Pengacara Dan Bos Miras

Pengacara Dan Bos Miras
Kepercayaan


__ADS_3

"Maaf, tapi aku merasa tidak asing denganmu," ucap Dara.


Chris menaikkan kedua alis."Benarkah? Apa kita pernah bertemu?" tanyanya.


Ya, seolah-olah mereka benar-benar menganggap Dara bodoh. Wanita itu mengangguk. "Aku pernah berkunjung ke Won Company. Waktu itu kau yang menjadi tour guide ku."


"Iyakah? Maaf, aku banyak bertemu dengan orang jadi aku sulit mengingatnya," jawab Chris.


"Kupikir kau hanya fasih berbahasa Spanyol," ucap Dara.


Jay membeku saat itu. Ia ingat ketika ia mengaku sedang memohon restu pada Chris. Jay mengatakan bahwa pamannya terbiasa menggunakan bahasa Spanyol.


"Paman Chris sudah mulai terbiasa," sahut Jay mengakhiri perdebatan tipis-tipis itu.


Hari ini para pengungsi sudah diijinkan kembali ke rumah masing-masing. Biaya kerusakan sudah ditanggung oleh pemerintah dan ada banyak perusahaan yang berdonasi, salah satunya adalah Won Company.


Rumah sederhana Dara sudah dibenahi seadanya. Setidaknya rumah itu sudah kembali layak dihuni.


Bibi Kim dan warga lain juga sudah kembali ke rumah masing-masing. Bahkan bibi Kim akan mulai berjualan besok lusa.

__ADS_1


Malam sudah semakin larut, Dara mengijinkan Chris tidur terlebih dulu. Sekarang hanya tersisa dirinya dengan Jay yang ada di teras belakang.


Pria itu mengusap perut Dara yang sudah terlihat sedikit membuncit, ia kemudian melayangkan kecupan singkat di pipi Dara.


"Jay." Dara menoleh membuat wajah mereka saling berhadapan begitu dekat. "Boleh aku bertanya?"


Jay mengangguk. "Apa?"


Dara nampak gelisah. Mengetahui fakta bahwa dirinya sudah dibohongi oleh Jay sejak awal membuatnya bersedih. Dara bahkan bimbang apakah ia harus meninggalkan Jay atau tetap berada di sisinya.


Belum lagi nasehat Betrice yang terus-terusan mengitari kepalanya. Seakan itu bisa menghantui seumur hidup Dara.


Jay meraih kedua tangan Dara dan menggenggamnya, pria itu mengecupnya sekilas. "Maaf, Dara. Aku sedang mengumpulkan uang untuk membelikan cincin untukmu. Ku harap kau bisa bersabar."


Dara mengangguk. Perkara yang membuatnya bertanya-tanya sebenarnya bukan karena cincin, tapi karena hal yang diungkapkan Betrice padanya.


"Kau tidak ingin tidur?" tanya Dara.


"Aku akan tidur jika kau juga tidur," jawab Jay.

__ADS_1


Meski sangat mengantuk, Dara sepertinya tak mau mengakhiri obrolan ini begitu saja.


"Jay, sebenarnya kau bekerja di mana?"


"Aku..." Jay memberi jeda dalam ucapannya. Tentu saja ia harus memikirkan kebohongan yang logis.


"Aku bekerja di sebuah bengkel truk," jawab Jay.


Dara tersenyum, kebohongan itu tercetus lagi di bibir Jay. Sampai kapan Jay akan menyembunyikan fakta tentang dirinya pada Dara.


"Aku sempat berpikir bahwa kau adalah pemilik Won Company."


"Apa yang membuatmu berpikir begitu?"


"Y-Ya...kau datang begitu saja ke dalam hidupku dan menyelamatkanku berulang kali dari gangguan orang yang berusaha menghentikan penyelidikanku waktu itu. Tapi sepertinya dugaanku salah..." Dara menyentuh pundak Jay dan tersenyum. "...kau hanya orang biasa yang bahkan sibuk mencari pekerjaan, hingga mau bekerja di sebuah kedai mie kecil di kota yang terpuruk ini. Seharusnya aku tak pernah mencurigaimu, Jay."


Jay menelan saliva, ia kembali membeku saat ini. Jantungnya berdebar kencang, bahkan keringat dingin mulai meluncur menembus kulitnya.


"Kau bilang tak ada yang bisa dipercayai di dunia ini. Tapi aku sangat percaya padamu, Jay. Aku tahu kau adalah orang yang bisa dipercaya," tukas Dara.

__ADS_1


Jay mengangguk pelan. "Ya," ucapnya lirih.


__ADS_2