
"Hentikan mobil ini!" ucap Jay ketika mobil yang dinaikinya mulai melaju kencang.
Sang supir melirik ke arah Bill, tak ada respon apapun itulah mengapa mobilnya tak berhenti.
"Hentikan mobilnya!" tegas Jay lagi. Tapi mobil itu justru bergerak makin cepat.
"KAU TULI?! HENTIKAN MOBILNYA!" marah Jay.
Sadar emosi Jay yang mulai memuncak, Bill akhirnya mulai bicara. "Hentikan mobilnya!" pinta Bill.
Mobil itu akhirnya menepi, Jay pun hendak keluar membuka pintu mobil. Tapi, Bill mencegahnya.
"Kau mau ke mana?" tanya Bill.
"Kau masih bertanya? Coba tebak aku akan pergi ke mana?!" sungut Jay.
"Rumah sakit?" Bill menebaknya. Jay berusaha mengibaskan tangan sang ayah hingga sebuah peringatan muncul dari bibir Bill.
"Jika kau nekat keluar, aku tak akan segan menyuruh bodyguard-ku untuk melumpuhkanmu!" ancam Bill.
Jay tak mau peduli dengan peringatan itu, ia nekat keluar hingga dihadang oleh dua bodyguard Bill yang berbadan besar.
"Minggir!" Jay mulai memberikan perlawanan.
Jay memang belajar tinju dan bela diri sejak masih sangat muda. Tapi, ia tak bisa mengatasi beberapa bodyguard sang ayah karna kalah jumlah.
Bayangkan saja satu melawan empat, mustahil rasanya untuk menang. Jay jatuh tersungkur, wajahnya babak belur akibat dipukuli.
"Cukup!" pinta Bill pada para bodyguard-nya, mereka pun berhenti.
Jay mungkin masih bisa berlari menghindari Bill, tapi ia merasa enggan melakukan itu.
__ADS_1
Menurut saja! Pintanya dalam hati.
"Aku mengijinkanmu datang ke rumah sakit dengan syarat kau harus meninggalkan mereka," ucap Bill.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bill tak mengingkari janjinya, ia benar-benar mengantar Jay ke rumah sakit yang letaknya tak jauh dari Asia Town—tempat di mana para korban kebakaran dirawat.
Bill tak turun dari mobilnya. Kedua matanya meratapi kepergian Jay dari tempatnya. Sang putra berlari terburu-buru menerobos jalanan yang dipenuhi oleh keluarga pasien yang lalu lalang.
"Baru kali ini saya melihat tuan Jay mengkhawatirkan seseorang," ucap Freddy yang duduk di belakang setir.
Bill merasa kesal, ia hanya tersenyum kecut menanggapi itu. "Dia pernah terlihat begitu khawatir ketika Archi tanpa sengaja melukai jarinya saat belajar memasak dengan Jay."
Bill masih menatap ke arah pintu masuk rumah sakit. Jay sudah menghilang di dalam sana beberapa detik yang lalu.
"Kurasa dia akan lebih khawatir jika ikan-ikan koi nya tidak diberi makan..." Bill tersenyum. "Aku akan merawat ikan-ikan itu. Jay pasti senang melihatnya jika kembali pulang dari tempat ini," lanjut Bill.
Beberapa tetangga yang ia familiar dengan wajahnya, mulai Jay lewati. Hatinya semakin yakin bahwa ia akan segera menemukan keberadaan Dara dan Noah.
Dari kejauhan, Jay melihat Dara yang terduduk di sebuah bangku sambil tertunduk.
Tangan bagian kanannya diperban penuh, kaki bagian kanannya juga sama. Di kening Dara juga terlihat sebuah goresan yang masih terlihat memerah.
"Dara!" panggil Jay.
Dara menoleh dan benar dugaan Jay, wanita itu menangis. Ia beranjak dari duduknya dan berjalan tergopoh-gopoh mendekat pada Jay.
Begitu pun Jay yang mulai berjalan menghampiri karena tak tega melihat Dara yang kesulitan melangkah dengan satu kali yang nampaknya terluka parah.
"Jay!!" Wanita itu mulai terisak saat dapat meraih tubuh Jay dan memeluknya.
__ADS_1
Dara menangis sejadinya, ia tak bisa menahan air mata yang sejak tadi ingin memberontak keluar.
"Di mana Noah?" tanya Jay, ia benar-benar tak sabar untuk mengetahui keadaan Noah.
"Noah masih kritis..." Dara kembali terisak. Alat perawatan untuk bilik Asia Town tak begitu lengkap.
Begitulah ketidak adilan yang diterima para imigran di negara asing. Pemerintah yang mengkoarkan tentang gerakan kebersamaan rupanya masih tak begitu berpihak pada diskriminasi yang tertanam di jiwa masyarakat sejak masa lampau.
"Jay..." Bibi Kim berlari menuju Jay dan Dara, wanita separuh baya itu turut menangis.
Meski ia tak terluka parah, tapi ia sangat khawatir dengan keadaan Noah.
"Noah...dia kritis..." Bibir bibi Kim bergetar. Ia tak sanggup menanggung kesedihan yang luar biasa itu di depan Jay.
"Kalian tunggu saja di sini, aku harus melakukan sesuatu agar Noah segera dirawat dengan fasilitas yang memadahi," ucap Jay.
Ya, ia akan mengambil uang. Bukankah dengan uang, semuanya akan jadi beres?
"Tapi, bagaimana dengan biayanya? Aku sudah berusaha meminta dokter untuk melakukan tindakan pada Noah, tapi mereka malah menagih biaya itu sebelum melakukan tindakan," ucap Dara.
Biaya pengobatannya sangat besar, ia tak punya uang sebanyak itu. Jay tersenyum, ia memegang kedua bahu Dara dan menatapnya untuk menenangkan wanitanya.
"Tenang saja. Aku akan usahakan biayanya." Jay beralih pada bibi Kim yang saat ini juga masih menangis.
"Bibi Kim, tolong jaga Dara dan Noah. Aku akan segera kembali ke sini," ucap Jay.
"Baiklah, Jay," jawab bibi Kim.
Jay pun segera keluar dari rumah sakit, ia berlari menuju halte bus untuk kembali ke Seattle.
Sialnya ia membutuhkan waktu perjalanan sekitar empat Jam jika menaiki angkutan umum, belum lagi ia harus berganti bus untuk melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Jay tak bisa menyuruh Chris untuk mengambil uang, karna Jay meletakkannya di dalam brangkas yang mana hanya dia lah yang mengetahui kombinasi itu.