
Jay kini mengenakan setelan jas berwarna hitam, kedua kakinya mengenakan sepatu kulit yang mewah. Beda dengan sosok Jay yang biasanya dikenal hanya memiliki pakaian jelek dan sepatu lusuh. Sosoknya nampak lain, ia memiliki kharisma yang kuat. Raut tampannya pun semakin tergambar jelas dengan ditunjang oleh perhiasan yang bagus.
Hidungnya dipasangi sebuah tindik dari berlian murni. Kedua telinganya mengenakan anting dari emas murni dan permata. Tak lupa di tangan kirinya yang dipenuhi tato, Jay mengenakan sebuah jam tangan rolex yang diyakini berharga jutaan dollar. Di lehernya pun dua buah kalung emas menggantung yang seolah mempertegas bahwa Jay adalah seorang konglomerat yang gila perhiasan.
Sebuah mobil sedan menjemputnya di rumah. Sang ayah lah yang mengirim mobil itu untuk membawa Jay ke sebuah restoran yang baru dibangunnya di kawasan Washington. Sesampainya di sana, Jay disambut oleh sang ayah. Mereka kemudian duduk di sebuah ballroom mewah yang dikelilingi puluhan meja di dalamnya.
Ruangan itu adalah bagian VVIP, Bill sengaja merancangnya dengan ukuran yang besar supaya kalangan atas dapat menyelenggarakan pesta apapun di dalamnya.
Jay mengedarkan pandangannya untuk menelusuri segara detail tempat itu. Tak diragukan lagi, Bill memang sangat pandai dalam membuat desain. Lelaki separuh baya itu telah menghabiskan sepanjang hidupnya menjadi seorang arsitek. Hanya saja baru-baru ini ia memutuskan pensiun karna telah memiliki putra angkat konglomerat.
"Jadi, Ayah akan membuka restoran baru?" tanya Jay.
Bill tersenyum sambil mengangguk, mengiyakan pertanyaan Jay. "Sebenarnya ini bukan untukku," ucap lelaki separuh baya itu.
Jay menaikkan alisnya. "Lalu?" tanyanya. Kejutan apa yang akan didapatkannya malam ini?
"Aku membuat ini untukmu," jawab Bill. Jay nampak bingung dengan pernyataan itu. Ia sudah terlalu sibuk mengurus perusahaan mirasnya, sepertinya ia tak akan punya waktu untuk mengurus restoran.
"Untukku?"
"Iya. Ayah tahu, kau bekerja di sebuah kedai mie ketika berada di Asia Town."
__ADS_1
Jay menaikkan ujung bibirnya, sebuah senyuman tipis tergambar di wajah pria Asia itu. Benar juga, selama ini Bill memang diam-diam memantau Jay.
"Aku lupa kalau Ayah adalah pengumpul informasi yang baik," ucap Jay.
Bill tersenyum. "Ayah hanya mengkhawatirkanmu. Kau pun tahu bagaimana sulitnya hidup di Amerika sebagai orang Asia. Ayah tak ingin ada suatu hal buruk yang menimpamu."
"Ya... Ada banyak hal buruk yang ku temui. Tapi semua tak sepenuhnya buruk. Aku mendapatkan banyak pengalaman selama menjadi gembel di sana." Jay tertawa pelan.
"Ayah tahu..."
Jay melirik sang ayah angkat. "Tahu apa? Soal perseteruan perusahaan dan para pekerja?" Jay menginterupsi.
Jay masih bertanya-tanya hingga sekarang. Dugaannya mungkin akan melenceng, tapi tak ada salahnya untuk lebih berhati-hati.
"Jika Ayah mengetahui soal hal itu, kira-kira apa yang akan kau lakukan untuk menyelesaikan masalah?" tanya Jay.
Wajah Bill terlihat sangat tenang, lelaki separuh baya itu memang sulit untuk ditebak.
"Ayah akan....."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Akhir-akhir ini Dara sedang tidak sehat. Ia tak napsu makan, tak bisa tidur layaknya orang yang frustasi. Tubuhnya lemas, perutnya sering mual bahkan ia merasa ingin muntah.
Karna khawatir dengan keadaannya, Dara akhirnya memutuskan untuk pergi ke dokter. Tak peduli meski tarifnya sangat mahal, karna yang terpenting baginya saat ini adalah kesehatan.
Jika sakit, ia tak akan maksimal ketika bekerja. Jika sakit memberikan dampak pada pekerjaannya maka ia tak akan segera mendapatkan uang untuk menafkahi Noah—putra semata wayangnya.
Wanita itu menunggu giliran untuk diperiksa, begitu namanya dipanggil ia langsung masuk ke ruangan dokter dengan antusias.
"Apakah saya sakit parah, Dok?" tanya Dara. Wanita itu terus saja memegangi perutnya yang mual. Wajahnya pucat disertai keringat dingin yang tak mau berhenti mengalir.
Anehnya, Dokter justru tersenyum seolah kesakitan pasien adalah kebahagiaannya. Dokter yang juga adalah wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Dara.
"Selamat," ucapnya yang seketika membuat jantung Dara berdebar-debar tak karuan. "Anda sedang hamil sekarang."
Runtuh sudah dunia Dara saat mendengar perkataan Dokter. Ia tak tahu harus berbahagia atau bersedih. Apalagi melihat kondisinya saat ini sebagai orang yang telah dicampakan oleh pria asing yang pernah menidurinya.
"Kandunganmu sehat. Mungkin saat ini kau sedang mengidam. Jadi, wajar jika kau tidak napsu makan atau kesusahan tidur. Mungkin kau harus makan sesuatu yang benar-benar membuat napsu makanmu bertambah. Kau juga harus banyak beristirahat agar tubuhmu sehat," ucap sang Dokter. "Akan ku tuliskan resepnya, aku juga menambahkan vitamin agar tubuhmu selalu fit. Oh ya, jangan lupa makan buah dan sayur," lanjutnya sembari menyodorkan secarik kertas bertuliskan resep.
Dara meraih kertas itu dan meletakkannya di tas. Ia mendadak linglung, pikirannya seolah melayang jauh entah ke mana.
Harus bagaimana sekarang? Pikirnya.
__ADS_1