
Dara mengerjap ketika cahaya menimpa wajahnya. Beberapa orang nampak sibuk berlalu lalang, tempat pengungsian memang seberisik itu.
Wanita itu menoleh dan mendapati Jay masih terlelap dalam posisi duduk. Tadi malam, Jay minta dibangunkan pagi-pagi sekali karna ia harus segera kembali ke Seattle.
"Jay, bangun!" Dara mengguncang bahu suaminya.
Pria itu terbangun sambil menguap. Muka bantalnya terlihat bagus. Jay memang tampan dalam keadaan apa pun.
"Perlu mandi?" tanya Dara. Jay menggeleng.
"Antrenya panjang sekali, aku bisa terlambat naik bus," jawab Jay.
Pria itu kemudian bersiap, ia hanya berkumur dan mencuci mukanya. Barang-barangnya yang tak seberapa sudah disiapkan untuk dibawa sejak tadi malam.
Dara mengantarkan Jay sampai ke halte, keduanya saat ini tengah duduk di halte untuk menunggu bus yang mungkin akan datang sekitar setengah jam lagi.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Jay.
Dara tersenyum. "Sudah lebih baik. Jangan khawatir," jawabnya.
__ADS_1
Jay selalu bertanya hal yang sama setiap beberapa menit sekali. Kepergian Noah memang menjadi luka yang sangat dalam baik untuk Dara mau pun Jay.
Meski Jay bukanlah ayah kandung Noah, mereka sudah memiliki kenangan yang indah walaupun singkat.
"Setidaknya Noah sudah tak akan merasa menderita lagi di dunia," ucap Dara.
Napas Jay seperti berhenti di tenggorokan, ia menoleh menatap Dara yang kini mendongakkan wajahnya ke arah langit. Ya, Jay ingat bagaimana cara Dara membuatknya kembali mengingat Tuhan kala itu.
Jay mungkin telah meninggalkan gereja sejak menjejakkan kakinya di tanah Amerika, ia bahkan tak pernah berdoa lagi sebelumnya. Tapi berkat Dara, Jay melakukan rutinitas itu lagi. Itulah yang membuat Jay kembali merasakan arti keluarga yang sesungguhnya baginya. Keluarga adalah tempat berkeluh kesah untuk meringankan beban, mereka juga adalah suatu energi yang bisa saling menguatkan.
Ia memang mengenal konsep itu di saat ketika Bill mulai merawatnya. Jay bahkan sangat menyayangi sang ayah angkat, meski perlakuan Bill sering membuat Jay merasa tertekan selama puluhan tahun.
"Aku akan mengajak pamanku ke sini minggu depan," ucap Jay.
"Kupikir, kau pasti butuh sosok ayah untuk menenangkanmu," jawab Jay. Ia meraih tangan Dara dan menggenggamnya. "Aku tahu pasti sangat berat bagimu kehilangan Noah. Aku juga merasa begitu, tapi pamanku selalu menasehatiku dan itu membuatku merasa lebih baik."
"Ya, aku ingin melihat satu-satunya keluargamu yang tersisa." Dara tersenyum, bersamaan dengannya yang menahan bulir-bulir air yang memaksa keluar menerobos dinding pertahanan matanya.
"Baik, aku janji akan mengajak pamanku ke sini," ucap Jay.
__ADS_1
Bus yang dinantikan pun datang. Jay segera masuk dan melambaikan tangannya dari jendela pada Dara. Wanita itu tersenyum dan membalas lambaian tangan itu.
Setelah bus itu lenyap dari pandangannya, Dara mulai terisak mengeluarkan air mata yang sudah ia tahan sejak jadi.
Ia masih terpikirkan tentang omongan Archi sebelumnya. Jay masih bungkam dan tak mau memberi tahu di mana ia bekerja.
"Sampai kapan kau akan menyembunyikannya dariku, Jay?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Betrice menatap iba, wanita yang duduk di depannya. Sebuah sekat yang terbuat dari kaca memisahkannya dengan si penjenguk yang saat ini masih terisak, mencoba untuk berbicara dengan benar.
"Noah... Betrice... Noah, sudah meninggal..." Ucapan putus-putus itu akhirnya terangkai.
Wanita itu adalah Dara, ia berpikir bahwa ia harus mengabari Betrice soal ini. Mereka sangat dekat sebelumnya. Betrice hanya menangis menanggapi itu, ia tak bisa menyatakan apa pun saat ini.
Betrice teringat dengan peristiwa beberapa bulan yang lalu, peristiwa yang benar-benar mengubah hidupnya hingga menjebloskannya ke balik jeruji besi.
"Dara... Kau pernah bertanya padaku, apakah aku benar-benar membunuh anak itu..."
__ADS_1
Dara seketika mengalihkan pandangannya pada Betrice yang kini juga sedang terisak. "Iya..."
"Aku..." Wanita itu berusaha menghentikan isakkannya. "....tidak melakukannya."