Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Manipulasi


__ADS_3

Jay sedang berada di kantornya pagi ini. Ia disibukkan oleh dokumen arus kas yang pernah diberikan Chris padanya.


"Tch! Aku tidak tahu apa maksud ayahku," gumam Jay.


Ia memang memberikan harga tertentu yang kemudian disalurkan oleh cabang pabrik dengan jumlah yang tidak sesuai.


Sisa anggaran yang tak diberikan pada para pekerja nyatanya disetorkan kembali ke Bill. Uang itu digunakan untuk dana cadangan perusahaan dan dana operasional yang diatas namakan sebagai 'sumbangan dari ayah'. Sudah jelas bahwa kasus monopoli itu adalah akal-akalan Bill demi keuntungan pribadi.


"Menurut saya Tuan Bill bertujuan untuk menunjukkan kontribusinya pada perusahaan yang anda dirikan, tuan." Chris berpendapat.


Ya, nama kasarnya adalah 'cari muka'. Jay tersenyum tipis, ia tak menyangka bahwa ia berhasil dibodohi oleh sang ayah selama puluhan tahun.


Seandainya para pekerja tidak menuntut perusahaan, maka Jay tak akan pernah mengetahui fakta ini.


Bill begitu ahli memanipulasi. Selama ini, laporan arus kas yang diterima oleh Jay adalah laporan palsu. Melihat uang yang jumlahnya sesuai di rekeningnya, tidak membuat Jay curiga sama sekali.


Ia bahkan berkali-kali berterima pada Bill yang juga mau mendukung bisnisnya secara finansial. Padahal uang itu adalah hasil dari monopoli harga yang dilakukan oleh Bill selama hampir sepuluh tahun.


"Agak licik juga kalau dipikir-pikir. Aku bahkan tidak percaya bahwa ayahku benar-benar melakukan ini padaku," ucap Jay.


Wajah menyebalkan Bill sore kemarin masih terbayang di mata Jay. Entah kenapa akhir-akhir ini mereka mulai berseberangan pendapat. Bahkan hal yang dilakukan oleh Bill sudah semakin keterlaluan.


Seorang pegawai perempuan mengetuk pintu ruangan Jay. "Tuan Jay, ada nona Archi yang ingin menemui anda," ucapnya dari luar.


"Suruh dia masuk!" balas Jay.


Pintu itu terbuka, Archi segera masuk sambil menampakkan wajahnya yang selalu ceria.


"Pagi, tuan Chris!" sapa Archi.


Semua orang mungkin menyukai sikap gadis itu, tapi Jay tidak begitu. Archi sama saja dengan Bill. Mereka palsu.


"Saya permisi dulu, tuan," pamit Chris. Jay mengangguk.


Di dalam ruangan itu kini hanya ada Jay dan Archi. Gadis itu duduk di kursi yang ada di depan Jay.


Rambutnya yang panjang ia kuncir ke belakang hingga bisa memperlihatkan seluruh wajah ovalnya.


Gadis itu mengenakan dress berwarna hitam yang kontras dengan kulit. Di bagian atasnya mengekspos leher jenjang yang dihiasi oleh kalung dengan liontin berlian—pemberian Jay beberapa tahun yang lalu.


Mata Jay segera terarah pada kalung yang pernah dibelinya seharga satu juta dollar itu. Jay memberikan kalung itu sebagai hadian ulang tahun Archi yang ke dua puluh satu.


Gadis itu kini berusia dua puluh tujuh. Usia yang cukup matang untuk membicarakan pernikahan. Itulah mengapa Bill sudah semakin mendesak Jay dan mulai melakukan berbagai cara agar Jay menyetujui perjodohan itu.


"Kau ingat kalung ini?" tanya Archi yang menyadari pandangan Jay terarah pada kalung itu.

__ADS_1


"Harganya satu juta dollar, bagaimana aku bisa melupakannya," jawab Jay cuek. Pria itu berlanjut sibuk memeriksa tumpukan dokumen berisi laporan penjualan perusahaan.


Untuk beberapa menit Archi hanya terdiam di sana memandangi Jay sambil tersenyum seperti orang gila. Karena merasa risih, Jay akhirnya menegurnya.


"Apa yang kau inginkan di sini?"


"Mmmm...." Archi berpikir. "Melihatmu bekerja," jawabnya.


"Hanya melihat?" tanya Jay lagi. Archi mengangguk.


"Seharusnya kau mencari pekerjaan, bukan malah melihat orang bekerja," sungut Jay.


"Untuk apa bekerja. Aku sudah berinvestasi di berbagai perusahaan. Meski kerjaanku hanya makan dan tidur, uang akan masuk ke rekeningku setiap pagi," jawab Archi.


"Kau tidak akan kaya jika terus begitu." Jay melirik sebal.


"Kekayaan bagiku tidak penting. Aku akan senang melihatmu bekerja setiap hari dan melayanimu dari bangun tidur sampai tidur lagi." Archi tersenyum.


Orang lain mungkin akan terpesona dengan paras rupawan Archi. Tapi Jay tidak begitu. Ia hanya bisa melihat Dara di matanya.


"Kau berniat menjadi pembantuku?"


"Lebih tepatnya pasangan hidup." Gadis itu tekekeh.


"Apa yang kau maksud adalah wanita itu?"


Jay melirik Archi sekilas, namun ia mencoba tak menggubrisnya.


"Aku mendengarmu menyebut nama wanita ketika tidur..." Archi menahan kalimatnya, ia mencoba menanti bagaimana reaksi Jay.


"....Dara. Itukah nama wanita itu?"


Tiba-tiba Jay teringat perkataan Bill kemarin sore: "Masih ada kejutan-kejutan kecil untukmu!"


Apa Archi yang bercerita pada Bill soal nama itu juga? Sehingga Bill nekat melakukan hal di luar nalar, bahkan pada seluruh warga Asia Town.


"Wanita yang mana?" tanya Jay balik.


"Wanita pekerja keras yang kau sukai," jawab Archi.


Jay tertawa mendengar. "Sebentar, aku ingat-ingat dulu. Ah... Iya aku ingat Dara. Dia wanita Mexico yang pernah bertemu denganku ketika aku berada di LA."


Archi mengerutkan dahinya. "LA?"


Belum lama ini Jay memang sempat ke LA untuk mengurus pendistribusian produk mirasnya di sana. Tepatnya sebelum Jay pergi ke Paris bersama Archi.

__ADS_1


"Iya. Sebenarnya ada banyak wanita yang kutemui selama ini, tapi yang terakhir kemarin itu....mmm...sangat mengesankan," ucap Jay.


Archi hanya terdiam menunggu Jay melanjutkan ceritanya.


"Kami bertemu di sebuah club malam dan ya...itu terjadi begitu saja. Ketika pagi tiba, aku memberikannya uang. Tapi dia justru menamparku. Dia bilang padaku, dia bukan pelac*r. Dia hanya hanya menginginkanku, bukan uangku. Tapi, aku tidak bisa. Jadi, aku menjelaskan padanya bahwa aku pria yang tidak bisa berkomitmen," ucap Jay panjang.


"Kau bukan pria seperti itu," balas Archi.


"Apa yang membuatmu yakin?"


"Aku sudah mengenalmu puluhan tahun, jadi aku tahu kau bukan pria seperti itu."


Jay tersenyum sinis. "Aku mungkin tidak menunjukkan sisi burukku di depan keluarga."


"Jika kau pria seperti itu, pasti kau sudah melakukan sesuatu padaku ketika berada di Paris," jawab Archi.


"Alasan klasik. Aku sudah menganggapmu seperti adik kandungku, orang gila mana yang akan melakukannya dengan adik kandung?"


"Itulah kenapa aku yakin kalau kau bukan pria seperti itu, Jay." Archi berdiri, kemudian berjalan menuju tempat suduk Jay.


Tangannya memegang bahu Jay, ia menatap Jay yang saat ini tak mau beranjak dari tempat duduk. Pria itu mendongak ketika Archi tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan memberikan kecupan singkat di bibir Jay.


Jay memejamkan matanya sejenak. Perkataan Bill kembali mengitari kepala Jay. Ia mendadak paranoid. Apalagi Archi sudah menyebutkan nama 'Dara' di depannya. Keselamatan wanita itu bisa saja terancam saat ini.


Jay lelah dimanipulasi, apakah ini saatnya ia membalasnya dengan manipulasi juga?


Ketika Archi hendak menarik bibirnya dari bibir Jay, pria itu tiba-tiba menahan tengkuk Archi. Jay membalas ciuman itu yang terus terang saja membuat Archi tak menyangka.


Jay mulai ******* bibir Archi dan membawanya ke dalam ciuman yang lebih intens. Perlahan Jay menggiring tubuh Archi dan membawanya duduk di atas pangkuan.


Tangan Jay mulai menjelajahi leher Archi. Perlahan-lahan naik ke atas meraih rambut Archi yang terikat. Jay menarik rambutnya pelan, lebih bisa disebut dengan menjambak.


Wajah Archi perlahan mendongak mengikuti tarikan dari rambutnya oleh tangan Jay. Bibir Jay kemudian turun menciumi leher Archi.


"Akh..." Archi mengaduh ketika jambakan itu semakin keras.


Menyadari hal itu, Jay kemudian melepaskan rambut Archi. Ia beranjak pada bagian tubuh yang lain. Kedua tangan Jay mulai membelai dada gadis itu, lalu beralih pada tali dress Archi dan menurunkannya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu ruangan Jay.


"Tuan Jay, boleh saya masuk?" tanya Chris dari luar.


Spontan saja Jay menyingkirkan Archi dari pangkuannya hingga gadis itu terduduk di atas lantai.


"Ya, masuk!" jawab Jay pada Chris.

__ADS_1


__ADS_2