Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Belenggu


__ADS_3

Beberapa ikan koi berukuran besar Jay masukkan ke dalam sebuah kolam renang. Ia membawa sekantung penuh makanan ikan dan mulai menaburkannya di atas air. Seorang laki-laki Afrika-Amerika berlari dengan napas terengah, kelelahan menopang berat tubuhnya yang sudah melebihi batas.


"Apa yang kau lakukan?" tanya laki-laki itu sambil memegang kedua lututnya, ia sedang mengatur napas. Lelah rasanya berlari dari pintu belakang menuju kolam renang super besar miliknya yang kini ditinggali oleh beberapa ikan koi berukuran serupa dengan lengab pria dewasa.


Jay menoleh, ia tertawa pelan sambil menaburkan makanan ikan ke dalam kolam seolah mengejek.


"Aku sering bertanya-tanya, apa gunanya kolam renang besar ini? Setiap hari ayah mengganti airnya dengan air yang didatangkan dari pegunungan dan memastikannya tak kotor oleh dedaunan yang rontok di musim gugur. Sedangkan ayah sendiri bahkan tidak pernah berenang. Jadi," Jay menggantung kalimatnya. Pria itu kembali menebar makanan ikan ke dalam kolam.


"Aku menaruh ikan-ikan ini, karena yakin ini pantas. Mereka akan berenang setiap hari, Yah."


"Kau sudah tiga puluh lima tahun, tapi sifat kekanakanmu masih tak berubah. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa memaklumi mu. Karna kau adalah putra kesayanganku," ucap Bill.


Jay tersenyum tipis, sang ayah angkat bahkan tak tahu kalau putra kesayangannya itu sudah dewasa. Bahkan putra yang dianggapnya kekanakan itu sudah bisa membuat anak dengan seorang wanita.


"Tentu saja aku adalah putra kesayangan ayah, itu karna ayan tak memiliki putra selain aku." Jay kembali beralih pada alat pancing yang ia bawa bersama dengan ikan-ikannya.


"Kau akan memancing ikan-ikan itu lagi?" tanya Bill. Ia merasa Jay memang sangat konyol.


Jay hanya tertawa sambil memasukkan kail pancingnya ke dalam kolam. Halaman belakang kediaman Bill Parker memiliki atap transparan yang terbuat dari kaca, sehingga mereka bisa langsung melihat langit.


Senja datang, hari pun mulai gelap. Bill membiarkan Jay asyik dengan alat pancingnya dan meninggalkannya masuk ke dalam.


Tak berapa lama, seorang gadis mendekati Jay. Ia duduk di sebelah Jay dan turut mengamati ikan-ikan koi yang ada di dalamnya.


"Ikan-ikanmu sangat lucu," ucapnya seolah tak memiliki topik pembicaraan yang lain.

__ADS_1


Jay menoleh bosan. Meski wajah gadis itu sangat rupawan, Jay justru membencinya.


"Biasa aja," jawab Jay, dingin.


Wanita itu tak kehilangan akal, ia mengambil makanan ikan dan menaburkannya ke dalam kolam juga.


"Ayah sangat marah melihat kolam renangnya dipenuhi ikan koi. Tapi, dia tidak bisa memarahimu karna ayah sangat menyayangimu," ucap gadis itu.


Namanya Archi, dia adalah gadis Asia berusia dua puluh tujuh tahun. Gadis itu ditemukan oleh Bill Parker saat usianya masih delapan tahun. Bill memutuskan untuk merawat anak itu dan membesarkannya bersamaan dengan Jay.


Memang terkesan seperti saudara, tapi tujuan Bill bukanlah itu. Ia memiliki misi kemanusiaan yang lain dari pada yang lain.


Jay dan Archi akan dijodohkan ketika mereka sudah dewasa.


"Tidak. Aku hanya tidak ingin melihatmu," jawab Jay.


"Kenapa?"


Jay melirik sebal. "Rasanya aneh melihat anak ingusan yang tiba-tiba akan dinikahkan denganku."


Archi tertawa. "Selisih usia kita hanya delapan tahun."


"Aku masih ingat ketika kau pertama kali dibawa oleh ayah dari tempat penampungan. Kau memakai gaun kampungan dan pilek parah. Itu menjijikkan." Kesan pertama itulah yang selalu diingat oleh Jay.


Tapi sebelum ia tahu bahwa ia akan dinikahkan dengan Archi, Jay sangat menyayangi gadis itu layaknya adik.

__ADS_1


"Tapi bukankah aku tumbuh menjadi wanita yang menawan?"


Jay beranjak dari duduknya, ia membawa alat pancingnya masuk tanpa menghiraukan Archi. Seharusnya waktu itu Jay menolak ajakan untuk menginap di rumah sang ayah angkat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jay menepati janjinya. Satu minggu setelah kepergiannya ke Seattle, ia benar-benar kembali untuk pulang ke keluarga barunya.


Dara muncul dari balik pintu dan ketika melihat wajah Jay yang menyambutnya, ia langsung memeluk tubuh pria itu.


"Rindu sekali, ya?" goda Jay. Dara mengangguk, ia mengeratkan pelukannya. Tak peduli meski mereka akan menjadi tontonan tetangga.


"Jay, aku bahagia sekali hari ini. Tapi juga merasa gugup sekaligus," ucap Dara.


"Kenapa gugup? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Jay.


Dara kemudian menunjukkan surat yang ia terima dari pengadilan. Surat itu berisi sebuah pemberitahuan tentang kelangsungan sidang yang sebelumnya ditunda.


"Penjadwalan sidang?" Jay bertanya. Entah siapa yang turun tangan kali ini.


"Iya... Aku akan menunjukkan bukti-bukti yang terkumpul saat persidangan nanti. Aku yakin keputusan hakim akan berpihak padaku," ujar Dara menggebu-gebu.


Meski senang melihat keantusiasan Dara, tapi Jay juga merasa khawatir. Perasaannya mendadak tidak enak.


Apa yang akan terjadi?

__ADS_1


__ADS_2