
Sebuah truk tua berukuran besar terparkir di depan gedung pengadilan. Benar kata wanita Amerika itu, terdapat beberapa jenis hasil panen di dalammya. Ada beras, ubi, kentang dan wortel. Jumlahnya cukup banyak, tak bisa jika dibawa dengan tangan kosong. Tapi, hasil panen itu sudah diletakkan di atas sebuah gerobak. Mungkin mereka sudah memikirkan cara bagaimana Dara bisa membawanya pulang.
"Silahkan naik, Nona Alexandra. Maaf, hanya kendaraan ini yang kami punya," ucap wanita Amerika itu.
Dara tersenyum, tak masalah baginya menaiki kendaraan apa pun asalkan ia bisa meluruskan kakinya setelah berjalan sejauh lima kilometer tadi pagi.
Semua orang pun naik, tak terkecuali Jay. Ia memilih duduk di paling pinggir untuk menjaga pintu belakang truk. Sebagian besar penumpang truk adalah petani berusia separuh baya. Seorang laki-laki Afrika Amerika yang kira-kira berumur lima puluh tahun duduk di sebelah Jay. Ia nampak penasaran pada Jay sejak awal melihatnya.
"Maaf kalau boleh tahu, kau ini siapa?" tanyanya.
Jay melirik Dara yang memangku Noah dan duduk di paling ujung dalam bak truk, wanita itu tengah bercengkrama dengan orang-orang di depannya.
"Aku temannya pengacara Alexandra Meggie," jawab Jay. Pria di sebelahnya mengangguk-angguk seolah paham.
"Oh... Teman laki-laki (pacar)?"
"Iya," jawab Jay. Ia tak tahu jika pertanyaan itu mengarah pada hal berbau percintaan.
"Ada banyak pria Amerika yang menyukai nona Alexandra. Setelah suaminya meninggal, banyak laki-laki yang mendekatinya. Tapi, sepertinya nona Alexandra lebih menyukai sesama Asia," gumam pria itu.
Mendengar gumaman itu, Jay terkejut. "A-apa? Itu tidak seperti yang kau pikirkan," jelas Jay. Tadi pagi ia dikira suami Dara, sekarang ia juga dikira adalah pacar wanita itu.
"Ya, aku paham. Kau harus lebih giat agar bisa menarik hatinya."
Jay tersenyum tipis, ia merasa bodoh sekarang. Percuma juga rasanya menjelaskan pada petani ini, ia tak harus meluruskan apa yang ada di dalam kepala orang-orang.
"Tunggu, kau punya tato?" Pria separuh baya itu mengamati kedua punggung tangan Jay, di mana masing-masing tangannya penuh dengan rajahan. Sebelah kiri terdapat tulisan 'A Good Life' sedang di sebelah kanan terdapat gambar kepala singa dan tulisan 'King' di masing-masing jari Jay.
"Di lehermu juga ada..." Pria itu beralih pada tato kompas berukuran besar di leher sebelah kanan milik Jay.
"Oh...tato ini—"
"Hah...di belakang kepalamu juga ada," seru pria itu keheranan setelah mendapati sebuah tato malaikat yang sebagian telah tertutupi oleh rambut tipis bagian belakang yang mulai tumbuh.
Jay kehilangan kata-kata. Penampilannya memang sangat mencolok, apalagi tato adalah hal yang sangat tabu. Orang di depannya mungkin saja mencurigainya sebagai kriminal yang berkeliaran untuk mencari korban.
"Itu hebat!" seru pria itu lagi. "Aku sangat ingin membuat tato, tapi aku tidak bisa," lanjutnya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Jay.
"Tato sangat mahal. Aku lebih memilih menggunakan uangku untuk kebutuhan sehari-hari." Ia meratap. "Kau pasti sangat kaya. Kau punya banyak tato bagus," ucapnya.
"Ah... Tidak juga." Jay menggaruk tengkuknya. Rupanya ia tak dinilai sebagai kriminal di depan para orang desa ini.
"Siapa namamu?" tanya pria itu lagi.
"Jay..." Jay hanya menjawab singkat tanpa kembali bertanya. Sebenarnya akan lebih baik jika tak ada yang mengetahui namanya, tapi Jay belum menyiapkan nama samaran sehingga ia tetap harus menyebut namanya.
"Perkenalkan, aku Benjamin." Pria itu mengulurkan tangan. Jay kemudian meraih dan menjabatnya.
"Dengar Jay. Kami tahu kalau sangat mustahil memenangkan tuntutan kami terhadap perusahaan miras itu. Tapi, nona Alexandra tidak pernah menyerah. Dia bahkan menawarkan diri secara suka rela di saat pengacara lain memilih mundur. Kau tahu 'kan, kalau sangat berbahaya ketika kau harus melawan musuh yang jauhhhhh lebih kuat darimu."
Jay menelan saliva, ia bahkan tak tahu jika para pekerja sudah mencoba menuntut perusahaannya sejak lama.
"Kami dengar, nona Alexandra mendapat ancaman dari orang tak dikenal beberapa hari yang lalu. Orang itu mengirim sebuah surat lewat kantor pos, isinya adalah perintah untuk mencabut tuntutan itu. Kami takut jika terjadi hal yang tak diinginkan pada nona Alexandra. Jadi..." Pria itu memegang pundak Jay. "Bisakah kau membantu kami untuk menjaga nona Alexandra," lanjutnya.
Jay hanya terdiam saat itu, matanya segera beralih ke arah Dara yang kini terlihat letih. Wajah orang-orang di dalam bak truk itu nampak sangat penuh dengan harapannya kepada Dara. Wajah-wajah keriput itu seolah membuat Jay merasa iba. Ia mulai bimbang sekarang. Ketika ia berada di sekeliling orang yang berlawanan pihak dengannya, membuat Jay dilanda rasa dilema. Jay harus mengetahui bagaimana keadaan sebenarnya di antara dua pihak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah turun di pemberhentian halte terakhir di Asia Town, truk itu langsung bergegas pergi. Kendaraan besar tak bisa masuk ke sana karena akses jalan yang sempit di kelilingi oleh rumah-rumah kecil transmigran Asia yang berdempetan.
Gerobak berisi penuh hasil panen itu diturunkan, tugas Jay adalah membantu Dara untuk menarik gerobak itu sampai ke rumah. Noah tertidur, sehingga Dara amat sangat kerepotan saat ini.
Keduanya berjalan dan melewati tempat penitipan anak Asia milik Betrice. Tempat itu kini disegel dan terdapat garis polisi di bagian pintunya.
"Apa yang terjadi?" Dara bertanya-tanya, ia mengkhawatirkan Betrice dan Jenneth.
"Mungkin karna kecelakaan tadi pagi yang dibilang oleh Betrice," jawab Jay.
"Polisi pasti sedang menyelidikinya. Aku yakin Betrice tidak bersalah," ucap Dara.
"Ya, kau tidak perlu khawatir."
Dara menunduk sesaat, kemudian ia kembali berjalan. Sekarang bukan waktunya untuk membuat skenario buruk di kepala. Ia yakin, yang tak bersalah tak akan dihukum. Sekarang yang harus ia lakukan hanyalah memenangkan kasus melawan perusahaan miras itu.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Dara segera bergegas mandi. Noah ia tidurkan di kamar, sedangkan Jay masih menunggu di ruangan depan untuk mengambil pakaiannya yang mungkin sudah kering.
"Sepertinya pakaianmu sudah kering," ucap Dara. Wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi.
"Terima kasih sudah memeriksanya. Boleh aku menumpang mencuci pakaian yang aku pinjam?" tanya Jay.
"Tidak usah, biar aku saja," jawab Dara.
Jay kemudian berganti pakaian dan mengembalikan pakaian yang ia pinjam pada Dara. Pria itu memutuskan untuk berpamitan.
"Aku sangat berterima kasih padamu, karna sudah kau ijinkan tinggal semalam di sini dan meminjami aku baju. Terima kasih juga karena telah memberiku makan," ucap Jay.
Dara tersenyum. "Ya, aku juga berterima kasih karena kau sudah menjadi pengasuh Noah seharian ini. Aku juga berterima kasih karena kau mau membawakan gerobak itu sampai ke rumah," balas Dara.
Jay mengangguk, ia kemudian berpamitan. "Selamat tinggal," ucapnya. Ia kemudian berbalik dan melangkah pergi.
Dara masih melihat punggung Jay, ia memastikan apakah pria itu akan benar-benar pergi atau tidak. Hingga bayangan Jay lambat laun tertelan oleh ujung jalan dan senja dengan langit merahnya. Entah mengapa tiba-tiba Dara merasa kosong. Ia seolah tak ingin Jay pergi.
"Dara, bodoh! Apa yang kau pikirkan dasar wanita bodoh!" Dara menepis apa yang baru saja melintas di pikirannya.
Memang singkat perkenalan itu, harusnya tak apa jika Jay langsung pergi tanpa pernah tinggal di sini.
Sementara itu, Jay rupanya berhenti di depan gang dan duduk di sebuah trotoar sambil memandangi langit. Di hatinya sedang muncul keraguan, itulah mengapa ia mencoba menemukan jawabannya dengan melihat langit. Tuhan selalu melihatnya dari atas sana, sekarang apa yang harus Jay lakukan?
Jawaban itu seolah muncul ketika sekelebat ingatan langsung saja menghujaninya tanpa ampun. Kata-kata dari Benjamin terngiang-ngiang di telinga Jay.
"Ya. Dengan aku selalu berada di samping Dara, mungkin aku akan makin mudah mengetahui informasi tuntutan para pekerja pada perusahaanku," gumam Jay. Pria itu memutuskan kembali.
Ketika berada di persimpangan, Jay melihat sebuah sedan berwarna hitam yang mencurigakan tengah mengintai. Dua orang laki-laki keluar dari sedan itu dan berjalan memasuki gang.
"Siapa mereka?" Jay bertanya-tanya. Ia kembali teringat pada perkataan Benjamin tadi.
Kami takut jika terjadi hal yang tak diinginkan pada nona Alexandra.
Bisakah kau membantu kami untuk menjaga nona Alexandra.
"Jangan-jangan, mereka mengintai Dara!" Jay segera beranjak. Ia harus memastikan apakah pria-pria akan melukai Dara atau hanya sekedar mengintai.
__ADS_1