya kagum dengan pemilik Won Company, tapi ini cukup mustahil bagi orang Asia seperti kami untuk meraih kesuksesan dalam waktu singkat."
Chris melirik tajam. "Sepuluh tahun itu bukan waktu yang singkat, nona."
"Ada banyak orang Asia yang sukses di negara ini. Tapi mereka hanya besar si Asia Town, untuk wilayah luar daerah menurutku itu cukup mustahil," ucap Dara.
"Tuan Cho Jin Ryuk memiliki banyak siasat. Ia tahu kalau usaha minuman keras sangat menguntungkan di sini. Dia bahkan membangun bisnis ini tanpa bantuan hutang," balas Chris. Ia tak suka jika ada orang yang mempertanyakan kemampuan Jay.
"Ada satu faktor lagi yang sangat mendukung dan menjadikan hal itu tak mustahil di negara ini..." Seorang pria Amerika separuh baya tiba-tiba menyela.
"Selamat siang, tuan Bill," sambut Chris ramah.
"Siapa ini, Chris?" tanya Bill.
"Nona ini adalah salah satu anggota Firma Hukum Amerika yang saat ini mewakili para pekerja Won Company, tuan," jawab Chris.
Bill melirik ke arah Dara. Ia kemudian mengulurkan tanggan untuk menjabat tangan Dara.
"Perkenalkan, Aku Bill Parker. Ayah angkat pemilik Won Company."
Dara meraih tangan Bill dan menyalaminya. "Saya Alexandra Meggie."
Ujung bibir Bill naik begitu mengetahui bahwa wanita di depannya ini adalah Alexandra Meggie.
"Nona Alexandra, mungkin anda penasaran bagaimana putraku bisa sesukses ini di usia muda. Itu semua tak lepas dari hasil jerih payahku juga," ucap Bill.
Chris yang sudah dicela kini tak bisa mengambil alih.
"Putraku sangat ahli memanfaatkan momen. Di saat terjadi krisis besar-besaran yang mengakibatkan banyaknya pabrik miras yang ditutup, ia mengambil langkah untuk memperkenalkan inovasi miras fermentasi otentik dari negara asalnya. Menyadari bahwa ada peluang bagus dari idenya, aku mulai mencarikan investor untuknya," jelas Bill.
Lelaki separuh baya itu tersenyum lebar. "Tanpaku, dia tak akan sesukses ini. Bayangkan saja, investor mana yang akan percaya pada pemuda Asia bertato?"
Chris hanya bisa diam, ia hanya bisa berdoa agar Bill tak membocorkan identitas Jay di depan Dara.
"Anda pasti sangat menyayangi putra angkat anda," balas Dara.
"Tentu saja. Hanya dia yang ku punya setelah anak dan istriku meninggal karena kerusuhan di negara ini."
Kerusuhan? Dara baru tahu kalau pernah terjadi kerusuhan di Amerika.
"Sepertinya aku terlalu banyak bicara, seharusnya aku tak membeberkan fakta itu di depanmu." Bill berbalik dan hendak pergi. "Pak Chris, apa tuan CEO belum juga pulang?" tanyanya.
"Belum, tuan," jawab Chris cepat.
__ADS_1
"Hmmm... Dia terlalu lama bersenang-senang di Asia Town," gumam Bill sembari berjalan pergi.
Chris mendadak khawatir. Bagaimana jika Dara sampai menebak-nebak dalam hatinya bahwa orang yang dicarinya saat ini adalah Jay?