
Di perjalanannya menuju Asia Town, Jay melihat mobil sang ayah melintas mendahului bus yang membawanya.
Jay terperanjat dan merasa was-was kemudian ia berdiri dari bangkunya. Mobil itu melaju kencang dan tiba-tiba menukik menghalangi jalannya bus yang membawa puluhan penumpang itu.
Rem bus itu mendecit, seluruh penumpang yang ada di dalam bus berteriak. Mereka cemas jika mobil yang menghadang mereka adalah geng anti Asia.
"Siapa mereka?!"
"Matilah kita!"
"Ayo turun!"
Para penumpang panik. Di kala kepanikan menyerang, mereka yang mencoba keluar bus melalui pintu sisi belakang pun tak berkutik ketika pintu itu ditahan oleh beberapa pria Afrika-Amerika bertubuh tinggi besar dari luar.
Tak terkecuali Jay yang kehilangan akses untuk keluar. Mobil paling bagus yang ada di depan sana terbuka pintunya. Seorang laki-laki separuh baya keluar memasuki bus sehingga membuat orang di dalamnya ikut kalang kabut.
Laki-laki yang tak lain adalah Bill Parker itu didampingi oleh dua orang bodyguard bersenjata lengkap. Mata Bill langsung saja tertuju pada Jay yang hanya mampu terdiam di tempat duduknya.
"Pulang!" pinta Bill, membuat pandangan seluruh orang di dalam bus tertuju pada Jay.
Tatapan mereka seolah menyalahkan Jay yang berada di dalam bus itu, hingga membuat orang-orang di sana merasa nyawanya terancam.
Melihat Jay yang hanya diam tanpa respon, membuat Bill menggeram.
"Mau ke mana kau?" tanya Bill.
Jay mendongak menatap ayah angkatnya itu. "Ayah sebenarnya sudah tahu aku akan ke mana. Kenapa masih bertanya?"
Senyuman sinis tergambar jelas di wajah Bill. Jay tak pernah terang-terangan membangkang seperti ini di depannya.
__ADS_1
"Kau sudah pintar menjawab, nak." Wajah marah Bill ia tahan, sebisa mungkin ia memberikan senyuman pada Jay.
Ia mengepalkan tangan, muak dengan pakaian murahan yang dikenakan oleh Jay. Entah apa yang diperbuat oleh Alexandra Meggie hingga bisa menjadikan Jay seperti ini.
"Kenapa kau memakai baju jelek seolah-olah tak ada desainer yang berjajar demi memberikanmu pakaian yang pantas," ucap Bill lagi.
Sementara penumpang di dalam bus hanya menegang tapi antusias juga, layaknya mereka melihat drama televisi secara langsung.
"Aku ingin menjadi diriku yang lain. Setiap orang punya alter ego 'kan?" sungut Jay.
Bill tertawa keras. Ia kesal karna pertanyaan yang sebelumnya justru dibelokkan oleh Jay.
"Kau belum lama sampai dari Paris, kenapa tidak memilih beristirahat di rumah dan dilayani segala kebutuhanmu oleh Chris?"
Jay berdecak. Ia tak mau dihalangi. Sudah dua minggu ia tak bertemu dengan keluarga kecilnya di Asia Town.
"Aku hanya pergi sebentar, kenapa ayah bersikap seolah-olah aku adalah buronan negara?" Jay melirik ke arah dua bodyguard sang ayah yang menenteng senjata.
Bill melengos. "Ayah hanya membuktikan padamu bahwa ayah juga bisa menggertak, atau bahkan melakukan hal yang lebih berbahaya lagi."
Laki-laki itu merebut senjata sang bodyguard dan melepaskan pelurunya ke arah atap bus hingga berlubang.
Seluruh orang yang ada di dalam sana menjerit ketakutan, sementara Jay kini merasa sangat muak pada sang ayah.
"Sebenarnya apa yang ayah inginkan?" tanya Jay frustasi.
Bill tersenyum. "Kau perlu memberi makan ikan-ikanmu yang ada di kolam ayah," jawabnya.
Jay menghembuskan napas panjang, kesal, kesabarannya nyaris habis. Ia kemudian beranjak dari tempatnya dan keluar melalui pintu sisi belakang.
__ADS_1
Orang-orang yang semula menahan pintu itu pun membukannya dan membiarkan Jay keluar.
Jay kemudian masuk ke mobil Bill, ia harus mengalah kali ini dan menunda pertemuannya dengan Dara dan Noah.
Bill tersenyum puas dan turun dari bus, membebaskan kendaraan itu kembali ke perjalanan mereka yang tertunda.
"Ini, ganti rugi untuk atapmu yang bolong." Bill meletakkan beberapa lembar dollar nominal seratus di dashboard bus.
"Ayah punya kejutan untukmu," ucap Bill ketika ia memasuki mobilnya dan duduk di samping Jay.
"Aku tidak ulang tahun," sahut Jay.
"Tak perlu ulang tahun untuk memberikan kejutan untukmu, Jay. Lagi pula, ini berkaitan dengan orang yang ada di Asia Town..." Bill mengambil selembar foto dan menyerahkannya pada Jay.
Mendengar hal itu, Jay menegang. Perlahan ia meraih sodoran foto itu dari tangan Bill. Matanya membulat ketika melihat gambar yang ada di foto itu, apa yang telah dilakukan oleh sang ayah dan mengapa ia melakukannya?
"Sebuah musibah memang tak bisa diperkirakan kapan datangnya..." Bill tertawa pelan. "Tapi mereka beruntung karna tak sampai meregang nyawa."
Jay mengepalkan tangannya, ia mencoba bersikap tenang. Foto di tangannya yang menunjukkan sebuah peristiwa kebakaran, ia genggam erat.
"Ada banyak korban di sana. Tapi tenang saja, kebanyakan bangunan di sana sudah diasuransikan oleh pemerintah." Bill menoleh ke arah Jay. Respon diam Jay bukan yang ia harapkan.
"Kau terlihat terlalu tenang untuk berita besar ini," ucap Bill.
"Lalu aku harus merespon bagaimana?" tanya Jay.
"Anak kecil itu..."
Jay menahan napasnya. Anak kecil siapa yang dimaksud oleh Bill?
__ADS_1
"Anak pengacara Alexandra Meggie, mengalami luka bakar yang parah."
Darah Jay seolah mendidih mendengar hal itu. Bagaimana itu bisa terjadi? Sedangkan sebuah raut angkuh mulai tergambar jelas di wajah Bill.