
Paris terasa lebih indah ketika Archi bisa tidur dalam pelukan Jay. Ia sengaja bangun lebih dulu agar Jay tak merasa canggung karena telah terjebak dalam ilusi pagi.
Gadis itu merapikan kopernya, hari ini mereka akan kembali ke Seattle. Sungguh terasa singkat dan justru di hari-hari terakhir-lah ia baru bisa benar-benar menikmatinya bersama Jay.
Jay terbangun sesuai irama kehidupan. Penerbangan masih empat jam lagi, ia masih punya waktu untuk mandi dan bersiap.
"Aku tunggu di bawah untuk sarapan," ucap Archi sembari menarik kopernya keluar.
Jay hanya terdiam, ia mendadak linglung. Rambut Archi yang terurai panjang meliuk-liuk mengikuti tubuhnya yang berjalan.
Tubuh sintal indah gadis itu seolah membius Jay. Ia mulai merutuki dirinya sendiri yang tiba-tiba mengagumi fisik Archi yang jauh berbeda dengan Dara.
Wanitanya itu kurus, tubuhnya mungil dan janda...ya, janda.
Jay mungkin bercita-cita untuk dapat menggagahi seorang perawan suatu hari nanti. Tapi sepertinya angannya hanya akan memudar seiring berjalannya waktu.
"Apa yang kupikirkan!" Jay menepis pikiran kotor itu dari kepalanya.
Ia teringat akan mimpi yang membuat benda di antara selangkangannya mengeras. Mimpi ketika samar wajah Dara berubah menjadi Archi dan Jay memeluknya erat.
__ADS_1
Bukankah ini sudah termasuk perselingkuhan?
Jay mendadak paranoid, ia tak ingin menerima karma barang di dalam mimpi saja. Ia tak bisa menerima hal itu.
"Apapun yang kau punya, kau harus mensyukurinya Jay!" tegasnya pada hati nurani yang mulai melenceng dari prinsipnya.
Pria itu bergegas mandi dan bersiap. Ia kemudian merapikan kopernya dan membawanya turun untuk sarapan di restoran yang letaknya di lantai dasar bersama Archi.
Gadis jelita itu sudah menunggu di sebuah meja makan, sarapan pun sudah tersaji di atasnya.
Hmmm, sepiring waffle dan secangkir kopi memang cocok untuk suasana ini. Jay mengambil tempat duduk di depan Archi, kali ini ia tak melontarkan protes sama sekali.
"Selamat makan," ucap Archi. Sebuah senyum manis mengembang di wajahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepulangnya Jay dari Paris, Chris seolah ingin menggali informasi tentang hubungan sang tuan dengan Alexandra Meggie. Tapi, Jay selalu menghindari topik itu.
Belakangan ini Jay hanya membahas soal bisnisnya. Ia bahkan berencana membuka sebuah club dan restoran China.
__ADS_1
"Kau sudah memeriksa harga tanah di kawasan LA?" tanya Jay sembari membolak-balikkan koran untuk mencari iklan baris yang menawarkan harga investasi jangka panjang.
"Sudah, tuan. Teman saya adalah seorang makelar tanah, dia bilang kisaran harga tanah di LA adalah sekitar sepuluh ribu dollar setiap meternya," jawab Chris.
Jay berhenti sejenak, ia meletakkan korannya di atas meja. "Bagaimana kondisi tempat itu? Apa kira-kira bagus untuk berbisnis?"
"Potensinya sangat bagus, tuan. Harga yang ditawarkan tergolong murah karena keadaan perekonomian yang sedang krisis, harganya akan bertambah berlipat ganda jika perekonomian mulai stabil nantinya," jelas Chris.
"Baiklah. Hubungi temanmu dan atur jadwal untuk bertemu denganku. Aku akan melakukan penawaran, jika bisa turun lima ratus dolar aku akan memberikan komisi yang lebih untukmu," ucap Jay.
Chris mengangguk. "Anda akan ke mana, tuan?" tanya Chris penasaran.
Jay saat ini beranjak dari tempatnya dan hendak keluar.
"Hari ini aku akan pergi ke Asia Town. Mungkin aku baru akan kembali besok lusa," jawab Jay.
Chris yang semula bimbang, akhirnya ia mantap bertanya. "Mengapa anda selalu ke sana? Saya pikir urusan anda di sana sudah selesai."
Ucapan itu memang bodoh. Chris merutuki dirinya sendiri, harusnya ia tak terlalu kentara bertanya akan suatu hal yang disebut privasi bagi Jay.
__ADS_1
"Aku hanya mencoba berbaur dengan orang-orang yang mau menerimaku di saat aku bukan siapa-siapa."
Jay pun beranjak pergi dari ruangannya. Chris hanya membungkuk untuk memberi hormat, ia tak bisa bertanya lebih jauh lagi.