Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Enemy Under Blanket


__ADS_3

Dara menarik dirinya dengan cepat. Ia rasa cukup satu kecupan di pipi saja untuk menegaskan pada Jay bahwa dia tak marah dengan sikap sembrono Jay yang tiba-tiba mencuri ciuman di bibir.


"Selamat malam," ucap Dara, Wanita itu hendak beranjak dari duduknya. Tapi, Jay menahannya. Pria itu menarik Dara hingga kembali duduk, seolah tak mengijinkan wanita itu lolos dari jangkaunnya.


Merasa mendapatkan ijin, Jay menggiring Dara begitu saja ke pelukannya. Tangan kirinya merangkul pundak Dara untuk menepis jarak di antara mereka. Pelan-pelan Jay mulai mendekatkan wajahnya, lalu kembali mendaratkan bibirnya pada bibir Dara.


Wajah Dara memanas, jantungnya berdebar tak karuan. Kedua mata Jay fokus menatapnya dengan tatapan seksi, sedetik kemudian bibirnya kembali mendarat di bibir Dara.


Pelan-pelan, Jay mulai membuka mulutnya *****4* lembut bibir Dara. Wanita yang semula pasif itu mulai menanggapi Jay. Bibirnya mulai menerima perlakuan Jay.


Lidah Jay menerobos masuk mengabsen jajaran gigi rapi milik Dara. Ia menelusuri rongga mulut Dara dan mencari benda serupa untuk mengajaknya berdansa.


Kedua tangan Jay semakin mengerat mendekap tubuh mungil Dara. Begitu pun Dara yang telah menyetujui aksi panas itu kini mengalungkan tangannya di leher Jay.


Pelan tapi pasti, Jay mulai menggiring Dara untuk duduk di pangkuannya. Tangan Jay yang semula mendekap erat tubuh Dara, kini mulai aktif sedikit demi sedikit menaikkan kaos yang melilit tubuh Dara hingga hampir terlepas.


Tangan Jay mulai menjelajah, memb3lai punggung mulus Dara dari bawah hingga ke atas. Tangan Dara pun mulai memb3lai rambut Jay dan menjambaknya pelan.


Perlahan ketika situasinya terasa bagus, Jay mulai beralih dan melepaskan pengait bra milik Dara. Begitu terlepas, Jay beralih menggerakkan tangannya ke depan untuk mer4ba benda kemb4r milik Dara yang tak begitu besar.


Pria itu mulai memijatnya pelan dan memainkan n1pplenya sembari berciuman. Jay kemudian menaikkan kaos Dara hingga ke atas dada untuk dapat melihat betapa indahnya tubuh wanita itu.


Bisa dibilang tipe tubuh kurus mungil seperti Dara-lah yang benar-benar Jay gilai. Jay menelan salivanya, tubuh itu menariknya untuk melakukan hal yang lebih lagi. Meski sadar bahwa apa yang dilakukan Jay adalah hal gila, ia tetap melakukannya.


Bibirnya mulai mendarat di dada Dara. Ia hirup aroma tubuh wanita itu hingga membuatnya makin mabuk. Jay kemudian mulai menciumi area itu dengan gemas. Setelahnya, Jay menyes4p *1**** berwarna coklat muda itu satu per satu.


Lenguhan lolos begitu saja dari mulut Dara, menandakan bahwa wanita itu menyukai permainan Jay.


Jay kemudian melepaskan kaos yang melekat ditubuhnya hingga mempertontonkan tubuh atletisnya yang dihiasi dengan rajahan tato yang penuh di dada sebelah kirinya.


Sebuah perban masih menempel di sana, bukti bahwa luka tikaman yang diterima oleh Jay kala itu masih membutuhkan perawatan.


Tangan Dara mengusap tubuh Jay, menelusuri dada bidangnya dan perut dengan abs yang sempurna. Tubuh Jay begitu indah di mata Dara.


Kedua insan itu sudah tak bisa menahan hasrat masing-masing lagi. Jay mulai membalikkan posisi. Ia membaringkan Dara di teras tanpa alas itu dan mengambil alih di atasnya.


Pelan-pelan ia mulai menurunkan celana Dara hingga terlepas. Sebuah panties berwarna hitam menutupi bagian tubuh yang menjadi titik pusat permainan nakal ini. Jay kemudian juga menurunkannya, membiarkan celana itu masih tersangkut di salah satu kaki Dara.


Mahkotanya nampak indah. Tubuh itu mungkin sudah tak dijamah dalam waktu yang lama. Bulu-bulu tipis menutupi bagian itu, menandakan bahwa Dara mungkin merawatnya secara rutin.


Jay mulai membuka kancing celana jeansnya dan menurunkan resleting dan celana di dalamnya. Tak ada satu menit, benda miliknya sudah tertanam pada Dara membuat atmosfer malam itu semakin panas.


Permainan itu harus berlangsung cepat. Tapi baik Dara ataupun Jay akan selalu mengingat momen itu setiap detiknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat terbangun, yang Dara dapati pertama kali adalah wajah Jay yang masih terlelap. Keduanya tetidur di teras belakang bahkan tertidur tanpa alas. Untung saja udara malam itu tak begitu dingin.

__ADS_1


Sibuk memandangi wajah Jay, tiba-tiba ia dikejutkan dengan pekikan Bibi Kim disertai dengan langkah kaki yang mulai mendekat ke arah teras belakang.


"Dara... Jay!!" panggil Bibi Kim.


Jay yang semula terlelap langsung membuka mata dan mengerjap. Keduanya segera meloncat menjauhkan jarak mereka sebelum Bibi Kim menemukan mereka di sana.


Sreeeetttt.... Pintu belakang digeser. Bibi Kim mendapati Dara dan Jay yang membisu dan duduk berjauhan.


"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Bibi Kim keheranan.


"Ah, kami baru bangun," jawab Jay dan Dara bersamaan. Keduanya kemudian saling menatap sekilas, mereka terlihat gugup saat ini.


"Bagaimana bisa kalian baru bangun, ini sudah siang!" omel Bibi Kim.


"S-sudah siang?" Dara terperanjat. Ia segera berlari ke dalam untuk melihat jam. Waktu menunjukkan pukul sembilan pagi sekarang.


"Astaga, aku kesiangan." Dara kemudian masuk ke kamar untuk memeriksa Noah yang ternyata sudah bangun.


Putra kecilnya itu kini sibuk bermain mobil mainannya dan mengacak-acak kasur sejadinya. Untung saja dia tidak menangis karena tak mendapati sang ibu di sisinya.


Sementara itu di belakang, Bibi Kim sedang berbincang dengan Jay.


"Kau bilang hari ini ingin mengunjungi pamanmu. Jadi bibi ke sini untuk mengingatkanmu dan membawa beberapa kue kering untuk pamanmu," ucap Bibi Kim.


"Kue kering? Anda membuatnya sendiri?" tanya Jay.


Bibi Kim terkekeh. "Tidak, aku membelinya dari pedagang keliling." Ia kemudian menyodorkan satu plastik penuh kue kering pada Jay.


Jay tersenyum sambil menerima kantong plastik itu. "Terima kasih, Bibi Kim."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampai di kediamannya, Jay segera bergegas ke ruangan tengah untuk berbaring di sofa dan menyalakan televisi. Ia meletakkan barang bawaan yang diberi oleh Dara dan Bibi Kim di atas meja.


Tangannya menekan-nekan remote control televisinya untuk mencari channel televisi Asia. Ia penasaran pada drama Asia yang diceritakan oleh pelanggan kedai mie.


"Tuan Jay, selamat datang," sambut Chris. Lelaki separuh baya itu membawa dua orang pelayan yang masing-masing membawa nampan berisi makanan dan minuman. Pelayan itu kemudian meletakkan yang mereka bawa di atas meja dan undur diri.


"Hai, Chris," balas Jay. Ia kembali sibuk memindah channel televisi hingga menemukan drama Asia yang dimaksud oleh pelanggan kedai.


"Tumben sekali anda menonton channel televisi Asia," ujar Chris.


"Ada yang bilang kalau wajahku mirip aktor drama Asia. Itulah kenapa aku menonton channel ini," jawab Jay.


Chris tersenyum menanggapi sikap lucu Jay. Ia kemudian beralih pada tas lusuh dan sekantong plastik berukuran lumayan besar di atas meja.


"Apa yang anda bawa, tuan?" tanya Chris.

__ADS_1


"Oh... Itu oleh-oleh untukmu. Buka saja."


Chris kemudian membuka tas yang berisi penuh ubi itu. Ia tertawa keheranan.


"Apa anda sedang menyindirku?" gurau Chris, belakangan ini ia memang bertugas mengurus pasokan ubi yang masuk ke pabrik miras milik Jay.


"Haha... Tidak, itu hanya kebetulan. Itu pemberian Dara untukmu, benda itu terlalu banyak di rumah," jawab Jay.


"Dara?" Chris bertanya, ia asing dengan nama itu.


"Alexandra Meggie, pengacara para pekerja. Dia mendapatkan ubi-ubi itu sebagai imbalan atas jasanya."


"Anda baru saja menyebutnya Dara—"


"Oh... Itu nama panggilannya," sahut Jay.


Chris mengangguk-angguk paham. Ia kemudian menghitung berapa banyak ubi yang ia dapatkan.


"Anda serius nona Alexandra Meggie hanya dibayar dengan ubi-ubi ini?" tanya Chris penasaran.


"Ya, mereka memberikan hasil panen mereka. Tapi juga ada amplop tipis di sana. Aku tak yakin berapa isinya, tapi aku yakin itu pasti sangat sedikit. Sepertinya tidak setimpal dengan apa yang sudah dilakukan Dara untuk mereka," ucap Jay.


"Nona Alexandra pasti punya alasan kuat mengapa ia harus maju membela para pekerja." Chris melontarkan pendapat.


"Kau benar. Pasti ada hal besar yang berusaha dia ungkapkan."


"Oh ya, tuan... Kalau ini apa?" tanya Chris mengalihkan pembicaraan. Ia melihat isi kantong plastik yang ada di atas meja.


"Itu kue kering dari Bibi Kim pemilik kedai mie."


"Kedai mie?"


"Ya, aku bekerja di sana."


Chris mencoba menahan tawanya.


"Tertawa saja sepuasmu," sungut Jay.


"Tuan Jay, sepertinya anda sudah terlalu total mendalami peran tuna wisma ini," canda Chris.


"Aku berusaha membuat mereka percaya. Bahkan aku mengatakan bahwa aku sedang mengunjungi pamanku. Jadi, siap-siap saja berakting menjadi pamanku suatu hari nanti," balas Jay.


"Apa pun itu akan ku lakukan untuk anda, tuan." Chris tersenyum patuh. Ia kemudian mengeluarkan sebuah buku lalu menyodorkannya pada Jay. "Saya menemukan ini, tuan."


Jay meraih buku itu dan memandangnya sekilas. "Apa ini?"


"Catatan penyelewengan dana yang saya temukan di ruangan kerja tuan Bill Parker."

__ADS_1


Jay terkejut mendengar keterangan itu. Apakah ini juga berkaitan dengan kehadiran sang ayah ke kantor pengadilan waktu itu? Tapi, Jay sudah memastikan bahwa ayahnya tak ada di sana saat persidangan pertama.


"Chris, tolong selidiki selisihnya dengan pencatatan keuangan perusahaan. Jika sampai ayahku terlibat, aku tidak akan tinggal diam!" ucap Jay.


__ADS_2