Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Trust No One


__ADS_3

Rintik-rintik membasahi jalanan aspal pagi itu. Jalanan masih gelap, kira-kira masih pukul tiga pagi sekarang. Kaki bersepatu lusuh tengah berjalan tergopoh-gopoh menuju tempat telepon umum. Pria Asia itu merogoh saku celananya di mana di sana terdapat beberapa uang koin yang baru saja ia tukar di sebuah toko kelontong.


Pria itu memasukkan sebuah koin di sana dan mulai mengangkat gagang telepon. Ia tekan beberapa digit nomor yang sudah ia hafal di luar kelapa.


"Hallo, ini Jay Parker," ucapnya sesaat setelah seorang di ujung saluran mengangkat panggilannya.


"Tuan Jay, akhirnya anda mengabariku... Aku sudah menunggu kabar anda sejak kemarin." Suara seorang pria tua terdengar dari sambungan telepon. Ia adalah Chris, orang kepercayaan Jay.


"Aku sibuk belakangan ini. Oh ya, kau tahu siapa yang mengirim orang untuk mengintai pengacara para pekerja?" tanya Jay.


"Sepertinya Kepala Pabrik yang mengirim orang-orang itu. Ada apa, tuan? Apakah ada masalah?" tanya Chris.


"Tidak. Aku menyukai cara kerja mereka." Jay tersenyum kecut. "Tolong bilang pada Kepala Pabrik, aku ingin bertemu dengan orang-orang itu besok."


"Anda serius, tuan Jay?" Chris bertanya-tanya. Tak biasanya Jay sampai turun mengurusi hal kecil begini.


"Ya, aku serius. Aku ingin memberi mereka hadiah," jawab Jay.


"Baik, tuan. Aku akan segera mengabari Kepala Pabrik."


"Okay, jam 11 siang di rumahku dan jangan sampai terlambat!"


"Baik, tuan."


Setelah mendengar jawaban terakhir dari Chris, Jay kemudian menutup teleponnya. Pria itu kemudian keluar dan kembali berjalan pulang menuju rumah Dara.


Ia tak berpamitan saat keluar tadi, kemungkinan orang-orang akan kebingungan jika mendapatinya tidak ada. Selama beberapa hari setelah peristiwa penikaman itu, Jay memang masih tinggal di rumah Dara.


Ia bersyukur karena mendapat kepercayaan dari orang-orang itu. Selain itu, Jay juga diminta untuk mengasuh Noah di rumah karena tempat penitipan anak milik Betrice masih diselidiki oleh polisi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seperti biasa pagi itu Dara hendak pergi bekerja. Ia berjalan menuju halte bus dan melewati tempat penitipan anak milik Betrice. Langkah Dara terhenti ketika ia melihat kerumunan orang dan beberapa mobil polisi terparkir di sana. Karena penasaran, Dara pun mencoba bertanya pada salah satu orang yang ada di sana.


"Maaf, apa yang terjadi di tempat ini? Mengapa ada banyak polisi?" tanya Dara pada seorang wanita Asia separuh baya.


"Ada rekonstruksi kasus pembunuhan di sana."


"Pembunuhan?" Dara terkejut akan hal itu. "Siapa yang melakukannya?"

__ADS_1


"Salah satu dari pengasuh di tempat itu membunuh seorang anak, katanya dia punya dendam pribadi pada orang tua anak itu," jelas wanita itu.


Dara makin tak bisa berkata-kata ketika mendapati Betrice dituntun oleh dua orang polisi wanita dengan keadaan kedua tangannya diborgol. Saat itu Betrice hanya melirik sekilas ke arah Dara, raut sesal tergambar jelas di wajah Betrice.


"Betrice!!!" panggil Dara yang tak dihiraukan oleh si pemilik nama.


"BETRICE!!!" panggil Dara lagi. Kedua matanya mulai digenangi oleh air mata, sesaat setelahnya Betrice yang tak berdaya dibawa masuk ke mobil polisi dan pergi meninggalkan kerumunan.


"Tidak mungkin!!! Betrice tidak mungkin melakukan itu," ucap Dara pada wanita di depannya.


"Kita mungkin akan tahu fakta yang sebenarnya setelah putusan di pengadilan, nona."


"Tidak. Aku percaya pada Betrice, dia sangat baik padaku dan tak mungkin melakukan hal keji itu."


"Nona." Wanita separuh baya itu menginterupsi. "Tidak ada orang yang bisa kau percayai di dunia ini," ucapnya. Wanita itu kemudian berlalu dari hadapan Dara, diikuti dengan beberapa orang yang mulai meninggalkan lokasi.


Saat itu, Dara hanya dapat mematung. Wajahnya mendongak menatap langit yang masih mendung. Bahkan aspal belum mengering setelah hujan semalaman.


Suasana suram itu nampak lengkap dengan ketidak berdayaan Dara yang baru saja melihat hal yang tak dia inginkan. Ia hanya merasa kecewa dan tak percaya bahwa Betrice yang dikenalnya baik telah melakukan pembunuhan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Selamat sore, mommy...," sambut Jay sambil menggerakkan tangan mungil Noah.


"Mom...mom...mom..." Anak berusia satu tahun yang baru bisa mengucapkan beberapa kata itu pun juga menyambutnya.


Wajah letih Dara yang tergambar jelas, membuat Jay bertanya-tanya. Tapi sekali lagi, Jay tak bisa memulai percakapan apalagi menggali informasi tanpa menyisakan kecurigaan.


"Noah sayang..." Sebuah kecupan melayang di pipi Noah. Dara pun duduk di antara Jay dan sang putra.


"Kau bisa beristirahat sekarang, Jay," ucap Dara.


"Aku akan menunggumu mandi dan berganti pakaian. Baru aku akan menyerahkan Noah," jawab Jay. Dara menyetujui hal itu. Ia kemudian bergegas mandi.


Setelah selesai mandi, Dara segera menimang-nimang putranya. Ia juga menyuapi Noah dengan bubur yang ia buat dari bahan ubi. Ketika Noah tertidur, Dara kemudian menghampiri Jay. Rasanya berkeluh kesah bukanlah hal berlebihan, apalagi keduanya sudah mulai saling mengenal.


"Tadi pagi, aku melewati rumah Betrice..."


Jay menoleh, ia mungkin antusias dan penasaran pada waktu yang bersamaan.

__ADS_1


"Kau ingat garis polisi yang dipasang di rumahnya? Ya, terjadi pembunuhan di sana." Perkataan Dara terdengar bergetar, air matanya pun juga sudah menggenang. "Betrice...hiks...yang melakukannya." Dara mulai tersedu.


Jay yang tak tahu harus bagaimana untuk menenangkan Dara akhirnya memutuskan untuk menepuk-nepuk punggung Dara dengan pelan.


"Bagaimana orang sebaik Betrice bisa melakukan hal itu? Dia sangat menyayangi Noah," lanjut Dara.


"Terkadang apa yang kau lihat di depanmu tidak bisa menggambarkan situasi yang sebenarnya," ucap Jay.


"Kau benar. Aku sangat percaya pada kebaikan Betrice," jawab Dara.


"Bisa saja Betrice tidak melakukannya, tapi bukan hal yang tidak mungkin juga jika ia lah pelakunya." Jay mulai beramsumsi. Dara menoleh menatap pria itu. Ia tak ingin mendengar kalimat yang tak ingin ia dengar.


"Karna tidak ada orang yang bisa kau percayai di dunia ini." Perkataan yang sama juga keluar dari bibir Jay. Dara semakin kecewa pada dirinya yang terlalu mudah percaya pada seseorang. Wanita itu kemudian menyeka air matanya.


"Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Dara.


"Aku?" Jay bingung dengan apa yang dimaksud oleh Dara.


"Ya, Kau. Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Dara lagi.


Jay tersenyum, pertanyaan konyol macam apa ini?


"Tidak," jawab Jay dengan jujur. Ia pun juga tak mencoba meminta kepercayaan dari wanita itu.


Chu......


Sebuah kecupan singkat tiba-tiba dilayangkan oleh Dara di bibir Jay. Pria itu nampak terkejut dengan apa yang baru saja ia terima. Keduanya mematung. Jay tak mungkin terjebak dengan perangkap Dara. Ia hanya bisa menunduk tanpa bertanya apakah maksud dari hal gila barusan.


"Sepertinya kau bisa dipercaya," ucap Dara.


Jay yang semula menunduk kini menatap Dara dengan penuh tanya.


"Laki-laki lain mungkin akan membalas hal itu dan mencari kesempatan, tapi kau tidak. Itulah sebabnya aku mempercayaimu," lanjut Dara.


"Jangan percaya padaku. Aku hanya mencoba menjadi orang baik di sini."


"Ya, aku akan percaya pada orang yang sedang mencoba jadi orang baik." Dara kemudian beranjak dan masuk ke kamar meninggalkan Jay yang masih dilanda kebingungan.


Dara yang merasa hal yang dilakukannya begitu bodoh pun muncul dari balik pintu dan berkata pada Jay. "Maaf jika aku tidak sopan. Kau bisa pergi dari sini jika keberatan dengan apa yang baru saja ku lakukan."

__ADS_1


Jay semakin dilanda cemas. Apakah Dara akan baik-baik saja jika dirinya pergi?


__ADS_2