
Archi tersenyum sinis. Ia tak keberatan jika diacuhkan oleh Jay sekarang, setidaknya ia tahu bahwa Jay tetap akan jadi miliknya.
Gadis itu mengubah senyumannya ketika pintu mobilnya terbuka oleh Jay. Ia kini menampakkan raut sedih, kecewa dan marah secara bersamaan. Benar-benar ratu drama.
"Kau berharap aku akan minta maaf padamu karena telah mengusirmu dari kamarku, kan?" sungut Jay. Pria itu menutup pintu mobil dengan keras.
Ia bersidekap mengalihkan mukanya ke arah jendela, rasanya tak sudi melihat raut rupawan yang terkesan licik di sampingnya.
Archi menghembuskan napas panjang, ia mengalah. Ia melirik ke arah Jay. Gadis itu mengamati side profile Jay yang sempurna baginya.
Hidung mancung, rahang tegas dan bibir penuh yang seolah membuat Archi tergiur untuk mencicipinya.
Gadis itu mungkin gila akan pesona Jay. Meski dibesarkan oleh orang yang sama, dirinya dan Jay tetap bukanlah saudara sedarah.
Itu juga tujuan Bill Parker memungut kedua anak Asia yang tersisih waktu itu. Laki-laki Afrika-Amerika itu mungkin ingin menguatkan ras minoritas yang sering ditindas di negaranya. Tujuannya memang mulia, meski sebenarnya ada maksud lain yang tak kalah licik.
"Paris adalah kota romantis. Banyak cinta yang tumbuh di sana," ucap Archi mengawali pembicaraan.
Jay tak menggubrisnya. Ia tak berselera untuk membahas segala hal berbau romansa dengan Archi. Minatnya sudah berlabuh pada wanita lain yang saat ini sedang mengandung darah dagingnya.
Mobil itu melaju menuju ke bandara kota Washington. Mereka berdua akan berada di Paris selama kurang lebih dua minggu.
Baru berangkat saja, Jay sudah bosan dan ingin segera mengakhiri perjalanan bodoh ini. Ia benar-benar kehilangan mood-nya karna Archi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi itu Dara pergi ke pasar bersama Bibi Kim. Mereka berniat membeli bahan-bahan untuk kebutuhan kedai dan kebutuhan sehari-hari.
__ADS_1
Di sepanjang jalan ketika bertemu dengan para pekerja Won Company, mereka satu per satu menyalami Dara dan menyampaikan ucapan terima kasih berkat kerja kerasnya memenangkan kasus.
Sekarang para petani mendapatkan harga yang adil untuk hasil panen mereka. Pihak perusahaan juga dipastikan memberikan ganti rugi yang diberikan secara berkala tiap bulannya.
Pimpinan pabrik setempat diganti dengan warga lokal yang diyakini mampu mengemban tugas dan tetap adil dengan para pekerja.
Sungguh kerja keras yang luar biasa.
Dara tak menyangka jika kasusnya akan selesai secepat ini. Padahal sebelumnya orang-orang mati-matian untuk mencari keadilan.
Bibi Kim yang berada di jalan sambil menenteng belanjaan tiba-tiba teringat ketika Jay bekerja bersamanya.
"Sepertinya, Jay selalu membawa keberuntungan untuk kita," ucap Bibi Kim.
Dara tersenyum, ia juga ingat ketika Jay membuat sebuah menu baru bernama pasta yang membuat hampir seluruh warga Asia Town tergila-gila.
"Bibi bicara tentang pasta atau karena keberhasilan kasusku?" tanya Dara.
Bibi Kim tertawa. Ia ingat ketika Jay mengajarinya membuat mie untuk bahan pasta yang mana mie itu sangat berbeda dengan yang dibuatnya sejak dulu.
"Pasta adalah blue print-nya. Aku penasaran bagaimana anak itu bisa memasak dengan hebat," ujar Bibi Kim.
"Sebenarnya aku lebih penasaran bagaimana cara Jay menciptakan makanan itu."
"Jay bilang dia pernah bekerja pada orang Eropa. Sebelumnya ia hanya membantu-bantu saja, tapi akhirnya dia diijinkan memasak," jawab Bibi Kim.
Dara memiringkan kepalanya. Hal itu baru ia ketahui. Ia tak menyangka bahwa Jay rupanya memiliki banyak pengalaman.
__ADS_1
Pria itu misterius. Semakin hari, semakin banyak hal baru yang diketahui Dara tentang Jay. Wanita itu benar-benar terkesan.
"Oh, ya...Hari ini boleh kah bibi ikut menjemput Noah ke sekolahnya?" tanya Bibi Kim.
Wanita separuh baya itu belum sekali pun diajak ke tempat pra sekolah Noah.
"Boleh," jawab Dara.
"Bagaimana tempatnya? Apa lebih bagus dari tempat Betrice?"
"Jauh lebih bagus. Mereka memiliki banyak fasilitas. Selain itu, semua pengasuh dan anak-anak yang menjadi siswa di sana adalah orang Asia. Kupikir Noah merasa lebih nyaman berada di sana," jelas Dara.
"Kudengar pemiliknya juga orang Asia dan katanya masih muda." Bibi Kim menambahkan.
Ia sering pergi ke pasar sehingga banyak mendengar informasi dari seluruh penjuru kota dari para pedangan mau pun pembeli yang keluar masuk pasar.
"Ya, setahuku dia orang Korea. Namanya .... Ahhh... Siapa yaaa...." Dara mencoba mengingat-ingat.
"Archi Kim?" ucapnya ragu.
Bibi Kim kehebohan. "Wahh... Namanya mirip denganku."
"Iya, nama saja. Tapi sayangnya nasibnya tidak mirip," canda Dara.
"Ah... Kau ini. Kalau aku ibumu, aku akan mengutukmu jadi janda," sahut Bibi Kim.
Dara hanya tertawa menanggapinya. "Ya, aku sudah pernah jadi janda. Jadi kurasa kutukan Bibi Kim tidak akan mempan."
__ADS_1