Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Daftar Kebohongan


__ADS_3

"Kebohongan apa maksud Bibi?" Dara bertanya.


Bibi Kim saat itu panik ketika Dara tiba-tiba pingsan di kedainya, sehingga ia harus tutup karena harus merawat wanita itu. Ia dibantu oleh para tetangga untuk membawa Dara yang pingsan pulang ke rumah.


Segelas air hangat di genggaman Bibi Kim, ia letakkan di atas nakas. Wanita separuh baya itu menunduk, seolah enggan bercerita tentang kecurigaannya pada Jay akhir-akhir ini.


Sudah berulang kali Bibi Kim mencoba berpikiran positif dan mencoba mempercayai Jay. Tapi, pasti ada-ada saja hal yang membuatnya merasa curiga.


"Jay bilang dia tuna wisma dan hidup seorang diri di Amerika, tapi kenyataannya dia mempunyai paman yang tinggal di Seattle," ucap Bibi Kim.


Satu-satunya hal yang tidak disukainya atas Jay adalah ketidak jelasan identitas pria itu. Awalnya Bibi Kim memang takut jika Jay adalah orang jahat.


"Dia mengatakan itu karena mungkin saat itu dia tidak punya tempat tinggal," bela Dara.


"Ya, aku memaklumi itu. Tapi dia awalnya bilang kalau pamannya adalah seorang petani, padahal pamannya adalah orang kepercayaan pemilik Won Company."


Dara terdiam, ia tak bisa menyangkal itu. Meski kepalanya terus saja mencoba berpikir positif, tapi kenyataannya adalah sebaliknya.


"Malam itu ketika aku melihatnya pergi ke tempat telepon umum, dia mengatakan bahwa dia perlu mengabari pamannya yang harus dijadikan saksi atas kasus monopoli uang. Padahal kenyataannya, dia sering pergi ke tempat itu di jam yang hampir sama bahkan dini hari." Bibi Kim memberi jeda pada ucapannya, ia menatap Dara yang saat ini masih terdiam menyimak perkaraan Bibi Kim.


"Jika pamannya adalah saksi yang diinginkan oleh Won Company, pasti itu berhubungan dengan Jay yang selalu pergi ke tempat telepon umum. Sebelum dia kembali ke Seattle, dia bilang dia tak pernah berkomunikasi dengan pamannya. Padahal kenyataannya dia sering menelponnya," lanjut Bibi Kim. Dara semakin tak bisa berkata-kata.


"Satu lagi kebohongan sepele yang dilakukan oleh Jay. Dia tak pernah menaiki bus untuk pergi ke Seattle, dia bahkan tidak memahami rute busnya," ucap Bibi Kim lagi.


Mata Dara mulai berkaca-kaca. Ia tak percaya bahwa Jay membohongi mereka selama ini.


"Dia memang pria yang baik, bahkan rela ditikam untukmu. Tapi, bagaimana jika yang dia lakukan selama ini hanya bagian dari sandiwaranya?" tanya Bibi Kim.


"Jadi maksud Bibi, Jay adalah mata-mata yang dikirim oleh pihak Won Company untuk menggagalkan kasus yang ku tangani?"


Bibi Kim mengangguk. Kini Dara mengerti mengapa pengadilan tiba-tiba menunda persidangan secara sepihak. Mereka mungkin sedang menyiapkan siasat untuk melakukan perlawanan.


Ya, Dara tak pernah merasa dikhianati seperti ini.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bus yang menuju ke Halte Asia Town saat ini tak terlalu penuh. Dara duduk di sebelah jendela sambil memegangi perutnya. Betapa malang nasih wanita itu. Ia merasa dikhianati oleh Jay untuk yang kedua kali.


"Jahat sekali dia," gumamnya. Tanpa sadar titik-titik air mata turun membasahi pipi, Dara menyekanya cepat. Ia tak ingin kedapatan menangis di tempat umum.


Sekarang apa yang harus dia lakukan? Perutnya semakin hari pasti akan semakin membesar. Apakah kira-kira dia akan sanggup merawat anak itu seorang diri? Ia saja masih sering kekurangan dan khawatir tidak bisa membahagiakan putra pertamanya, Noah.


Yang lebih sakitnya lagi, Dara tak tahu harus memberitahu siapa tentang kehamilannya ini. Bagaimana respon Bibi Kim jika ia tahu? Wanita itu sudah seperti ibu kandung Dara. Ia tak tega jika harus membiarkan Bibi Kim tentang kenyataan pahit ini.


Wanita itu turun ketika bus sudah berhenti di halte terakhir. Sembari berjalan menuju rumah, Dara mencoba memutar otak. Tapi anehnya, kepala Dara malah sama sekali tak bisa berpikir saat itu.


"Bagaimana ini?"


"Bagaimana ini?"


"Bagaimana ini?"


Kalimat itu dirapalkan oleh Dara di sepanjang jalan. Hingga tanpa sadar ia sudah sampai di rumah. Bibi Kim dan Noah keluar dari sana dan menyambut kedatangan Dara.


Dara tak menjawab, ia hanya berlalu melewati sang bibi dan berjalan masuk. Wanita itu duduk di meja makan sembari menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Dara, ada apa?" tanya Bibi Kim panik. Hingga isakkan Dara terdengar dari balik tangan, membuat Bibi Kim merasa sedih.


Ia duduk di samping Dara dan mengusap punggungnya. "Ada apa? Kenapa kau menangis?" tanyanya dengan nada lembut.


Bukannya menjawab, Dara justru semakin terisak. Noah yang berada di pangkuan Bibi Kim pun ikut menangis. Ia akhirnya menjauhkan Noah dari sang ibu yang tengah bersedih.


Bibi Kim meninggalkan Dara seorang diri di dapur. Ia memilih untuk mengurus Noah seharian ini sampai bocah itu tertidur. Setelah dirasa momennya pas, Bibi Kim segera mendekati Dara yang terlihat sudah merasa lebih tenang.


Kedua kantung mata wanita itu sampai bengkak, wajahnya masih pucat pasi. Sebuah gelas berisi teh hangat di sodorkan oleh Bibi Kim pada Dara. Wanita itu meraihnya dan meneguk teh perlahan agar merasa rileks.


"Apa yang terjadi?" tanya Bibi Kim.

__ADS_1


Dara terlihat berancang-ancang untuk menjawab pertanyaan itu. Meski sulit baginya, ia harus memberitahu Bibi Kim.


"Aku tidak percaya Jay benar-benar meninggalkanku," ucapnya dengan suara bergetar.


Bibi Kim berdecak kesal. "Kau masih saja memikirkan penipu itu? Lagi pula apa yang kau harapkan darinya?"


Dara menenggak salivanya. "Menurut Bibi Kim, apa yang harus aku lakukan sekarang?"


"Jangan mengemis padanya. Dia pergi karna itu adalah kemauannya," jawab Bibi Kim.


"Bagaimana jika ada suatu keadaan yang mengharuskan aku untuk mengemis padanya?" tanya Dara lagi.


Bibi Kim terdiam sesaat. "Apa maksudmu?"


"Kau boleh mengutukku setelah aku mengatakan ini..." Dara menggigit bibit bawahnya. Air matanya kembali keluar.


"Apa maksudmu?" Hanya itu saja pertanyaan yang terus-menerus keluar dari bibir Bibi Kim.


"Aku hamil," ucap Dara.


Tak cuma dia, Bibi Kim pun merasa dunianya seakan runtuh. Ketika orang yang dianggapnya seperti putri sendiri mengalami hal tragis semacam ini.


"Baj1ngan itu!" umpatnya. Ia mulai mengguncang kedua bahu Dara. "Kenapa kau lakukan itu? Bibi kira kau adalah wanita yang pandai!!!" marahnya.


Dara melengos, ia memang sudah dibodohi oleh cinta.


"Maaf," ucapnya.


"Maaf??? Kepada siapa kau meminta maaf? Pada Bibi? Pada Noah? Atau pada bayimu?"


Dara kembali menitikkan air mata. Bibi Kim melepas kendalinya, ia mengusap wajahnya berkali-kali karena keringat dingin yang mulai keluar.


"Kau sudah gagal dalam segala hal. Menjadi pengacara, menjadi ibu dan menjadi wanita. Aku tidak tahu di sebelah mana lagi letak harga dirimu." Bibi Kim mengomel.

__ADS_1


"Apa ini akan menjadi aib? Bukankah hal ini sudah biasa di sini?" Dara masih sempat bertanya di dalam tangis.


"Asia Town berbeda dengan negara tempat mereka berada. Kau tetaplah aib jika hamil di luar nikah," jawab Bibi Kim. "Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus meminta Jay untuk bertanggung jawab!" ucap Bibi Kim.


__ADS_2