
Jay berjalan pelan mencoba mengintip ke dalam kamar karena penasaran. Di saat yang bersamaan Dara keluar sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Ssttt... Jangan berisik, Noah baru saja tertidur," ucapnya memperingatkan Jay.
"Kau yakin Noah sudah benar-benar tidur?" bisik Jay pelan. Dara mengangguk.
Sebuah raut genit keluar dari wajah tampan Jay. Ia tiba-tiba menarik tubuh Dara dan membawanya ke dalam pelukan yang hangat.
"Jay..." Dara mendorong pelan tubuh sang suami. Tapi Jay enggan melepaskannya.
Dikecupnya sekilas bibir sang istri. Membuat Dara tak dapat berkata-kata apalagi mengeluarkan protes.
"Don't you miss me?" goda Jay. Sang istri hanya tersenyum tanpa menjawab.
Melihat hal itu, Jay kembali menempelkan bibirnya pada bibir Dara. Ketika ciuman itu semakin intens, suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar.
"Siapa itu?" tanya Jay sambil menahan ciumannya.
"Entahlah," jawab Dara.
Jay kembali menautkan bibirnya pada bibir Dara. Masa bodoh saja. Mereka tak akan membiarkan siapa pun datang untuk mengganggu.
"Dara... Jay...." Lengkingan suara Bibi Kim terdengar dari luar.
Jay dan Dara lagi-lagi harus menghentikan momen romantis mereka. Kedua insan itu saling bertatapan seolah menunggu komando satu sama lain untuk menyudahi atau melanjutkan momen intim itu.
"Bibi Kim di luar," ucap Dara pelan.
"Biarkan saja." Jay mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Dara.
"Bibi akan mengomel..."
"Pura-pura saja kita sudah tidur," bisik Jay di telinga Dara.
Wanita itu tertawa pelan. Keduanya kemudian melanjutkan keintiman mereka tanpa menghiraukan gangguan dari luar.
Sementara Bibi Kim yang ada di depan cukup merasa tidak enak karena berpikir telah mengganggu istirahat Jay dan Dara.
"Sepertinya aku tidak sopan karena mengganggu jam istirahat mereka." Wanita itu bergumam, ia menyelipkan sebuah surat yang diterimanya dari tukang pos sore lalu di sela-sela pintu rumah Dara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sebuah bus jurusan Seattle melaju cukup kencang. Di dalamnya terdapat beberapa penumpang, memang tak banyak bahkan bus itu tak penuh tapi pagi ini cukup ramai orang yang menaiki bus tersebut.
Dara dan Jay duduk di bangku paling belakang. Mereka berpegangan tangan di sepanjang perjalanan tanpa peduli pada orang-orang yang mengamati keduanya.
Bus itu berhenti di sebuah halte, di mana tempat itu terletak tak jauh dari kantor pengadilan Asia Town.
"Sampai jumpa." Dara turun mendahului karna ia tahu bahwa tujuannya dengan Jay berbeda. Tapi siapa sangka, Jay juga ikut turun bersamanya.
"Loh... Kenapa ikut turun?" tanya Dara.
"Aku ingin mengantarmu dan memastikan kau sampai di sana dengan selamat," jawab Jay.
"Tapi kau akan terlambat sampai ke Seattle jika harus mengantarkanku dulu."
"Tenang saja, aku masih punya waktu beberapa jam untuk istirahat sebelum kembali bekerja."
Dara kemudian mengangguk menyetujui keingin Jay. Mereka pun sampai ke kantor pengadilan setelah berjalan kurang lebih seratus meter.
"Di mana orang-orang?" tanya Jay. Tempat itu masih sangat sepi.
Dara mengedarkan pandangannya lalu menunjuk ke arah teras kantor yang paling ujung.
Jay memicingkan mata. "Hanya dia? Di mana pekerja yang lain?"
Hanya ada satu orang dan itu terlihat miris di mata Jay, padahal sebelumnya ada puluhan orang.
"Ya... Hanya dia yang bersedia hadir," ucap Dara yang ikut miris akan nasibnya sendiri.
"Kau yakin, keberuntungan akan berpihak padamu?" tanya Jay. Ia tak berniat menciutkan nyali Dara, dirinya hanya tak ingin sang istri kecewa lagi dengan hasil persidangan.
Dara mengangguk. "Iya. Aku yakin. Aku sudah bekerja keras selama ini."
Wanita itu memang memiliki keteguhan yang luar biasa. Jay tersenyum, ia kemudian melayangkan sebuah kecupan kilat di dahi Dara.
"Semoga beruntung," ucap Jay.
Pria itu kemudian berpamitan dan pergi kembali ke halte untuk menunggu bus selanjutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di rumah, Jay segera bergegas masuk ke kamarnya. Hari sudah sore, tapi ia tak berniat menyalakan lampu kamar karna terlalu lelah. Ia ingin tidur untuk menghilangkan stres yang melandanya belakangan ini.
__ADS_1
Pria itu menutup pintu kamarnya dan membuka kaos yang ia kenakan. Ia melemparnya ke sembarang arah karna malas dan ingin langsung membaringkan tubuhnya di ranjang.
Brukkk...
Jay menjatuhkan dirinya di sana sembari terlentang. Karna merasa ada sesuatu yang janggal, Jay pun menoleh ke arah samping.
Ia dapati Archi sedang tiduran miring di sana sambil menatap wajah Jay dengam seksama.
"Apa yang kau lakukan di situ?!" tanya Jay sambil meloncat turun dari ranjangnya sendiri.
Archi tersenyum menatap wajah panik Jay. Mereka memang tak pernah sedekat ini sebelumnya.
"Aku ingin berkunjung ke rumahmu, tapi ternyata kau tidak ada. Asal kau tahu, ya! Aku sudah disini selama dua hari," ucap Archi.
"Dua hari?" kaget Jay.
Archi bangun dan duduk bersila di atas ranjang Jay sambil menunjukkan dua jarinya. "Iya... Dua hari," tegasnya.
"Kau gila."
"Sejujurnya aku senang di sini. Tuan Chris melayaniku dengan baik, sepertinya aku akan betah." Archi mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Ia kemudian turun dari ranjang dan menuju ke arah jendela kamar Jay.
Gadis itu membuka gordennya sehingga menampakkan langit senja yang lambat laun berubah menghitam karna malam tiba.
"Keluar dari sini!" pinta Jay.
Archi menggeleng. "Aku sudah nyaman di sini. Ngomong-ngomong aku juga tidur di sini kemarin."
"Apa? Beraninya kau tidur di kamarku!" Nada bicara Jay meninggi, ia kini benar-benar marah.
Bukan masalah apa-apa, ia hanya tak ingin tempat pribadinya ditinggali oleh orang lain.
"Memangnya aku harus tidur di mana? Tidak ada kamar tersisa di tempat ini." Archi beralasan.
Tempat tidur di rumah Jay memang sudah pas untuk orang-orang yang tinggal di sana, termasuk Chris dan para pelayan.
"Tidur saja di ruang tamu," balas Jay.
"Tidak mau. Aku mau tidur di sini... Denganmu," ucap Archi.
Ahhhh... Rasanya Jay bisa gila.
__ADS_1