Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Impostor


__ADS_3

"Jay, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Bibi Kim.


Jay menghentikan aktifitasnya. Pria itu sebelumnya sibuk mengelap setiap meja di Kedai mie.


"Boleh, Bi. Tanyakan saja," jawab Jay.


Raut ragu begitu nampak di wajah Bibi Kim. Ia pun takut jika jawaban yang nantinya keluar dari bibir Jay adalah sebuah kebohongan.


"Kenapa kau pergi ke tempat telepon umum tadi malam?"


Jay tersentak. Ia tak menyiapkan rencana apabila ada yang memergokinya pergi ke tempat telepon umum. Jay pikir mungkin semua orang sudah tertidur ketika dia pergi. Ya, seharusnya dia tahu bahwa keberuntungan tak datang setiap hari.


"Aku menelpon pamanku." Jawaban itu lolos begitu saja dari bibir Jay. Ia tak bisa terlalu lama berpikir, jadi jawab seadanya saja.


"Selarut itu?"


"I-iya...aku baru mengingat sesuatu dan harus segera mengabari pamanku saat itu juga."


Bibi Kim menaikkan alisnya. "Apa itu?"


Sebenarnya wanita separuh baya itu tak berniat untuk ingin tahu segala urusan Jay. Tapi, ia penasaran mengapa Jay tak bisa menundanya sampai pagi?


"Pamanku, dipanggil oleh Won Company." Semakin mengawur saja jawaban Jay.


"Kenapa dia dipanggil di sana?"


"Dia harus bersaksi."


Bibi Kim terdiam sejenak. Ia muak dengan Jay yang semakin bertele-tele.


"Pamanku harus memberikan kesaksian yang diharapkan akan menguntungkan Won Company," lanjut Jay.


"Pamanmu bekerja di Won Company?" tanya Bibi Kim.


Jay mengangguk, membenarkannya.


"Berapa lama dia bekerja di sana?"


"Ehmm...belum lama ini," jawab Jay lagi.


"Kupikir dia tak akan bisa memberikan kesaksiannya. Monopoli harga ini sudah dilakukan sejak bertahun-tahun yang lalu. Perusahaan itu tidak mungkin menang," ucap Bibi Kim. Wanita itu kemudian berbalik untuk menuju dapur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepulangnya di rumah, Jay sudah disambut oleh Dara di depan pintu. Perasaannya tidak enak, tidak biasanya Dara menantinya di sana.

__ADS_1


"Dara..."


"Pamanmu akan bersaksi di pihak Won Company?" cecar Dara tanpa menghiraukan sapaan dari Jay.


"I-iya," jawab Jay dengan nada ragu. Wanita di depannya bersidekap. Ekspresi wajah cantik itu kini mendadak dingin.


"Kenapa kau tidak menceritakannya padaku? Bukankah kau sendiri juga tahu kalau aku sedang berusaha keras untuk menyelesaikan kasus itu?"


"Maafkan aku... Aku tak berani bercerita padamu. Aku hanya tak ingin kau salah paham," jelas Jay.


"Justru dengan sikapmu yang seperti ini malah akan membuatku mencurigaimu." Wanita itu menatap lurus pada pria yang lebih tinggi darinya itu. Kekecewaannya sudah tak bisa terbendung lagi.


"Aku akan jelaskan semua."


"Apa lagi yang harus dijelaskan?"


"Sudah kubilang aku tak ingin kau salah paham padaku. Aku takut kalau kau tak akan mempercayaiku lagi," ucap Jay.


"Sepertinya kau ingin aku menyerah dengan kasus itu." Bibir Dara bergetar.


"Ya, itu benar," tegas Jay.


"Kau berada di pihak mereka???"


Jay menghela napas panjang. Ia berusaha mengendalikan amarah yang mungkin saja akan meluap.


"Apa kau berniat menagih balas budi?" sungut Dara.


Jay kini menggeleng keheranan, ia tak tahu lagi dengan jalan pikiran Dara.


"Aku tak pernah menagih apapun yang sudah kuberikan. Aku hanya ingin kau menurunkan egomu, demi kebaikan Noah," jawab Jay.


"Perkataanmu mungkin akan meluluhkan hati wanita mana pun. Tapi aku tidak bodoh, kau melakukan itu demi Won Company."


"Terserah apa yang kau pikirkan!" Jay berbalik dan berniat untuk pergi. Tapi pertanyaan yang keluar dari bibir Dara kembali membakar telinganya.


"Bilang saja kau mau meninggalkanku!"


Jay menghentikan langkahnya, ia menoleh menatap wanita yang mulai menitikkan air matanya.


"Kau terlihat sangat marah padaku. Aku tak mungkin berada dalam satu rumah dengan orang yang mungkin bisa membunuhku sewaktu-waktu," ucap Jay.


Kaki-kaki Dara seakan melemah, wanita itu hampir pingsan tapi Jay begitu sigap menangkap tubuh Dara yang akan tumbang.


"Hiks... Hiks... Hiks...." Wanita itu menangis sejadinya.

__ADS_1


Tetangga-tetangga mulai menyingkap gorden jendela. Mereka penasaran dan mengintip dari dalam. Sadar bahwa pertengkarannya dengan Dara diawasi, Jay kemudian menggiring Dara masuk.


Pria itu merengkuh pipi Dara dan melayangkan sebuah kecupan singkat di bibir. Ia kemudian memeluk tubuh wanitanya dan mencoba menenangkannya.


"Beristirahatlah. Aku tidak akan pergi," ucap Jay.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jay kini duduk di teras belakang. Kedua maniknya kini sibuk memandangi langit malam. Sekelebat pikirannya melayang mengingat percakapannya dengan Chris ketika ia berada di Seattle.


Flashback:


"Informasi apa yang anda dapatkan selama berada di Asia Town?" tanya Chris. Lelaki separuh baya itu sibuk mengisikan bubuk teh hijau di masing-masing cangkirnya.


"Aku menemukan fakta bahwa para pekerja tidak mendapatkan bayaran yang sesuai dengan hasil panen mereka. Sudah dipastikan ini adalah sebuah monopoli harga yang dilakukan oleh pihak tertentu," jawab Jay. Pria itu meraih cangkir teh yang sudah diseduh dengan air panas oleh Chris.


"Kira-kira pihak mana yang melakukan hal itu, tuan?"


Jay berpikir. "Mungkin pimpinan pabrik di Asia Town?"


"Apa anda sudah memastikan itu?" tanya Chris.


"Belum," jawab Jay. Pria itu kemudian menyeruput teh buatan Chris yang tersaji di depannya.


"Apa saya perlu melanjutkan penyelidikan anda? Dengan begini anda bisa kembali pulang."


"Tidak perlu. Kurasa aku bisa melakukannya sendiri."


"Anda yakin?" tanya Chris sekali lagi.


Jay mengangguk. "Ya. Selain itu, entah mengapa aku seperti memiliki keluarga baru. Jadi, sepertinya aku tidak bisa meninggalkan mereka."


Chris menautkan alisnya. Apakah dugaannya selama ini benar?


"Keluarga baru? Apa maksud anda?"


"Akh... Lupakan."


"Tuan Jay." Chris menginterupsi. "Apa anda mulai tertarik pada nona Alexandra Meggie?"


Flashback end.


"Pertanyaan yang aneh." Jay tertawa. Tentu saja saat itu ia membantah. Tapi sepertinya hati tak akan bisa berbohong.


"Kenapa aku berdebar-debar sekarang?" Jay bertanya-tanya.

__ADS_1


"Atau... Jangan-jangan itu benar?" gumam Jay.


__ADS_2